Saturday, January 14, 2012

Brontë Sisters: Wuthering Heights & Jane Eyre

By: Sri Noor Verawaty

Dua Brontë bersaudara yang karyanya familiar denganku adalah Emily Brontë dan Charlotte Brontë. Emily adalah penulis novel Wuthering Heights, sedangkan Charlotte adalah penulis Jane Eyre.

Bertahun-tahun sebelum membaca novel Wuthering Heights, aku telah terlebih dulu menonton filmnya yang dibuat pada tahun 1992. Film ini dibintangi oleh Ralph Fiennes (sebagai Heathcliff) dan Juliette Binoche (sebagai Catherine Earnshaw), disutradarai oleh Peter Kosminsky. Novelnya sendiri telah diterbitkan sejak tahun 1847 dan merupakan satu-satunya novel yang Emily tulis. Bahkan Wuthering Heights baru diterbitkan paska kesuksesan Jane Eyre karya Charlotte.

Selain difilmkan pada tahun 1992, Wuthering Heights juga diadaptasi ke berbagai karya, salah satunya adalah film televisi Inggris pada tahun 1998 yang disutradarai oleh David Skynner. Di film ini Robert Cavanah berperan sebagai Heathcliff dan Orla Brady sebagai Catherine Earnshaw.

Sedangkan untuk Jane Eyre, aku belum memiliki kesempatan untuk membaca novelnya, namun baru bisa menikmatinya dalam bentuk mini seri yang dibuat oleh BBC tahun 2006, yang disutradarai oleh Susanna White. Serial ini terdiri dari 4 seri dan diperankan oleh Ruth Wilson sebagai Jane Eyre serta Toby Stephens sebagai Edward Fairfax Rochester. Jane Eyre juga telah diadaptasi ke berbagai karya, termasuk difilmkan oleh Hollywood.

Dari kedua karya Brontë bersaudara ini, secara umum aku mengacungi jempol. Wuthering Heights dan Jane Eyre adalah karya sastra yang bagus dan layak untuk dibaca maupun ditonton. Namun secara pribadi, kedua karya ini terlalu kelam dan kasar untuk seleraku. Keduanya “bukan sejenis chick literature” kalau meminjam istilah temanku.

Novel Wuthering Heights sendiri isinya penuh dengan umpatan, makian, dan cemoohan. Tidak hanya banyak kata-kata kotor, namun banyak pula deskripsi kekerasan fisik maupun mental. Tokoh-tokohnya digambarkan keras dan kasar—baik tampilan fisik, perilaku, maupun bahasanya—terutama tokoh utama pria, yaitu Heathcliff. Baiklah, jika memang hendak mencari-cari alasan: Heathcliff memang anak Gypsy tanpa masa lalu yang dipungut oleh ayah Catherine dari jalanan, wajar saja jika dia kasar dan “tidak beradab”. Namun Catherine sendiri yang merupakan anak bangsawan, sama saja. Dia adalah gadis muda yang liar, seliar Heathcliff.

Nuansa Jane Eyre sendiri tak jauh beda dari Wuthering Heights, kasar dan kelam. Edward Fairfax Rochester mewakili seluruh kekasarannya. Jane pun bukanlah tokoh wanita yang digambarkan feminim. Sebaliknya, dia adalah sosok wanita yang berani dan keras.

Tidak seperti pria-pria dalam novel-novel Jane Austen yang bisa membuat para pembacanya jatuh cinta, tokoh-tokoh pria dalam novel-novel Brontë bersaudara ini digambarkan sebagai sosok yang kasar. Dan meski Heathcliff maupun Rochester tidak dideskripsikan sebagai pria buruk rupa, namun merekapun tidak dideskripsikan sebagai pria tampan maupun menarik—baik dari segi fisik maupun kepribadiannya. Menurut pendapatku, mereka lebih menggambarkan sosok pria-pria barbar. Big, macho, rough guys-type.

Namun jika diminta memilih diantara kedua novel ini, aku lebih menyukai Wuthering Heights daripada Jane Eyre, walaupun di Wuthering Heights, Emily Brontë gemar sekali mematikan tokoh-tokohnya. Dan sekalipun aku tidak terlalu menyukai kata-kata kotor di dalam novelnya, namun aku sangat menyukai filmnya. In my opinion, Wuthering Heights dan Jane Eyre adalah bentuk romantisme yang kasar.

So, here are the synopses:


Wuthering Heights:
Suatu hari ayah Hindley dan Catherine Earnshaw membawa pulang seorang anak Gypsy ke rumah mereka—Wuthering Heights—yaitu Heathcliff. Sejak saat itu Catherine dan Heathcliff tidak pernah terpisahkan. Mereka tumbuh dan bermain bersama dengan liar. Sementara itu, Hindley selalu memusuhi Heathcliff. Sepeninggal ayahnya, Hindley menurunkan derajat Heathcliff dari anak angkat menjadi pembantu.

Suatu hari saat sedang bertualang bersama Heathcliff, Catherine mengalami kecelakaan dan kakinya patah di dekat rumah keluarga Linton, Thrushcross Grange. Keluarga Linton pun merawatnya selama beberapa minggu hingga Catherine sembuh. Saat akhirnya pulang ke Wuthering Heights, Heathcliff mendapati Catherine telah berubah total. Dia tak lagi liar, melainkan telah menjadi seorang putri bangsawan yang elegan.

Kedekatan putra sulung keluarga Linton, Edgar, dengan Catherine terus berlangsung. Hingga suatu hari, Edgar pun melamar Catherine. Catherine sebenarnya sangat mencintai Heathcliff, namun dia tidak mungkin menikahi seorang budak pembantu yang kotor dan kasar. Maka diapun menerima lamaran Edgar, bangsawan kaya dari keluarga terhormat. Heathcliff yang sakit hati menghilang begitu saja seperti ditelan bumi. Catherine pindah rumah ke Thrushcross Grange.

Tiga tahun kemudian Heathcliff tiba-tiba kembali dalam keadaan kaya. Dia juga berhasil merebut kepemilikan Wuthering Heights dari Hindley yang kalah berjudi. Hindley menjadi pemabuk dan penjudi setelah istrinya meninggal saat melahirkan putera mereka, Hareton Earnshaw.

Mengetahui adik Edgar, Isabella, jatuh cinta padanya, Heathcliff pun mengajak dia kawin lari. Setelah itu Isabella—yang memang hanya dimanfaatkan Heathcliff untuk balas dendam kepada Catherine dan Edgar—dibiarkan merana dan menderita di Wuthering Heights. Catherine stress berat dan sakit keras. Tak lama setelah melahirkan seorang putri, diapun meninggal. Dari Isabella, Heathcliff memiliki seorang putra, bernama Linton Heathcliff.

Duabelas tahun kemudian, Heathcliff bertemu dengan anak Catherine yang diberi nama sama, Cathy. Saat itu, baik Isabella maupun Hindley telah meninggal dan Wuthering Heights telah menjadi milik Heathcliff seutuhnya. Namun dendam dan muslihat Heathcliff belum selesai. Dia memaksa Cathy untuk menikahi putranya yang lemah, Linton. Beberapa waktu kemudian ayah Cathy, Edgar Linton, pun meninggal. Cathy adalah pewaris satu-satunya Thrushcross Grange. Tak lama setelah menikah, Linton meninggal karena sakit. Surat wasiat yang dipaksa Heathcliff untuk ditandatangani Linton menyebutkan bahwa pewaris seluruh harta Linton—yaitu Thrushcross Grange—adalah Heathcliff.

Cathy tinggal di Wuthering Heights bersama Heathcliff dan Hareton—putra Hindley. Akhirnya, giliran Heathcliff-lah yang meninggal. Cathy menikah dengan Hareton Earnshaw. [THE END]


Jane Eyre:
Jane Eyre—anak yatim piatu yang dipelihara bibinya yang jahat—dikirim ke sebuah sekolah asrama. Dia tumbuh besar dan menjadi guru di sana hingga akhirnya takdir mengirim dia untuk menjadi pengasuh (yang konon adalah) anak Rochester, Adèle Varens, di Thornfield.

Rochester dan Jane saling jatuh cinta dan Rochester pun melamar Jane. Saat hendak melangsungkan pernikahan, tiba-tiba diketahui bahwa Rochester sudah memiliki istri, yaitu Bertha. Bertha adalah wanita gila yang selama ini dikurung Rochester di loteng.

Jane melarikan diri dan hilang ingatan. Dia ditemukan seorang pendeta dan dirawat olehnya beserta kedua saudara perempuannya yang ternyata adalah sepupu Jane Eyre. Ingatan Jane Eyre kembali pulih. John, sepupunya, mengabarkan bahwa Jane mendapatkan sejumlah besar warisan dari pamannya yang telah meninggal. Uang itu kemudian dipergunakan Jane untuk keperluan mereka berempat.

Jane kembali ke Thornfield untuk mencari Rochester dan mendapati Thornfield telah terbakar habis oleh Bertha yang gila. Bertha meninggal dan Rochester menjadi buta. Jane kembali bersama Rochester dan menikah. [THE END]

***Sinopsisnya sangat singkat, pertama karena intinya memang cuma segitu. Kedua, aku tidak terlalu berselera untuk menceritakannya dengan lebih detail & berbelit-belit.... hihihi.... Pokoknya cerita lengkapnya lebih ribet. Ada tentang masa lalu Rochester sampai dia mendapatkan Adèle (seorang anak gadis yang konon merupakan hasil hubungan gelap Rochester dengan seorang pelacur Prancis. Tapi kebenarannya mengenai siapa ayah Adèle sebenarnya masih diragukan.) Terus ada juga tentang wanita lain yang sebelumnya diduga ditaksir dan akan dinikahi oleh Rochester, padahal nggak. Terus ada juga cerita tentang John, si Pendeta sepupu Jane Eyre, yang melamar Jane Eyre, tapi ditolak. Bla bla bla... dan seterusnya.... dan seterusnya... hehehehe....

Buku:
Judul: Wuthering Heights
Penulis: Emily Brontë
Penerjemah: A. Rahartati Bambang Haryo
Penerbit: Qanita
Cetakan Pertama: Juni 2011


Sri Noor Verawaty

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget