Wednesday, December 28, 2011

The Age of Innocence


“The Age of Innocence” menggambarkan masyarakat kelas atas New York pada tahun 1870-an. Film ini (1993) diadaptasi dari novelnya yang berjudul sama, karya Edith Wharton yang diterbitkan pada tahun 1920 dan memenangkan Pulitzer pada tahun 1921.

Film “The Age of Innocence” berkisah tentang seorang pengacara sekaligus pewaris salah satu keluarga kaya di New York, Newland Archer (Daniel Day-Lewis), yang telah bertunangan dengan May Welland (Winona Ryder) namun malah jatuh cinta pada sepupu tunangannya, Countess Ellen Olenska (Michelle Pfeiffer). Ellen kembali ke New York dari Eropa setelah menciptakan skandal, yaitu berpisah dari suaminya, Count Olenski.

Singat cerita, Newland jatuh cinta pada Ellen. Namun karena Ellen tidak ingin membuat May hancur, diapun meminta Newland tetap menikahi May. Newland memasuki kehidupan rumah tangga yang dingin dengan istrinya. Dia tetap berselingkuh dengan Ellen di belakang May. May tahu. Tapi dia tetap diam.

Newland sampai pada satu titik dimana keberanian dan tekadnya sudah bulat untuk berpisah dari May dan mengejar Ellen. Ellen akan pergi ke Eropa. Saat Newland hendak memberitahu niatnya kepada May, May memotong dengan terlebih dulu mengatakan bahwa dia hamil. Newland menduga inilah alasan Ellen tiba-tiba berangkat ke Eropa. May meminta Newland tinggal. Dia sudah mengetahui perselingkuhan suaminya dengan Ellen. Newland mengurungkan niatnya. Diapun tinggal. Menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri, kedua putra dan satu putrinya yang lahir kemudian.

Sekitar 26 tahun kemudian, setelah May meninggal, putra Newland mengajaknya ke Paris. Tanpa diduga, ternyata dia hendak mempertemukan kembali Newland dengan Ellen di sana. Newland heran dan bertanya-tanya kenapa. Putranyapun menjelaskan bahwa itu adalah wasiat ibunya sebelum meninggal. May berkata, Newland berhak mendapatkan hal ini karena May pernah meminta Newland untuk melepaskan hal yang paling dia inginkan di dunia ini. Newland pun termenung. Mengenang istrinya. Mungkin menyadari sesuatu atau apalah. “Ibumu tak pernah meminta apapun…” ujar Newland pada putranya.

Adegan film diakhiri dengan Newland yang memandangi apartement Ellen dari bawah. Kemudian dia mengurungkan niat untuk masuk dan malah beranjak pergi.

Menonton film ini sedikit banyak mengingatkanku dengan Pangeran Charles. Newland menikah dengan wanita bangsawan yang lebih muda dan lebih cantik, tapi mengejar wanita lain yang lebih tua dan statusnya masih menjadi istri orang.

Satu-satunya pesan moral yang aku ingat dan ingin aku garis bawahi setelah menonton film “The Age of Innocence” ini hanyalah: mungkin selama bertahun-tahun dalam masa pernikahannya [sejak May hamil] Newland adalah suami yang setia. Namun HATI-nya baru setia justru setelah istrinya meninggal.
Ironis. Membuatku mencibir.

Sri Noor Verawaty

2 comments:

There was an error in this gadget