Thursday, January 18, 2018

Membangun Sistem di Jasa Penulis Artikel Profesional Kontenesia


Pedoman utamaku ketika membangun sistem di Kontenesia bersama Anggi Krisna Pranindita & Nurul Widiyastuti adalah: "perusahaan ini harus tetap berjalan sekalipun aku tinggalkan."

"Memangnya kamu mau ninggalin Kontenesia?"

Jawaban dari pertanyaan di atas terus terang ada banyak.
Pertama, pada saat kami bertiga (Anggi, Nurul, & aku) merintis Kontenesia (sejak Mei 2015), aku sudah memiliki beberapa pekerjaan lain, yaitu sebagai penerjemah freelance Inggris - Indonesia dan sebagai senior editor di Unbabel. Kemudian pada bulan Januari 2016, pekerjaanku bertambah, yaitu menjadi penerjemah di sebuah situs how to internasional.

Jika dibandingkan dengan semua "keribetannya", jelas aku lebih memilih pekerjaanku sebagai penerjemah daripada membangun Kontenesia, karena di Kontenesia ini aku melakukan semua hal yang merupakan kebalikan dari sifatku. Aku benar-benar keluar dari zona nyaman.

Bagaimana tidak, di Kontenesia, aku yang introver ini justru harus mengelola sekian banyak penulis. Aku yang tidak suka bergaul dengan manusia dan drama ini justru harus berhubungan dengan banyak klien dengan beragam jenis, sifat, dan permintaannya.

Yang kedua, tingkat stres yang sangat tinggi.
Tentu tidak ada yang mudah saat kita mulai membangun sebuah perusahaan. Kami trial dan error dengan sistem perekrutan penulis, dengan produk-produk baru, dengan SOP perusahaan. Kami membuat sistem dari nol, menambal celah dan bolong yang ada, berusaha membangun basis yang kuat dan solid di segala sisi, sembari berurusan dengan pekerjaan sehari-hari berupa order yang semakin banyak masuk dan jumlah klien yang terus berkembang. Iya, Kontenesia hanya dipegang oleh 3 kepala saat itu. Kasarnya, pekerjaan kami bertiga ini merangkap, mulai dari manajer sampai menjadi keset.

Melalahkan? Sangat. Fisik & psikologis. (Setidaknya buatku.)

Yang ketiga, aku berkaca dari salah satu orang terdekatku. Dia membangun sebuah perusahaan, tetapi tidak menciptakan sistem yang benar. Saat dia sakit, perusahaannya otomatis tidak bisa berjalan sama sekali.

Karena itulah pedoman utamaku ketika membangun sistem di Kontenesia adalah: "perusahaan ini harus tetap berjalan sekalipun aku tinggalkan."


Rapat Marketing Kontenesia 2017


"Terus kenapa kamu ga ninggalin Kontenesia?"

Pada awal Kontenesia berdiri, aku berniat mengundurkan diri ke Anggi sebanyak beberapa kali, tetapi selalu urung karena beberapa alasan. Pertama, karena pada awal-awal, Kontenesia memang belum bisa aku tinggalkan.
Anggi memiliki peran terbesar untuk urusan di luar (salah satunya adalah mendapatkan klien) dan di dalam Kontenesia secara keseluruhan. Tetapi urusan internal Kontenesia yang berhubungan dengan operasional sehari-hari, semua aku yang pegang.

Suatu kali (di kali ke sekian aku bilang ingin mundur dari Kontenesia), Anggi berkata kurang lebih begini, "Nci, start up itu harus kita maintain terus selama 3-5 tahun pertama. Ini adalah masa-masa paling penting."

Jadi ya, aku anggap itu sebagai janji: janji bahwa dalam waktu 3 - 5 tahun ke depan (terhitung sejak Kontenesia berdiri), aku bisa "meninggalkan" Kontenesia kalau aku mau.

Mulai saat itu, aku semakin memantapkan sistem dan SOP agar Kontenesia bisa tetap berjalan sekalipun orang yang memegang jabatannya berganti.


"Sekarang, apa kamu masih berniat buat ninggalin Kontenesia?"

Not at all. Tidak lagi. Tidak sama sekali. Kontenesia sudah berjalan dengan sangat baik. Tim yang ada sudah sangat solid. Di Kontenesia, aku memiliki rekan-rekan kerja yang penuh dedikasi, teman yang selalu bahu-membahu, sekaligus keluarga yang sangat seru. Siapa yang mau meninggalkan tempat terbaik seperti ini?

Gathering Kontenesia 2017



No comments:

Post a Comment