Monday, August 25, 2014

Tangkuban Perahu: Kawah Cantik dengan Legenda Bestiality


Saat kami dalam perjalanan menuju ke Gunung Tangkuban Perahu, anakku berkata bahwa dia sudah tahu tentang legenda Tangkuban Perahu dari gurunya di sekolah. Lalu dia pun mulai bercerita tentang Sangkuriang yang membunuh si Tumang (seekor anjing) yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Anakku memang bercerita dengan polos. Tapi saat itu, yang terbersit di dalam kepalaku justru bestiality antara Dayang Sumbi dan si Tumang, serta pembunuhan si Tumang. Bagiku, legenda Sangkuriang ini jadi terdengar menjijikkan dan mengerikan saat diceritakan oleh seorang anak kecil, sekalipun si anak polos-polos saja.

Baiklah, sedikit data. Gunung (Kawah) Tangkuban Perahu terletak sekitar 20 Km ke arah utara Bandung dan berada di ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut. Anda bisa datang ke sana dari arah Lembang maupun Subang. Sempat beberapa kali Tangkuban Perahu ini ditutup untuk umum dalam beberapa tahun terakhir, dikarenakan aktivitas vulkaniknya.

Tiket masuk (data bulan Agustus 2014) hanya Rp.17.000,- per orang, anak kecil tidak dihitung. Kendaraan roda empat Rp. 10.000,-

Dimulai sejak Anda memasuki gerbang depan, Anda akan ditawari masker oleh sejumlah pedagang asongan. Itu karena sulfur belerang yang akan tercium sangat tajam saat Anda semakin mendekati kawah. Saya sendiri tidak yakin apakah penggunaan masker itu berpengaruh atau tidak. But you know, the seller will show you as if the air is so dangerous.

Dari gerbang depan, kendaraan Anda akan melintasi jalan berliku-liku yang menanjak dan hanya cukup untuk dua mobil. Di setiap tikungan, ada cermin cembung agar Anda bisa melihat apakah ada kendaraan yang akan berpapasan dengan kendaraan Anda di depan. Berhati-hatilah.

Mulai dari sini, Anda bisa mematikan AC dan membuka kaca jendela. Di luar, udara terasa dingin dan segar, meskipun Anda datang pada tengah hari. Di sepanjang jalan, Anda bisa melihat bunga terompet besar yang sangat cantik. Yes, along the way, you'll get that beautiful view.

Semakin ke atas, bau belerang semakin tercium. Tidak perlu mencurigai orang di dekat Anda. Itu memang bau khas belerang, bukan bau kentut. Awalnya mungkin Anda akan mengernyit, tapi lama-lama akan terbiasa juga. Beautiful view, but smell like stinky shoe. Hmm... rhyme!


Terlepas dari legendanya, yang kini sudah tidak terasa polos lagi di mata saya, Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu daerah wisata yang sangat terkenal di Bandung. Sebenarnya, tidak banyak yang bisa dilihat di sini, selain kios-kios cendera mata yang berjajar di sepanjang jalan. Seperti yang bisa Anda lihat, kawahnya sangat luas, membentang, dan hampir sepertiga area yang mengelilingi kawah ini bisa dijadikan tempat parkir, baik mobil maupun motor. Jadi Anda bisa parkir langsung di bibir kawah dan tidak perlu jauh-jauh berjalan kaki.


Foto di atas adalah salah satu tempat parkir yang tersedia, terletak di dekat gapura Selamat Datang, tempat kita mulai memasuki area kawah. Jika Anda penasaran, Anda bisa terus melanjutkan perjalanan hingga jalannya mentok. Dari sana, Anda bisa parkir lalu meniti jalan yang dipagari oleh kios-kios cendera mata, seperti pada foto di bawah ini, untuk mencari tempat berfoto yang bagus. Setelah deretan kios-kios berakhir, Anda akan mulai memasuki hutan (ujung kiri foto).


Saya dan suami pernah berjalan-jalan sedikit ke dalam hutan. Kebetulan suami saya ada acara dengan teman-teman pecinta alam semasa SMA-nya. Hutannya lumayan rimbun. Dan saya lebih memilih untuk tidak pergi ke sana lagi, terutama kalau hari sudah sore dan hanya ada sedikit orang bersama kita. I just don't go to a place where the occupants are invisible. :-D  


Jika Anda parkir di bagian depan gapura Selamat Datang, Anda bisa meniti naik ke atas. Ada tangga yang akan cukup membuat Anda ngos-ngosan saat sampai di puncak. Kalau Anda sedang menghadap ke kawah, berarti tangga itu ada di sebelah kiri. Ujung dari jalan ini juga mengarah ke hutan. Tapi saat terakhir saya datang ke sana, area itu telah ditutup dan tidak boleh dimasuki karena alasan keamanan.


Cendera mata? Tentu saja wajib dibeli, karena membeli cendera mata adalah bagian dari konsumerisme kesenangan berwisata. Dan membantu usaha mikro. Dan sekalian bersedekah bagi mereka yang sedang mencari sesuap nasi. Terserah Anda saja mau mencari dalih yang mana. (Yang penting dana turun... :-D )

Banyak barang khas yang ditawarkan di sana, mulai dari gantungan kunci, gelang, berbagai macam topi, syal, tempat tisu, sweter wol, tas hias, bahkan buah stroberi dan raspberry (begitu mereka menyebutnya. Setahuku buah itu namanya "arben," hehe.) Beberapa cendera mata itu lumayan menarik, dan beberapa lainnya tidak terlalu. Silakan Anda memilih sendiri yang Anda sukai. 
Untuk arben dan stroberinya, suami dan anakku girang karena semuanya maniiiis sekali dan solid (tidak cepat lembek). Hmm... tapi justru itulah yang malah membuatku "berpikir." Don't you think?

Happy shopping.... eh.... selamat berwisata, maksudnya. :) 

NB: Jangan percaya kalau ada yang bilang kepada Anda bahwa Tangkuban Perahu ini dibuat oleh Lorojongrang. Yang benar adalah oleh Sangkuriang. Ingat, Sangkuriang!

No comments:

Post a Comment