Tuesday, February 21, 2012

Risiko Hamil di Atas Usia 35 Tahun

By: Sri Noor Verawaty

Penelitian menunjukkan bahwa waktu terbaik untuk mengandung bayi adalah saat Anda berusia 23 hingga 27 tahun. Sebaiknya hindarilah hamil sebelum usia 18 tahun atau setelah usia 35 tahun. Bayi-bayi yang dikandung oleh ibu-ibu yang terlalu muda memiliki kemungkinan besar untuk terlahir secara prematur. Sedangkan usia mengandung di atas 35 tahun berasosiasi dengan tingginya risiko kehamilan maupun persalinan.

Apa saja risiko hamil di atas 35 tahun?

Hamil di atas usia 35 tahun memiliki sejumlah risiko, baik bagi ibu maupun bayi yang akan dilahirkan.
• Faktor usia ibu—yaitu di atas 35 tahun—juga menjadi salah satu penyebab ketidaksuburan. Karena itu wanita yang berusia 35 tahun atau lebih tua dianjurkan untuk melakukan rujukan langsung ke dokter spesialis kesuburan, sekalipun dia baru melakukan program kehamilan kurang dari 1 tahun.
Ovarium bertanggung jawab untuk memproduksi sel telur untuk proses reproduksi. Seorang bayi perempuan terlahir dengan memiliki sekitar 2 juta sel telur, namun di masa pra remaja, jumlahnya akan menurun menjadi sekitar 300.000. Sisanya diserap ke dalam tubuh. Meskipun terdapat penurunan yang dramatis, namun wanita akan memiliki jumlah sel telur yang lebih dari cukup. Sepanjang masa reproduksinya, seorang wanita hanya akan mengalami ovulasi sebanyak beberapa ratus sel telur saja. Pada saat si wanita mengalami menopause, dia tidak akan memiliki sel telur lagi. Wanita tidak lagi memproduksi sel telur di masa tuanya, tidak seperti pria yang bisa terus-menerus memroduksi sel sperma.
Kualitas sel telur sangat berkaitan erat dengan usia si wanita. Saat si wanita bertambah tua, bertambah tua pula ovariumnya, dan kemampuan sel telur untuk dibuahi, melekat di uterus, serta berkembang pun semakin menurun. Kualitas telur yang berkurang ini adalah alasan utama kenapa wanita yang lebih tua memiliki angka ketidaksuburan dan angka keguguran yang lebih tinggi.

• Mempertinggi risiko terjadinya keguguran. Penelitian menunjukkan, risiko keguguran berkisar sekitar 12 hingga 15% pada wanita berusia 20 tahunan dan angka tersebut meningkat menjadi 25% pada wanita berusia 40 tahun. Peningkatan insiden kelainan kromosom membuat angka keguguran turut meningkat pada wanita yang berusia lebih tua.

• Mempertinggi risiko terjadinya kehamilan di luar rahim (kehamilan ektopik), yaitu kehamilan yang terjadi jika telur yang telah dibuahi melekat dan mulai tumbuh di luar uterus—biasanya di dalam tuba fallopi. Kadang-kadang embrio juga terimplantasi di kanal serviks, di salah satu ovarium, di rongga panggul atau rongga perut. Kasus ini cukup umum terjadi, yaitu sekitar 1 hingga 2 persen dari seluruh kehamilan. Sebagian besar kehamilan ektopik terjadi pada wanita berusia 35 hingga 44 tahun.

• Mempertinggi risiko terjadinya kehamilan multipel (kembar dua atau lebih). Kemungkinan seorang ibu memiliki bayi kembar meningkat seiring pertambahan usia.

• Mempertinggi risiko komplikasi kehamilan. Hal ini biasanya disebabkan oleh kondisi yang sudah ada sebelumnya, seperti masalah tekanan darah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi saat hamil lebih sering terjadi pada wanita yang lebih tua.

• Ibu yang hamil di atas usia 35 tahun memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menderita Gestational Diabetes (GD). GD adalah diabetes tipe khusus yang hanya menyerang wanita hamil, dimana kadar gula (glukosa) darah menjadi tinggi selama kehamilan.
Walaupun GD biasanya berakhir setelah bayi dilahirkan, namun penyakit yang satu ini bisa memengaruhi kesehatan ibu dan bayinya di kemudian hari. Misalnya, wanita yang pernah menderita GD selama kehamilan memiliki risiko 40% lebih tinggi untuk mengembangkan diabetes tipe 2 di kemudian hari. Dan bayi yang terlahir dari ibu yang menderita GD memiliki risiko yang lebih besar untuk mengembangkan diabetes tipe 2 atau menjadi obesitas di kemudian hari dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dari ibu normal.

• Mempertinggi risiko persalinan dan kemungkinan untuk melahirkan secara Caesar. Selain jarak yang kurang dari 2 tahun dari persalinan sebelumnya dan usia ibu kurang dari 17, persalinan ibu di atas usia 35 tahun juga memiliki risiko lebih tinggi, misalnya disebabkan oleh masalah tekanan darah. Masalah persalinan lebih sering terjadi pada ibu hamil berusia lebih dari 35 tahun yang baru melahirkan pertama kali.

• Mempertinggi risiko cacat lahir. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang berusia lebih tua memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kromosom tertentu seperti Down syndrome. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh pembelahan sel telur yang abnormal, yang disebut nondisjunction.

• Bayi yang baru akan dilahirkan saat usia ibu menjelang 35 tahun atau lebih tua dari itu memiliki faktor risiko untuk penyakit genetis.
Sebaiknya Anda berdiskusi dengan dokter atau konselor genetik jika Anda berusia 35 tahun atau lebih, atau memiliki sejarah keluarga dengan kondisi penyakit keturunan tertentu.

• Mempertinggi risiko stillbirth (melahirkan bayi yang sudah meninggal di dalam kandungan). Kejadian ini lebih sering menimpa ibu yang berusia di atas 35 tahun.

• Ibu yang berusia lebih dari 35 tahun cenderung memiliki bayi dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 Kg. saat dilahirkan.

Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko?

Tidak sedikit wanita yang hamil di atas usia 35 tahun bisa melahirkan bayi yang sehat. Namun untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti di atas, tidak ada salahnya jika Anda melakukan beberapa tips berikut ini:
• Berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan perawatan pra pembuahan dini, kurang lebih 3 bulan sebelum Anda memulai program kehamilan.
• Berkonsultasi dengan dokter atau konselor genetik mengenai kemungkinan risiko penyakit genetis. Jika diperlukan, lakukanlah tes untuk menguji kelainan kromosom.
• Makanlah makanan yang sehat dan perhatikanlah selalu pertambahan berat badan Anda. Minumlah suplemen seperti asam folat, kalsium, besi, protein dan nutrisi penting lain sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Lakukanlah hal ini beberapa bulan sebelum Anda melakukan program kehamilan.
• Lakukanlah aktivitas fisik ringan secara rutin untuk menghindari gestational diabetes (GD), misalnya jalan santai atau berenang, kecuali jika dokter melarang.
• Hindarilah substansi-substansi yang berisiko tinggi seperti alkohol, rokok, dan segala macam obat-obatan. Obat-obatan apapun yang Anda konsumsi, misalnya obat flu atau sakit kepala, sebaiknya dikonsultasikan terlebih dulu dengan dokter.
• Kurangi asupan cafein. Jangan mengonsumsi kafein lebih dari 300 mg, per hari. Cafein tidak hanya terdapat dalam kopi, namun juga teh, minuman bersoda, dan coklat.
• Selalu memeriksakan kehamilan Anda secara rutin.

Translated and taken from:
Judul Buku: "Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita"
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama:

Williams. M.D., Christopher D., The Fastest Way to Get Pregnant Naturally. New York: Hyperion, 2006
http://pregnancy.about.com/od/midlifepregnancy/a/Pregnancy-After-35.htm
http://www.mayoclinic.com/health/pregnancy/PR00115
http://women.webmd.com/pregnancy-after-35

No comments:

Post a Comment