Thursday, June 23, 2011

To Kill a Mockingbird

By: Sri Noor Verawaty

Judul: To Kill a Mockingbird
Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Qanita
Terbit: Maret 2006

Jika disodori buku, pilihan pertamaku akan jatuh kepada buku-buku bertema detektif, petualangan, dan persidangan. Mungkin karena aku dibesarkan bersama buku-buku Trio Detektif (Alfred Hitchcock), Lima Sekawan (Enyd Blyton), STOP—Sporty, Thomas, Oscar, Petra (Stefan Wolf). Walaupun setelah dewasa pilihan bukuku semakin banyak, namun To Kill a Mockingbird adalah sejenis tema yang sepertinya tidak akan terlalu aku lirik.

Hanya saja dari sejumlah buku yang aku baca, judul “To Kill a Mockingbird” ini sangat sering disebut-sebut, entah itu di dalam ceritanya sendiri, atau oleh para endorser yang membandingkan buku tertentu dengan To Kill a Mockingbird. Jadi, buku ini pun cukup terngiang-ngiang di dalam pikiranku hingga akhirnya Penerbit Qanita Mizan menerjemahkan dan menerbitkannya dalam bahasa Indonesia.

Rasa penasaran menggelitikku untuk membaca buku yang terkenal ini. Dan ternyata tak heran jika buku ini memenangkan Pulitzer (1961). Walaupun tidak ada klimaks yang menegangkan di sepanjang ceritanya, namun pengarang menulis keseluruhan kisah ini dengan indah. Mengalir tenang penuh harmoni. Diceritakan dengan sudut pandang seorang gadis kecil bernama Scout Finch. Dia dididik untuk selalu mengatakan kebenaran oleh ayahnya. Hingga suatu pagi, sang ayah yang berprofesi sebagai pengacara, mengambil kasus pemerkosaan seorang gadis kulit putih oleh tersangka kulit hitam. Pada masa itu, masalah sara adalah sesuatu yang menjadi isu besar. Karena membela klien berkulit hitam, Atticus Finch yang berkulit putih pun dimusuhi oleh seluruh penduduk kota, bahkan keselamatan Scout dan Jem, kakaknya, ikut terancam. Namun kebenaran harus tetap ditegakkan, apalagi saat Atticus Finch mengetahui bahwa kliennya ternyata tidak bersalah.

Buku ini menggambarkan konflik sara yang keras, mengajarkan kemanusiaan, memperlihatkan pertentangan nilai. Pergulatan hitam dan putih, kebenaran sejati atau kepentingan orang banyak. Dimana toleransi ras dan chauvinisme membutakan akal sehat dan pendapat mayoritas adalah kebenaran mutlak.

Meskipun konflik sara di masa kini tidak sebrutal di masa buku ini dibuat, namun To Kill a Mockingbird adalah kisah yang tak lekang oleh jaman. Buku ini adalah buku sastra yang sangat saya anjurkan untuk dibaca. Two tumbs up!

Sri Noor Verawaty

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget