Thursday, October 11, 2018

Kawah Kamojang Garut: Datanglah Menjelang Magrib kalau Kau Berani

Hari itu kami jalan-jalan ke Sumedang. Karena hari masih cukup siang sementara petualangan di Sumedang telah selesai, tiba-tiba tebersitlah sebuah ide impulsif, "Ke Garut, yuk?" yang kemudian direspons "Ayo!!" dengan penuh semangat.

Pertama-tama kami bertanya ke Mbah Google tentang tempat-tempat wisata di Garut yang tidak terlalu jauh jaraknya dari titik tempat kami berada saat itu. Setelah menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk pergi ke Kawah Kamojang.

Kamojang Hill Bridge
Perjalanan pun dimulai. Sore hari sekitar waktu asar, kami sudah tiba di jembatan Kamojang. Arsitektur jembatannya bagus, jadi kami mengambil beberapa foto di sana. Setelah itu, buru-buru melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin senja.

Sekitar pukul 5 sore kami tiba di gerbang tiket menuju Kawah Kamojang. Kami sempat bertanya kepada petugas di sana, "Lokasi wisatanya tutup jam berapa?" Mereka bilang sekitar magrib, tetapi di dalam sana ada warung-warung makan yang selalu buka, dan suka ada orang-orang yang kamping, jadi kami tidak perlu khawatir kesepian. Mau kamping juga boleh, katanya.

Baiklah, kami melanjutkan perjalanan ke dalam. Dan hanya beberapa puluh meter dari tempat tiket, kami sudah dibuat terpesona oleh pemandangan Kawah Manuk. Ini adalah kawah pertama dari rentetan kawah yang ada di sini.

Kawah Manuk

Setelah mengambil beberapa foto, kami melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Di pusat area wisata ini ada lahan parkir yang cukup luas dan sejumlah warung makan yang menawarkan camilan seperti Indomie, somay, baso, dan makanan lainnya. Ada pula musala dan WC.

Setelah parkir, kami mulai berjalan kaki ke kawah kedua. Kawah Kereta Api namanya. Kawah ini dinamai demikian karena semburan uap panasnya sangat kencang dan bunyinya sangat berisik seperti kereta uap zaman dahulu. Jarak terpisah beberapa meter saja, kami sudah tidak bisa mendengar lawan bicara. Untung saja ada handy talkie, itu pun harus sambil berteriak saat menggunakannya, barulah terdengar. "AYAAAH, UDAH SORE, AYO LANJUT KE KAWAH KAMOJANGNYA!!!"
Suami: "OKEEE!!!"
Seperti di rimba, ya?

Kawah Kereta Api


Kami melanjutkan perjalanan, tetapi sedikit-sedikit berhenti untuk memotret karena tempat ini sangat memukau. Memesona. Menghipnotis. Jadi kami terus terkagum-kagum.

Setelah "dikit-dikit berhenti, dikit-dikit memotret" kami pun tiba di kawah berikutnya, yaitu Kawah Hujan. Hari tambah senja dan sepi, semakin dingin dan spooky, dan membuatku merasa hibbie jibbies (berima ya...). Untunglah, mendadak ada serombongan orang (anak-anak dan pelatih) dari perguruan pencak silat atau taekwondo yang datang ramai-ramai dan menuju ke Kawah Hujan. Dan kalau melihat beberapa bapak dan kakek sesepuh perguruan, kamu juga akan mendadak jadi pemberani. Ah, kalau sama si Kakek mah, setan juga takut dikelepak kayaknya. Dari tampangnya saja... belum ngomong apa pun, si Kakek sudah kelihatan sakti.

Kawah Hujan
Kami tiba di Kawah Hujan bersama rombongan tersebut. Sesuai namanya, kawah ini memang menyemburkan uap air yang terasa seperti hujan. Airnya panas, tapi tidak bisa dipakai berendam seperti di Ciater karena hanya berupa aliran dan genangan kecil. Inilah tempat yang terkenal bisa dipakai untuk merebus telur. Tinggal celupkan saja telur mentah ke dalam salah satu genangan air di sini, tunggu beberapa menit, dan kamu pun akan akan mendapatkan telur rebus yang enak. Jangan lupa bawa nasi liwet, pepes ikan gurami, dan sambal sebagai pelengkapnya.

Memotret di sini cukup berisiko karena airnya yang terus memercik dari sumber-sumber mata air kecilnya. Jadi kalau kamu membawa kamera mahal dengan lensa seharga motor, lebih baik dikantongi saja daripada rusak tepercik air belerang panas.

Hutan di Kawah Kamojang
Jam sudah menunjukkan pukul 6 dan aku gelisah karena belum juga sampai di Kawah Kamojang yang sejak awal menjadi tujuan utama kami. Sudah jauh-jauh berwisata ke Kamojang, masa kami ga ke Kawah Kamojangnya? Pikir kami, Kawah Kamojang ini adalah kawah terbesar dan terepik dibandingkan tiga kawah lain yang sudah kami lihat.

Aku membuka Google Map dan di sana tertera bahwa Kawah Kamojang sudah tidak jauh dari tempat kami berada. Ada jalan setapak menuju ke sana. Jadi kami pun mulai meniti jalan tersebut menuju ke hutan yang lebih lebat dengan kabut yang semakin tebal dan udara yang semakin dingin.

Setelah beberapa meter berjalan dengan perasaan yang sangat tidak nyaman, aku dan suami berunding, apakah akan terus melanjutkan atau balik badan saja. Kami membawa senter saat itu. Jadi ini bukan soal terang atau gelap. Kami juga membawa tripod yang bisa dipakai sebagai alat bela diri kalau ada orang jahat atau binatang liar. Tapi ini bukan soal makhluk kasat mata. Ada rasa tidak nyaman yang luar biasa menerpaku, jadi aku meminta untuk pulang saja. Suami setuju. Kami balik kanan dan turun kembali.


Di perjalanan pulang, setelah Kawah Kereta Api, ada beberapa pemuda yang sedang membangun sebuah kantor. Mereka "warlock" (warga lockal). Kami berbincang-bincang dan mengorek informasi tentang Kawah Kamojang.

Ternyata.......... Tidak ada itu yang namanya "Kawah Kamojang", Saudara-saudara! Sebenarnya yang dimaksud dengan "Kawah Kamojang" adalah "Kawah Manuk, Kawah Kereta Api, Kawah Hujan, dan Kawah Berecek yang ada di daerah bernama Kamojang".
PLAK!
Aku merasa dibodohi oleh Google Map!

Untunglah kami urung menelusuri hutan spooky ke titik yang di Google Map tertera tulisan "Kawah Kamojang". Entah apa yang akan kami temukan di sana. Magrib-magrib pula!

Hutan di Kawasan Kamojang
Kami pun turun dengan puas. Kembali ke tempat parkir dan menyempatkan diri untuk memotret Kawah Berecek yang sebelumnya terlewat dan beberapa kawah tak bernama lain di sekitar sana.
Luar biasa rasanya melihat tanah yang kami pijak "mendidih" lumpurnya dan mengeluarkan uap dari sela-selanya. Tidak ada duanya.

Kawah Berecek
Sebagian besar tempat yang "berbahaya" ini dipagar, tetapi tetap berhati-hatilah saat melangkah karena hampir setiap sudut ada saja lumpur yang menggelegak dan uap belerang yang menguar.

Salah satu kawah di Kamojang

Satu lagi bonus luar biasa yang membuat kami menganga adalah PLTPB Kamojang (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi). Sore sebelumnya, saat kami melewati tempat ini, pemandangannya sudah tampak luar biasa. Ada beberapa cerobong besar yang mengeluarkan uap yang mengepul-ngepul ke langit.
PLTPB Kamojang

Dan inilah penampakan PLTPB Kamojang yang membuat kami berpaling dan berhenti sebentar karena kaget. Kami pikir ada kebakaran saking benderangnya tempat ini. Ternyata memang seindah itulah keadaannya dan semua dalam keadaan aman terkendali.

PLTPB Kamojang

Tuesday, October 9, 2018

You Can Google My Name

Bagaimana rasanya jika kalian dipanggil dengan nama asing yang bukan nama kalian sendiri?

Aku suka namaku. Nama pemberian orang tuaku. Tapi semenjak menikah, orang-orang mulai memanggilku dengan nama suamiku.

Aku bangga sama suamiku, tapi aku punya identitas pribadi yang terlepas dari suamiku. Aku ingin dikenal sebagai diriku sendiri, dengan nama asliku. Jadi ke mana pun, aku selalu memperkenalkan diri dan menulis namaku sebagai "Sri", bukan "Bu Dody".

Setelah punya anak, panggilanku mulai berubah lagi jadi "Mama K." Baiklah, ini untuk memudahkan identifikasi bahwa aku adalah ibunya K. Tapi nama "Mama K" ini tidak "terdaftar" di Google, pun dengan "Bu Dody".

Ada satu lagi. Aku punya nama panggilan yang biasanya hanya digunakan oleh orang-orang yang sudah dekat denganku: Nci. Sementara kepada orang-orang baru atau tidak terlalu dekat, aku selalu menggunakan nama orisinalku: Sri. Jadi, ketika suatu waktu pacar teman dekatku memanggilku dengan sapaan, "Nci", keningku berkerut. Rasanya aneh nama itu dilontarkan oleh orang yang cukup asing.

Tapi kemudian nama panggilanku yang satu ini jadi semakin tidak terasa personal lagi. Diawali oleh Mas Anggi yang selalu memanggilku "Nci" di hadapan para penulis Kontenesia, dan lama-kelamaan semakin banyak di antara mereka yang juga ikut memanggilku "Mbak/Teh Nci", terutama penulis-penulis lama.

Ah baiklah, untuk panggilan yang satu ini, aku ga keberatan. Yang paling membuatku mengernyitkan kening ga nyaman adalah panggilan "Bu Dody". Panggilan ini membuatku merasa seolah menjadi sosok tanpa peran di balik nama suamiku. Sosok yang tidak memiliki identitas dan tidak signifikan, yang hanya baru bisa dikenali jika disemati nama suaminya. Ini pengerdilan karakter.

Once again, don't get me wrong. I love my husband and I'm very proud of him. Menjadi istrinya adalah sebuah kebanggaan. Tapi aku juga punya nama dan identitas sendiri. Nama yang bisa di-googling. Dan aku bangga menyandangnya. Jadi alih-alih "Bu Dody", aku lebih suka dipanggil "Sri Noor Verawaty, istrinya Dody."

Thursday, October 4, 2018

Kucingku yang Lucu (Bagian 1)

Kucing 1 masuk ke dalam rumah lalu makan.
Kucing 1 selesai makan.
Beberapa waktu kemudian kucing 2 masuk ke dalam rumah, meminta makan.
Kucing 2 makan.
Kucing 1 ikutan makan lagi dengan tingkat kerakusan yang sama seperti belum pernah dikasih makan 2 menit sebelumnya.

~

Kami membuka gerbang, mau pergi keluar. Kucing 2 sedang duduk merunduk di dekat semak-semak di seberang jalan. Kami semringah dan langsung berseru memanggilnya. Lalu sekitar 2 ekor burung di garis pandang si kucing mendadak terbang. Kucing 2 melirik kami.... Jeng jeng...
"Oooh.... lagi berburu burung, ya? Maaf ya, Mab!" Hahahaha....

~

Aku: Meletakkan keranjang bekas menjemur pakaian di lantai, kemudian pergi sebentar melakukan sesuatu. Ketika kembali, kucing 1 sudah ada di dalam keranjang. Duduk manis.
"Yaaah, itu kan bersih, Bur!"

~

Aku: Melihat video kucing yang bereaksi lucu saat mencium aroma durian. Aku mencobanya ke kucingku dengan es krim beraroma durian menyengat.
Kucing 1: Menjilat es krim dengan senang. Minta lagi.
Lo, kok ga seperti yang diharapkan? Kucing apa kamu?!

~

Nyari Gara-Gara di Kontenesia


Moral: "Be careful with what you wish for!"

Setiap beberapa bulan, biasanya aku akan melakukan evaluasi, mulai dari evaluasi sistem, kinerja, maupun posisiku di Kontenesia. Apakah ada sistem yang perlu dibenahi atau ditingkatkan? Bagaimana kinerja penulis, editor, bahkan kinerjaku sendiri di Kontenesia? Dan bagaimana kelangsungan posisiku di sini ke depannya?

Pada usia yang sudah 3 tahun lebih ini, Kontenesia sudah stabil. Stabil sistemnya, stabil kinerjanya, dan stabil pula pekerjaan yang mengalir setiap bulannya. Semuanya berjalan lancar dan mulus, termasuk beberapa bulan terakhir. Tetapi sesuatu yang lancar dan mulus itu kadang jadi terasa membosankan. Di situlah aku mulai mencari gara-gara. Mulai berpikir yang tidak-tidak, "Ngapain lagi, ya? Apa lagi yang bisa diperbaiki dan ditingkatkan?" Lalu semakin merembet ke soal kelangsungan posisiku, "Kalau selancar ini, semua sudah bisa berjalan dengan mulus, aku jadi merasa keberadaanku di sini kurang berguna."

Meninggalkan Kontenesia memang bukan pilihan... untuk saat ini. Aku sempat ditertawakan suamiku karena aneh juga meninggalkan sesuatu yang (sebagiannya) merupakan milikku dan sudah kami bangun dengan darah dan air mata. Tapi sekitar dua bulan terakhir ini aku memang sedang mengevaluasi posisiku. Pikirku, aku akan melihat perkembangan yang terjadi di Kontenesia sampai akhir tahun, baru menentukan akan berbuat apa.

And then...
It's true that, there is the calm before the storm.

Sepak terjang bus-dev (business development) Kontenesia semakin mengerikan. Klien-klien baru pun semakin banyak yang masuk.
Bus-dev 1: "Start up X mau order 51 artikel 3.000 kata dan 700 artikel yang lebih pendek."
Bus-dev 2: "Marketplace Y butuh 500 - 1.000 artikel per bulan."
Bus-dev 3: "Klien Z mau bikin majalah prioritas."
Dll., dll.

Sebisa mungkin aku tidak menanggapi "calon rezeki yang belum benar-benar sampai ke telapak tanganku". 
Aku: "Nanti saja paniknya kalau memang pekerjaannya sudah positif jadi dan masuk."
Aku pada kenyataannya: [Sudah beberapa malam ini susah tidur memikirkan rencana A, B, .... dan C untuk menghadapi badai yang sudah tampak di depan mata].

Dan di sinilah aku sekarang, pada salah satu malam susah tidur itu. 
Sesuai fitrahnya orang kreatif (eaaa, kreatif...) yang konon lebih "hidup" pada malam hari, aku terjaga dengan otak yang kelayapan. Dan tangan yang juga kelayapan, ngeblog, ke Facebook, ke email, ke platform Kontenesia. Pada malam-malam seperti ini, biasanya aku mendadak terpikir ide ini dan itu terkait pekerjaan lalu secara spontan mengirimkan pesan ke rekan-rekan kerjaku.

Negara api sudah menyerang dan keadaan tidak lagi membosankan. Satu per satu pekerjaan dari klien-klien baru itu mulai masuk. Kalau keadaan serusuh dan "seseru" (huhuhu...) ini sih, aku punya alasan untuk tinggal di Kontenesia lebih lama lagi. Setidaknya sampai aku merasa harus mengevaluasi diri lagi.

Baiklah, sudah hampir pukul 01.00 dini hari, nih. Baterai laptop hanya tersisa 8%. Aku mau berusaha tidur... tapi setelah menghabiskan mpek-mpek di hadapanku ini dulu. Kan sayang, daripada mubazir. :D

Wednesday, September 5, 2018

Kejujuran dan Integritas Tinggi dalam Sosok Seorang Bi Titi

Bi Titi sudah menemani keluargaku selama bertahun-tahun, membantuku melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga setiap seminggu sekali.

Sosoknya sederhana, tapi banyak sekali yang aku kagumi dari wanita yang satu ini. Beberapa hal di antaranya adalah kejujuran dan integritasnya yang luar biasa.

Selama bersamaku, tak pernah satu kali pun aku kehilangan sesuatu. Sekalipun barang berharga kami berserakan, sekalipun ada uang yang tergeletak dalam jangkauan, semuanya aman tak pernah dia sentuh.

Dia bukan orang berpunya. Dan kalau bicara soal kesempatan, dia memiliki banyak kesempatan untuk melakukannya, baik untuk menyelipkan barang besar maupun selembar uang yang terserak. Tapi tidak. Dia adalah orang yang sadar bahwa Tuhannya selalu mengawasi segala tindak-tanduk makhluk-Nya. Dia jujur. Dia bertanggung jawab pada Tuhannya.

Soal hasil pekerjaan, dia adalah orang yang penuh integritas. Aku tak perlu memantaunya, tak perlu memeriksa, tak perlu menyuruh maupun meminta. Dia tahu apa yang dia lakukan dan dia melakukannya dengan sangat baik. Sering dia memberikan servis lebih dari yang aku minta.

Sifat lain yang aku kagumi dari dia adalah cara pandangnya akan hidup. Dia selalu positif dan optimis. Tak pernah aku mendengar mulutnya mengeluhkan kehidupan atau apa pun, meski aku tahu hidup tak selalu mudah untuknya. Dia selalu menyikapi semua dengan mata semringah, menawarkan nasihat-nasihat bijak, merespons semua ceritaku dengan wajah tersenyum.

Aku tidak tahu sampai mana dia mengenyam pendidikan formal, tapi dia adalah orang yang cerdas. Dia menggunakan logikanya dengan benar dalam menyikapi berbagai aspek kehidupan yang rumit dan serius. Bahkan, dia menggunakan logikanya untuk hal sederhana seperti menata susunan alat makan di rak piringku, bertentangan dengan kebiasaanku yang tampaknya dia pikir tak masuk akal.

Aku selalu meletakkan gelas dan mug (EBI: "mok") keramik di rak teratas agar mudah diambil. Sementara dalam pikiran Bi Titi, rak paling atas seharusnya diisi dengan barang-barang yang paling ringan. Jadi dia selalu meletakkan benda-benda plastik di sana. Sementara peralatan makan lain akan dia susun sesuai beratnya, dengan rak yang lebih bawah untuk benda yang lebih berat.

Dia tidak pernah mengatakan apa pun soal penempatanku. Aku juga tidak mengatakan apa-apa meski diam-diam selalu memperhatikannya sambil senyum-senyum. Setiap minggu, saat dia yang bertugas mencuci piring, rak pertama akan selalu diisi oleh benda yang ringan. Dan di hari lain saat giliranku tiba, rak pertama akan kembali diisi oleh mug. Bagaimanapun, mug-mug itu harus bisa aku ambil dengan mudah untuk menyeduh kopi suamiku setiap pagi.

Bi Titi juga lucu. Aku senang ditemani olehnya yang mudah tertawa. Dia lebih sebagai pendengar daripada pencerita. Dan dia selalu riang mendengarkan ocehanku tentang segala hal.

Ada satu kebiasaan aneh yang berhasil aku tularkan kepadanya: mengajak ngobrol kucing. Hahaha...

Aku tidak ingat kapan dia memulai kebiasaan yang satu ini. Aku baru menyadarinya suatu hari ketika aku mendengar dia menyapa kucingku dengan lembut di halaman belakang. Di kamar, aku tertawa mendengarnya. Dan ternyata dia tidak hanya melakukannya dengan kucingku, karena suatu kali saat hendak pulang, dia mempersilakan seekor kucing liar yang memotong jalannya untuk berjalan terlebih dulu. :D

---

"I love you, Bi Titi. Bibi benar-benar sosok luar biasa yang sangat aku kagumi. Semoga Bibi diberikan kesehatan, keberkahan, kemudahan rezeki, dan umur yang panjang. Amin."


Tuesday, September 4, 2018

Chat Room Kontenesia Seru Lagi!

Meet Up Lokal Bandung

Dulu, chat room Kontenesia selalu ramai. Kami membahas segala macam, mulai dari curhat urusan cinta sampai harga seprai. Selalu meriah setiap hari. Kalau chat room mulai terasa sepi, selalu ada saja salah satu penulis yang nongol dan memulai percakapan baru, yang kemudian akan disambut ramai-ramai oleh hampir semuanya.

Banyak di antara kami yang sebenarnya introver, tapi banyak pula yang akhirnya mau membuka diri dan bergabung dengan keseruan.

Meet Up Lokal Yogyakarta


Perlahan, dengan semakin banyaknya jumlah penulis baru yang asing bagi penghuni lama, dan seiring dengan pindahnya platform Kontenesia ke aplikasi baru yang lebih berat untuk diakses di ponsel, chat room pun terasa sepi. Tidak seheboh dan seseru dulu. Keakraban antarsesama penulis jadi kurang terasa. Ikatan kekerabatan kurang terjalin. Dan aku pun nyaris melupakan misi kami untuk membangun komunitas penulis Kontenesia yang penuh rasa kekeluargaan.

Sampai suatu hari di rapat bulanan editor, salah satu editor Kontenesia, Mba Ade, menyadarkanku. Dia mengajukan ide cemerlang untuk kembali membuat chat room meriah dan akrab. Dan tim editor pun langsung mengeksekusi ide tersebut dengan mengajukan tema obrolan dan mengelolanya setiap hari.

Meet Up Lokal Malang

Berkat ide tersebut, kini chat room Kontenesia kembali ramai. Setiap hari selalu ada tema seru untuk dibahas. Temanya beragam dan luas, jadi kami harap ini bisa memfasilitasi beragam orang dengan beragam minat.

Makasih, Mba Ade...  :)

Thursday, July 26, 2018

Road Less Travelled: Gunung Parang Purwakarta, Sasak Panjang, dan Jembatan Kereta Cisomang

Minggu kemarin, kami, Keluarga Tukang Aprak-aprakan mengerjakan apa yang biasa kami kerjakan: aprak-aprakan! :D "Aprak-aprakan" adalah bahasa Sunda yang artinya road less travelled. Hmm... bahasa Indonesianya apa ya... "bepergiaan ke tempat yang ga ada jalannya, kayak ke hutan atau ke gunung." Kurang lebih seperti itulah artinya.

Dan kali ini kami memilih aprak-aprakan ke Kota Purwakarta.

Perhentian pertama kami adalah sebuah bukit. Suami nge-drone di sana, sementara aku mencari bunga dan insek untuk dipotret. Lokasinya tepat di depan kuburan. Di sana, to my surprise, aku menemukan pohon jambu mete (jambu monyet) yang sedang berbuah walau tak lebat. Jambu mete... kacang mete kesukaanku! Kacang yang harganya udah mirip daging kalau Lebaran. Kacang yang kalau di mertua lagi ada, aku dan suamilah yang biasa menghabiskannya. :D

Beberapa jambu dan biji metenya berserakan di tanah. Saat seorang ibu--yang rumahnya berada tepat di depan kuburan--lewat untuk menjemur padi di dekat sana, aku bertanya, kenapa jambu metenya kok dibiarkan berserakan begitu saja, kenapa ga ada yang mengambil? Si Ibu bilang, iya, emang ga ada yang suka ngambilin, mungkin udah pada bosen, mungkin ga suka. Lagian getahnya bikin kulit menghitam dan mengelupas, katanya.

Wah, mubazir gini, pikirku. Lalu aku meminta izin untuk membawa pulang beberapa biji mete. Buah jambunya sendiri ga ada yang bisa diambil karena memang belum musimnya, jadi buahnya ga banyak dan kalaupun ada satu dua, letaknya hampir di puncak. Kalau memaksa memanjat, aku khawatir disangka, "Ada monyet naik jambu monyet...!"

Itu kisah di kuburan pertama. Di kuburan kedua yang letaknya tepat di tepi jalan, aku meminta suami untuk berhenti sejenak karena di sana ada baaaanyaaak sekali bunga putih cantik yang tumbuh liar. Aku mencabut beberapa rumpun. Bapak-bapak di seberang jalan berseru, "Milari naon (nyari apa?)?"
Aku bilang, nyari bunga. Aku minta izin dan dia berkata sambil tertawa, "Candak we sadayana ari palay, mah. (ambil saja semuanya kalau mau)." Haha... banyak banget, dong.

Perhentian berikutnya adalah Gunung Parang. Suami nge-drone di dekat sana. Kami ga naik ke gunungnya, karena anakku malah tidur di mobil.

Jadi, Gunung Parang yang memiliki ketinggian sekitar 963 meter di atas permukaan laut ini sebenarnya adalah sebongkah batu raksasa. And by "giant", I mean... really, really, really massive! Sementara ketinggian gunung ini dari permukaan tanah yang kami pijak tepat di kakinya kurang lebih sekitar 400 meter lebih mungkin, ya, karena drone suamiku sudah terbang sampai ketinggian 380 meter dan itu belum sampai ke puncaknya.

Di sana sekarang sudah dibuat via ferrata (tangga titian di dinding tebing buat mendaki ke atas) dan ada "hotel" transparan yang menggantung begitu saja di dinding tebing. Not for the faint hearted, really! I'm a faint hearted... and I might just literally faint if I have to spend a night there.

Lanjut ke perhentian berikutnya yang entah di sebelah mana dan entah seperti apa, karena kami memang pergi ke mana saja aplikasi Waze membawa kami. :D
Kami mencari "Sasak Panyawangan" (bahasa Sunda, artinya: "jembatan tempat menikmati pemandangan") referensi dari Google Map. Ternyata setelah sampai di sana, namanya adalah "Sasak Panjang" (jembatan panjang). (Please, make up your mind, Sasak! :D)
Jalannya hanya cukup untuk 1 mobil tok! Kalau kalian berpapasan sama mobil lain, gimana? Euuu... 'ntar lah, dipikirkan saja solusinya di lokasi kalau memang sudah kejadian, ya. Capek kalau dipikirin dari sekarang.

Jadi, Sasak Panjang ini adalah sebuah skywalk (kalau di objek-objek wisata di Bandung, begitulah disebutnya). Jembatannya terbuat dari bambu, karena memang di sana ada banyak sekali hutan bambu, jadi pembuatnya memanfaatkan sumber daya yang ada. Bagus.
Nah, jembatan ini panjang banget dan nyambung ke mana-mana, sampai ke dinding sebuah bukit, dan naik terus hingga ke atas. Ada apakah di atas? Percaya atau tidak: ada kolam renang, katanya. Kok katanya? Iya, karena aku sudah turun dari jembatan sejak beberapa meter awal. :D

Anakku berjalan lumayan jauh, ke batu besar (yup, daerah Purwakarta ternyata kaya dengan batu-batu berukuran raksasa, jadi pengen googling sejarahnya), sampai agak ke atas. Suamiku mengikuti dari belakang dengan tertatih-tatih. He almost kinda "crawled" on it... Suamiku! Suamiku--yang dulu adalah pecinta alam dan penakluk gunung---kemarin berjalan merayap di sepanjang jembatan bambu, sementara anakku menggelinding dengan ceria. Aku ngakak di kejauhan, di bawah, di tempat aman, memijak tanah. Habisnya jembatan bambunya berderit setiap kali diinjak dan ada bolong-bolong di sela-selanya. Jadi aku turun saja. :D

Lanjut ke perhentian terakhir, yaitu Jembatan Kereta Cisomang. Yang satu ini untuk memuaskan kegilaan suamiku pada kereta membuat stok video aerial jembatan keren ini. Suamiku memang seorang train freak railfan, jadi dia senang mengunjungi tempat-tempat apa pun yang berhubungan dengan kereta.

Di tempat ini ada 2 jembatan, yaitu jembatan lama yang dibangun pada zaman kolonial Belanda ("Dibangun tahun 1800-an", kata suami di belakangku barusan) dan satu lagi jembatan baru, yaitu penggantinya, karena jembatan lama sudah tidak laik* pakai.

(*la.ik = memenuhi persyaratan yang ditentukan atau yang harus ada; patut; pantas; layak
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/laik)

Melebar deh pembahasannya. Dasar editor!

Jadi, apa hasil aprak-aprakan kali ini? Seperti biasa: foto. 
Tapi hari itu kami kurang beruntung. Seharian, dari Bandung sampai Purwakarta, dari pagi sampai siang menjelang sore, kondisinya hazy (kabur karena polusi/debu di udara, bukan karena kabut cantik). Memang beginilah nasib fotografer lanskap. Untung-untungan. Kadang cuaca sedang bagus, kadang sebaliknya. Dan kalau sedang tidak beruntung, Photoshop Lightroom comes to the rescue! Satu saja ya fotonya... 

Foto Jembatan Cisomang sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) diedit.
Err... ya, suamiku adalah fotografer andal (eaaa) sekaligus editor foto yang mumpuni (eaaa lagi...)
Hubungi nomor.... #ah terlalu vulgar.
Nah, masih ingat dengan kacang mete yang aku bawa pulang? Yang kata si ibu, getahnya bikin kulit menghitam dan mengelupas?

Sesampainya di rumah, aku berusaha membelahnya dengan pisau. Ternyata kulit kacang mete itu keras dan tebal, padahal aku sengaja memilih yang paling muda, masih hijau, karena aku pikir yang ini akan lebih mudah dibuka daripada yang kulitnya sudah mengeras seperti batok kelapa. Dan... karena masih hijau, getahnya juga banyak.

Getah?!! Inikah getah yang kata si ibu itu bikin kulit menghitam dan mengelupas? Terlambat... Tanganku sudah berlepotan. Buru-buru aku cuci dengan sabun cuci tangan, lalu dengan sabun mandi, lalu dengan larutan antiseptik. Rasanya tetap aneh, kulit jari jadi sehalus p@nt@t bayi. Terlalu halus untuk dibilang normal. Beberapa hari kemudian, kulit tanganku mulai mengelupas. Kayak ada selapis tipis yang mulai berubah warna menjadi lebih gelap, terus secara bertahap berguguran. Di situlah aku sadar, kenapa biji jambu mete itu sampai berserakan dan ga ada yang mau memungutnya. Kalau begini ceritanya sih, semahal daging pun mending beli daripada ngurus sendiri. :D

Semoga ada pesan moral yang bisa dipetik dari cerita perjalanan kami kali ini. Minimal: berhati-hatilah dengan getah kacang mete! :D

Seperti Berjalan di Ladang Ranjau


Hari ini lagi-lagi aku membuat sebuah status receh di Facebook, tapi kemudian berpikir, kenapa aku melakukannya? Kenapa hanya menulis lelucon ringan, pos foto kucing, sesuatu yang lucu, seolah ga pernah serius dan ga suka membahas hal yang berat?
Mungkin.... karena pekerjaanku di Kontenesia sudah cukup berat... Hahaha.... :D

Kalau dilihat sekilas, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa beratnya pekerjaanku? Ngedit udah enggak; mengurus pekerjaan administratif harian udah enggak; nongol di depan klien, udah jarang; apanya yang berat?
Semua orang, yaitu editor, admin, bus-dev, finance, dan Pak Bos mungkin hanya tahu sepotong-sepotong. Editor hanya melihat sebagian "pekerjaanku yang berkaitan sama mereka", demikian pula admin, bus-dev, finance, dan Pak Bos. Mereka hanya tahu "bagian pekerjaanku yang berkaitan dengan mereka." Tapi kalau dikumpulkan, pekerjaan mereka semua berkaitan dengan aku!

Untuk mendebat pendirianku bahwa aku ini seorang introver, suamiku pernah bilang, "Itu kamu bisa ngurus banyak orang?"
Aku jawab, "Ya bisa. Tapi ini bukan soal 'bisa' atau 'enggak', tapi soal 'mau' atau 'enggak'."

Kalau diibaratkan pelari, aku ini sebenarnya adalah sprinter--pelari cepat. Aku bisa bekerja berat dalam rentang waktu singkat. Setelah itu aku harus beristirahat untuk mengembalikan energi fisik maupun psikis. Seperti cheetah. Itulah kenapa pekerjaan sebagai penerjemah freelance (bukan di Kontenesia) sebenarnya sangat cocok untukku. Aku bisa bekerja sebulan penuh untuk menerjemahkan sebuah buku, atau 1 hingga 2 minggu untuk dokumen panjang, misalnya. Setelah itu aku bisa beristirahat sampai pekerjaan berikutnya datang. Dalam waktu santai itu, aku mengisinya dengan hobi seperti berjalan-jalan, memotret, membaca buku, menonton, menggambar, ngeblog, bahkan menulis buku anak.

Sementara pekerjaan di Kontenesia ini justru maraton. Kebayang kan, seorang sprinter disuruh lari maraton. Itulah kenapa aku suka merasa kehabisan napas. I feel burned-out, because I'm not actually wired to be a marathon runner. 

Kadang, di suatu hari yang indah dan terasa damai, dan lampu ponselku belum berkedip-kedip dengan notifikasi dari Kontenesia, aku buru-buru menyalakan komputer untuk menggarap terjemahan (aku masih bekerja sebagai penerjemah di beberapa tempat). Tapi tiba-tiba datanglah badai topan, notifikasi menyala di semua tempat, chat room ramai, email masuk beruntun, pertanyaan mengalir, pekerjaan tiba-tiba menumpuk.
Selain beberapa pekerjaan berat, ada pula pekerjaan yang hanya berupa perintilan kecil. Kadang hanya menjawab pertanyaan sana-sini. Hanya mengambil keputusan ini-itu. Hanya mengecek satu-dua dokumen. Membereskan masalah dengan klien atau penulis. Tapi selalu ada.

Kemarin suamiku bilang, "Margin error di Kontenesia itu tipis sekali. Kamu kayak berjalan di thin ice, selalu ada risiko salah."
Kalau versiku, pekerjaan di Kontenesia itu seperti berjalan di ladang ranjau. Selalu ada risiko salah injak & ranjau pun meledak. Itu karena bidang pekerjaan yang satu ini melibatkan banyak faktor. Banyak penulis, banyak klien, banyak niche produk, banyak kepala, banyak keinginan, banyak sudut pandang. Jadi ya, banyak ranjau. Dan kalau ranjaunya sudah meledak, aku sering jadi "human-shield"-nya. Haha.

Dulu, bagian "human-shield" ini adalah bagian yang paling aku benci. Bayangkan, orang lain yang salah, aku yang harus bertanggung jawab dan menyelesaikan masalahnya. Aku yang harus menghadap klien, menghadap penulis, meminta maaf dan memohon seolah akulah terdakwanya.

Bertanggung jawab atas kesalahan orang lain adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Karena hal itu pula, menempellah sebuah image kepadaku: Chief Editor Kontenesia galak! Baik di mata klien maupun penulis. Ya memang begitulah. Di depan klien, aku kadang harus defensif dan membela penulis-penulisku kalau mereka tidak bersalah. Di depan penulis, akulah si algojo yang "nongol" dan memutuskan nasib mereka saat evaluasi rutin, termasuk memberikan Surat Peringatan dan memecat penulis.

Tapi lama-lama, aku jadi terbiasa. Jadi kambing hitam, dibilang galak, bertanggung jawab atas kesalahan orang lain? I eat that up! Angkat bahu. Kibas rambut. Sisihkan ke samping. Ga usah dimasukkan ke hati.

Jadi sebenarnya, pekerjaanku itu meliputi apa saja, sih? Hmm... menambal bocor dan menyelesaikan masalah. :D