Thursday, July 26, 2018

Road Less Travelled: Gunung Parang Purwakarta, Sasak Panjang, dan Jembatan Kereta Cisomang

Minggu kemarin, kami, Keluarga Tukang Aprak-aprakan mengerjakan apa yang biasa kami kerjakan: aprak-aprakan! :D "Aprak-aprakan" adalah bahasa Sunda yang artinya road less travelled. Hmm... bahasa Indonesianya apa ya... "bepergiaan ke tempat yang ga ada jalannya, kayak ke hutan atau ke gunung." Kurang lebih seperti itulah artinya.

Dan kali ini kami memilih aprak-aprakan ke Kota Purwakarta.

Perhentian pertama kami adalah sebuah bukit. Suami nge-drone di sana, sementara aku mencari bunga dan insek untuk dipotret. Lokasinya tepat di depan kuburan. Di sana, to my surprise, aku menemukan pohon jambu mete (jambu monyet) yang sedang berbuah walau tak lebat. Jambu mete... kacang mete kesukaanku! Kacang yang harganya udah mirip daging kalau Lebaran. Kacang yang kalau di mertua lagi ada, aku dan suamilah yang biasa menghabiskannya. :D

Beberapa jambu dan biji metenya berserakan di tanah. Saat seorang ibu--yang rumahnya berada tepat di depan kuburan--lewat untuk menjemur padi di dekat sana, aku bertanya, kenapa jambu metenya kok dibiarkan berserakan begitu saja, kenapa ga ada yang mengambil? Si Ibu bilang, iya, emang ga ada yang suka ngambilin, mungkin udah pada bosen, mungkin ga suka. Lagian getahnya bikin kulit menghitam dan mengelupas, katanya.

Wah, mubazir gini, pikirku. Lalu aku meminta izin untuk membawa pulang beberapa biji mete. Buah jambunya sendiri ga ada yang bisa diambil karena memang belum musimnya, jadi buahnya ga banyak dan kalaupun ada satu dua, letaknya hampir di puncak. Kalau memaksa memanjat, aku khawatir disangka, "Ada monyet naik jambu monyet...!"

Itu kisah di kuburan pertama. Di kuburan kedua yang letaknya tepat di tepi jalan, aku meminta suami untuk berhenti sejenak karena di sana ada baaaanyaaak sekali bunga putih cantik yang tumbuh liar. Aku mencabut beberapa rumpun. Bapak-bapak di seberang jalan berseru, "Milari naon (nyari apa?)?"
Aku bilang, nyari bunga. Aku minta izin dan dia berkata sambil tertawa, "Candak we sadayana ari palay, mah. (ambil saja semuanya kalau mau)." Haha... banyak banget, dong.

Perhentian berikutnya adalah Gunung Parang. Suami nge-drone di dekat sana. Kami ga naik ke gunungnya, karena anakku malah tidur di mobil.

Jadi, Gunung Parang yang memiliki ketinggian sekitar 963 meter di atas permukaan laut ini sebenarnya adalah sebongkah batu raksasa. And by "giant", I mean... really, really, really massive! Sementara ketinggian gunung ini dari permukaan tanah yang kami pijak tepat di kakinya kurang lebih sekitar 400 meter lebih mungkin, ya, karena drone suamiku sudah terbang sampai ketinggian 380 meter dan itu belum sampai ke puncaknya.

Di sana sekarang sudah dibuat via ferrata (tangga titian di dinding tebing buat mendaki ke atas) dan ada "hotel" transparan yang menggantung begitu saja di dinding tebing. Not for the faint hearted, really! I'm a faint hearted... and I might just literally faint if I have to spend a night there.

Lanjut ke perhentian berikutnya yang entah di sebelah mana dan entah seperti apa, karena kami memang pergi ke mana saja aplikasi Waze membawa kami. :D
Kami mencari "Sasak Panyawangan" (bahasa Sunda, artinya: "jembatan tempat menikmati pemandangan") referensi dari Google Map. Ternyata setelah sampai di sana, namanya adalah "Sasak Panjang" (jembatan panjang). (Please, make up your mind, Sasak! :D)
Jalannya hanya cukup untuk 1 mobil tok! Kalau kalian berpapasan sama mobil lain, gimana? Euuu... 'ntar lah, dipikirkan saja solusinya di lokasi kalau memang sudah kejadian, ya. Capek kalau dipikirin dari sekarang.

Jadi, Sasak Panjang ini adalah sebuah skywalk (kalau di objek-objek wisata di Bandung, begitulah disebutnya). Jembatannya terbuat dari bambu, karena memang di sana ada banyak sekali hutan bambu, jadi pembuatnya memanfaatkan sumber daya yang ada. Bagus.
Nah, jembatan ini panjang banget dan nyambung ke mana-mana, sampai ke dinding sebuah bukit, dan naik terus hingga ke atas. Ada apakah di atas? Percaya atau tidak: ada kolam renang, katanya. Kok katanya? Iya, karena aku sudah turun dari jembatan sejak beberapa meter awal. :D

Anakku berjalan lumayan jauh, ke batu besar (yup, daerah Purwakarta ternyata kaya dengan batu-batu berukuran raksasa, jadi pengen googling sejarahnya), sampai agak ke atas. Suamiku mengikuti dari belakang dengan tertatih-tatih. He almost kinda "crawled" on it... Suamiku! Suamiku--yang dulu adalah pecinta alam dan penakluk gunung---kemarin berjalan merayap di sepanjang jembatan bambu, sementara anakku menggelinding dengan ceria. Aku ngakak di kejauhan, di bawah, di tempat aman, memijak tanah. Habisnya jembatan bambunya berderit setiap kali diinjak dan ada bolong-bolong di sela-selanya. Jadi aku turun saja. :D

Lanjut ke perhentian terakhir, yaitu Jembatan Kereta Cisomang. Yang satu ini untuk memuaskan kegilaan suamiku pada kereta membuat stok video aerial jembatan keren ini. Suamiku memang seorang train freak railfan, jadi dia senang mengunjungi tempat-tempat apa pun yang berhubungan dengan kereta.

Di tempat ini ada 2 jembatan, yaitu jembatan lama yang dibangun pada zaman kolonial Belanda ("Dibangun tahun 1800-an", kata suami di belakangku barusan) dan satu lagi jembatan baru, yaitu penggantinya, karena jembatan lama sudah tidak laik* pakai.

(*la.ik = memenuhi persyaratan yang ditentukan atau yang harus ada; patut; pantas; layak
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/laik)

Melebar deh pembahasannya. Dasar editor!

Jadi, apa hasil aprak-aprakan kali ini? Seperti biasa: foto. 
Tapi hari itu kami kurang beruntung. Seharian, dari Bandung sampai Purwakarta, dari pagi sampai siang menjelang sore, kondisinya hazy (kabur karena polusi/debu di udara, bukan karena kabut cantik). Memang beginilah nasib fotografer lanskap. Untung-untungan. Kadang cuaca sedang bagus, kadang sebaliknya. Dan kalau sedang tidak beruntung, Photoshop Lightroom comes to the rescue! Satu saja ya fotonya... 

Foto Jembatan Cisomang sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) diedit.
Err... ya, suamiku adalah fotografer andal (eaaa) sekaligus editor foto yang mumpuni (eaaa lagi...)
Hubungi nomor.... #ah terlalu vulgar.
Nah, masih ingat dengan kacang mete yang aku bawa pulang? Yang kata si ibu, getahnya bikin kulit menghitam dan mengelupas?

Sesampainya di rumah, aku berusaha membelahnya dengan pisau. Ternyata kulit kacang mete itu keras dan tebal, padahal aku sengaja memilih yang paling muda, masih hijau, karena aku pikir yang ini akan lebih mudah dibuka daripada yang kulitnya sudah mengeras seperti batok kelapa. Dan... karena masih hijau, getahnya juga banyak.

Getah?!! Inikah getah yang kata si ibu itu bikin kulit menghitam dan mengelupas? Terlambat... Tanganku sudah berlepotan. Buru-buru aku cuci dengan sabun cuci tangan, lalu dengan sabun mandi, lalu dengan larutan antiseptik. Rasanya tetap aneh, kulit jari jadi sehalus p@nt@t bayi. Terlalu halus untuk dibilang normal. Beberapa hari kemudian, kulit tanganku mulai mengelupas. Kayak ada selapis tipis yang mulai berubah warna menjadi lebih gelap, terus secara bertahap berguguran. Di situlah aku sadar, kenapa biji jambu mete itu sampai berserakan dan ga ada yang mau memungutnya. Kalau begini ceritanya sih, semahal daging pun mending beli daripada ngurus sendiri. :D

Semoga ada pesan moral yang bisa dipetik dari cerita perjalanan kami kali ini. Minimal: berhati-hatilah dengan getah kacang mete! :D

Seperti Berjalan di Ladang Ranjau


Hari ini lagi-lagi aku membuat sebuah status receh di Facebook, tapi kemudian berpikir, kenapa aku melakukannya? Kenapa hanya menulis lelucon ringan, pos foto kucing, sesuatu yang lucu, seolah ga pernah serius dan ga suka membahas hal yang berat?
Mungkin.... karena pekerjaanku di Kontenesia sudah cukup berat... Hahaha.... :D

Kalau dilihat sekilas, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa beratnya pekerjaanku? Ngedit udah enggak; mengurus pekerjaan administratif harian udah enggak; nongol di depan klien, udah jarang; apanya yang berat?
Semua orang, yaitu editor, admin, bus-dev, finance, dan Pak Bos mungkin hanya tahu sepotong-sepotong. Editor hanya melihat sebagian "pekerjaanku yang berkaitan sama mereka", demikian pula admin, bus-dev, finance, dan Pak Bos. Mereka hanya tahu "bagian pekerjaanku yang berkaitan dengan mereka." Tapi kalau dikumpulkan, pekerjaan mereka semua berkaitan dengan aku!

Untuk mendebat pendirianku bahwa aku ini seorang introver, suamiku pernah bilang, "Itu kamu bisa ngurus banyak orang?"
Aku jawab, "Ya bisa. Tapi ini bukan soal 'bisa' atau 'enggak', tapi soal 'mau' atau 'enggak'."

Kalau diibaratkan pelari, aku ini sebenarnya adalah sprinter--pelari cepat. Aku bisa bekerja berat dalam rentang waktu singkat. Setelah itu aku harus beristirahat untuk mengembalikan energi fisik maupun psikis. Seperti cheetah. Itulah kenapa pekerjaan sebagai penerjemah freelance (bukan di Kontenesia) sebenarnya sangat cocok untukku. Aku bisa bekerja sebulan penuh untuk menerjemahkan sebuah buku, atau 1 hingga 2 minggu untuk dokumen panjang, misalnya. Setelah itu aku bisa beristirahat sampai pekerjaan berikutnya datang. Dalam waktu santai itu, aku mengisinya dengan hobi seperti berjalan-jalan, memotret, membaca buku, menonton, menggambar, ngeblog, bahkan menulis buku anak.

Sementara pekerjaan di Kontenesia ini justru maraton. Kebayang kan, seorang sprinter disuruh lari maraton. Itulah kenapa aku suka merasa kehabisan napas. I feel burned-out, because I'm not actually wired to be a marathon runner. 

Kadang, di suatu hari yang indah dan terasa damai, dan lampu ponselku belum berkedip-kedip dengan notifikasi dari Kontenesia, aku buru-buru menyalakan komputer untuk menggarap terjemahan (aku masih bekerja sebagai penerjemah di beberapa tempat). Tapi tiba-tiba datanglah badai topan, notifikasi menyala di semua tempat, chat room ramai, email masuk beruntun, pertanyaan mengalir, pekerjaan tiba-tiba menumpuk.
Selain beberapa pekerjaan berat, ada pula pekerjaan yang hanya berupa perintilan kecil. Kadang hanya menjawab pertanyaan sana-sini. Hanya mengambil keputusan ini-itu. Hanya mengecek satu-dua dokumen. Membereskan masalah dengan klien atau penulis. Tapi selalu ada.

Kemarin suamiku bilang, "Margin error di Kontenesia itu tipis sekali. Kamu kayak berjalan di thin ice, selalu ada risiko salah."
Kalau versiku, pekerjaan di Kontenesia itu seperti berjalan di ladang ranjau. Selalu ada risiko salah injak & ranjau pun meledak. Itu karena bidang pekerjaan yang satu ini melibatkan banyak faktor. Banyak penulis, banyak klien, banyak niche produk, banyak kepala, banyak keinginan, banyak sudut pandang. Jadi ya, banyak ranjau. Dan kalau ranjaunya sudah meledak, aku sering jadi "human-shield"-nya. Haha.

Dulu, bagian "human-shield" ini adalah bagian yang paling aku benci. Bayangkan, orang lain yang salah, aku yang harus bertanggung jawab dan menyelesaikan masalahnya. Aku yang harus menghadap klien, menghadap penulis, meminta maaf dan memohon seolah akulah terdakwanya.

Bertanggung jawab atas kesalahan orang lain adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Karena hal itu pula, menempellah sebuah image kepadaku: Chief Editor Kontenesia galak! Baik di mata klien maupun penulis. Ya memang begitulah. Di depan klien, aku kadang harus defensif dan membela penulis-penulisku kalau mereka tidak bersalah. Di depan penulis, akulah si algojo yang "nongol" dan memutuskan nasib mereka saat evaluasi rutin, termasuk memberikan Surat Peringatan dan memecat penulis.

Tapi lama-lama, aku jadi terbiasa. Jadi kambing hitam, dibilang galak, bertanggung jawab atas kesalahan orang lain? I eat that up! Angkat bahu. Kibas rambut. Sisihkan ke samping. Ga usah dimasukkan ke hati.

Jadi sebenarnya, pekerjaanku itu meliputi apa saja, sih? Hmm... menambal bocor dan menyelesaikan masalah. :D




Anaknya Memang Benar Suka atau Cuma Keinginan Orang Tua?

Entah sudah berapa orang ibu yang tiba-tiba ingin anaknya bisa bermain piano setelah melihat anakku bermain. Lalu biasanya, mereka akan mulai bertanya-tanya, bagaimana caranya bisa begini dan begitu.

Setiap kali mereka mendadak antusias seperti itu, aku suka mengerutkan kening. "Sebentar, sebentar... Memangnya anaknya sendiri suka bermusik atau ini hanya keinginan ibunya saja? Bagaimana kalau ternyata anaknya justru jago melukis, jago matematika, atau jago bermain basket? Atau kalaupun dia suka musik, ternyata sukanya biola? Kenapa harus dipaksakan untuk memilih piano hanya karena anggapan 'sepertinya keren juga, ya, kalau anak bisa bermain piano?'"

Ada beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menjerumuskan anak untuk les piano. Pertama, pastikan dulu, apa memang anaknya suka?

Aku pernah membaca di sebuah artikel bahwa otak pianis itu memang diciptakan berbeda, karena itulah mereka bisa menyeimbangkan motorik tangan kanan dan kiri secara bersamaan. Jadi pada dasarnya, memang tidak semua orang diciptakan untuk bisa bermain piano. Bagaimana jadinya kalau seorang anak yang dominan sebelah otaknya dipaksa untuk menyeimbangkan kedua sisi otak? Padahal kalau si anak mengembangkan kemampuannya sesuai bakat dan kapasitas otak dia, hasilnya mungkin akan lebih hebat.

Yang kedua, pikirkan juga apa tujuannya membuat anak belajar bermain piano? Kalau hanya untuk memenuhi idealisme kita sebagai orang tua, atau agar tampak keren, sebaiknya lupakan saja! Setiap anak bisa keren dengan bakat dia yang sebenarnya, asalkan dikembangkan, difasilitasi, dan didukung terus.

Yang ketiga, pikirkan jangka panjangnya. Apa memang ke depannya dia hendak diproyeksikan menjadi pianis profesional, untuk sekadar menyalurkan hobi, atau hanya untuk mengisi waktu luang daripada tidak ada kegiatan apa-apa? Untuk alasan yang kedua dan ketiga, ada baiknya pilihan penyaluran hobi dan pengisi waktu luangnya dipikirkan ulang dan disalurkan ke hobi yang benar-benar disukai anak.

Awalnya, melihat bakat anakku yang di atas rata-rata, kami sempat berpikir, mungkin dia akan menjadi pianis profesional. Anakku juga selalu bilang, cita-citanya memang ingin menjadi pianis. Kami cukup percaya diri untuk menunjukkan kemahirannya ke beberapa pemusik andal teman suamiku. Tapi melihat keadaan sekarang, mengevaluasi perkembangan kemampuannya yang tidak sesignifikan dulu, kami urung berharap banyak.

Alasan lainnya, saat ini pilihan profesi sebagai pianis di Indonesia tampaknya belum seperti di luar negeri, baik dari segi apresiasi, kebutuhan, maupun beberapa faktor lainnya. Jadi pada saat semangat belajar anakku mengendor, aku juga tidak ngotot memaksanya. Sepertinya, bermain piano hanya akan menjadi hobi saja pada akhirnya. Minimal, dia menyalurkan kesenangannya ini di kanal YouTube https://www.youtube.com/watch?v=PFlJOWdPl2I&list=PLly5S1y7txcBZzGlBqEZnd7QI4fAbiNV3

Jadi kesimpulannya, kalau rumput tetangga tampak hijau, tak apalah kalau halamanmu berwarna merah dengan mawar. Siapa tahu akan lebih cantik?

Friday, July 20, 2018

Kesalahan Para Pelamar Kerja

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan lamaran kamu tidak dilirik oleh sebuah perusahaan. Kita cek, yuk apa saja, supaya ke depannya kamu bisa memasukkan lamaran dengan benar dan membuat perusahaan tertarik sama kamu.

Di bawah ini aku sertakan sejumlah screenshots yang masuk ke meja Kontenesia sebagai contoh. Kita ambil lucunya aja, ya. Mudah-mudahan ini bisa dijadikan pelajaran dan tidak ada yang tersinggung. :)



1. Kamu tidak tahu banyak tentang perusahaan yang hendak kamu lamar, bergerak di bidang apa perusahaan tersebut, dan pekerjaan apa yang mungkin tersedia di sana. Saran: googling terlebih dahulu dan cari tahu tentang perusahaan yang akan kamu kirimi lamaran pekerjaan.




~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

"Cerita dengan kisah sehari-hari"
~~~~~~~~~~~~

Blog....
~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

2. Kamu tidak tahu tentang posisi/pekerjaan yang kamu lamar, apa job-desc-nya, bagaimana prosedur memasukkan lamaran, bagaimana proses seleksinya, apakah kamu memang sudah diterima atau belum? Saran: biasanya ada keterangan tentang hal ini di postingan lowongan atau di situs web perusahaan.




~~~~~~~~~~~~


~~~~~~~~~~~~

"Cerita..."
~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

3. Kamu tidak menyatakan apa maksudmu atau bahasa kamu membingungkan. Saran: utarakan maksud kamu dengan jelas dan dengan bahasa yang baik.



                                                                     ~~~~~~~~~~~~


"Membutuhkan" penulis freelance atau "ingin menjadi" penulis freelance?
                                                                     ~~~~~~~~~~~~

Membutuhkan "lowongan" atau membutuhkan "pekerjaan"?
                                                                                                                                
                                                                    ~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

Sama, dong, kita... :)
                                                                    ~~~~~~~~~~~~

Anggota.... MLM....?
                                                                     ~~~~~~~~~~~~


4. Kamu tidak menyertakan data diri (alamat email atau nomor telepon yang bisa dihubungi) dengan benar. Saran: Periksa kembali data diri kamu supaya perusahaan bisa menghubungi kamu kembali.




~~~~~~~~~~~~

5. Kamu memasukkan lamaran ke divisi/departemen/laman web/formulir yang salah. Saran: buka situs web perusahaan, baca dan periksa dengan hati-hati, dan pastikan kamu sudah mengirimkan lamaran ke tempat yang benar.




~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~


6. Kamu meminta perusahaan melakukan sesuatu untuk kamu secara personal. Sebuah perusahaan umumnya menerima banyak lamaran dari banyak orang dan harus mengurus banyak hal. Jadi sebagai pelamar, kitalah yang harus berusaha lebih karena perusahaan yang kita lamar belum tentu memiliki waktu untuk melakukan hal personal yang kita minta (kecuali kita orang penting banget).



~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~


7. Kamu melamar sebuah posisi tetapi bahasa pada lamaran kamu tidak mencerminkan kualitas kamu sebagai orang yang pantas untuk mendapatkan posisi tersebut. Kalau kamu hendak melamar sebagai penulis, misalnya, tunjukkan bahwa kamu memang layak mendapatkan posisi tersebut dengan cara menggunakan bahasa yang baik dan benar.



~~~~~~~~~~~~

Mhn mf km tdk sdng mmbk lwngn, y. Tx.
                                                                     ~~~~~~~~~~~~


8. Kamu underqualified. Tingkat pendidikan kamu tidak sesuai dengan batas minimal yang ditetapkan perusahaan. Atau kamu tidak menguasai bidang kerja yang ditawarkan perusahaan.



~~~~~~~~~~~~


9. Kamu terlalu pushy (ngotot). 



~~~~~~~~~~~~


10. Kamu mengirimkan lowongan saat perusahaan sedang tidak membutuhkan.




~~~~~~~~~~~~


11. Kamu tidak serius dan tidak menunjukkan profesionalitas.




~~~~~~~~~~~~


12. Kamu terlalu PD dengan diri kamu.



KBBI
kenan » ber.ke.nan
v merasa senang (suka, sudi, setuju): kami mohon Bapak ~ memimpin sidang pada pertemuan kita nanti
v dengan segala senang hati (dipakai sebagai kata penghormatan kepada orang besar): rombongan Presiden ~ mengunjungi daerah yang tertimpa malapetaka itu.

~~~~~~~~~~~~


~~~~~~~~~~~~

12. Kamu salah menulis nama perusahaan yang kamu lamar. Ini menunjukkan tingkat keseriusan kamu untuk melamar ke perusahaan tersebut dan level profesionalitas kamu juga.



~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

13. Kamu simply ga jelas atau ga nyambung. 


~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

I knooow, right?
                                                                    ~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~


Ajari aku mencintaimu.... *sing*
                                                                    ~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~


~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

~~~~~~~~~~~~

Nah, sekarang sudah tahu, ya, hal-hal yang harus dilakukan dan harus dihindari saat kamu mengirimkan lamaran kerja atau sekadar menanyakan tentang lowongan yang tersedia. Mudah-mudahan ini bermanfaat.


*Screenshots di atas hanyalah sebagian kecil dari keanehan dan keunikan yang singgah ke meja kami.


Monday, June 11, 2018

Sulitnya Membersihkan Diri

Aku punya prinsip kuat yang menjadi dasar buat setiap pengambilan keputusan. Prinsip yang mempermudahku untuk menentukan ya dan tidak dengan cepat. Ini berlaku juga dalam pengambilan keputusan di Kontenesia, mana order yang bisa diambil dan mana yang tidak. Sebesar dan semenarik apa pun nilai finansial dari order tersebut, kalau hal itu sudah bertentangan dengan prinsipku, tidak akan aku ambil.

Salah satu contohnya adalah order dengan tema judi yang biasanya nilainya besar dan jumlahnya banyak. Banyak sekali calon klien yang menghubungi dan meminta dibuatkan artikel dengan tema ini. Tentu saja mudah bagiku untuk menolak karena ini sudah "hitam dan putih", jelas-jelas bertentangan dengan prinsip dalam agamaku. Jadi, kata "tidak" selalu meluncur dengan mudah, tak peduli sebesar apa pun nilai finansialnya, aku tak merasa rugi, tak juga tergiur sama sekali.

Lalu ada klien-klien yang minta dibuatkan artikel untuk tugas kuliah, skripsi, bahkan lomba menulis. Semuanya dengan mudah aku tolak karena bertentangan dengan prinsipku. Ini soal etika.

Ada pula artikel dengan tema sirip ikan hiu. Yang ini juga dengan mudah aku tolak karena bertentangan dengan prinsipku untuk melestarikan bumi dan alam.

Banyak tema lain yang bisa aku putuskan dengan mudah untuk tidak mengambilnya. Tapi kemudian ada.... klien dengan aplikasi simpan pinjam dan lain-lain, ada website finansial yang membahas segala macam urusan keuangan, dan ada bank besar yang membutuhkan sarana promosi....
Kalau kami terima, sebagian dari artikel itu akan menyinggung masalah keuangan yang melibatkan riba, seperti soal kredit berbunga, dan sebagian lainnya akan berada dalam ranah yang aman dan halal.
Di situlah suaraku mulai melemah...
Antara ya dan tidak....
Jika ya, bagaimana kalau ternyata artikel yang dibuat justru banyak yang menyentuh ranah riba? Jika tidak, melihat besarnya nilai order yang ditawarkan, aku berat menimbang, karena banyak penulis yang harus kami "beri makan" dan di antara mereka juga ada penulis-penulis nonmuslim yang tidak akan keberatan mengerjakan artikel bertema kredit.

Kalau sudah begini, aku akan mundur dan meminta Mas Anggi (CEO) yang memutuskan karena "suara" dia lebih tegas daripada suaraku yang mulai melemah...
And he will always say no without hesitation.

Wednesday, May 23, 2018

Momo Monyet dan Kulit Pisang yang Licin - dan Cerita-Cerita Lainnya


Penulis: Sri Noor Verawaty & Qaishra Putri Firmansyah
Ilustratror: Indra Bayu
Penerbit: Elex Media Komputindo
Terbit: Juni 2018

Friday, March 2, 2018

Siapa Saja yang Diterima Menjadi Penulis Kontenesia


Mungkin ada calon pendaftar yang penasaran, penulis yang bagaimana sih yang diterima di Kontenesia? Jawaban singkatnya hanya 1: orang yang benar-benar bisa menulis.
Nah, penjabarannya banyak. Yuk, baca bareng-bareng & cari tahu bocorannya!


Pengalaman Bukan Faktor Penentu Utama

Pelamar tidak mesti penulis yang sudah berpengalaman. Beberapa di antara penulis yang diterima di Kontenesia adalah orang-orang baru di dunia kepenulisan. Namun dari artikel yang mereka buat, aku bisa melihat kecerdasan cara berpikirnya, orisinalitas idenya, kerunutan penuturannya, serta kemahirannya memainkan bahasa.

Kalaupun banyak di antara mereka yang sudah berpengalaman, itu memang akan menjadi nilai lebih, karena hasil karya penulis yang sudah berpengalaman akan terlihat lebih matang.

Jadi di Kontenesia itu isinya memang campuran antara penulis yang sudah berpengalaman dan belum berpengalaman, tetapi sudah bisa menulis dengan baik dan bagus.


CV Berperan Kecil dalam Proses Seleksi

Sementereng apa pun, CV tidak berperan banyak untuk lolos seleksi. Seiring waktu, aku belajar untuk tidak menilai seseorang dari "sampulnya" dan lebih memberi mereka waktu serta kesempatan untuk membuktikan diri.

Ke mejaku sudah masuk ribuan CV dengan segala kemegahannya. Ada yang S2, S3, lulusan luar negeri, berpengalaman sebagai copywriter,  editor, penulis buku, pengarang fiksi, jurnalis, blogger, dosen, dll. Banyak di antara mereka ternyata tidak lolos, di antaranya karena faktor berikut ini:
  • Bahasanya berbelit-belit. Mungkin si pelamar ini pintar. Mungkin dia mahir menyampaikan buah pikirannya secara lisan, tetapi sayangnya tidak dalam bentuk tulisan.
  • Ada perbedaan antara gaya bahasa, struktur tulisan, dan isi artikel konten untuk situs web dengan karya tulis lainnya. Untuk faktor yang satu ini, biasanya para penulis buku, pengarang fiksi, jurnalis, dan blogger yang sering terkecoh. Jadi kadang contoh tulisan yang dikirimkan sebagai bahan seleksi adalah tulisan puitis dengan bahasa mendayu-dayu (penulis) atau tulisan yang tidak terstruktur dengan baik dan terkesan curhat (blogger). Sementara jenis tulisan yang kami butuhkan adalah yang lugas, padat, singkat, dan informatif.
Kalau begitu, siapa yang lolos ke Kontenesia? Sangat beragam, ada yang lulusan SMU, ada yang masih kuliah, ada yang S1, S2, bahkan ada pula yang lulusan luar negeri. Semuanya memiliki keunggulan masing-masing. Semuanya memiliki spesialisasi kepenulisan masing-masing. 


Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai PUEBI/EYD (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) akan menjadi nilai tambah karena ini adalah standar wajib di Kontenesia. Namun faktor yang satu ini tidak menjadi acuan utama karena bisa dipelajari nanti. Kami akan memberikan bahan-bahannya untuk dipelajari. Selain itu, selama Masa Pengamatan (yaitu Seleksi Kedua sebelum penulis dinyatakan resmi bergabung dengan Kontenesia), para editor Kontenesia juga akan membantu membimbing para penulis.


Apakah Harus dari Jurusan Sastra/Bahasa Saja?

Tidak sama sekali. Kami menerima semua orang yang bisa menulis dengan baik. Di Kontenesia ada penulis yang berasal dari jurusan kedokteran, teknik, IT, matematika, kimia, keperawatan, psikologi, peternakan, pertanian, biologi, agronomi, kepemerintahan, farmasi, agribisnis, genetika, komunikasi, sosiologi, dan sastra Inggris & Indonesia (tentu saja), dan lain-lain. Kaya sekali, ya?
Semuanya bisa menulis? Iya! Mereka jago.


Jadi Apa Faktor Penentu Utamanya?

Faktor utama yang aku jadikan pertimbangan adalah artikel yang dikirimkan pelamar. Aku mencari tulisan yang cerdas, logis, orisinal, unik, penuturannya bagus dan mengalir, dengan pilihan tema yang menarik.


Nah, sekarang sudah tahu trik masuk ke Kontenesia? Yuk, siapkan artikel terbaikmu karena Kontenesia membuka pintu lebar-lebar bagi semua orang yang suka menulis dan bisa menulis. Ayo gabung dengan kami! :)