Friday, December 7, 2018

Kuliah Jumat Kontenesia: 6 Cara untuk Membuat Artikel Konten yang Menarik


Struktur artikel konten untuk publikasi di internet agak berbeda. Di internet itu netizen memiliki banyak pilihan untuk konten yang serupa, jadi mereka akan mencari konten yang jauh lebih menarik dan lebih berisi. Kalau tidak menarik, mereka akan segera pindah ke laman lain.

Kita hanya punya waktu sekian detik untuk memikat netizen dengan artikel kita. Nah, bagaimana caranya membuat artikel konten yang menarik? Kita bahas sekarang, ya.

1. Pertama, dimulai dari judul yang harus dibuat semenarik mungkin.
Ada beberapa “rumus” untuk membuat judul yang menarik, antara lain:
- Judul yang memuat angka tertentu.
- Judul yang mengandung kata-kata aksi. Misalnya, “Ikuti …!” atau “Lakukan hal ini…!”
- Judul yang menawarkan solusi atas sebuah masalah.
- Judul yang mengandung sensasi.
- Judul yang ditulis berdasarkan hasil riset.
- Judul yang mengajukan pertanyaan.
- Judul yang mengandung kata-kata ajaib, seperti: “gratis, cepat, mudah, aneh, unik, luar biasa, dll.”
- Judul yang berisi penyangkalan. Contoh, “Stop …!” atau “Jangan…!”
- Tetapi ada satu yang penting dan wajib diingat: judul harus tetap sesuai fakta dan sesuai dengan isi artikel.

2. Kedua dari paragraf pembuka yang menarik. Minggu sebelumnya Mba Ade sudah menjelaskan secara komprehensif tentang hal ini. Temen-temen bisa buka kembali tautan ini: http://forum.kontenesia.com/d/60-langkah-strategis-menulis-paragraf-awal-artikel-konten


3. Ketiga dan yang paling penting adalah kualitas konten.
Agar netizen mau berlama-lama membaca artikel kita, kita harus memberikan konten yang isinya:
- Bermanfaat bagi pembaca, Misalnya dengan memberikan saran, tips, atau informasi penting.
- Isi konten unik, berbeda dari yang lain, dan tidak plagiat.
- Isi konten mengandung informasi yang benar, akurat, sesuai fakta, sesuai hasil riset, bukan hoax. Berikan buktinya.
- Isi konten bisa memberikan jawaban bagi pembaca. Jika di judul atau awal paragraf dikemukakan sebuah permasalahan, maka di dalam artikel tersebut harus dipaparkan solusinya.
- Isi konten bisa menginspirasi pembaca untuk melakukan sesuatu.
- Isi konten menunjukkan kepedulian terhadap suatu masalah.
- Isi konten menghibur atau lucu.
- Isi konten netral, tidak menyerang pihak-pihak tertentu, tidak memasukkan egoisme penulis, tidak bersifat SARA.

4. Buat struktur artikel yang ramah pembaca, mudah dipindai, dan enak dipandang, yaitu:
- Gunakan poin-poin atau subbab. Bullet list ini akan memudahkan netizen untuk menangkap apa sih isi artikelnya, menarik tidak sih?
- Paragraf dan kalimat harus dibuat pendek-pendek. Misalnya, setiap kalimat tidak boleh lebih dari 2 baris dan setiap paragraf tidak boleh lebih dari 5 baris. Paragraf yang berupa blok besar akan terasa membosankan, lelah buat dibaca, dan tidak menarik untuk dilihat.
- Tambahkan gambar ilustrasi yang relevan dengan pembahasan. Bisa juga menambahkan video dan infografis.
- Perkaya konten dengan tifografi (seni tata huruf) yang menarik.

5. Konten yang baik harus ditulis dengan bahasa yang baik pula. Kalaupun temanya menarik, tetapi bahasanya buruk, netizen akan lelah membacanya. Bahasan ini sudah dipaparkan sama Mba Kristal minggu kemarin (http://forum.kontenesia.com/d/61-kuliah-jumat-kontenesia-8-cara-menulis-efektif).
Ringkasnya, bahasa yang baik itu:
- Bahasa yang lugas, tidak bertele-tele, tidak mengulang informasi yang sudah umum atau informasi yang sama yang sudah disebutkan sebelumnya di dalam artikel.
- Menggunakan kalimat aktif, bukan pasif.
- Jangan ada salah ketik. Jadi baca kembali dan edit artikel setelah ditulis, minimal 1x.
- Jangan ada kalimat yang ambigu (bermakna ganda).
- Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
- Perhatikan penggunaan tanda baca.

6. Terakhir, jangan lupa memasukkan kata kunci ke badan artikel untuk memaksimalkan SEO. Soal ini sudah dibahas sama Mba Ade & Mba Mustika dan bisa kembali dibaca di tautan berikut, ya: http://forum.kontenesia.com/d/58-kuliah-jumat-kontenesia-seo-dalam-artikel.

Sesi Tanya jawab:

(Dzerlin): Tanya: sejauh mana batasan judul dianggap click bait?

Jawab:
Judul termasuk click bait kalau ternyata:
- Judul ga sesuai dengan isi artikel. Isi artikel kadang jauh berbeda atau judul justru sangat menyesatkan.
(Ade): Contoh: “Tertangkap Basah Menemui Selingkuhannya, Artis X bla bla bla.” (padahal cerita di film).
- Isi artikel tidak berkualitas, informasinya nihil. 
- Biasanya judulnya itu provokatif.
- (Tyas & Ade): Pakai kata-kata sakti & bombastis, seperti “terkuak, terbongkar”.
- (Putri): Menggunakan kata sifat secara vulgar (Contoh: Dokter Cantik Ini Tewas Dibunuh di Tempat Praktiknya).

Pembahasan poin “Isi konten unik, berbeda dari yang lain, dan tidak plagiat.”

Ada beberapa tips biar ga kena jebakan plagiat:

- parafrasa > ubah kata-kata sumber dengan kata-kata sendiri. Cari sinonimnya. Aduk-aduk strukturnya. Kamus sinonim yang bisa dijadikan rujukan: http://www.sinonimkata.com/
(Revin): Bisa download app thesaurus di Play Store juga.

- Ambil bahan dari banyak sumber, jangan hanya satu. Comot sana, comot sini.

(Ade): Supaya kontennya unik. harus pintar-pintar riset. Jangan ambil sumber yang paling banyak dibahas orang, terus parafrase dengan kalimat-kalimat yang unik juga. Jangan monoton.

(Putri): Mengambil sudut pandang unik dari hal yang udah banyak dibahas. Satu hal bisa punya pembahasan unik dari banyak segi.

Buat plagiat ini, ada beberapa yang halal, ya:

- Kutipan undang-undang
- Ayat-ayat kitab suci
- Kutipan terkenal dari orang penting

Pembahasan poin “Isi konten netral, tidak menyerang pihak-pihak tertentu, tidak memasukkan egoisme penulis, tidak bersifat SARA.”

Ini salah satu alasan kenapa dari awal aku ga mau Kontenesia ngambil job bertema politik, baik dari pihak yang sama pandangan politiknya denganku maupun yg berlawanan.... Karena ini ranah yg sulit sekali buat dipaparkan secara netral & kita semua tentu punya kecenderungan, entah sedikit atau banyak.

(Revin): Masih soal konten yg netral, menurutku bukan cuma tentang tema-tema politik atau yang berat. Tema yg sederhana pun, apabila penulisnya terlalu men-judge pembaca, mendiskreditkan sikap-sikap dan pengetahuan pembaca, bisa disebut tidak netral.

(Sri): Benar. Dalam banyak tema sederhana/sehari2, kadang tanpa sadar kita memasukkan "ideologi yang kita pegang". Sesimpel pertentangan pendapat antara "ibu bekerja" dan "ibu rumah tangga".

(Tiyas): Nikah muda vs nikah setengah tua.

(Anindita): Tim bubur diaduk vs nggak diaduk.

(Mita): SNSD VS TWICE

(Sri): Yang perlu diingat, kita menulis atas nama klien. Argumen personal untuk artikel yang seharusnya jadi "isi kepala" klien, seharusnya ga dimasukkan. Bisa jadi klien bertentangan pendapat sama kita. jadi jangan sampai memasukkan egoisme kita ke dalam artikel
Kalau buat soal yang umum-umum, netral, dan baik, masih boleh lah dimasukkan. Misalnya: "kurangi plastik, yuk recycle, yuk tanam pohon & sayangi bumi".

(Revin): Artikel harus mengutamakan informasi, dan harusnya informasi yang berimbang. Kalau terlalu memasukkan idealisme sendiri (gak peduli idealisme yang relatif benar apa tidak), itu sudah masuk ke penulisan opini. Dan media punya klien bukan wadah yg tepat untuk memasukkan tulisan opini pribadi kita.

(Putri): Aku bisa bayangin menulis tema yang relatif cukup menimbulkan perpecahan, dan si penulis (walau statusnya harusnya netral) merasa "nggak tahan" untuk gak "mendidik" calon pembaca dengan opininya sendiri, walau gak nyambung dengan permintaan klien.

(Sri): Nah, inilah yang termasuk egoisme kita.

Pembahasan poin “Jangan ada salah ketik. Jadi baca kembali dan edit artikel setelah ditulis, minimal 1x.”

Jadi, otak kita tuh mengalami yg namanya "terbutakan" (pernah dibahas di NGC, lupa nama acaranya). Jadi kalau kita udah familiar sama sesuatu, otak kita akan merekam sesuatu itu & berfungsi kayak autopilot, akan memahami hal tersebut dengan sendirinya, dalam gambaran besar, bukan detail kecil.
Contoh realnya dalam 3 gambar ini: 




1. urutan abjadnya salah
2. kata-katanya dibalik
3. memakai huruf Rusia

Nah, ini yg namanya "otak kita terbutakan". Otak kita sudah merekam kata-kata tersebut berupa "image utuh", bukan huruf satuan. Inilah yang membuat kita tetap bisa membaca kata-kata tersebut meskipun salah. Sama seperti kita ga lihat di mana salah & typo saat ngedit artikel... karena otak kita sudah mereka semuanya.

Cara untuk menghilangkan efek "terbutakan" ini adalah dengan jeda. Setelah selesai menulis, endapkan dulu tulisannya. Lakukan sesuatu yang lain, refreshing. Nanti balik lagi & edit dengan otak yang lebih segar. Dengan cara ini, otak kita bisa melihat kesalahan dan typo dengan lebih jelas.

(Putri): Dalam psikologi itu namanya konsep Gestalt. Memandang sesuatu secara keseluruhan, bukan detail2 kecil. Itu mekanisme untuk mencegah otak mengalami tekanan karena keharusan mencerna banjir informasi kecil2. Setelah memahami hal besarnya (kata-kata dalam paragraf), baru kita bisa menekuni yang kecil2 (melihat ulang satu-satu untuk mengecek kesalahan yang ada).


Tayo Bus Kecil Theme Song (Qei, Naila, Acel, Danti, Atsil, Muti)


Hai, Tayo, hai, Tayo, dia bis kecil ramah Melaju, melambat, Tayo selalu senang Hai, Tayo, hai, Tayo, dia bis kecil ramah Melaju, melambat, Tayo selalu senang Jalan menanjak, jalan berbelok Dia selalu berani Meskipun gelap dia tak sendiri Dengan teman, tak perlu rasa takut Hai, Tayo, hai, Tayo, dia bis kecil ramah Melaju, melambat, Tayo selalu senang Hai, Tayo, hai, Tayo, dia bis kecil ramah Dengan teman, di sisinya semua senyum ceria Indahnya hari ini Mari bergembira…

Saturday, November 10, 2018

Alan Walker - Diamond Heart Piano Cover by Qei


Alan Walker "Diamond Heart" Lyric (feat. Sophia Somajo) Hello, sweet grief I know you will be the death of me Feel like the morning after ecstasy I am drowning in an endless sea Hello, old friend Here's the misery that knows no end So I'm doing everything I can To make sure I never love again I wish that I did not know Where all broken lovers go I wish that my heart was made of stone Yeah if I was bulletproof I'd love you black and blue If I was solid like a jewel If I had a diamond heart Oh oh I'd give you all my love If I was unbreakable If I had a diamond heart Oh oh You could shoot me with a gun of gold If I was unbreakable I'd walk straight through the bullet Bendin' like a tulip Blue-eyed and foolish Never mind the bruises Into the fire Breakin' through the wires Give you all I've got If I had a diamond heart I'd walk straight through the dagger Never break the pattern Diamonds don't shatter Beautiful and battered Into the poison Cry you an ocean Give you all I've got Goodbye, so long I don't know if this is right or wrong Am I giving up where I belong? Cause every station is playing our song Goodbye, my love You are everything my dreams made of You'll be Prince and I'm the crying dove If I only were unbreakable I wish that I did not know Where all broken lovers go I wish that my heart was made of stone Yeah if I was bulletproof I'd love you black and blue If I was solid like a jewel If I had a diamond heart Oh oh I'd give you all my love If I was unbreakable If I had a diamond heart Oh oh You can shoot me with a gun of gold If I was unbreakable I'd walk straight through the bullet Bendin' like a tulip Blue-eyed and foolish Never mind the bruises Into the fire Breakin' through the wires Give you all I've got If I had a diamond heart I'd walk straight through the dagger Never break the pattern Diamonds don't shatter Beautiful and battered Into the poison Cry you an ocean Give you all I've got La-la-la-la-la La-la-la-la-la-la La-la-la-la-la-la La-la-la-la-la La-la-la-la-la La-la-la-la-la-la I'd give you all my love If I was unbreakable La-la-la-la-la La-la-la-la-la-la You can shoot me with a gun of gold If I was unbreakable I'd walk straight through the bullet Bendin' like a tulip Blue-eyed and foolish Never mind the bruises Into the fire Breakin' through the wires Give you all I've got If I had a diamond heart I'd walk straight through the dagger Never break the pattern Diamonds don't shatter Beautiful and battered Into the poison Cry you an ocean Give you all I've got

Friday, November 9, 2018

Kuliah Jumat Kontenesia: Penggunaan Koma di Dalam Kalimat

Materi Kuliah Jumat bersama penulis Kontenesia:
1. Koma dipakai untuk memisahkan 3 atau lebih kata, frasa, atau anak kalimat yang ditulis secara berurutan.
Contoh: Kristal membeli mangga, pisang, dan jambu dari Pasar Minggu.
Contoh lain:
Dzerlin: Menu di restoran itu terdiri dari sate kambing, gulai kambing, dan tengkleng. [versi yang baru ditraktir makan sate]
Ade: Ada yang punya permen, kue-kue kecil, atau nasi Padang? [versi yang lapar]
Gianni: Aku, kau, dan si dia.
Mita: Aku suka kamu, kamu, dan kamu.
Verra: Aku akan membeli sapi, kambing, dan kuda. [versi peternak]

2. Koma dipakai sebelum kata hubung “tetapi, melainkan, dan sedangkan”
Contoh: Maksud hati pengen liburan, tetapi apalah daya rekeningku berkata lain.
Contoh lain:
Ade: Saya ingin sekali tertawa, tetapi disuruh diam.
Putri: Aku ingin membunuhmu, tetapi aku kasihan pada keluargamu. [versi psikopat]
Mita: Aku mencintai kamu, sedangkan kamu mencintai dia. Bisa apa aku? [versi curhat]
Arief: Saya mapan, sedangkan dia misquen. [versi membandingkan diri dengan pacar barunya si mantan]

3. Koma dipakai kalau anak kalimat diletakkan di depan.
Contoh lain:
Gianni: Meski getir, hidup memang harus tetap dijalani. [berdasarkan kisah nyata, sepertinya]
Verra: Ketika aku datang, dia pergi. [dia sepertinya sedang menghindari kamu]
Arief: Jangankan untuk bertemu, memandang pun saja sudah tak boleh. [Kata Ghea, ini versi ta'aruf] You sing, you lose!

4. Koma dipakai di belakang kata penghubung antarkalimat seperti “oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu,” dan “meskipun demikian”.
Contoh: Panci merah muda itu memang sangat cantik. Jadi, Mba Ade pun tergiur untuk membelinya.”

5. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru dan kata sapaan.
Contoh kata seru: Waduh, para editor memang cantik-cantik, ya! Awas, ga boleh ga setuju, lo, nanti kena surat cinta!
Contoh kata sapaan: Aku lihat-lihat dari tadi kamu makan mulu, Mus?

6. Tanda koma dipakai buat memisahkan petikan kalimat langsung.
Contoh:
“Suaminya Tika itu pilot,” kataku kepada suami.
“Aku juga pilot,” timpal suamiku. “Pilot drone…”
Aku: “Wew!”

7. Tanda koma dipakai buat memisahkan nama dan alamat.
Contoh: Revin tinggal di Banjar, Kalimantan.

8. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelas akademisnya.
Contoh: Ade, SS.

9. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal.
Contoh:
Rp1.000
IPK-nya cuma 1,2.
Ini kebalikan dari penggunaan koma dalam bahasa Inggris-Amerika.
Contoh:
- $1,000 >> $1.000 (kalo kamu nulisnya tetep $1,000 > dalam bahasa Indo ini dibacanya jadi 1 dolar
- 50.7 degrees >> 50,7 derajat
- 30.5 gram >> 30,5 gram

10. Tanda koma dipakai buat mengapit keterangan tambahan (kalimat aposisi, kata Mba Ade).
Contoh: Mba Ade, yang memiliki stok meme segudang, ternyata memang seorang distributor meme!
Kalau dalam bahasa Inggris, biasanya digunakan tanda “sengkang” (tanda strip panjang “—“).
Contoh lain:
Tika: Sasha, anak mbak Tika yg paling besar, suka sekali makan mi goreng.
Gianni: Mba Kristal, yang memesona, ternyata adalah seorang kutu buku.

11. Tanda koma dipakai di belakang keterangan untuk menghindari salah baca/salah pengertian.
Contoh: Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

Cara untuk menaruh tanda koma dalam kalimat:
- Coba baca kalimat yang kalian buat dan di tempat kalian menarik napas, letakkanlah tanda koma.
- Coba baca kalimat yang kalian buat dengan lantang, dan di tempat nada suara kalian menurun, letakkanlah koma.

-------

Sumber dan tautan penting:
- https://puebi.readthedocs.io/en/latest/tanda-baca/tanda-koma/
- http://ramdayanisiti.blogspot.com/2013/02/kata-penghubung-interkalimat-antar.html

Daaaaaaannnnnnnnn.............. :D :D

Oke, udah beres semua ya... :)8:38 pm
Makasih banyak buat kehadiran & partisipasinya. Semoga kita bisa ketemu 
di Kuliah Jumat berikutnya...8:38 pm
Terima kasih banyak buat kuliahnya.8:38 pm
Yang ga hadir kuliah, silakan manjat ke atas buat baca2.8:38 pm
Terima kasih. Minta tanda tangan buat kartu kuliah8:39 pm
*tanda tangan* :D8:40 pm
KristalLho bubar8:43 pm
Habis dr warung8:43 pm
Kuliah ko ke warung??8:44 pm
LAPARrrr8:44 pm
katanya tadi izin ke WC? ternyata malah cari makan ke warung8:46 pm
biasanya di warung ada kelas. Ini berdasarkan kisah nyata8:48 pm
Eh, udah bubar, ya?  Maap Mbak Sri Noor Verawaty, tadi aku tinggal ke WC... :D

Wednesday, October 31, 2018

Perjalanan Impulsif dengan Segala Risikonya

Kami adalah impulsive travelers. Rencana perjalanan kami sering berubah mendadak di tengah jalan. Itulah kenapa kami lebih suka bepergian sendiri dan jarang mengajak orang lain.

Tentu saja, perjalanan yang impulsif ini berisiko karena bisa saja keadaannya berubah jadi tidak memuaskan, atau lebih parah dari itu: justru mengecewakan. Salah satu contohnya kami alami ketika naik kereta dari Stasiun Bandung ke Cicalengka.

Kami awali hari itu dengan satu tujuan utama yaitu pergi ke Lembang lewat rute asing: Ujungberung - Palintang - Bukitunggul - Maribaya - Lembang. Sebelumnya, suami dan aku pernah menyengajakan diri menelusuri rute alternatif ini menggunakan motor. Ternyata jalannya sebagian besar sudah bagusbahkan banyak bagian yang sudah dicordan cukup lebar untuk dilalui dengan mobil. Dulu, sewaktu jalannya masih rusak, rute ini adalah salah satu rute menarik untuk penyuka motor trail.

Pemandangannya? Jangan tanya. Namanya lewat gunung, pemandangan di sini cukup indah. Sebagian besarnya ditanami dengan pohon kopi, kemudian daerah Palintang sampai Bukitunggul ditanami pohon kina. Bahkan ada pabrik pengolahan kina di sini.

Di kanan dan kiri jalan ada tebing dan hutan yang di terasnya banyak sekali bunga-bunga liar cantik berwarna ungu. Aku tak henti "ber-wah" dan "ber-wow" sepanjang jalan, dan sangat menyayangkan karena waktu itu anakku tidak ikut serta karena harus sekolah. Ada semacam guilty pleasure setiap kali aku & suami pergi berjalan-jalan sementara anakku bersekolah. Tapi lama-kelamaan, rasa guilty-nya berkurang dan yang tersisa hanyalah pleasure-nya. (Ibu macam apa kau ini?!)

Baiklah, lanjut tentang perjalanannya.

Kali keduanya, kami melewati rute ini bersama anak. Aku sudah tidak sabar ingin menunjukkan bunga-bunga ungu cantik yang bertebaran di sepanjang jalan. Dan ternyata Saudara-saudara, tidak ada satu bunga pun di sepanjang jalan itu... karena kali ini kami melewatinya pada musim kemarau. Tanah gersang, rerumputan kering. Ah anakku, tidak beruntung kau kali ini.

Setelah suami puas memotret dan nge-drone di hutan, kami pun melanjutkan perjalanan sampai ke Maribaya. And being impulsive that we are, suamiku nyeletuk, "Mampir ke Maribaya Lodge lagi, yuk?"
Tentu saja aku & anakku tidak pernah menolak kalau diajak mampir ke tempat wisata. Jadi untuk yang kedua kalinya, kami pun ke Maribaya Lodge. Setelah parkir, barulah kami sadar, ini hari Sabtu dan tempat wisata seperti ini pasti penuh. But we were not quitters, so we kept going. Sudahlah, sudah kadung mampir, kami pun masuk. (Asli, tempat ini penuh sama lautan manusia. Kalau bisa datang pada hari lain selain akhir pekan, pilihlah hari lain).

Getting out of Maribaya Lodge was such a relief! Tapi kami belum menentukan tujuan selanjutnya. Jadilah kami mampir ke rumah sepupu yang kebetulan tinggal di Lembang. Pintu rumah mereka yang selalu terbuka (atau kami ketok kalau tidak :D ), sering menjadi tempat perhentian kami. Kami pun beristirahat di sana sambil berpikir. Setelah menimbang bolak-balik, sore harinya kami mengejar waktu dan turun ke Bandung, ke stasiun Kebon Kawung. Setelah memotret, suami lagi-lagi mencetuskan ide, "Eh naik kereta ke Cicalengka, yuk."
"Yuuuuuuuk..."

Sayangnya, ternyata tiket kereta ke Cicalengka harus dibeli di stasiun lama yang berada di belakang. Sudah kadung niat, kami pun memutar dan pergi ke stasiun lama. Ternyata di dalam ada banyak sekali orang. Hari Sabtu, malam Minggu. Tentu saja banyak orang. You know that feeling, when your guts tells you to stop but you keep going? We should've stop when a lady near us mumbled this to her companion, "Jam segini kereta ke Cicalengka selalu penuh!" But we were not quitters, so we kept going... until we got in the train and... Oh my God, I QUIT!

Kereta ekonomi ke Cicalengka ini berjejalan, berdesakan, dipenuhi beragam bau keringat orang yang pulang kerja, dan dibumbui oleh virus bersin serta batuk yang memang sedang musimnya. Dan kursinya tidak bernomor, jadi saat masuk, kami harus langsung menyambar kursi mana pun yang ada. Aku tidak sanggup hidup seperti ini... Ini bukan wisata, ini..... ini... apa pun namanya... (Dramatis).

Akhirnya kami turun di Stasiun Kiara Condong dan mengakhiri perjalanan hari itu.

Kata orang, traveling is not about the destination, but the journey. Dan perjalanan tersulit pun umumnya akan dikenang dengan senyum atau bahkan tawa. Dan yang satu ini adalah untuk ditertawakan. :D

Image may contain: cloud, text and outdoor

Sunday, October 28, 2018

Alan Walker: Alone - Piano Cover by Qei


Alan Walker: Alone Lyric
Lost in your mind I wanna know Am I losing my mind? Never let me go If this night is not forever At least we are together I know I'm not alone I know I'm not alone Anywhere, whenever Apart, but still together I know I'm not alone I know I'm not alone I know I'm not alone I know I'm not alone Unconscious mind I'm wide awake Wanna feel one last time Take my pain away If this night is not forever At least we are together I know I'm not alone I know I'm not alone Anywhere, whenever Apart, but…

Alan Walker - Darkside - Piano Cover by Qei


Alan Walker: Darkside Lyric
We're not in love We share no stories Just something in your eyes Don't be afraid The shadows know me Let's leave the world behind Take me through the night Fall into the dark side We don't need the light We'll live on the dark side I see it, let's feel it While we're still young and fearless Let go of the light Fall into the dark side Fall into the dark side Give into the dark side Let go of the light Fall into the dark side Beneath the sky As black as diamonds We're running out of time Don't wait for truth To come and blind us Let's just believe their lies Believe it, I see it I know that you can feel it No secrets worth keeping So fool me like I'm dreaming Take me through the night Fall into the dark side We don't need the light We'll live on the dark side I see…


Friday, October 26, 2018

Membangun Komunitas Penulis di Kontenesia

Image may contain: text

Membangun komunitas memang butuh ketelatenan dan kesinambungan. Awalnya, menghidupkan iklim perusahaan yang akrab dan menyenangkan itu mudah karena jumlah orangnya masih sedikit. Seiring berkembangnya perusahaan dan bertambahnya jumlah orang baru yang masuk, tingkat keakraban semakin berkurang dan komunitas penulis pun terasa gersang dan asing.

Kontenesia memiliki sebuah forum yang semula dibuat untuk menyaring calon penulis baru dan membentuk komunitas penulis Indonesia secara umum, di luar Kontenesia. Tapi karena ada perasaan asing di sana, sekarang forum ini hanya berfungsi sebatas menyaring calon penulis baru dan belum bisa dihidupkan dan difungsikan secara maksimal sesuai tujuan awal.

Saat Mba Ade (editor) memiliki ide untuk menghidupkan kembali keakraban penulis di internal Kontenesia dan memperkokoh komunitas, Mas Anggi Krisna (CEO) sepertinya berharap kami mengeksekusi ide ini di Forum Kontenesia. Tapi dengan pertimbangan bahwa komunitas penulis internal Kontenesia harus dipererat terlebih dahulu sebelum mengajak orang-orang luar, kami mengeksekusi ide tersebut di dalam platform internal Kontenesia.

Kalau aku ditanya, "Sebagai sebuah perusahaan, kamu ingin Kontenesia itu seperti apa sih, di mata orang-orang yang ada di dalamnya?"
Mungkin jawabanku sedikit utopis: "Aku ingin Kontenesia menjadi rumah tempat mereka merasa hangat, aman, percaya, dan terlindungi di dalamnya."
Dan di sinilah manfaat dibentuknya komunitas.

Namun kendalanya, pilihan profesi sebagai penulis ini cenderung dilakoni oleh orang-orang introver yang kadang sulit diajak bersosialisasi beramai-ramai. Selain itu, pekerjaan yang satu ini juga banyak dilakoni sebagai pekerjaan kedua, di samping pekerjaan utama mereka. Kedua faktor di atas membuat tingkat partisipasi di komunitas tidak 100% diikuti oleh semua orang. Jadi aku mencari cara lain untuk melibatkan orang-orang pendiam dan orang-orang sibuk ini.

Sejauh ini tingkat partisipasi di platform Kontenesia sudah sangat bagus. Sambutan dari yang pendiam dan yang sibuk pun positif setelah mereka difasilitasi dengan cara tersendiri, kendati mereka tidak bisa atau belum mau ikut meramaikan secara langsung. Aku membiarkan beberapa orang yang tidak mau atau tidak bisa ikut meramaikan. Sebagai seorang introver, aku paham jika mereka memilih untuk menjadi silent readers saja.

Seiring bertambah eratnya keakraban di dalam komunitas penulis, bertambah pula rasa saling percaya, awalnya antarsesama penulis dan antarpenulis dengan editor, selanjutnya berdampak pada rasa percaya antarpenulis dan manajemen dan dengan perusahaan secara umum. Semua karena adanya komunikasi yang lebih terbuka. Kami--manajemen Kontenesia--ini ada, berwajah, berwujud. Bercanda bersama mereka, menjawab saat ditanya, memberikan bantuan saat diminta, melindungi saat dibutuhkan. Kami ada, kami tidak bersembunyi, kami tidak melarikan diri. Kami menunaikan kewajiban, kami memberikan hak, dan kami menyelesaikan masalah.

Tentu saja, tingkat kepuasan penulis terhadap rekan sesama penulis, editor, dan kami di manajemen Kontenesia secara keseluruhan, harus diukur secara riil. Terkadang ada ketakutan tersendiri saat hendak mencari tahu soal ini. Khawatir ada hal-hal yang mereka keluhkan, khawatir ada ketidakpuasan. Tapi kalau tidak dicari tahu, berarti aku tidak mau membenahi kekurangan tersebut. Jadi aku harus memberanikan diri mendengarkan keluhan, saran, maupun kritik yang masuk.
Untungnya, semua respons yang masuk sejauh ini sangat positif. Dan komunikasi yang terbuka seperti ini justru disambut sangat baik oleh para penulis.

Semoga saja iklim seperti ini terus terpelihara dan berkembang dengan lebih baik lagi ke depannya, menuju cita-cita utopisku.

Thursday, October 25, 2018

Introver dan Telepon

Hasil gambar untuk who are you where did you find me meme

Mungkin sebagian dari kalian ga tahu bahwa bunyi telepon itu mengerikan buat kami: orang-orang introver. Makhluk sebangsa kami ini lebih suka menulis daripada mengobrol. Jadi ya, aku punya beberapa pengalaman mengerikan menegangkan sama yang namanya telepon/video call ini. :D

Suamiku adalah orang ekstrover, jadi kalau aku ada urusan sama seseorang, dia selalu nyeletuk, "Telepon aja, biar cepet." Anjuran yang tentu saja selalu aku abaikan. Kalau bisa pakai pesan teks, kenapa harus telepon?
Terus terang, aku bahkan nyaris ga pernah ngobrol di telepon sama mertuaku.
Hubungan kami sangat baik. Kalau ketemu langsung, kami ngobrol segala macam, ramai, seperti layaknya orang tua dan anak. Hanya saja, aku ga suka ngobrol di telepon.

Hasil gambar untuk if you can text why should you call meme

Tapi tentu saja panggilan telepon ini ga selamanya bisa dihindari. Suatu waktu, pasti ada telepon penting yang mau ga mau harus diangkat, seperti panggilan telepon untuk urusan pekerjaan. Misalnya dari agensi penerjemah. Ini sangat menegangkan. Ada alasan kenapa aku lebih suka jadi penerjemah (tulis), alih-alih juru bahasa (lisan). 

Lebih menegangkan lagi kalau teleponnya dari agensi asing, jadi mau ga mau harus pakai bahasa Inggris. Ada beban tersendiri kalau ngomong dalam bahasa Inggris berlepotan--konon katanya penerjemah. Padahal kalau secara tertulis, aku jago. Ahem... 
Tapi kalau udah sering berinteraksi dan kenal, ketegangan telepon ini berkurang, sih.

Hasil gambar untuk introvert phone call meme

Ada juga kejadian lucu di platform Kontenesia, tempat kami semua bertemu dengan klien di dunia maya.
Jadi untuk setiap proyek, admin Kontenesia akan membuat sebuah tim berisi project manager/editor, penulis, & business development yang memegang klien tersebut, di sebuah platform yang juga menyediakan fitur video call. Waktu itu, kami sedang mengobrol dengan seorang klien, dan tiba-tiba si klien meminta video call. Langsung kami semua "ngibrit" ke chatroom khusus editor dan panik, siapa yang mau mewakili buat mengangkat video call tersebut.

Kebetulan semua editor ini introver dan memakai kerudung, jadi kami langsung mencari alasan untuk ga menjawab panggilan klien dan mau minta tolong bus dev (Mas Andi) aja yang menjawab, satu-satunya cowo yang ga perlu repot-repot pakai kerudung terlebih dulu untuk menghadapi klien.

Untunglah panggilan dari klien berhenti sebelum sempat dijawab, disertai permintaan maaf, "Kepijit," katanya, yang langsung diikuti oleh embusan napas lega dari kami semua. That was dreadful, really!

Hasil gambar untuk introvert phone call meme

Separah apa sih ketakutanku pada panggilan telepon?
Separah: "Telepon dari Ariel Noah pun ga akan aku jawab."
Bukan, ini bukan analogi. Ini beneran.

Jadi suamiku yang sudah bertahun-tahun menikah denganku ini ga paham kenapa istrinya takut banget sama panggilan telepon. Pokoknya ga masuk sama logika estrover dia. Jadi suatu kali dia punya ide brilian buat menghubungkan Ariel Noah ke aku lewat telepon. Dia sudah kenal & mengerjakan proyek bertahun-tahun bersama Noah, bahkan sejak Noah masih bernama Peter Pan. Dan selama itu, aku belum pernah sekali pun bertemu dengan salah satu di antara mereka. Maka muncullah ide itu. Suamiku menelepon, lalu bilang, "Bunda, ada yang mau ngomong, nih!" Lalu teleponnya diserahkan ke "orang yang mau ngomong" itu. Dan tadaaaaaaa.... suara merdunya Ariel menyapa di ujung sana, "Halo, Nci..."
Aku tahu suara itu! Refleks aku membanting telepon ke anakku lalu ngibrit ke dapur sambil tertawa tanpa suara.

Mungkin itu adalah hal terkejam yang pernah suamiku lakukan kepadaku. :D

Hasil gambar untuk introvert phone call meme


Monday, October 22, 2018

Via Valen - Meraih Bintang - Piano Cover by Qei (Asian Games 2018 Theme ...



Lirik Meraih Bintang (Asian Games 2018 Theme Song) Via Valen Setiap saat setiap waktu Keringat basahi tubuh Ini saat yang kutunggu Hari ini ku buktikan Ku yakin aku kan menang Hari ini kan dikenang Semua do'a kupanjatkan Sejarah ku persembahkan Harus fokus satu titik Hanya itu titik itu Tetap fokus kita kejar Lampaui batas Terus fokus satu titik Hanya itu titik itu Tetap fokus kita kejar Dan raih bintang Yoo yo ayo yo ayoo yoo yo ayo Yoo yo ayo yo ayoo yoo yo ayo yo yo wo oo Yoo yo ayo yo ayoo yoo yo ayo Yoo yo ayo yo ayoo Kita datang kita lihat Kita menang Kalau menang berpretasi Kalau kalah jangan frustasi Kalau menang solidaritas Kita galang sportivitas Kalau menang berprestasi Kalau kalah jangan frustasi Kalau menang solidaritas Kita galang sportivitas Harus fokus satu titik Hanya itu titik itu Tetap fokus kita kejar Dan raih bintang Yoo yo ayo yo ayoo yoo yo ayo Yoo yo ayo yo ayoo yoo yo ayo yo yo wo oo Yoo yo ayo yo ayoo yoo yo ayo Yoo yo ayo yo ayoo Kita datang kita lihat Kita dukung Harus fokus satu titik (Yoo yo ayo yo ayoo yoo yo ayo) Hanya itu titik itu (Yoo yo ayo yo ayoo) Tetap fokus kita kejar (yoo yo ayo yo yo wo oo) Harus fokus satu titik (Yoo yo ayo yo ayoo yoo yo ayo) Hanya itu titik itu (Yoo yo ayo yo ayoo) Tetap fokus kita kejar (yoo yo ayo yo yo wo oo) Dan raih bintang (Yoo yo ayo yo ayoo)

Thursday, October 11, 2018

Kawah Kamojang Garut: Datanglah Menjelang Magrib kalau Kau Berani

Hari itu kami jalan-jalan ke Sumedang. Karena hari masih cukup siang sementara petualangan di Sumedang telah selesai, tiba-tiba tebersitlah sebuah ide impulsif, "Ke Garut, yuk?" yang kemudian direspons "Ayo!!" dengan penuh semangat.

Pertama-tama kami bertanya ke Mbah Google tentang tempat-tempat wisata di Garut yang tidak terlalu jauh jaraknya dari titik tempat kami berada saat itu. Setelah menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk pergi ke Kawah Kamojang.

Kamojang Hill Bridge
Perjalanan pun dimulai. Sore hari sekitar waktu asar, kami sudah tiba di jembatan Kamojang. Arsitektur jembatannya bagus, jadi kami mengambil beberapa foto di sana. Setelah itu, buru-buru melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin senja.

Sekitar pukul 5 sore kami tiba di gerbang tiket menuju Kawah Kamojang. Kami sempat bertanya kepada petugas di sana, "Lokasi wisatanya tutup jam berapa?" Mereka bilang sekitar magrib, tetapi di dalam sana ada warung-warung makan yang selalu buka, dan suka ada orang-orang yang kamping, jadi kami tidak perlu khawatir kesepian. Mau kamping juga boleh, katanya.

Baiklah, kami melanjutkan perjalanan ke dalam. Dan hanya beberapa puluh meter dari tempat tiket, kami sudah dibuat terpesona oleh pemandangan Kawah Manuk. Ini adalah kawah pertama dari rentetan kawah yang ada di sini.

Kawah Manuk

Setelah mengambil beberapa foto, kami melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Di pusat area wisata ini ada lahan parkir yang cukup luas dan sejumlah warung makan yang menawarkan camilan seperti Indomie, somay, baso, dan makanan lainnya. Ada pula musala dan WC.

Setelah parkir, kami mulai berjalan kaki ke kawah kedua. Kawah Kereta Api namanya. Kawah ini dinamai demikian karena semburan uap panasnya sangat kencang dan bunyinya sangat berisik seperti kereta uap zaman dahulu. Jarak terpisah beberapa meter saja, kami sudah tidak bisa mendengar lawan bicara. Untung saja ada handy talkie, itu pun harus sambil berteriak saat menggunakannya, barulah terdengar. "AYAAAH, UDAH SORE, AYO LANJUT KE KAWAH KAMOJANGNYA!!!"
Suami: "OKEEE!!!"
Seperti di rimba, ya?

Kawah Kereta Api


Kami melanjutkan perjalanan, tetapi sedikit-sedikit berhenti untuk memotret karena tempat ini sangat memukau. Memesona. Menghipnotis. Jadi kami terus terkagum-kagum.

Setelah "dikit-dikit berhenti, dikit-dikit memotret" kami pun tiba di kawah berikutnya, yaitu Kawah Hujan. Hari tambah senja dan sepi, semakin dingin dan spooky, dan membuatku merasa hibbie jibbies (berima ya...). Untunglah, mendadak ada serombongan orang (anak-anak dan pelatih) dari perguruan pencak silat atau taekwondo yang datang ramai-ramai dan menuju ke Kawah Hujan. Dan kalau melihat beberapa bapak dan kakek sesepuh perguruan, kamu juga akan mendadak jadi pemberani. Ah, kalau sama si Kakek mah, setan juga takut dikelepak kayaknya. Dari tampangnya saja... belum ngomong apa pun, si Kakek sudah kelihatan sakti.

Kawah Hujan
Kami tiba di Kawah Hujan bersama rombongan tersebut. Sesuai namanya, kawah ini memang menyemburkan uap air yang terasa seperti hujan. Airnya panas, tapi tidak bisa dipakai berendam seperti di Ciater karena hanya berupa aliran dan genangan kecil. Inilah tempat yang terkenal bisa dipakai untuk merebus telur. Tinggal celupkan saja telur mentah ke dalam salah satu genangan air di sini, tunggu beberapa menit, dan kamu pun akan akan mendapatkan telur rebus yang enak. Jangan lupa bawa nasi liwet, pepes ikan gurami, dan sambal sebagai pelengkapnya.

Memotret di sini cukup berisiko karena airnya yang terus memercik dari sumber-sumber mata air kecilnya. Jadi kalau kamu membawa kamera mahal dengan lensa seharga motor, lebih baik dikantongi saja daripada rusak tepercik air belerang panas.

Hutan di Kawah Kamojang
Jam sudah menunjukkan pukul 6 dan aku gelisah karena belum juga sampai di Kawah Kamojang yang sejak awal menjadi tujuan utama kami. Sudah jauh-jauh berwisata ke Kamojang, masa kami ga ke Kawah Kamojangnya? Pikir kami, Kawah Kamojang ini adalah kawah terbesar dan terepik dibandingkan tiga kawah lain yang sudah kami lihat.

Aku membuka Google Map dan di sana tertera bahwa Kawah Kamojang sudah tidak jauh dari tempat kami berada. Ada jalan setapak menuju ke sana. Jadi kami pun mulai meniti jalan tersebut menuju ke hutan yang lebih lebat dengan kabut yang semakin tebal dan udara yang semakin dingin.

Setelah beberapa meter berjalan dengan perasaan yang sangat tidak nyaman, aku dan suami berunding, apakah akan terus melanjutkan atau balik badan saja. Kami membawa senter saat itu. Jadi ini bukan soal terang atau gelap. Kami juga membawa tripod yang bisa dipakai sebagai alat bela diri kalau ada orang jahat atau binatang liar. Tapi ini bukan soal makhluk kasat mata. Ada rasa tidak nyaman yang luar biasa menerpaku, jadi aku meminta untuk pulang saja. Suami setuju. Kami balik kanan dan turun kembali.


Di perjalanan pulang, setelah Kawah Kereta Api, ada beberapa pemuda yang sedang membangun sebuah kantor. Mereka "warlock" (warga lockal). Kami berbincang-bincang dan mengorek informasi tentang Kawah Kamojang.

Ternyata.......... Tidak ada itu yang namanya "Kawah Kamojang", Saudara-saudara! Sebenarnya yang dimaksud dengan "Kawah Kamojang" adalah "Kawah Manuk, Kawah Kereta Api, Kawah Hujan, dan Kawah Berecek yang ada di daerah bernama Kamojang".
PLAK!
Aku merasa dibodohi oleh Google Map!

Untunglah kami urung menelusuri hutan spooky ke titik yang di Google Map tertera tulisan "Kawah Kamojang". Entah apa yang akan kami temukan di sana. Magrib-magrib pula!

Hutan di Kawasan Kamojang
Kami pun turun dengan puas. Kembali ke tempat parkir dan menyempatkan diri untuk memotret Kawah Berecek yang sebelumnya terlewat dan beberapa kawah tak bernama lain di sekitar sana.
Luar biasa rasanya melihat tanah yang kami pijak "mendidih" lumpurnya dan mengeluarkan uap dari sela-selanya. Tidak ada duanya.

Kawah Berecek
Sebagian besar tempat yang "berbahaya" ini dipagar, tetapi tetap berhati-hatilah saat melangkah karena hampir setiap sudut ada saja lumpur yang menggelegak dan uap belerang yang menguar.

Salah satu kawah di Kamojang

Satu lagi bonus luar biasa yang membuat kami menganga adalah PLTPB Kamojang (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi). Sore sebelumnya, saat kami melewati tempat ini, pemandangannya sudah tampak luar biasa. Ada beberapa cerobong besar yang mengeluarkan uap yang mengepul-ngepul ke langit.
PLTPB Kamojang

Dan inilah penampakan PLTPB Kamojang yang membuat kami berpaling dan berhenti sebentar karena kaget. Kami pikir ada kebakaran saking benderangnya tempat ini. Ternyata memang seindah itulah keadaannya dan semua dalam keadaan aman terkendali.

PLTPB Kamojang