Saturday, February 18, 2012

Pelvic Organ Prolapse/Panggul Turun

By: Sri Noor Verawaty

PELVIC ORGAN PROLAPSE
Pelvic organ prolapse (POP) adalah kondisi umum yang banyak diderita oleh wanita. bisa terjadi jika satu atau lebih organ di dalam rongga panggul bergeser turun. Kadang POP melibatkan lebih dari satu organ yang turun. Penurunan ini bisa membuat uterus (rahim), urethra, kandung kemih, rongga vagina, rektum, dan usus kecil menonjol keluar dari posisi normalnya. Kadang organ tersebut menonjol masuk ke dalam saluran vagina atau bahkan lebih bawah lagi.

Di dalam rongga panggul wanita ada struktur pendukung rumit yang terbentuk dari ligamentum, otot, jaringan ikat dan organ. Jika salah satu dari struktur pendukung ini robek, rusak, atau melemah, maka integritas struktural sistem pun berkurang sehingga organ bisa berubah posisi. Kondisi ini biasanya memburuk seiring bertambahnya usia.

JENIS
• Rectal prolapse (rectocele), terjadi saat bagian rektum (dubur) menonjol ke dinding belakang vagina dan terkadang membuat proses buang air besar menjadi sulit.
• Bladder prolapse (cystocele). Cystocele terjadi saat kandung kemih menonjol ke dinding depan vagina. Efek yang sama dikenal juga dengan sebutan urethrocele, yaitu urethra (saluran kencing) menekan dinding depan vagina.
• Uterine prolapse. Uterus (rahim) jatuh ke dalam rongga vagina.
• Vaginal vault prolapse dan herniated small bowel (enterocele). Vaginal vault prolapse terjadi jika rongga atas vagina menonjol ke bagian bawah rongga vagina.

FAKTOR PENYEBAB
Beberapa kondisi, termasuk peristiwa alamiah dalam hidup seorang wanita bisa melemahkan otot-otot panggul, antara lain:
• Kehamilan
• Persalinan melalui vagina
• Usia tua yang berkaitan dengan hilangnya estrogen (menopause)
• Faktor genetik
• Konstipasi kronis
• Penyakit paru kronis (batuk kronis)
• Mengangkat barang-barang yang berat
• Obesitas
• Merokok
• Kelainan pada jaringan ikat (collagen) seperti penyakit Marfan.

GEJALA
Pelvic organ prolapse sering menimpa wanita dan bisa menyebabkan efek samping yang signifikan bagi kualitas hidupnya. Namun karena POP ada beberapa tipe dan karena kombinasi tipenya bervariasi, maka gejala-gejala yang dialami masing-masing wanita pun berbeda. Pada sejumlah wanita, gejalanya bisa datang dan pergi. Namun pada saat berbaring, kondisi ini mungkin akan lepas dari pengamatan dokter saat pemeriksaan panggul. Derajat penurunan organ pun bervariasi antar individu. Wanita yang hanya mengalami penurunan sedikit saja mungkin tidak akan mengenali gejalanya sama sekali. Pasien penderita POP bisa mengalami satu atau lebih gejala-gejala di bawah ini:
• Ada sensasi tekanan di dalam rongga vagina atau rektum atau di keduanya.
• Ada sensasi rasa “penuh” di dalam rongga vagina.
• Ada rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah.
• Nyeri rektal (dubur).
• Sensasi seolah “organ dalam seperti jatuh ke luar”.
• Inkontinensia saluran urin dan buang air besar (tidak bisa mengendalikan buang air kecil dan besar).
• Retensi urin (urin tidak bisa keluar seluruhnya dan menggenang di kandung kemih).
• Nyeri atau perasaan tidak nyaman pada panggul atau perut, dan kondisi ini akan terasa berkurang saat Anda mengubah posisi dari berdiri ke berbaring.
• Nyei punggung saat berdiri.
• Disfungsi defecatory, yaitu sejumlah keluhan yang berhubungan dengan buang air besar, termasuk memiliki sensasi sering dan tidak nyaman untuk buang air besar, serta konstipasi (sembelit).
• Tampon “didorong” keluar dari posisinya di dalam rongga vagina.
• Ada kebocoran urin atau feces saat berhubungan suami istri.
• Intercourse terasa sakit atau sulit.
• Sensasi berkurang saat berhubungan suami istri.
• Keluar bercak dari dalam vagina karena ada ulserasi (borok/nanah) di leher rahim/rongga vagina yang menonjol.

PENCEGAHAN
• Menjaga agar tidak kelebihan berat badan. Wanita-wanita yang kelebihan berat badan memiliki risiko lebih tinggi mengalami POP.
• Berhati-hati untuk tidak mengangkat beban yang terlalu berat, termasuk mengangkat anak-anak kita, untuk mengurangi tekanan ke bawah pada area panggul.
• Melakukan senam Kegel.

KLASIFIKASI
Sebagian dokter menggunakan klasifikasi International Continence Society (ICS) yaitu sistem POP-Q (Pelvic Organ Prolapse Quantification), yaitu:
1. Stage 0 — tidak ada prolapse.
2. Stage I — penurunan bagian paling atas lebih dari 1 cm di atas level hymen.
3. Stage II — penurunan maksimal yaitu antara 1 cm di atas dan 1 cm di bawah hymen.
4. Stage III —penurunan lebih dari 1 cm di atas hymen tapi tidak lebih dari 2 cm dari panjang total rongga vagina.
5. Stage IV —eversi total vagina.

PENGOBATAN
Pengobatan POP tergantung pada jenis POP yang diderita pasien. Biasanya dokter akan merekomendasikan beberapa jenis pengobatan awal tanpa operasi, namun pada sejumlah kasus, operasi biasanya diperlukan.
Berikut beberapa jenis pengobatan yang memungkinkan:
1. Dengan obat-obatan. Menopause membuat produksi estrogen berkurang sehingga melemahkan otot-otot vagina. Estrogen replacement therapy (ERT—terapi pengganti estrogen) bisa menguatkan kembali otot-otot ini. Namun ada pengecualian bagi beberapa orang yang sebaiknya tidak menggunakan ERT. Berkonsultasilah dengan dokter.
2. Terapi fisik. Terapi fisik bisa termasuk stimulasi elektrik dan biofeedback.
3. Operasi.

Translated and taken from:
Judul Buku: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama:

Palm, Sherrie J., Pelvic Organ Prolapse: the Silent Epidemic.
New York: Eloquent Books, 2009
http://www.mayoclinic.org/
http://www.health.harvard.edu/
http://emedicine.medscape.com/

2 comments:

  1. kalo unruk gejala di atas, harusnya konsultasi ke dokter mana ya???? dokter kandungan apa penyakit dalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. setau saya, untuk pemeriksaan awal ke dokter kandungan dulu. :) Good luck.

      Delete

There was an error in this gadget