Monday, May 6, 2019

Mengenal Jenis-Jenis Kamera dan Alat Fotografi Lainnya


Kuliah Senin Kontenesia

~ untuk penulis konten ~

Pertama kita kenalan dulu sama jenis-jenis kamera.

Jenis kamera berdasarkan ada tidaknya cermin di dalam kamera:

1. Kamera dSLR = Digital Single Lens Reflex, yaitu kamera digital yang menggunakan sistem cermin otomatis dan pentaprisma/pentamirror (cermin segi lima) untuk meneruskan cahaya dari lensa menuju ke jendela bidik (viewfinder).

2. Kamera mirrorless adalah kamera yang tidak memiliki cermin reflex.

Jenis kamera berdasarkan ukuran sensor:

1. Kamera dSLR full-frame = Kalau Anda memasang sebuah lensa pada kamera full-frame, lensa itu akan menampilkan sudut pandang yang sesuai dengan angka titik fokal yang tertera pada lensa bersangkutan. Misalnya, lensa 50mm yang dipasang pada kamera full-frame akan menghasilkan foto yang memiliki sudut pandang lensa 50mm.

2. Kamera dSLR crop-factor = Sedangkan kalau Anda memasang sebuah lensa pada kamera crop-factor, foto akan mengalami perbesaran sesuai dengan faktor kali yang dimiliki oleh kamera. Misalnya, lensa 50mm tadi dipasang pada kamera dengan crop-factor 1,6, maka lensa tersebut akan memiliki sudut pandang seperti lensa 80mm (50mm x 1,6).


Foto utuh = sudut pandang kamera full-frame.
Garis merah = sudut pandang kamera crop-factor 1.3x.
Garis hitam= sudut pandang kamera crop-factor 1.5x.
Garis kuning = sudut pandang kamera crop-factor 1.6x.
Garis biru = sudut pandang kamera crop-factor 2.0x.

Mode-Mode Umum pada Kamera DSLR:

1. Mode kotak hijau adalah mode yang sepenuhnya otomatis. Kamera menentukan semua pengaturan dan Anda hanya tinggal memotret.
2. Mode Program (P). Di sini Anda menentukan ISO dan kamera akan memilih sendiri kecepatan rana dan diafragmanya.
3. Mode Aperture Priority (AV untuk Canon, A untuk Nikon). Dengan mode ini, Anda bisa menentukan diafragma. Sisanya ditentukan oleh kamera.

4. Mode Shutter Priority (TV untuk Canon, S untuk Nikon). Di sini Anda menentukan sendiri kecepatan rana yang Anda inginkan. Sisanya ditetapkan oleh kamera.

5. Mode Manual (M). Dengan mode ini Anda memiliki kendali penuh atas semua pengaturan. Dan dengan mode ini, eksposur foto Anda selama pemotretan akan tetap konsisten.

Jenis-Jenis Lensa

1. Lensa normal dengan panjang fokal 50 mili (atau kisaran 45 – 55 mili). Dikatakan “normal” karena jenis lensa ini memiliki sudut pandang yang kurang lebih sama dengan mata normal manusia, yaitu 46°.
2. Lensa-lensa yang angka panjang fokalnya lebih kecil dari itu (di bawah 45mm) termasuk kategori lensa wide (sudut lebar).

3. Lensa-lensa yang angka panjang fokalnya lebih besar dari 55mm dikategorikan sebagai lensa telephoto (tele).

Lensa Berdasarkan Tipe Titik Fokal
Berdasarkan tipe titik fokalnya, lensa dibagi menjadi:

1. Lensa prime atau disebut juga lensa fixed length (lensa fiks), adalah lensa yang hanya memiliki satu panjang fokal.

2. Lensa zoom, yaitu lensa yang memiliki beberapa panjang fokal. Artinya, Anda dapat mengubah field of view lensa dengan mengubah titik fokalnya.

Lensa Berdasarkan Jenisnya
Catatan: Semua penjelasan di bawah ini mengacu pada ukuran lensa yang dipakai pada kamera full-frame. Jadi jika Anda menggunakan kamera dengan crop-factor, Anda HARUS mengonversi lensa yang dipakai dengan faktor kali dari kamera yang Anda gunakan.

1. Lensa telephoto. Lensa ini memiliki rentang panjang fokal di kisaran tele (di atas 55mm). Sudut pandang lensa tele lebih sempit dari sudut pandang mata normal manusia, jadi lensa tele akan membuat objek seolah terlihat jauh lebih dekat dan lebih besar. Lensa tele juga memiliki bokeh (latar belakang tampak buram) yang sangat cantik karena bisa mengisolasi subjek agar tetap fokus, sekaligus membuat latar belakang tampak buram. Lensa ini sangat bagus untuk memotret banyak hal, mulai dari foto potret, foto detail, arsitektur, maupun foto olahraga.

2. Lensa super-telephoto adalah lensa tele yang memiliki panjang fokal di atas 300mm. Ini adalah lensa super panjang yang ideal digunakan untuk memotret pertandingan olahraga dan kehidupan satwa liar.

3. Lensa wide (sudut lebar) adalah lensa dengan titik fokal di bawah 45mm. Lensa ini ideal untuk digunakan memotret lanskap dan scene yang lebar.

4. Lensa ultra-wide (ultra-lebar) adalah lensa dengan titik fokal ultra-lebar dan lebih kecil dari 24mm. Lensa ini ideal untuk digunakan memotret lanskap dan arsitektur.

5. Lensa-lensa khusus:

a. Lensa fisheye. Seperti namanya, lensa ini akan mendistorsi foto dengan parah dan membuat sudut pandang jadi sangat lebar dan nyaris bulat seperti mata ikan.

b. Lensa tilt and shift (Canon) atau perspective correction (Nikon) adalah lensa yang khusus digunakan untuk memotret arsitektur, karena bagian dari lensa ini bisa digeser (shifted) untuk membuat bangunan tidak terdistorsi.

c. Lensa macro yang tentunya digunakan untuk memotret makro. Kelebihan lensa ini adalah jarak minimum dari objek ke lensanya bisa sangat, sangat dekat, dan objek bisa hampir menyentuh lensa. Karena jarak objek yang super dekat ini, maka ruang tajamnya jadi sangat sempit, sekalipun Anda menggunakan bukaan diafragma kecil (angka f-stop besar).

d. Lensa baby adalah jenis lensa kreatif. Lensa ini sebenarnya adalah lensa tilt and shift yang bisa digerakkan ke segala arah. Lensa baby akan memberikan tampilan area kecil yang tajam dan fokus dan area sisanya akan tampak buram.

Anatomi Lensa
Beberapa bagian dan fungsi yang biasanya ada pada sebuah lensa, antara lain:

1. Ring fokus, yaitu cincin untuk mengatur fokus lensa.

2. Auto focus switch, yaitu saklar untuk mengaktifkan/menonaktifkan fungsi fokus. Pada beberapa kamera, auto focus switch justru terdapat pada bodi kamera.

3. Image stabilizer switch, yaitu saklar untuk mengaktifkan fungsi penstabil lensa.

4. Ring diafragma, yaitu cincin untuk mengatur diafragma. Biasanya terdapat pada lensa manual. Untuk lensa-lensa terbaru, umumnya tidak ada ring diafragma karena diafragma telah diatur secara elektronis dari kamera.

5. Ring zoom, yaitu cincin untuk mengatur titik fokal yang akan dipakai. Ring zoom ini hanya terdapat pada lensa zum.

6. Dudukan filter, yaitu ulir yang terdapat di bagian depan lensa untuk memasang filter.

7. Dudukan lensa (mounting), yaitu dudukan di bagian belakang lensa untuk dipasangkan ke bodi kamera.

8. Tudung lensa, yaitu bagian tambahan dari lensa berupa tudung yang dipasang di depan lensa untuk mengurangi flare lensa.

9. Tutup lensa.

Jenis-Jenis Lampu Kilat atau Flash
1. Lampu Kilat Terpasang
Lampu kilat (flash) kecil yang terpasang di bagian atas kamera ini memiliki kualitas cahaya yang buruk dan sangat keras. Jika Anda terpaksa menggunakannya, usahakan Anda melembutkan cahayanya dengan kertas putih, kertas tisu, atau penyebar cahaya. Tempelkan saja pelembut cahaya tersebut menutupi kepala lampu kilat. Dengan begitu, tingkat kekerasan cahayanya akan berkurang.

2. Lampu Kilat Eksternal
Pilihan lampu kilat yang kualitas cahayanya bisa lebih diandalkan adalah lampu kilat eksternal. Karena posisi sumber cahaya pada lampu kilat ini agak jauh dari lensa, jadi kualitas cahayanya lebih baik daripada lampu kilat terpasang. Kepala lampu kilat eksternal juga bisa diputar ke kiri, kanan, maupun ditegakkan ke atas. Dengan kemampuannya ini, Anda bisa menyesuaikan ke arah mana cahayanya menembak.

ISO
ISO adalah ukuran kepekaan sensor. ISO rendah memiliki tingkat kepekaan sensor yang rendah. Begitu pula sebaliknya, ISO tinggi memiliki kepekaan sensor yang lebih tinggi. Dengan kata lain, ISO rendah membutuhkan asupan cahaya yang lebih banyak dibandingkan ISO tinggi.

Namun, terdapat konsekuensi dari makin pekanya sebuah sensor. Semakin tinggi ISO yang kita pakai, semakin banyak pula noisenya (butiran kasar pada foto). Jadi jika memungkinkan, gunakanlah angka ISO yang serendah mungkin. Selalu. ISO yang rendah akan menghasilkan foto yang paling tajam. ISO yang tinggi akan menghasilkan noise yang banyak, mengurangi saturasi warna dan mengurangi detail.

Kecepatan Rana 
Kecepatan rana (shutter speed) adalah durasi sebuah sensor tercahayai. Kecepatan rana berfungsi mengatur berapa lama rana terbuka untuk membiarkan cahaya masuk ke dalam sensor kamera..

Angka yang lebih rendah (1/100) akan membuat rana terbuka lebih lama, sedangkan angka yang lebih tinggi (1/500) akan membuat rana terbuka lebih singkat. Dengan begitu, semakin rendah angka, semakin lama rana kamera terbuka, maka semakin banyak kuantitas cahaya yang masuk ke dalam kamera. Vice versa.

Diafragma

Kiri: 1/4 detik, f/2, ISO 400, diafragma bukaan besar (angka f-stop kecil).
Kanan: 8 detik, f/11, ISO 400, diafragma bukaan kecil (angka f-stop besar).

Diafragma (aperture) adalah ukuran bukaan lensa yang mengatur sebanyak apa cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera. Satuan pengukurannya adalah f-stop.

Bukaan diafragma yang besar akan membuat cahaya yang masuk lebih banyak daripada bukaan yang kecil. Bukaan diafragma yang besar ini justru direpresentasikan dengan angka f-stop yang kecil (misalnya f/2.0, f/3.5), dan bukaan diafragma yang kecil direpresentasikan dengan angka f-stop yang besar (misalnya f/20, f/22).

Penggunaan diafragma juga berkaitan dengan kontrol ruang tajam (depth of field), yaitu seberapa besar bagian foto yang ingin terlihat fokus. Semakin besar diafragmanya (ingat: angka f-stop kecil, seperti f/2.0, f/3.5), semakin sempit ruang tajamnya. Sebaliknya, semakin kecil diafragmanya (yaitu angka f-stop besar, seperti f/20, f/22), semakin besar ruang tajamnya.

Ruang Tajam (Depth of Field)
Yang dimaksud dengan ruang tajam (depth of field) adalah porsi foto yang terlihat tajam (tidak buram), mulai dari objek yang terdekat sampai yang terjauh dari kamera. Dengan adanya ruang tajam, Anda bisa menonjolkan bagian tertentu saja dan memburamkan bagian lain yang tidak penting. Anda juga bisa membuat objek sederhana jadi lebih menarik.


Kiri: 1/125 detik, f/2, ISO 100, ruang tajam sempit
Kanan: 1 detik, f/22, ISO 100, ruang tajam besar. 

White Balance (Imbangan Putih)
White balance (WB) merupakan ukuran untuk menghasilkan keseimbangan putih dari warna cahaya tertentu. Kesalahan penggunaan white balance akan menghasilkan efek foto yang kemerahan atau kebiruan pada warna yang seharusnya putih.

Pilihan white balance ada beberapa macam, yaitu:
1. AWB (Auto White Balance) (untuk pengaturan otomatis oleh kamera),
2. Daylight (untuk memotret pada siang hari di bawah terik matahari),
3. Shade (untuk memotret di area teduh),
4. Cloudy (untuk memotret saat hari mendung),
5. Tungsten Light (untuk memotret di bawah cahaya lampu pijar),
6. White Fluorescent Light (untuk memotret di bawah cahaya lampu neon),
7. Flash (untuk memotret saat Anda menggunakan lampu kilat),
8. Custom (kita menentukan sendiri profil white balancenya).


Foto ini seharusnya diambil dengan pengaturan white balance Daylight. Jika pengaturannya benar, Anda akan mendapatkan hasil seperti foto yang di tengah, dengan warna natural tanpa color cast. Jika pengaturan white balancenya salah, maka foto Anda akan berakhir seperti foto kiri atau kanan yang memiliki color cast biru atau kuning.
Setelan white balance foto kiri: Tungsten
Setelan white balance foto kanan: Shade

PERALATAN IDEAL UNTUK SETIAP OBJEK FOTO
LANSKAP
1. Kamera berbodi full-frame untuk memotret lanskap dengan sudut pandang yang lebih lebar.
2. Lensa wide (rentang 24mm sampai 35mm) atau ultra-wide zoom untuk menangkap pemandangan selebar mungkin.
3. Tripod, untuk memotret lanskap terutama saat kondisi di lapangan rendah cahaya.
4. Cable release untuk memotret dengan eskposur panjang.
5. Lensa tele untuk mengambil detail menarik dari pemandangan lanskap, agar Anda tidak melulu menggunakan lensa wide.

PERJALANAN
1. Satu buah kamera. Lepaskan battery gripnya.
2. Bawalah lensa lensa all-range “dari wide sampai medium-tele” atau “dari wide sampai tele” (misalnya lensa zoom 18-200mm)
3. Bawalah baterai dan kartu memori cadangan. Saat berwisata, biasanya orang cenderung memotret dengan kalap.
4. Sudah, itu saja.

ARSITEKTUR
1. Gunakanlah lensa wide atau ultra-wide.
2. Pilihlah lensa tilt and shift (Canon) atau lensa perspective correction (Nikon) untuk mengoreksi perspektif agar bidang menjadi sejajar.
3. Tripod.

DOKUMENTER
Foto dokumentasi acara bisa meliputi acara apa pun, mulai dari konser musik, seminar, peresmian, dan launching. Di sini saya akan memberi contoh dengan acara konser musik.
1. Jika punya, pakailah lensa all-range dari wide sampai medium-tele atau dari wide sampai tele.
2. Karena biasanya lensa all-range memiliki bukaan diafragma yang relatif kecil, jadi jika ingin hasil yang lebih baik untuk menangani kondisi rendah cahaya, pakailah lensa zoom dengan rentang wide hingga medium-tele, dengan bukaan diafragma fiks yang besar.
3. Selain itu, bawalah lensa tele dengan bukaan diafragma besar pula.
4. Karena dokumentasi acara ini berhubungan dengan pengabadian momen, jadi Anda akan berisiko kehilangan momen jika harus menukar-nukar lensa. Karena itu, bawalah dua bodi kamera yang langsung dipasangi kedua lensa di atas (lensa wide hingga medium-tele dan lensa tele)
5. Bawalah selalu tripod. Anda tidak akan pernah tahu kapan Anda membutuhkannya.
6. Lampu kilat eksternal.

PERNIKAHAN
1. Dua bodi kamera.
2. Idealnya, kedua bodi dipasangi dua lensa yang berbeda. Yang pertama dengan lensa zoom-wide sampai medium-tele untuk mengambil dokumentasi umum. Yang kedua dengan lensa zoom-tele untuk mengambil ekspresi dan detail. Usahakan lensa-lensa tersebut memiliki diafragma yang besar (lensa super cepat).
3. Lampu kilat eksternal.
4. Untuk foto pelaminan, Anda akan membutuhkan dua buah strobe lengkap dengan penyebar cahaya (payung atau softbox) dan tiangnya.
5. Kartu memori berkapasitas secukupnya, plus masing-masing satu cadangan untuk setiap kamera.
6. Baterai kamera cadangan.
7. Baterai lampu kilat cadangan.

MAKANAN
1. Lensa makro
2. Tripod
3. Softbox
4. Table top
5. Shutter release.

HUMAN INTEREST
1. Pilihlah kamera yang tidak mencolok. Saya pribadi suka melepaskan battery grip.
2. Gunakanlah lensa all-range.
3. Kartu memori berkapasitas secukupnya, plus masing-masing satu cadangan untuk setiap kamera.
4. Baterai kamera cadangan.
5. Baterai lampu kilat cadangan.

INTERIOR
1. Lensa ultra-wide untuk mengambil ruangan secara keseluruhan.
2. Lensa medium-tele untuk mengambil detail interior dengan diafragma besar.
3. Pakailah tripod, karena kondisi di dalam ruangan biasanya rendah cahaya.
4. Jika ada, gunakanlah shutter release agar tidak goyang saat menjepret tombol rana, meskipun Anda sudah memakai tripod.

MAKRO
1. Lensa makro.
2. Gunakanlah tripod atau monopod. Buatlah kamera sestabil mungkin saat memotret. Jika tidak membawa penyangga, sanggalah sikut tangan yang memegang kamera dengan lutut, atau benda-benda solid lain yang ada di sekitar Anda.
3. Gunakan cable release untuk menghindari kamera bergetar dan foto goyang.

POTRET
1. Gunakanlah lensa telephoto (medium-tele hingga tele). Dengan lensa tele, sudut pandang potret akan berbeda dan tidak biasa dilihat oleh mata normal. Selain itu, kompresi lensa tele juga akan membuat subjek tidak terlalu terdistorsi, menciptakan bokeh yang bagus, dan akan membuat subjek tampak lebih menonjol dari latar belakang.
2. Reflektor.
3. Battery grip untuk memudahkan Anda memotret dalam komposisi vertikal (kecuali kamera-kamera kelas atas yang biasanya sudah memiliki tombol rana vertikal, jadi Anda tidak akan membutuhkan battery grip).

PRODUK
1. Gunakanlah lensa makro.
2. Tripod
3. Latar belakang kertas putih tanpa sambungan atau formika putih.
4. Lampu studio (strobe)
5. Softbox atau payung
6. Reflektor

PANGGUNG
1. Bawalah dua bodi kamera yang dipasangi lensa berbeda, yaitu wide hingga medium-tele dan lensa tele zoom. Jika ada, pakailah lensa yang bukaan diafragmanya besar. Penggunaan dua bodi dan dua lensa ini untuk efektivitas kerja, karena ada sejumlah band yang memberlakukan peraturan memotret hanya pada beberapa lagu awal saja, sekalipun Anda fotografer resmi.
2. Bawalah tripod terutama untuk pertunjukan teater, karena biasanya pertunjukan teater menggunakan cahaya yang redup.
3. Kartu memori berkapasitas secukupnya, plus masing-masing satu cadangan untuk setiap kamera.
4. Baterai kamera cadangan.
5. Baterai lampu kilat cadangan.

***

No comments:

Post a Comment