Wednesday, August 25, 2010

Kelas 205

By: Sri Noor Verawaty

Judul : Kelas 205
Penulis : Tracy Kidder
Pengalih Bahasa : Lala Herawati Dharma
Penerbit : Qanita, Bandung
Cetakan : I, April 2005
Tebal : 603 halaman


“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.” Sebuah pepatah yang kerap kita dengar tanpa sungguh-sungguh menghayatinya.
Guru bukanlah pengacara, bukan psikolog, bukan pekerja sosial, bukan pula dokter, tapi menjadi guru bisa berarti harus menjalankan sebagian dari peran-peran tersebut. Namun mengingat penghargaan masyarakat terhadap guru dan standard kesejahteraan (baca: gaji + tunjangan) yang ditetapkan pemerintah, membuat banyak orang tidak begitu berminat memilih posisi mulia yang satu ini.
Begitu pula di Amerika. Sejak dekade 1980, gaji guru –walaupun sudah agak meningkat– secara umum masih dikategorikan rendah. Skala gaji guru dari satu wilayah ke wilayah lain memang berbeda, tetapi angka rata-rata nasional menunjukkan bahwa gaji guru menempati urutan terendah dibandingkan dengan gaji pekerja profesional lain.
Betapa besar harapan-harapan yang diletakkan rakyat Amerika terhadap pendidikan formal dan betapa berat beban idealisme yang diletakkan di pundak pendidikan, mengingat kecilnya upaya-upaya nyata yang telah dilakukan.
Lalu, dengan semua masalah di atas, apa yang membuat Christine Zajac begitu menyukai pekerjaannya sebagai guru?
Seorang guru veteran rekan Christine Zajac mengatakan, “Aku tidak tertarik pada kasus-kasus yang mustahil. Aku akan mengajar anak-anak yang ingin belajar.” Tapi Christine Zajac berpendirian lain. Ia berpikir, beberapa anak tidak tahu bahwa mereka ingin belajar, sampai guru membuatnya mengerti bahwa mereka ingin belajar.
Pendidik yang memiliki kepedulian yang amat sangat ini mengajar kelas 5 di SD Kelly, sebuah sekolah negeri yang terletak di wilayah industri bernama Flats, Holyoke, negara bagian Massachusetts. Siswa SD Kelly kebanyakan berdarah hispanik keturunan Puerto Riko; dan lebih dari setengahnya berada di bawah garis kemiskinan.
Dengan kondisi seperti itu, anak-anak yang dikirim ke SD Kelly sangatlah beragam. Dan di sebuah ruang kelas nomor 205, Christine Zajac berusaha keras mendidik murid-muridnya.
Di kelas ini ada Clarence yang lebih tepat jika ditempatkan di sekolah anak-anak nakal, ada Felipe yang selalu menganggap Bu Zajac membencinya, Jimmy si pengantuk yang suka meletakkan pipinya di atas meja dengan mata berair dan tatapan kosong, Ashley yang lebih pandai menyakiti diri sendiri daripada membuat PR, Pedro yang belum juga bisa mengeja dan harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan nilai F, Robert yang masokhis dan membutuhkan psikiater, serta segudang anak-anak lain yang memiliki masalah masing-masing.
Christine Zajac yang dijuluki Clarence “Tukang Sihir Jahat”, kerap bersikap streng terhadap murid-muridnya. Jika ada diantara mereka yang mengerjakan tugas dengan buruk, Christine Zajac akan memaksa mereka mengulanginya. Atau ia akan mengucapkan sebuah kalimat tajam seperti, “Jangan lupa bawa otak kalian jika datang ke sekolah.” Meski demikian, Christine Zajac yang suka tertawa, tak pernah lupa memberikan pujian dan penghargaan pada murid-muridnya jika mereka telah bekerja keras.
Tidak melulu masalah yang dihadapi Christine Zajac di kelas. Terkadang Clarence yang terbandel pun membuatnya terharu saat dia menemukan sebuah pesan tanpa nama bertuliskan “Aku cinta Bu Zajac”, tulisan tangan Clarence; atau saat anak-anak membuat sebuah pesta kejutan untuknya.
Karangan-karangan polos, tingkah dan ocehan anak-anak yang terkadang menggelitik, serta PR-PR yang dikerjakan dengan sempurna, menjadi bonus tersendiri bagi Christine Zajac. Termasuk ketika anak-anak menjadi sangat bersemangat saat mereka mengadakan pertunjukan kecil dalam rangka menyelami sejarah perbudakan atau perang saudara di Amerika.
Itulah garis besar yang dikisahkan oleh Tracy Kidder dalam buku nonfiksinya ini. Deskripsi yang detail memberikan gambaran lengkap tentang point of view seorang guru terhadap murid-muridnya, murid-murid terhadap gurunya, dan point of view sebagian masyarakat terhadap profesi seorang guru. Plus informasi-informasi tambahan yang secara tidak langsung “diajarkan” penulis kepada pembaca, yaitu sejarah Amerika serta berbagai pengetahuan lainnya.
Dengan membaca buku ini, pembaca bisa ikut bernostalgia, mengenang seberapa dahsyat kenakalan semasa sekolah dulu, sekaligus bisa lebih menghayati betapa tidak ringannya mengemban amanat sebagai seorang pendidik. Dengan sajian gaya bahasa yang ringan dan enak dibaca, buku ini cocok bagi kalangan siswa, guru, bahkan para orangtua.
Mungkin tiada penghargaan yang lebih indah dari seorang murid kepada gurunya selain kalimat yang diucapkan Suzane tentang Christine Zajac, “Dia adalah guruku yang paling kuingat.”

No comments:

Post a Comment