Sunday, March 30, 2014

Orang-orang Berwajah Tenang

Suatu kali aku pergi ke supermarket menggunakan angkot. Hari itu cukup terik dan udara cukup panas. Di perjalanan ada seorang ibu menyetop angkot yang kunaiki. Ibu-ibu itu sudah cukup sepuh. Tapi ada yang menarik perhatianku. Wajah si Ibu itu terlihat tenang dan bahagia. Diam-diam aku terus menatapnya. Penasaran, apa resep si Ibu yang membuat jiwa damainya begitu tercermin di wajahnya. Kalau orang bilang "aura," mungkin inilah yang disebut dengan "aura adem menyejukkan," sampai-sampai orang yang melihatnya pun (aku, dalam hal ini) ikut merasa adem di tengah panas terik ini.

Seperti yang aku yakini, wajah adalah jendela jiwa. Kalau jiwanya mumet, itu akan tercermin pada wajahnya. Kalau hatinya busuk, itu juga akan tergambar di garis wajahnya.
Bertahun-tahun menjadi istri seorang fotografer, aku sudah melihat berbagai macam wajah dan karakternya. Belum lagi tiga musim menonton Call Lightman dalam serial Lie To Me, aku jadi suka memerhatikan gestur dan micro expression orang.

Setelah sampai di tempat tujuan, aku mampir dulu ke ATM. Di dalam terlihat ada bapak-bapak dengan seorang anak lelaki. Dia berkutat cukup lama. Aku di luar lumayan kepanasan dan mulai tak sabar menunggu. Tapi rasa kesalku seketika hilang saat si Bapa keluar dengan wajah tersenyum sumringah. Wajah tenang seperti si Ibu yang kuluhat di angkot. Lagi-lagi aku bertanya, apa yang membuat garis wajah mereka begitu tenang dan bahagia. Tentunya setiap orang memiliki masalah tersendiri dalam hidup mereka. Tapi orang-orang seperti si Ibu dan si Bapa ini seolah tidak memilikinya. Wajah-wajah yang membuat orang yang melihatnya ikut merasa tenang dan bahagia.

Aku jadi bertanya-tanya, sudahkah wajahku seperti itu? Rasanya belum. Rasanya masih jauh dari itu. Sebuah pelajaran bagiku dari orang-orang asing tersebut.

Kemarin, aku bertemu dengan satu lagi orang berwajah tenang. Suami dan aku diajak seorang teman untuk mampir ke rumah temannya. Dan kami pun diperkenalkan kepada si Ibu yang berwajah tenang itu. Orangnya ceria sekali. Bertemu beliau seolah mendapatkan siraman air sejuk di tengah udara panas. Ramah luar biasa, padahal kami orang asing yang baru beliau kenal. Apalagi kalau saya menghitung bahwa kami bukanlah siapa-siapa sedangkan beliau adalah seorang istri pembesar dan orang yang berada.

Ada pelajaran lain yang kudapat hari itu. Betapa menyenangkannya bertemu dengan orang-orang yang berwajah tenang. Rasanya jadi ikut damai. Betapa senangnya kita saat diperlakukan baik oleh orang yang asing sekalipun. I want to be like them. I want to be a person I'd love to meet.


No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget