Friday, November 1, 2019

Deteksi Dini Disleksia pada Anak

Kuliah Jumat Kontenesia: Deteksi Dini Disleksia pada Anak

Beberapa fakta tentang anak disleksia:

- Mereka punya tingkat kecerdasan normal, atau bahkan di atas rata-rata. Jadi sebenarnya mereka bukan “bodoh”, mereka cuma mengalami kesulitan literasi karena sistem di otaknya aja yang berbeda.

- Gejalanya bisa dilihat sejak usia 5-7 tahun.

- Tingkatannya ada yang ringan, medium, sampai berat. Buat penyandang disleksia berat, biasanya ada gangguan2 lain yang mengiringinya.

- Penyebabnya adalah faktor neurobiologis dan faktor genetika dan akan dialami seumur hidup.

Disleksia ini sebaiknya sudah diidentifikasi sebelum usia sekolah (sebelum 7 tahun). Kalau terlambat ditangani dan anak sudah mulai masuk usia sekolah, dia akan mulai merasakan kegagalan akademis dibandingkan teman-teman sebayanya. Kalau ini terus terjadi, anak bisa jadi minder dan self esteem-nya rendah.

Tanda-Tanda Disleksia

1. Anak mengalami gangguan berbahasa.
  • Anak kesulitan mengenali huruf atau mengejanya. Sulit menyebut dan menulis kata-kata yang panjang.
  • Huruf sering tertukar. Misalnya antara “b” dan “d”, antara “p” dan “q”, antara angka “6” dan “9”.
  • Dia kesulitan membedakan unit bunyi terkecil. Misalnya, “taman” jadi “tanam”. “Laba-laba” jadi “bala-bala”.
  • Terus dia mengungkapkan sesuatu dengan istilah yang tidak tepat. Misalnya, seharusnya “panjang”, tetapi dia menggunakan istilah “tinggi”.
  • Kosakata anak sedikit. Dia sulit mengingat kata dan nama.
  • Artikulasinya tidak jelas.
  • Anak sulit memahami kalimat yang dibaca/didengar.
  • Tulisan tangan anak buruk & sulit mempelajari tulisan sambung.
  • Anak membaca dengan lambat dan terputus-putus dan ada kata-kata yang hilang tidak terbaca.
  • Anak menulis huruf atau bilangan secara terbalik dengan lebih konsisten & sulit dikoreksi.
  • Anak kesulitan menggunakan istilah “atas” atau “bawah”, “maju” atau “mundur”.
  • Anak melihat huruf-huruf “berlompatan”, meski matanya normal. Mungkin dia juga mengeluh “pusing” saat membaca.
2. Anak mengalami kesulitan dalam berhitung dan matematika.
  • Saat menghitung, anak sangat tergantung pada alat bantu seperti jari.
  • Anak sulit menyelesaikan soal matematika dalam bentuk kalimat.
  • Anak kesulitan memahami konsep “lebih banyak dari,” “lebih sedikit dari,” “persamaan,” “perbedaan”.
3. Daya ingat jangka pendeknya buruk, anak pelupa lebih dari batas normal.

4. Anak kesulitan memahami konsep waktu. Misalnya, dia menggunakan kata “tadi” padahal maksudnya “kemarin”.

5. Anak kesulitan dalam persepsi spasial. Misalnya, sulit membedakan antara kanan & kiri.

6. Anak kesulitan mepelajari hal-hal yang berurutan, seperti bercerita secara runut, mengurutkan abjad dari a – z.

7. Anak mengalami kesulitan koordinasi gerakan motorik, seperti sering terjatuh, menabrak benda, atau sering tersandung. Tidak jago dalam olahraga yang berkaitan dengan bola.

8. Anak sulit melakukan aktivitas dengan keterampilan motorik halus seperti mewarnai, tracking pola, menggunting, mengancingkan baju, memegang pensil dengan cara aneh, dan sebagainya.

9. Anak merespons secara lambat saat diberi tugas atau instruksi yang cepat dan beruntun.

10. Anak sering kehilangan barang, seperti pensil, botol minum, jepit rambut.

11. Rentang perhatian anak pendek. Fokus perhatian anak mudah teralihkan.

12. Anak sensitif banget sama suara keras.

13. Anak rentan terhadap infeksi telinga, sensitif terhadap makanan dan zat kimia.

14. Ada riwayat disleksia dalam keluarga.

Yang bisa dilakukan oleh orang tua:


1. Mendeteksi anak sedari dini. Kalau kalian menduga anak gejala-gejala di atas, coba cek tautan ini & jawab pertanyaan-pertanyaan terkait anak:
https://www.testdyslexia.com/cgi-bin/assessor.cgi?action=begin
Ini gratis & cukup valid buat deteksi dini.

2. Banyak-banyak belajar membaca:
a. Bacakan buku secara keras-keras.
b. Bisa juga dengerin audio book & minta anak membaca bareng2.
c. Luangkan waktu agar anak bisa membaca sendirian, baik membaca dalam hati maupun keras-keras.
d. Bacakan buku favoritnya secara berulang-ulang.
e. Bergantian membaca buku dengan anak secara keras-keras.

3. Kalau memberi tugas, berikan satu-satu, jangan semuanya sekaligus. Buat daftar ceklis.

4. Batasi penggunaan gawai.

5. Saat belajar, singkirkan semua benda yang berpotensi mengalihkan perhatian anak.

6. Berikan perintah secara oral, bukan dalam bentuk tulisan.

7. Segera periksakan kepada psikolog tumbuh kembang anak agar anak mendapatkan bantuan dari profesional sedini & setepat mungkin.

Salah satu sumber: https://www.motherandbaby.co.id/article/2019/7/39/12554/Deteksi-DIni-Disleksia-pada-Anak-Kenali-9-Tandanya

No comments:

Post a Comment