Friday, February 17, 2012

"North & South" by Elizabeth Gaskell



Novel “North & South” karya Elizabeth Gaskell telah diadaptasi oleh BBC dalam bentuk mini seri pada tahun 2004 dan dibintangi oleh Daniela Denby-Ashe sebagai Margaret Hale dan Richard Armitage sebagai John Thornton. Serial ini disutradarai oleh Brian Percival dengan skenario yang ditulis oleh Sandy Welch. Sementara itu, novelnya dibuat Elizabeth Gaskell pada jaman Victoria, dan diterbitkan berupa buku dalam dua volume pada tahun 1855.

Serial “North & South” mengisahkan era industri di bagian Utara (North) Inggris, tepatnya di kota fiksi Milton-Northern. Tokoh utama wanita, Margaret Hale, berasal dari Selatan (South) Inggris. Dia terpaksa pindah ke North yang merupakan daerah industri pemintalan kapas. Di kota Milton-Northern ini Margaret mengalami culture shock karena kota ini sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalnya dahulu. South merupakan surga pedesaan yang indah, tenang, udaranya bersih dan mata pencaharian penduduknya sebagian besar bertani. Kehidupan di South cenderung statis. Sementara itu di North yang merupakan daerah industri, Margaret melihat semua orang—terutama kelas pekerja—sangat sibuk. Margaret yang cerdas dan kritis tidak menyukai apa yang dia lihat, setiap orang sepertinya hanya memikirkan materi, kesadaran warga akan ilmu pengetahuan maupun agama sangat rendah, udara di Milton yang kotor, dan kemiskinan terbarak di sudut-sudut kota.

Margaret mengalami kesulitan tersendiri memahami budaya dan cara pandang orang-orang di Milton. Sikap Margaret sangat sinis, terutama pada salah seorang pemilik pabrik pemintalan, yaitu John Thornton, seorang pria tampan yang dingin dan arogan. Mr. Thornton adalah pemilik Marlborough Mills sekaligus murid ayahnya. Margaret banyak berprasangka buruk dan menuduh Mr. Thornton macam-macam. Dari sudut pandang Margaret, Mr. Thornton adalah pria yang kasar, sama sekali bukan seorang “gentlement”. Sebaliknya, Mr. Thornton pun menilai Margaret angkuh. Hubungan Margaret dan Mr. Thornton memang rumit, namun tak urung, satu sama lain menumbuhkan rasa tertarik dan kagum yang makin lama makin berkembang.

Suatu ketika saat keadaan ekonomi memburuk dan buruh pabrik mengadakan pemogokan besar-besaran, Margaret menyelamatkan Mr. Thornton dari serangan amuk massa. Sesuai norma pada masa itu, Mr. Thornton pun melamar Margaret yang telah menyelamatkannya. Namun Margaret tidak suka dilamar dengan cara seperti itu. Walaupun Mr. Thornton telah menjelaskan bahwa dia melamar Margaret karena mencintainya, namun Margaret bersikeras menolak karena dia menganggap Mr. Thornton menikahinya atas dasar hutang budi. Dan Margaret menyalahkan Mr. Thornton atas banyak hal, termasuk kematian temannya yang merupakan salah satu pekerja di pabriknya Mr. Thornton. Mr. Thornton pulang dengan patah hati dan marah.

Saat perasaan Margaret pada Mr. Thornton mulai berubah dan sejumlah kesalahpahaman Margaret atas Mr. Thornton ternyata tidak terbukti benar, di pihak Mr. Thornton keadaan justru sebaliknya. Mr. Thornton menyaksikan Margaret tengah bersama seorang pria misterius di stasiun kereta pada malam hari. Mr. Thornton mengira pria itu adalah kekasih Margaret dan merupakan penyebab kenapa dia ditolak oleh Margaret. Kasus ini semakin rumit karena berujung dengan kematian seorang pria dan terlibatnya kepolisian dalam penyelidikan.

Paska kematian ibunya, ayah Margaret pergi untuk mengadakan reuni dengan teman-temannya semasa di Oxford. Ternyata dia meninggal dengan tiba-tiba di sana. Tinggallah Margaret seorang diri. Dia pun diambil bibinya untuk kembali ke London. Di London, Margaret kembali bertemu dengan pria yang dahulu pernah melamarnya, yaitu Henry Lennox. Dan merekapun dekat kembali.

Mr. Bell—sahabat baik ayahnya—yang tidak memiliki anak, sudah menganggap Margaret sebagai anaknya sendiri. Sebelum pergi ke Argentina, dia mewariskan sejumlah besar kekayaan kepada Margaret. Dan atas bantuan Henry Lennox, Margaret pun menginvestasikannya dan meraih untung besar.

Sementara itu, di Milton, Mr. Thornton yang bersikeras tidak ingin ikut dalam spekulasi, mengalami kebangkrutan. Dahulu, ayah Mr. Thornton sempat ikut spekulasi dan ternyata rugi besar, hingga akhirnya dia bunuh diri karena tidak kuasa menanggung malu. John Thornton yang masih sangat muda ditinggalkan oleh ayahnya. Dia bekerja keras mencari sesuap nasi untuk dirinya, ibu serta adik perempuannya. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, Mr. Thornton akhirnya bisa memiliki pabrik sendiri dan cukup mapan di usia dia sekarang. Bercermin dari peristiwa sang ayah, dia tidak ingin ikut berspekulasi dengan para bankir. Namun ternyata keadaan dahulu berbeda dengan sekarang. Sekarang, Mr. Thornton telah kehilangan segalanya.

Kekayaan yang ditinggalkan Mr. Bell untuk Margaret ternyata mencakup kepemilikan tempat Marlborough Mills milik Mr. Thornton. Margaret pun datang ke Milton untuk mengurus hal ini. Dia berniat menanam uangnya di pabrik Mr. Thornton. Namun saat datang ke sana, Margaret tidak hanya mendapatkan pabrik, namun juga hati pemiliknya. Marlborough Mills pun bisa berjalan kembali dan Margaret serta John Thornton pun akhirnya bersama.

***

Oke... Itu adalah versi filmnya. Nah, isi bukunya agak berbeda dengan filmnya dari segi timeline, sudut pandang penceritaan, dan beberapa hal penting. Ada beberapa adegan di film yang tidak ada di bukunya, dan ada beberapa adegan di buku yang tidak ada di filmnya. Aku lebih dulu menonton filmnya daripada membaca bukunya.

Dari segi timeline, ada beberapa perbedaan. Misalnya kapan Betsi meninggal, kapan Mr. Thornton melakukan spekulasi bisnis, kapan adik Mr. Thornton menikah.

Dari segi sudut pandang penceritaan, di film, sudut pandangnya dari Margaret yang menceritakan kisahnya dalam surat kepada sepupunya, Edith. Sedangkan di buku penulis menggunakan sudut pandang dia sendiri. Jadi kita bisa lebih menyelami dan merasakan bagaimana perasaan Margaret pada Mr. Thornton dan sebaliknya. Bagaimana Mr. Thornton tersiksa dengan rasa cintanya pada Margaret yang tak berbalas dan sebesar apa kecemburuannya pada pria misterius di stasiun (yang kemudian Thornton ketahui dari Higgins, bahwa itu adalah kakaknya Margaret yang datang diam-diam dari Spanyol untuk mengunjungi ibu mereka yang sakit keras). Semuanya lebih mendalam.

Ada beberapa hal penting yang juga sangat berbeda di dalam buku dan filmnya. Di film, ada perempuan ketiga yang dekat dengan Mr. Thornton paska Mr. Thornton ditolak Margaret. Namanya adalah Miss Latimer. Tapi di bukunya tidak ada. Di buku, Mr. Thornton sangat terobsesi pada Margaret. He only lays his eyes and his heart to her and only her.
Lalu di buku, Mr. Bell ternyata meninggal. Sementara di filmnya, dia pergi ke Argentina.
Adegan di akhir buku dan film pun dibuat berbeda di tempat yang berbeda dengan adegan yang berbeda, walaupun sama-sama happy ending.
Selain itu, di filmnya, Mr. Thornton dan Henry Lennox bertemu pertama kali di acara Pameran Teknologi di London. Ada ketegangan di antara mereka berdua. Demikian pula ketegangan di antara Margaret & Miss Latimer yang saat itu ikut bersama Mr. Thornton dan adiknya, Fanny. Sedangkan di buku, Mr. Thornton dan Henry Lennox bertemu baik-baik untuk pertama kalinya di rumah Edith, di London, setelah Margaret tinggal di sana paska kematian kedua orang tuanya serta Mr. Bell.
Adegan akhir dalam film diambil di sebuah stasiun kereta saat Margaret dan Henry pulang dari Milton untuk menemui Mr. Thornton, tapi ternyata Mr. Thornton sedang pergi entah ke mana. Di stasiun itu tanpa sengaja mereka berdua bertemu kembali saat kereta berhenti. Dan Margaret pun, yang semula hanya ingin bertemu untuk mengurus surat-surat bisnis berkenaan dengan Marlborough Mills, akhirnya mengakui perasaannya kepada Mr. Thornton.
Sedangkan di bukunya, kisah Mr. Thornton dan Margaret ditutup di rumah Edith di London.

Film kadang tidak bisa diadaptasi secara persis dari bukunya. Film harus mempertimbangkan alur dan "memelihara" ketegangan penonton pada tiap adegan dan episodenya. Karena itulah naskah dari buku biasanya agak berbeda saat diadaptasi menjadi film. Di film diberikan lebih banyak konflik, termasuk ditambahkan orang ketiga dan konfrontasi langsung antara Thornton dan Henry Lennox. Tokoh John Thornton juga dideskripsikan lebih kasar dan keras di filmnya. Sementara di buku, penulis menunjukkan betapa pria baik hati ini menderita dengan cintanya.

Untuk North & South ini, bahasa di bukunya memakai bahasa Inggris kuno, ejaan lama, berhubung ini adalah buku abad 19-an. Yang lebih parahnya, Higgins (teman Margaret, buruh pabrik pemintalan) bicara menggunakan akses selatan yang "slank." Seperti you menjadi yo, of menjadi o' dan kata-kata lain yang jadi agak membingungkan. :D




No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget