Sunday, November 17, 2019

Penggunaan "Namun, Tetapi, Tapi," dan "Akan Tetapi"

Kuliah Jumat Kontenesia: Penggunaan "Namun, Tetapi, Tapi," dan "Akan Tetapi"

Hari ini kita bahas soal penggunaan kata "namun, tetapi, tapi, akan tetapi" ya.

Jadi, "Namun" itu adalah kata sambung antarkalimat. Harus selalu diletakkan di awal kalimat & pakai koma.
Contoh:
~ Dia pintar. Namun, arogan.

Sementara, "tetapi" adalah kata sambung intrakalimat (dalam kalimat yg sama). Harus selalu diletakkan di dalam kalimat yg sama, sebagai anak kalimat.
Contoh:
~ Dia pintar, tetapi arogan.

Nah, kalau "tapi" > ini bentuk tidak baku dari "tetapi".
Buat bahasa resmi atau tulisan-tulisan formal, silakan gunakan "tetapi".

Lanjut ke "Akan tetapi."
Ini adalah kata sambung antarkalimat (seperti "Namun). Harus selalu diletakkan di awal kalimat & pakai koma.
Contoh:
~ Dia ingin menjadi seorang penyanyi. Akan tetapi, orang tuanya menyuruh dia menjadi pegawai negeri.

Friday, November 1, 2019

Deteksi Dini Disleksia pada Anak

Kuliah Jumat Kontenesia: Deteksi Dini Disleksia pada Anak

Beberapa fakta tentang anak disleksia:

- Mereka punya tingkat kecerdasan normal, atau bahkan di atas rata-rata. Jadi sebenarnya mereka bukan “bodoh”, mereka cuma mengalami kesulitan literasi karena sistem di otaknya aja yang berbeda.

- Gejalanya bisa dilihat sejak usia 5-7 tahun.

- Tingkatannya ada yang ringan, medium, sampai berat. Buat penyandang disleksia berat, biasanya ada gangguan2 lain yang mengiringinya.

- Penyebabnya adalah faktor neurobiologis dan faktor genetika dan akan dialami seumur hidup.

Disleksia ini sebaiknya sudah diidentifikasi sebelum usia sekolah (sebelum 7 tahun). Kalau terlambat ditangani dan anak sudah mulai masuk usia sekolah, dia akan mulai merasakan kegagalan akademis dibandingkan teman-teman sebayanya. Kalau ini terus terjadi, anak bisa jadi minder dan self esteem-nya rendah.

Tanda-Tanda Disleksia

1. Anak mengalami gangguan berbahasa.
  • Anak kesulitan mengenali huruf atau mengejanya. Sulit menyebut dan menulis kata-kata yang panjang.
  • Huruf sering tertukar. Misalnya antara “b” dan “d”, antara “p” dan “q”, antara angka “6” dan “9”.
  • Dia kesulitan membedakan unit bunyi terkecil. Misalnya, “taman” jadi “tanam”. “Laba-laba” jadi “bala-bala”.
  • Terus dia mengungkapkan sesuatu dengan istilah yang tidak tepat. Misalnya, seharusnya “panjang”, tetapi dia menggunakan istilah “tinggi”.
  • Kosakata anak sedikit. Dia sulit mengingat kata dan nama.
  • Artikulasinya tidak jelas.
  • Anak sulit memahami kalimat yang dibaca/didengar.
  • Tulisan tangan anak buruk & sulit mempelajari tulisan sambung.
  • Anak membaca dengan lambat dan terputus-putus dan ada kata-kata yang hilang tidak terbaca.
  • Anak menulis huruf atau bilangan secara terbalik dengan lebih konsisten & sulit dikoreksi.
  • Anak kesulitan menggunakan istilah “atas” atau “bawah”, “maju” atau “mundur”.
  • Anak melihat huruf-huruf “berlompatan”, meski matanya normal. Mungkin dia juga mengeluh “pusing” saat membaca.
2. Anak mengalami kesulitan dalam berhitung dan matematika.
  • Saat menghitung, anak sangat tergantung pada alat bantu seperti jari.
  • Anak sulit menyelesaikan soal matematika dalam bentuk kalimat.
  • Anak kesulitan memahami konsep “lebih banyak dari,” “lebih sedikit dari,” “persamaan,” “perbedaan”.
3. Daya ingat jangka pendeknya buruk, anak pelupa lebih dari batas normal.

4. Anak kesulitan memahami konsep waktu. Misalnya, dia menggunakan kata “tadi” padahal maksudnya “kemarin”.

5. Anak kesulitan dalam persepsi spasial. Misalnya, sulit membedakan antara kanan & kiri.

6. Anak kesulitan mepelajari hal-hal yang berurutan, seperti bercerita secara runut, mengurutkan abjad dari a – z.

7. Anak mengalami kesulitan koordinasi gerakan motorik, seperti sering terjatuh, menabrak benda, atau sering tersandung. Tidak jago dalam olahraga yang berkaitan dengan bola.

8. Anak sulit melakukan aktivitas dengan keterampilan motorik halus seperti mewarnai, tracking pola, menggunting, mengancingkan baju, memegang pensil dengan cara aneh, dan sebagainya.

9. Anak merespons secara lambat saat diberi tugas atau instruksi yang cepat dan beruntun.

10. Anak sering kehilangan barang, seperti pensil, botol minum, jepit rambut.

11. Rentang perhatian anak pendek. Fokus perhatian anak mudah teralihkan.

12. Anak sensitif banget sama suara keras.

13. Anak rentan terhadap infeksi telinga, sensitif terhadap makanan dan zat kimia.

14. Ada riwayat disleksia dalam keluarga.

Yang bisa dilakukan oleh orang tua:


1. Mendeteksi anak sedari dini. Kalau kalian menduga anak gejala-gejala di atas, coba cek tautan ini & jawab pertanyaan-pertanyaan terkait anak:
https://www.testdyslexia.com/cgi-bin/assessor.cgi?action=begin
Ini gratis & cukup valid buat deteksi dini.

2. Banyak-banyak belajar membaca:
a. Bacakan buku secara keras-keras.
b. Bisa juga dengerin audio book & minta anak membaca bareng2.
c. Luangkan waktu agar anak bisa membaca sendirian, baik membaca dalam hati maupun keras-keras.
d. Bacakan buku favoritnya secara berulang-ulang.
e. Bergantian membaca buku dengan anak secara keras-keras.

3. Kalau memberi tugas, berikan satu-satu, jangan semuanya sekaligus. Buat daftar ceklis.

4. Batasi penggunaan gawai.

5. Saat belajar, singkirkan semua benda yang berpotensi mengalihkan perhatian anak.

6. Berikan perintah secara oral, bukan dalam bentuk tulisan.

7. Segera periksakan kepada psikolog tumbuh kembang anak agar anak mendapatkan bantuan dari profesional sedini & setepat mungkin.

Salah satu sumber: https://www.motherandbaby.co.id/article/2019/7/39/12554/Deteksi-DIni-Disleksia-pada-Anak-Kenali-9-Tandanya

Saturday, October 19, 2019

Cara Mengajari Anak Bahasa Asing Tanpa Membuatnya Merasa Belajar


Kuliah Jumat Kontenesia: Cara Mengajari Anak Bahasa Asing Tanpa Membuatnya Merasa Belajar

Karena aku rasa ini yg sulit... Saat mempelajari sesuatu, kita akan merasa "belajar". Dan kalau udah ngerasa "belajar", ada beban tersendiri di otak. Ini yang awalnya jadi pedomanku pas mau "ngajarin" anak bahasa inggris. Aku ga pengen dia merasa "sedang belajar".

Pada dasarnya, anak2 Indonesia itu kan bilingual, ya. Bahasa pertama biasanya bahasa daerah, bahasa keduanya bahasa Indonesia. Jadi kalau mau ngajarin anak bahasa Indonesia & bahasa Inggris, kenapa enggak?

Terus gimana caranya. Btw, cara2 di bawah ini cuma berdasarkan pengalamanku. Temen2 nanti bisa menambahkan juga, ya.

1. Mengekspos anak dengan bahasa asing sedini mungkin dan sebanyak mungkin

Targetnya, anak bisa ngobrol dengan lancar, tanpa kudu mikir & nginget2 dulu “Apa ya itu teh bahasa Inggrisnya…?”

Kerasa kan, kalo mu ngomong bahasa Inggris, kadang kudu mikir dulu, itu bahasa Inggrisnya apa sih... tensesnya gimana sih... Ada jeda di otak.

Nah, kita sebagai orang tualah yang harus membiasakan anak mendengar & berbicara dengan bahasa tersebut setiap hari. Intinya membiasakan bahasa asing sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, kayak aktivitas alami lainnya. Jadi anak ga merasa terbebani, ga merasa kayak sedang belajar.

Terus kapan waktunya?
Setiap hari. Setiap kali ngomong.

Kita bisa ngobrol dengan 2 bahasa, misalnya, “Thank you. Terima kasih.” Kalau memang mau ngajarin dua bahasa sekaligus.

Apa ga sebaiknya dikenalkan dulu 1 bahasa (misalnya bahasa Indonesia), baru kemudian dikenalin bahasa asing?
Enggak juga. Anak2 bisa diterpa dengan 2 bahasa sekaligus.

Anak bisa secara instingtif membedakan penggunaan 2 bahasa yang berbeda, karena setiap bahasa punya “rasa” yang berbeda, nada & cara ngomong yang berbeda, dan bunyi kata yang beda pula.

Pengenalan dua bahasa sekaligus ini sebenernya nunjukin bahwa kedudukan kedua bahasa tersebut sama pentingnya.

Kalau ada interferensi gimana? Misalnya, “Mom, I want to makan.”
Ga apa2. Nanti lama2 juga dia bisa memilah-milah kok, yg mana bahasa Indonesia, yg mana asing.

Dulu, aku lebih berfokus ngomong pakai bahasa Inggris ke anak, dengan pikiran… makin besar nanti, anak akan dapet terpaan Bahasa Indonesia yang lebih banyak, dari lingkungan keluarga besar, dari lingkungan pertemanan dia, dari lingkungan sekolah. Sementara, terpaan bahasa Inggris ga akan sebanyak itu. Makanya semasa dia lagi belajar ngomong, bahasa yang pertama aku kenalin justru bahasa Inggris.
Ini pilihan sih. Tapi kalo kata ahli mah, anak bisa diterpa dengan 2 bahasa sekaligus.
Lihat aja kondisi anaknya. Sesuaikan... karena setiap anak berbeda & unik.

Nanti dalam perkembangannya, akan ada 1 bahasa yang lebih menonjol dibandingkan yang lainnya. Ga apa2. Yang penting anak sudah bisa secara alami menggunakan keduanya.

Trus gimana kalau ortunya ga jago bahasa Inggris gimana?
Ga perlu jago kalau buat anak2 mah. Aku yakin semua bisa. Kita biasain dari bahasa yang sederhana. Dari percakapan dasar sehari2 aja. Kalau ga bisa kalimat lengkap, ya kata2nya minimal diperkenalkan. Sesimpel:
- “Ini sendok. This is a spoon.”
- “Let’s eat! Ayo kita makan.”
- dst.

Ga usah musinging grammar & tenses dulu.

2. Terpa anak dengan “bantuan” lain, misalnya:

- Buku cerita berbahasa asing. Bacakan buku berbahasa Inggris sebelum tidur, misalnya. Di toko buku kan ada banyak buku-buku bilingual. Ini ngebantu banget. Kita ga perlu mikir mau ngomong Inggris apa. Tinggal bacain.

Bisa juga dibacain artinya dalam bahasa Indonesia kalau anak udah lebih bisa berbahasa Indonesia. Trus pilih beberapa kosakata yang menarik buat anak dari buku tersebut buat diulang-ulang. Nanti setelah baca buku, kata tsb direview.
Misalnya, di buku cerita tersebut ada tokoh beruang dan kelinci. “Bear, beruang. Rabbit, kelinci.”
Jadi, setiap baca buku, ada tambahan kosakata baru.

Kalau anak udah lebih gede, bisa bahas kosakata yg lebih banyak & lebih advance. Tapi aku sih tetep menekankan, pilih kosakata yg familier buat dipakai dlm keseharian. Ga usah yg ngawang2 & ga akan anak pake di obrolan sehari2.

- Kasih worksheet anak dalam bahasa Inggris. Misalnya worksheet warna, angka, nama buah-buahan, dll. Kalau ga nemu bukunya, browsing aja di gugel. Banyak yang gratisan, tinggal print.

- Kasih tontonan (dalam batas wajar!!) berbahasa Inggris juga, supaya anak terbiasa mendengar native speaker ngomong. Pronunciation native speaker kan lebih tepat daripada lidah kita yang ngendonsyia. Ini akan sangat ngebantu.

Ga usah pikirin soal tenses, grammar, dll. dulu. Jalanin aja….

3. Jangan lupa amati gimana cara belajar anak 

Apa dia lebih cepet nangkep kalau diajarin lewat suara atau lewat gambar? Nah, sesuaikan dengan cara belajar anak.

Anakku lebih kuat di auditori. Jadi, alih2 ngenalin bahasa dalam bentuk gambar dan buku, aku lebih banyak ngasih lagu ke dia. Lagu tentang nama hewan, jenis cuaca, dll.

Anak yang lebih nempel belajar dengan cara visual akan lebih nempel kalau diajak melihat & membaca buku.
Anak yg lebih nempel belajar dengan cara auditori akan lebih nempel kalau diajak "mendengarkan" buku dibacain.

4. Jangan dipaksakan. Jangan dijadikan beban. Ga usah dikasih target muluk-muluk apalagi kalau anak masih kecil.

Kalau ternyata anak ga bisa mempelajari bahasa kedua atau ketiga (misalnya udah terbiasa ngomong Indonesia & bahasa daerah), jangan dipaksain. Ga semua anak itu poliglot.

Tanya jawab:

~ Apa ngajarin anak 2 bahasa sekaligus bisa mengakibatkan anak ngalamin speech delay? Tidak, itu mitos.
Kalau anak memang mengalami speech delay, maka kedua bahasa yg diajarin ke anak akan terlihat “delay” pula.

Yaaah7:43 pm
Bentar, aku mau nanjak7:43 pm
Kristalyg worksheet diapain, mbak?7:43 pm
PutriKalau boleh mau share sesuatu juga, tentang pengalaman belajar bahasa Inggris saat masih kecil. Masih agak nyambung dengan poin ketiganya sih :-)7:43 pm
Soalnya itu salah satu memori terkuatku saat belajar bahasa asing saat masih kecil.7:44 pm
Sri Noor Verawaty
Kristal Pancarwengi today, 7:43 pm
yg worksheet diapain, mbak?

worksheet itu kayak LKS... Ada belajar mewarnai, tracking huruf, menggambar, dll
7:44 pm
Mangga, Put7:44 pm
GianniMaaf, baru hadir. Nanti ku-scroll ke atas. :)7:45 pm
PutriJadi gini, dulu aku kan secara resmi baru belajar bahasa Inggris saat SD kelas 5. Tapi aku sudah punya basic sejak umur 7-8 tahun.7:45 pm
Ade Seplinaaku scroll balik lagi, balik lagi -_-7:45 pm
PutriDi poin ketiga Mbak Nci bilang kan lihat kecenderungan anak, apakah senangnya membaca, mendengar, dll. Belajarnya disesuaikan dengan kecenderungan itu.7:46 pm
Nah, aku dulu kecenderungannya membaca, karena aku anaknya kayak siput banget, sukanya diem di rumah baca buku (kalaupun main, mainnya di kuburan).7:46 pm
Kirana Reine(((main di kuburan)))7:47 pm
PutriBapakku dulu suka membawakan aku majalah National Geographic bahasa Inggris dari kantornya, karena dia tahu aku suka lihat2 buku tentang binatang. Tapi, setiap kali aku tanya "Pa, ini tulisan di bawah fotonya artinya apa?" Dia nggak pernah jawab. Aku disodori kamus bahasa Inggris-Indonesia kantornya dan bilang: "Coba kamu artikan sendiri. Kalau nggak bisa baru tanya papa." Lalu aku diajari cara pakai kamus.7:47 pm
Jadi yang kulakukan adalah: aku artikan kata-kata bahasa Inggrisnya satu-satu (harfiah banget), kutulis di buku, bagaimanapun ngawurnya, lalu aku ngeliatin foto itu dan berusaha menebak2 maksud kalimat ngaco itu apa sih, kalau dikaitkan dengan fotonya.7:48 pm
Dengan kata lain: aku belajar bahasa Inggris lebih cepat karena ada yang memotivasiku.7:49 pm
Papaku ngasih tantangan yang bikin aku bersemangat, memicu naluri problem solving-ku. Dan itu membuatku cepat terbiasa dengan kosakata bahasa Inggris. jadi pas kelas 5 nggak kaget lagi.7:49 pm
TeylitaTanya mbak, mbak Nci pernah takut bhs Indonesianya anak kalah?7:50 pm
PutriSeperti naluri manusia yang cenderung lebih kreatif ketika berada di bawah tekanan.7:50 pm
Jadi pas akhirnya aku tahu makna di balik foto itu, aku bangga banget, apalagi pas papaku membenarkan atau memberi konfirmasi bahwa ini lho arti fotonya (yang ternyata gak jauh2 banget).7:51 pm
Ade Seplinaaku mau ikutan ngetik, tapi yang ngetik lagi rame hahaha7:51 pm
Sri Noor Verawaty
Teylita Andriyarini today, 7:50 pm
Tanya mbak, mbak Nci pernah takut bhs Indonesianya anak kalah?

Iya, bahasa Indonesia anakku kalah. Usia 4 tahun dia nyaris "ga bisa" ngomong bahasa Indonesia. Baru pada umur segitu aku gencar ngajarin dia bahasa Indonesia karena dia udah mulai main sama temennya & akan kumasukin TK tahun depannya (5 tahun). Tapi setelah masuk TK, SD, bahasa Indonesia dia makin terasah... Karena itu tadi, terpaannya banyak, jadi lebih gampang mempelajari bahasa Indonesia
7:53 pm
TeylitaAh, I see.7:53 pm
Teman kantor dulu ada yg anaknya dibiasakan berbahasa Inggris. Skrg anaknya pinter bgt bicara dlm bhs Inggris + sekolah internasional pula. Tp yg jd masalah, si anak susah bgt berkomunikasi pake bhs Indonesia. Jd agak susah klo komunikasi sehari2 di lingkungan sehari2.7:53 pm
Putri
Kirana Reine Khanifa today, 8:47 pm
(((main di kuburan)))

Kuburan dekat rumah lamaku asik buat main, banyak nisan yang bisa dipanjat *kualat dah*
7:55 pm
Sri Noor VerawatyTeylita Andriyarini mungkin karena lingkungannya kali ya7:55 pm
TeylitaMaaf banyak singkatan. Saya online pakai hp. 😄7:55 pm
GianniJust sharing sedikit juga. Aku ga pernah sengaja ngajarin anakku bahasa Inggris, tapi alhamdulillah, di usia 2 tahun (sekarang 3 thn) dia sudah tahu bbrp kosa kata kayak red, green, blue, white, yellow (walau aksennya jd agak medok, jadi "yellok". Wkwkwk), jenis2 truck, kyk dump truck, fire engine, dan pick up. Semua itu aku ga sengaja ajarin, tapi ternyata kyknya dari video-video YouTube ttg mainan dan nursery rhymes. No worries, dia ga kubiarkan terpapar ntn YouTube seharian di hape, tapi kudonlod video2nya dijadikan 1 folder di flashdisk dan bisa dipasang di TV kapan aja dibutuhkan. Jadi, selain ga membiasakan megang gadget, cara ini juga bisa menghemat kuota, krn ga perlu online. Haha :D7:55 pm
Dzerlina*tok tok tok*7:55 pm
Assalamu'alaikum, maap Bu dosen saya telat. Habis shopping keterusan :p7:55 pm
TeylitaBisa jadi mbak Nci.7:56 pm
Sri Noor VerawatyKalau itu ga jadi masalah buat si anak & ortunya, mungkin gapapa ya... Mungkin anaknya kelak bakal terus sekolah di sekolah internasional & luar negeri...7:58 pm
KomarudinAda temanku tinggal di luar negeri, kalau nggak salah Belanda.
Dia sistemnya begini:
Kalau di rumah pakai Bahasa Indonesia, di hari-hari tertentu pakai Bahasa Daerah. Kalau di luar rumah, pakai Bahasa Belanda/Inggris.
7:58 pm
Ade SeplinaMateri ini menarik. Aku pada dasarnya pengen banget bisa ngajarin sendiri Bahasa Inggris buat anakku di rumah. Tapi aku ngerasa aku sendiri Bahasa Inggrisnya pasif. Aku sempet nyariin guru Bahasa Inggris privat buat dia, ta pi nggak ketemu. Tempat kursus juga ga ada di sini. Aku sempet googling nyari2 materi yang bagus, dan ketemu. Aku coba beli bukunya dan nyoba ngajarin sendiri. Level 1 oke, level 2, oke, masuk ke level 3 aku mulai kelabakan karena dia mulai banyak nanya dan aku susah ngejelasinnya dalam bahasa Inggris. Jadinya aku ngeper sendiri. Nah, terus aku nemu penawaran kursus bahasa Inggris online buat anak dengan native.akhirnya aku coba program itu dan udah berjalan hampir 2 minggu ini.7:58 pm
TeylitaIngatan pertamaku belajar bhs Inggris waktu kecil adalah muter VCD karaoke berbahasa Inggris yang ada lirik lagunya. Masih kelas 1 SD kalo nggak salah. Sekali2 di-pause, dicatet liriknya.  ðŸ˜„7:59 pm
Sri Noor VerawatyIya, lagu itu cepet nempel & mudah dipelajari7:59 pm
KomarudinAku dulu belajar dari film Disney dan Magic English-nya Disney8:00 pm
Sri Noor VerawatyBisa jadi bahan yg bagus buat belajar kosa kata terutama kata2 sehari2 & bahasa gaul (tapi tidak grammar)8:00 pm
:D8:00 pm
M.Btw soal belajar bahasa asing dari lagu, 80% vocab jepangku didapatkan dari lagu8:00 pm
Belajar grammarnya nyusul8:00 pm
BimaAssalamualaikum, bu maaf jarang masuk, saya baru ngeuh jadwalnya yang semester lalu :D8:01 pm
M.Udah agak pede sama grammar, lanjut nerjemahin8:01 pm
TeylitaDulu pernah pas dipause videonya pas ciuman. Mengingat lagunya adalah lagu2 Mariah Carey, macam gitu. Trus dimarahin karena dikira lagi liat yang nggak2. Padahal malah gak ngeh sama gambar videonya gara2 terlalu serius nyatetin lirik. 😄8:01 pm
Sri Noor Verawaty
Bima Tandika today, 8:01 pm
Assalamualaikum, bu maaf jarang masuk, saya baru ngeuh jadwalnya yang semester lalu :D

:D :D
8:02 pm
DestriHadiiiirr.... Tapi telaaatt.. *nanjak dulu8:02 pm
FransiscaAku dulu tertarik belajar bahasa Inggris gegara main game, tipe RPG. Hahaha8:02 pm
Gianni
Sri Noor Verawaty today, 7:40 pm
Anakku lebih kuat di auditori. Jadi, alih2 ngenalin bahasa dalam bentuk gambar dan buku, aku lebih banyak ngasih lagu ke dia. Lagu tentang nama hewan, jenis cuaca, dll.

Anak yang lebih nempel belajar dengan cara visual akan lebih nempel kalau diajak melihat & membaca buku

Setuju teh. Aku juga udh invest buku2 cerita anak dlm bhs Inggris dr sejak hamil dulu dan kebetulan anakku yg kecil itu visual bgt, jd senang yg ada gambar, musik, atau animasi.
8:03 pm
M.Walhasil ketika orang lain paham cara belanja atau nanya arah, aku malah paham cara nembak cewek atau ngebucin duluan HAHAHA8:04 pm
Vocab di lagu kan biasanya bertema cecintaan tugj8:04 pm
Tuh8:04 pm
Sri Noor Verawaty
M. Lutfi today, 8:04 pm
Walhasil ketika orang lain paham cara belanja atau nanya arah, aku malah paham cara nembak cewek atau ngebucin duluan HAHAHA

:D :D wkwkwkwkwk.....
8:05 pm
oke, ada lagi yg mu nambahin atau nanya?8:05 pm
KristalQei kalo sama kakek neneknya gimana?8:06 pm
Destri
Sri Noor Verawaty today, 8:05 pm
oke, ada lagi yg mu nambahin atau nanya?

Wktu trbaik mengenalkan bhs asing?
8:06 pm
Ade SeplinaBisa juga nyari di Pinterest8:07 pm
bagus-bagus materinya8:07 pm
Sri Noor VerawatyKW: printable worksheet (pre-school, kindergarten), cari aja yg sesuai8:08 pm

Kristal Pancarwengi today, 8:06 pm
Qei kalo sama kakek neneknya gimana?

Sama Nini & Uti-nya Qei ngomong Indonesia
Sama Aki & Akungnya, mereka yg berusaha ngomong Inggris sama Qei
8:08 pm

Destri Yana today, 8:06 pm
[Quote]
Wktu trbaik mengenalkan bhs asing?

1.    Mengekspos anak dengan bahasa asing sedini mungkin dan sebanyak mungkin.
Targetnya, anak bisa ngobrol dengan lancar, tanpa kudu mikir & nginget2 dulu “Apa ya itu teh bahasa Inggrisnya…?”

Aku ngajarinnya sejak anakku mulai belajar ngomong
8:09 pm
Gianni
Sri Noor Verawaty today, 8:07 pm
https://www.education.com/worksheets/preschool/

Wah, thank you, teh Nci. Lumayan susah mmg nyari yg free downloads gitu. Aku cuma tau busyteacher,org utk materi gratis utk ngajar bahasa Inggris. Tapi levelnya dr SD ke atas :(
8:10 pm
Sri Noor Verawatymasama :)8:11 pm
KristalIni udah selesai? :D Makasih banyak, mbak Sri Noor Verawaty8:14 pm
GianniRalat: busyteacher.org8:14 pm
kikiki8:15 pm
Sri Noor Verawatyudah kayaknya... wkwkwk. Makasih udah pada hadir :)8:15 pm
TeylitaMakasih mbak Mc8:15 pm
GianniIyaaa.. Thank you, teh. Brb ngerjain artikel :D8:15 pm
TeylitaAduh saltik8:15 pm
Makasih banyak mbak Nci8:15 pm
Sri Noor Verawaty:D wkwkwkwk masama8:16 pm
Ade Seplina
Sri Noor Verawaty today, 8:09 pm
[Quote]
1.    Mengekspos anak dengan bahasa asing sedini mungkin dan sebanyak mungkin.
Targetnya, anak bisa ngobrol dengan lancar, tanpa kudu mikir & nginget2 dulu “Apa ya itu teh bahasa Inggrisnya…?”

Aku ngajarinnya sejak anakku mulai belajar ngomong

Ini agak susah buat yang orang tuanya Bahasa Inggrisnya standar (kayak aku). Anakku kosa kata bahasa Inggrisnya banyak, tapi ngerangkai katanya masih minim banget. Soalnya aku juga jarang ngajak dia ngobrol dalam bahasa Inggris. Tapi dia cepet nangkep kalau ada omongan bahasa Inggris yang dia dengar (kayaknya dia pasif karena aku jg pasif).
8:16 pm
Sri Noor VerawatyCobain dengan paparan dr film :D8:17 pm
*dalam taraf wajar8:17 pm
Kristal
Sri Noor Verawaty today, 8:17 pm
*dalam taraf wajar

hahahhaaaa
8:17 pm
Sri Noor VerawatyIni asli ngebantu banget. Kasih tontonan berbahasa Inggris8:17 pm
Ade Seplinaminta link-nya :D8:18 pm
Sri Noor Verawatydi youtube... tontonan apa aja yg lagi Kekei suka8:19 pm
Ade Seplinaiya, nanti nyari-nyari deh :D8:19 pm
DestriBeberapa poinnya udah kubaca. Makasiihh teh Sri Noor Verawaty8:21 pm
Gianni
Sri Noor Verawaty today, 8:18 pm
Ini asli ngebantu banget. Kasih tontonan berbahasa Inggris

Yes, aku juga suka donlod film2 kartun kyk Boss Baby, Toy Story, dll. buat si kecil. Bagi yg mau, ini kushare linknya https://yts.lt
8:21 pm
Sri Noor Verawatymasama :D8:21 pm
GianniWarning: tapi pirated jd, mesti hati2 :D8:22 pm
Ade SeplinaMakasih buat Nci yang udah share pengalamannya & buat temen2 di sini juga yang ngasih tips & berbagi link :D8:22 pm

Gianni Benhardi today, 8:22 pm
Warning: tapi pirated jd, mesti hati2 :D

hahaha
8:22 pm
IntanMba Nci Sri Noor Verawaty waktu ngajarin anaknya bahasa Inggris umur berapa kah? Setelah sekolah apa sblm?8:23 pm
Kristalsaya kopikan jawabannya, Intan Kirana: Aku ngajarinnya sejak anakku mulai belajar ngomong8:24 pm
:D8:24 pm
Sri Noor Verawaty
Sri Noor Verawaty today, 8:09 pm
[Quote]
1.    Mengekspos anak dengan bahasa asing sedini mungkin dan sebanyak mungkin.
Targetnya, anak bisa ngobrol dengan lancar, tanpa kudu mikir & nginget2 dulu “Apa ya itu teh bahasa Inggrisnya…?”

Aku ngajarinnya sejak anakku mulai belajar ngomong

Intan Kirana :D wkwkwk
8:25 pm
- sedini mungkin8:25 pm
Kristalsejak sebelum ketemu bapaknya8:25 pm
Sri Noor Verawatytrus itu anak-e sopo?8:25 pm
Ade Seplina
Kristal Pancarwengi today, 8:25 pm
sejak sebelum ketemu bapaknya

sejak berangan-angan bertemu bapaknya
8:25 pm
Kristalhahahhahaa8:25 pm
MelaniMakasih mba Nci, ntar kucoba ke anakku.. Skrng br hafal warna2 sm hewan aja 😁8:29 pm
Sri Noor Verawatymasama :) Semangat, Mel...8:31 pm
MelaniIya mba😊8:31 pm
Sri Noor VerawatyOh ya, sebelum aku matiin komputer... :D
Ngajarin anak di awal2 itu mudah. Yang lebih susah adalah menjaga kesinambungannya. Ngajarin secara terus-menerus & makin lama makin naik tingkat kesulitannya. Kayak yang Ade bilang di atas...
Pas anak masih kecil - TK, kita masih bisa ngejar. Setelah anak mulai SD... ini akan jadi tantangan baru.
Caranya, bisa coba cara ade, dnegan mengikutkan anak les.
Bisa juga masukin anak ke SD bilingual.
Kalau bahasa Inggris temen2 bagus, ajarin sendiri. Biasain di rumah dipake buat komunikasi sehari2.
8:40 pm
AdiLangganan netflix aja mbak Ade Seplina Sari banyak kok film ramah anak di sana.5:15 am
DitaManjaaaat...8:29 am
Hidayatymba nci Sri Noor Verawaty share dong gimana caranya 'membatasi' penggunaan tontonan gadget pada anak, tapi tetep memberikan faedah pada pembelajaran bahasa anak yang berkesinambungan.8:51 am
Sri Noor VerawatyKalo dulu zaman anakku kecil sih blm musim smartphone... Wkwkwk... Bentar, ini akan jd bahasan yg cukup panjang... Aku nyalain komputer dulu8:53 am
Oke, I'm on.
Pertama, pake cara Gianni di atas, download dulu, simpen di laptop. Nonton di laptop/PC.
Kenapa?
- Karena di laptop/PC itu ada barrier. Kudu nyalain dulu, kudu nunggu loading dulu. Ga semudah di HP yg bisa langsung on>
- Kedua karena kalo udah didownload, anak akan mentok di tontonan yang tersedia di situ aja. Sementara kalo dibiarkan nonton langsung di Youtube, anak akan terus di-endorse video lain, lagi dan lagi. Jadi akan sulit ngebatasinnya. Ada lagi yg menarik buat ditonton... dan seterusnya

Media sosial dirancang buat bikin kita kecanduan. Ada lagi yg menarik, ada lagi yg menarik. Dan kalo anak udah dikasih dari kecil, ini bahaya buat perkembangan otak mereka.
8:57 am
Terus cobain nyalain alarm buat ngebatasin jam nonton anak. Buat perjanjian, misalnya 1 jam. Nyalain alarm. Pas alarm nyala, anak harus berhenti nonton. Paparan tontonan statis lebih dari 2 jam ini gabagus buat anak kecil. Anak bisa jadi kurang konsentrasi & ngalamin kesulitan belajar nantinya.8:59 am
Kalo ga pake alarm, jangan menghentikan anak secara tiba2. Misalnya, anak lagi seru nonton, ngedadak waktunya abis, trus kita hentikan abruptly. Ini akan susah & anak akan uring2an. Tapi gini caranya: "Sayang, waktu nontonnya 5 menit lagi, ya. Abis itu udah."
Jdi anak akan punya jeda waktu buat calming down & akan berhenti dengan emosi yg udah siap.
9:01 am
Terus (ini yg berat): ortunya yang harus rajin. Ortunya yg jangan pegang hp mulu juga... (ehm... berat). Ortu harus ngasih aktivitas lain ke anak biar anak ga nonton mulu. Ajak anak main di luar, ajak ngegambar, ngewarnai, olahraga, maen musik, dll.9:04 am
KomarudinPara moms, sekadar informasi saja. Gunakan juga fitur Google Family Link untuk mengontrol gawai milik anak-anak.9:04 am
Sri Noor VerawatyKomarudin Subekti Ceritain lebih detail dong, Bek. Gimana tuh?9:04 am
FransiscaKalau dari guru smp tempatku KKN/PPL dulu, dia menerapkan ini.

Anaknya harus baca buku sekian halaman untuk dapat waktu pegang gawai (tetap diawasi dan dibatasi penggunaannya untuk apa).

Semisal, si anak baca 2 halaman buat dapat 5 menit pegang gawai.

Itu pun, si anak wajib bisa jawab kalau ditanya soal apa yang dibaca. Jadi, macam tes pemahaman.
9:07 am
KomarudinJadi ada fitur bawaan google, namanya Google Family Link. Tujuannya memang untuk mengontrol penggunaan gadget pada anak. Gampang banget pakainya.
Aplikasinya ada dua jenis, satu untuk orang tua, kedua untuk anak-anak. Aku pakai ini untuk kontrol gadget ponakan aku.
Pertama, bikin dulu email khusus untuk anak. Karena usianya belum 17 tahun, google otomatis kasih opsi untuk pengawasan dan kasih saran untuk install Family Link.
Kalau sudah ter-set up, gadget anak nantinya akan sepenuhnya terkontrol. Kita sebagai orang tua, bisa set penggunaan gadget. Misalnya, jam 5-8 malam waktunya belajar, maka gadget anak bisa dikunci di jam tersebut lewat Family Link orang tua.
9:09 am
Saat gadget dikunci, anak sama sekali tidak bisa buka, kecuali sudah dapat izin orang tua. Mereka install aplikasi apapun juga akan seizin orang tua.9:10 am
Sri Noor Verawatyboljug tuh...9:11 am
KomarudinAplikasi yang ada di Play Store juga yang sudah sesuai umur mereka, misalnya You Tube. Yang bisa diinstall cuma You Tube for kids9:11 am
Itu udah terfilter otomatis dari google untuk video-videonya.9:11 am
Sri Noor VerawatyThanks, Bek...9:12 am
KomarudinSama-sama, Mbak Nci9:12 am
Fadhilahatau bisa coba youtube kids, lbh tersaring. aku jg pake metode download dan nonton nanti9:14 am
eh udh disebut mas bekti ya9:14 am
yg aku wanti2 banget ke anakku yg gede (6,5th) itu main game di hp. kapan ya dia diajarin sepupunya main roblox dan download sendiri. akhirnya hrs emaknya yg keras, tak suruh hapus. soalnya jd nyari hp melulu9:15 am
di iphone bisa dikasih timer btw, aktif dari jam berapa sampai berapa dan limitnya berapa jam per aplikasi9:16 am
KomarudinDuh, jadi pengen punya anak
Eh
9:47 am
Sri Noor VerawatySok atuh bikin sama orang yang sama2 pengen punya anak juga... Colek  Kristal Pancarwengi9:49 am
*kabur dulu9:49 am
Anindita
Komarudin Subekti today, 10:11 am
Aplikasi yang ada di Play Store juga yang sudah sesuai umur mereka, misalnya You Tube. Yang bisa diinstall cuma You Tube for kids

Aku pasang youtube kids. Emang jam2in juga nontonnya utk anak2. Sehari cukup 1 kali aja screen time di hp. Sisanya mereka main sendiri atau liat tv 🙈 tapi aku suka bacain buku sama2 juga sih sbg alternatif kegiatan