Wednesday, August 25, 2010

"Translation was like a box of chocolates."

"Translation was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."

Kalau lagi beruntung, kamu akan mendapatkan sebuah cerita petualangan seru yang akan membuatmu terus menerjemahkannya tanpa henti karena kisahnya terlalu asyik.
Kalau lagi beruntung, kamu akan mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak dari buku itu.
Kamu mungkin akan dipaksa mencari arti istilah dalam bidang-bidang yang tidak kamu geluti sebelumnya. Kamu mungkin akan dipaksa membuka kamus khusus bidang hukum, psiikologi, atau ekonomi, atau bahkan membaca kitab suci orang lain untuk menerjemahkan.
Dan kamu akan mendapatkan wawasan baru yang akan memperkaya keilmuan kamu.
Dan kamu akan merasa senang karena pengetahuan kamu setingkat lebih banyak dari sebelumnya.

Kalau tidak beruntung, kamu mungkin harus menerjemahkan buku-buku yang dalam keadaan sukarela tidak akan pernah mau kamu baca.
Kalau tidak beruntung, kamu akan bertemu dengan seorang profesor yang terlalu cerdas sampai-sampai dia memiliki untaian kata yang terlalu rumit dan kamu harus bersusah payah menguraikan, mencerna, lalu menyusunnya kembali.
Kalau kamu tidak beruntung, mungkin kamu akan bertemu sebuah cerita yang memakai gaya bahasa sastra tinggi, sampai-sampai kamu bahkan tidak mengerti si tokoh sedang berbicara apa. Dan kamu tidak cukup hanya membuka satu kamus saja: Kamus 2.03, atau Linguist, tapi juga harus membuka Encarta, Google terjemahan, Wikipedia, bahkan sejumlah kamus online lainnya...
Kalau kamu tidak beruntung, kamu akan disuruh menerjemahkan buku setebal lebih dari 400 halaman dengan deadline hanya satu bulan.

Well, translation was indeed like a box of chocolates. You never know what you're gonna get.

By Sri Noor Verawaty · Sunday, May 31, 2009

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget