Showing posts with label Book Reviews. Show all posts
Showing posts with label Book Reviews. Show all posts

Wednesday, February 4, 2015

The Great Gatsby


Film ini  dibuat pada tahun 2013 dengan sutradara Baz Luhrmann, dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio sebagai Gatsby, Tobey Maguire sebagai Nick Carraway,Carey Mulligan sebagai Daisy Buchanan, Joel Edgerton sebagai Tom Buchanan (suami Daisy), and Elizabeth Debicki sebagai Jordan
Baker. Film ini merupakan adaptasi dari novel F. Scott Fitzgerald yang dibuat pada tahun 1925.

Oh, how I hate this (tragically ended) story. Tapi ini adalah film yang wajib ditonton, terlebih lagi saya sudah membaca bukunya.

Jadi untuk melihat bagaimana bukunya diwujudkan, saya penasaran ingin melihat bagaimana kisahnya disajikan di dalam film. Jadi, saya pun menonton film ini. Dan kalau memang Anda ingin melihat Leonardo DiCaprio beraksen aneh, tontonlah film ini! :-D

Setiap kali kita membaca buku, kita tentu memiliki bayangan tersendiri bagaimana tokoh cerita itu jika dia terwujud sebagai manusia nyata. Dan di film ini, tokoh-tokohnya diwujudkan dengan sangat pas, persis seperti yang saya bayangkan dan harapkan. Mungkin Anda bisa setuju dengan saya, atau bisa juga tidak. Tapi bagi saya, saat mendengar desas-desus bahwa buku ini akan difilmkan, dan Leonardo DiCaprio akan berperan sebagai Gatsby, serta Tobey Maguire berperan sebagai Nick Carraway, maka sempurnalah perwujudan kedua tokoh tersebut di mata saya. Leonardo DiCaprio adalah Gatsby. Gatsby adalah Leonardo DiCaprio. Dan Tobey Maguire adalah Nick Carraway. Dan Nick Carraway adalah Tobey Maguire.

Begitulah Gatsby. Leonardo DiCaprio memerankannya dengan sangat baik. Seperti biasa, dia memang selalu berperan dengan sangat baik di dalam film-filmnya. Anda akan melihat Leonardo yang lain daripada yang lain. Bagaimana ya menjelaskannya… Mungkin Anda harus membaca bukunya sendiri lalu menontonn filmnya untuk memahami maksud saya. Dan begitu pula (the lame) Nick Carraway. Tobey Maguire juga memerankannya dengan baik.

Film ini mewujudkan semua detail yang diceritakan di buku. Tidah hanya tentang tokoh-tokohnya, tapi juga semua setting-nya. Bahkan kalimat-kalimatnya pun persis sama dengan yang ada di buku. Jika saat membaca bukunya, Anda tidak bisa membayangkan semeriah apa hingar-bingar pesta Gatsby yang luar biasa, maka film ini menyajikannya dengan baik.



Jika Anda tidak bisa membayangkan apa yang dilihat Nick saat masuk ke ruang tengah pertama kali keluarga Buchanan saat angin meniup semua tirai putihnya, Anda bisa melihatnya di film ini.

The Great Gatsby
Jordan Baker (berdiri), Tom Buchanan (duduk di kursi), dan Daisy, Nick, serta seorang pelayan (di latar belakang)

Jika Anda tidak bisa membayangkan seaneh apa ruang tengah Nick yang dihias Gatsby dengan bunga-bunga untuk menyambut Daisy, di film ini Anda bisa melihatnya.



Jika Anda tidak bisa membayangkan seaneh apa mobil kuning klasik Gatsby yang telah dimodifikasi, di film ini mobil itu diwujudkan menjadi nyata.


Bedanya, di buku, Nick Carraway "bercerita" kepada pembaca. Sedangkan di film, dia bercerita kepada seorang psikolog yang ditemuinya karena dia mengalami masalah-masalah psikologis seperti stres dan insomnia. Masalah yang Nick alami setelah dia mengalami kejadian yang luar biasa. Kejadian yang melibatkan Gatsby. Hanya Nick yang tahu duduk perkara sebenarnya dari awal. Dan hanya Nick yang tahu kebenaran yang ada hingga akhir.

Beginilah ceritanya...

Nick Carraway, seorang penjual obligasi, pindah ke West Egg di Long Island dan menyewa sebuah rumah kecil yang terletak di sebelah mansion besar milik seorang pria misterius bernama Jay Gatsby.

Tak berapa lama setelah kepindahannya, Nick pergi ke rumah sepupunya, Daisy Buchanan, istri dari Tom Buchanan. Tom adalah teman kuliah Nick semasa di Yale. Tom adalah seorang pria yang kasar. Di sana, Nick bertemu dengan seorang gadis cantik tapi "menakutkan"--versi Nick, bernama Jordan Baker. Jordan adalah seorang pegolf terkenal.

Saat Jordan bertanya di mana Nick tinggal, dan Nick bilang di West Egg, Jordan pun menduga Nick pasti mengenal Gatsby. Karena memang tidak ada orang yang tidak mengenal Gatsby. Tapi Nick tidak tahu, walaupun dia bilang dia tinggal di sebelah mansion besar yang mungkin milik dari pria bernama Gatsby tersebut.

Daisy bertanya dengan campuran mimik yang penasaran dan sedih, "Gatsby? What Gatsby?"
Tapi pertanyaannya tak terjawab saat itu.

Saat makan malam Tom mendapatkan telepon, dan Jordan berbisik pada Nick bahwa itu pasti wanita simpanan Tom. Malam itu, Daisy juga sempat menceritakan ketidakbahagiaannya sebagai seorang istri.

Beberapa hari kemudian Tom mengajak Nick untuk pergi ke New York, tapi Tom malah berhenti di tengah jalan dan mampir ke bengkel milik George Wilson dan istrinya, Myrtle. Tom kemudian mengajak Nick pergi ke sebuah apartemen, yang ternyata merupakan tempat Tom dan Myrtle biasa bertemu. Myrtle-lah wanita simpanan Tom selama ini.

Meskipun Nick merasa bersalah karena Daisy adalah sepupunya, tapi posisi dia terjepit karena Tom memaksanya untuk tinggal. Akhirnya mereka mengadakan pesta kecil aneh dan minum-minum bersama dengan seorang sepupu Myrtle serta sepasang suami istri yang tinggal di bawah apartemen mereka.

Akhir pekan itu, seperti biasa Gatsby melangsungkan pesta mewah. Dia mengadakannya setiap akhir pekan. Semua orang hadir di sana, dari pejabat sampai mafia. Dari selebriti terkenal sampai orang-orang gypsi. Semuanya datang dan tumpah ruah di sana. Semuanya muncul tanpa diundang. Mereka datang begitu saja. Hanya Nick Carraway-lah satu-satunya orang yang mendapatkan surat undangan resmi dari Gatsby sendiri.

Lucunya, sebagian besar dari orang yang hadir di pesta itu tidak mengetahui yang mana tuan rumah bernama Gatsby dan belum pernah bertemu dengannya. Siapa Gatsby, dari mana asalnya, dan bagaimana latar belakangnya. Berbagai spekulasi beredar mengenai Gatsby. Ada yang mengatakan bahwa Gatsby adalah mata-mata Jerman, ada pula yang menyebutkan bahwa dia adalah seorang pangeran, bahkan pembunuh. Yang jelas, orang super kaya yang selalu melangsungkan pesta setiap akhir pekan tanpa alasan yang jelas ini, kekayaannya jelas-jelas dimanfaatkan oleh semua orang.

Malam itu, Jordan Baker juga muncul di sana. Nick berbincang dengan seorang pria tak dikenal dan Nick membicarakan omongan buruk orang tentang Gatsby. Tapi ternyata, pria asing yang mengajak Nick berbincang itu ternyata adalah Gatsby. Ternyata Gatsby masih muda dan tampan. Jauh dari bayangan Nick semula yang menyangka kalau Gatsby itu sudah lebih tua dan gemuk.

Saat Jordan sedang bersama Nick, Jordan tiba-tiba dipanggil oleh Gatsby ke perpustakaan. Jordan heran. Beberapa lama kemudian dia kembali sambil berkata, "Aku tahu sekarang. Aku mengerti semuanya sekarang."
Nick bertanya kenapa, tapi kata Jordan, dia sudah berjanji kepada Gastby untuk memegang rahasia tersebut. Nick ditinggalkan dalam keadaan penasaran.

Setelah pesta tersebut, Nick berkali-kali diundang Gatsby ke pestanya dan bermain di pantai pribadinya. Suatu kali Gatsby mengajak Nick bermobil ke New York, menggunakan mobil kuning Gatsby yang telah dimodifikasi. Selama di perjalanan, Gatsby menceritakan latar belakangnya kepada Nick. Bahwa dia adalah putra dari keluarga kaya, tapi semua keluarganya meninggal, jadilah dia mewarisi semua harta mereka. Gatsby juga merupakan seorang veteran perang yang sangat berjasa hingga dia mendapatkan penghargaan.

Di New York, Nick diajak Gatsby ke sebuah klub rahasia dan diperkenalkan kepada pria misterius bernama Meyer Wolfsheim.

Sore itu, Gatsby mengatur Nick untuk minum teh bersama Jordan. Dan dari sinilah semua rahasia terbuka dan malapetaka berawal.

Should I even tell the whole story? heuheuheu....
Mending tonton sendiri kali ya (atau baca bukunya), biar lebih seru... ;)

Thursday, July 17, 2014

Mansfield Park - Jane Austen


Membaca buku ini terus terang terasa sangat membosankan. Saya lebih menyukai serial BBC-nya (1999), pernah sekilas saya bahas di http://www.sundaymorningstory.blogspot.com/2012/01/jane-austen-between-her-fantasy-and.html, karena filmnya lebih padat dan mengena ke inti cerita.

Mansfield Park (BBC 1999)
Frances O'Connor as Fanny Price 
Jonny Lee Miller as Edmund Bertram (di sebelah kiri pada foto)

Selain serial di atas, Mansfield Park juga diadaptasi ulang ke dalam film (2007). Saya belum menontonnya.

Mansfield Park (2007)
Billie Piper as Fanny Price
Blake Ritson as Edmund Bertram

Buku terjemahan Indonesianya yang setebal lebih dari 600 halaman menceritakan detail secara rinci dan cenderung bertele-tele. Alurnya terasa berjalan dengan lambat, begitu pula bagian yang seharusnya menjadi klimaks.

Ada beberapa perbedaan antara buku dan versi serialnya. Dan tentu saja ada beberapa hal yang penceritaannya jauh lebih jelas dan panjang dibandingkan penceritaan yang disajikan di dalam film.

Di dalam buku, kita bisa merasakan dengan jelas semua yang Fanny lalui dan rasakan. Berhubung bukunya berpusat pada Fanny dan Fanny semata, maka kita pun bisa merasakan bagaimana perasaan Fanny atas segala hal. Termasuk kecemburuan Fanny yang sangat besar kepada Edmund (sepupunya); kasih sayang Fanny yang sangat melimpah bagi kakaknya (William); posisi dan perasaan Fanny yang selalu menjadi "figuran" di rumah Tantenya, Lady Bertram (Mansfield Park) dan di antara sepupu-sepupu perempuannya yang lebih berkelas (Maria dan Julia Bertram); Paman Fanny (Sir Thomas Bertram) yang ternyata di bukunya diceritakan sangat menyayangi Fanny; bibi Fanny yang satu lagi (Mrs. Norris) yang sangat menyebalkan dan suka semena-mena kepadanya; serta Henry Crawford yang benar-benar jatuh cinta kepada Fanny.
Fanny, Fanny, Fanny... Anda akan membaca segala hal tentang Fanny dengan sangat bertele-tele... hehehe.

Di bukunya, Edmund (yang selalu saya bayangkan sebagai Jonny Lee Miller) memang baik, tapi juga menyebalkan karena dia sering kali tidak cukup peka untuk membaca keadaan dan perasaan Fanny. Di bukunya, Edmund pada akhirnya memang memilih Fanny, tapi Fanny dipilih seolah atas dasar "Daripada jauh-jauh mengejar wanita yang tidak menginginkan Edmund karena posisi, profesi, dan kurangnya kekayaan Edmund, mending memilih Fanny saja yang kebetulan ada di hadapan mata. Fanny yang sederhana dan mau menerima profesi Edmund (pendeta) yang tidak memiliki prestis dan hanya bergaji kecil. Fanny yang memang sudah menjadi bagian dari Mansfield Park dan keluarganya."

Fanny bukanlah cinta Edmund yang sesungguhnya, karena sampai akhir pun, Edmund selalu mengejar dan mencintai Mary Crawford (kakak Henry Crawford), seorang wanita kelas atas yang cantik, kaya, dan sombong. Fanny adalah wanita yang bahkan tidak pernah dilirik Edmund. Fanny terlalu sederhana.

Saturday, October 5, 2013

Persuasion - Jane Austen


Lagi-lagi aku menderita "demam Jane Austen." Kali ini aku menonton ulang film Persuasion untuk yang kesekian kalinya. Buku versi Indonesianya sepertinya belum ada, tapi versi Inggrisnya sudah nongkrong di Aldiko-ku, sayang belum sempat aku sentuh. Jadi.... nonton filmnya lagi aja deh.

Film ini dirilis tahun 2007 di Inggris, dibintangi the gorgeous hunk Rupert Penry-Jones sebagai Capten Frederick Wentworth, serta Sally Hawkins sebagai Anne Elliot.
Di sini diceritakan bahwa Anne Elliot ini sangat accomplished, pinter, cantik banget, dll. Seperti yang Frederick katakan, "She is the perfection herself." Tapi pas melihat Sally Hawkins.... hmmm.... I was a bit disappointed. Pardon me, but I expect somebody prettier. Terutama kalo si tokoh Anne ini disandingkan sama Rupert Penry-Jones yang ganteng dan alpha.
Sepertinya itulah alasan yang dulu membuatku tidak terlalu menyukai film Persuasion versi yang satu ini.

Aku men-download film ini baru tahun 2011, dan sampai sekarang ini adalah salah satu film (bersama seluruh film dari karya Jane Austen, dll.) yang masih aku simpan di hard disk tanpa ada niat untuk kuhapus.

Seperti biasa, kalau aku mentok saat bekerja (dalam hal ini, aku sedang menerjemahkan buku tentang pemrograman komputer, which is confusing and hard for me to translate the terms), aku biasanya menerjemahkan sambil menonton film. Kadang aku menonton film untuk mengusir kantuk saat bekerja, atau kadang untuk mengusir sepi karena aku bekerja sendirian di rumah (sementara suamiku bekerja dan anakku sekolah), kadang untuk membuatku bekerja lebih semangat, kadang untuk membuat jam kerjaku lebih larut, karena kalau sambil menonton film, aku jadi tidak mengantuk.

Nah, untuk buku yang satu ini, aku membutuhkan doping film lagi. Kali ini yang aku lirik adalah Persuasion yang sudah berhibernasi selama hampir 2 tahun di hard disk-ku. Biasanya, film yang paling sering menjadi doping-kerjaku adalah Pride & Prejudice, versi motion picture maupun versi serialnya. (http://www.sundaymorningstory.blogspot.com/2012/01/pride-and-prejudice.html) Kenapa menonton ulang film yang sudah pernah ditonton? Bukannya itu membosankan?
Justru kalau aku menonton film yang belum pernah aku tonton, jadinya aku malah benar-benar menonton dong, bukan bekerja. Makanya, nontonnya film yang sudah pernah ditonton, biar aku bisa bekerja.

Back to Persuasion.
Kali ini, pilihanku jatuh pada Persuasion. Sudah sangat lama aku tidak menontonnya. Secara garis besar, aku masih ingat ceritanya, tapi detailnya, mood film, dan "rasa"  dari film itu, aku sudah lupa.

Saat menyetelnya kembali setelah sekian lama.... aku mendapatkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang indah....
Film ini dibuka dengan musik yang cantik. Terdengar sedih. Nonetheless, it was beautiful.
Kali ini, aku mengabaikan fakta bahwa Anne Elliot tidaklah secantik seperti seharusnya. Aku mengabaikan bahwa dia secara fisik sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan kedua saudaranya.
Kali ini, aku meresapi lebih dalam. Mood film dan kesedihan Anne saat bertemu kembali dengan mantan tunangannya.
Sepanjang film ini, aku bertanya-tanya.... how can a love last so long even after all hopes seem gone....
How can a love so painfully beautiful...
It's so touching and yet sad. Sad and yet beautiful....

And yes... Rupert Penry-Jones is gorgeously yummy! :D


Sinopsis:
nyomot dari Wikipedia dulu ya... hehe... belom sempet bikin sendiri.


Eight years prior to the film's beginning, Anne Elliot (Sally Hawkins) – at the age of 19 – was engaged to Frederick Wentworth (Rupert Penry-Jones). However, her father Sir Walter Elliot (Anthony Head) and family friend Lady Russell (Alice Krige) persuaded Anne to break off the engagement and give up the man she loves because of his lack of fortune. Despite their strong mutual affections, Wentworth was not considered rich or important enough to marry an Elliot.

Eight years later, due to the lavish spending of Sir Walter and his eldest daughter Elizabeth (Julia Davis), the family is in financial difficulties. The Elliot family residence, Kellynch Hall in Somersetshire, has to be let out. Suitable tenants are soon found in Admiral Croft (Peter Wight) and his wife (Marion Bailey). Mrs. Croft is the sister of Frederick Wentworth, who has risen to Captain and become rich while serving in the Royal Navy.

Elizabeth and Sir Walter set off for their new residence in Bath. At first, Anne stays behind, visiting her hypochondriac sister Mary Musgrove (Amanda Hale) who is married to Charles Musgrove (Sam Hazeldine), and living in the nearby estate Uppercross. Anne soon meets Wentworth again when he comes to visit his sister. Staying with the Musgroves, Anne meets Wentworth several times and has to witness what she perceives to be his advances towards Charles Musgrove's young and lively sisters, especially Louisa (Jennifer Higham). Anne is convinced that he will never forgive her, let alone love her again.

Eventually Anne goes to Bath, and becomes subject to the attentions of Mr. Elliot (Tobias Menzies), a distant cousin who will inherit her father's wealth and title. Mr. Elliot proposes to Anne, who, though still very much in love with Wentworth, does not immediately decline Mr. Elliot's offer. Admiral Croft, having heard a rumour of Mr. Elliot's proposal to Anne, sends Wentworth to ask Anne if she and her new husband require them to quit Kellynch Hall. Anne informs Wentworth that Admiral Croft has been very much misinformed, but in the medley of new arrivals, Wentworth leaves and Anne runs to find him. On her way, her good friend Harriet (Maisie Dimbleby) reliably informs her that Mr. Elliot is currently also courting Mrs. Clay (Mary Stockley), whom it seemed Anne's father might marry. Harriet tells Anne that Mr. Elliot desires the baronetcy above all else, and although his admiration for Anne appears genuine, once married to Anne he plans to establish Mrs. Clay as his mistress. This would prevent Mrs. Clay's marriage to Anne's father, thereby preventing the potential birth of a male heir to Sir Walter which would cut off Mr. Elliot's inheritance rights. Wentworth declares his undying love for Anne and proposes to her in a letter.

After some frenzied running, Anne runs into Wentworth in the street while he is talking to Charles Musgrove. There, she accepts Wentworth's proposal and, when he asks her whether she is sure, she says she has never been more determined in her life. The movie skips to Anne and Wentworth in a carriage, Anne blindfolded. Once her blindfold is removed, Anne finds herself standing in front of Kellynch Hall, Wentworth's wedding present to her. The film ends with Wentworth and Anne on the lawn of their new home, dancing together.




Friday, February 17, 2012

"North & South" by Elizabeth Gaskell



Novel “North & South” karya Elizabeth Gaskell telah diadaptasi oleh BBC dalam bentuk mini seri pada tahun 2004 dan dibintangi oleh Daniela Denby-Ashe sebagai Margaret Hale dan Richard Armitage sebagai John Thornton. Serial ini disutradarai oleh Brian Percival dengan skenario yang ditulis oleh Sandy Welch. Sementara itu, novelnya dibuat Elizabeth Gaskell pada jaman Victoria, dan diterbitkan berupa buku dalam dua volume pada tahun 1855.

Serial “North & South” mengisahkan era industri di bagian Utara (North) Inggris, tepatnya di kota fiksi Milton-Northern. Tokoh utama wanita, Margaret Hale, berasal dari Selatan (South) Inggris. Dia terpaksa pindah ke North yang merupakan daerah industri pemintalan kapas. Di kota Milton-Northern ini Margaret mengalami culture shock karena kota ini sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalnya dahulu. South merupakan surga pedesaan yang indah, tenang, udaranya bersih dan mata pencaharian penduduknya sebagian besar bertani. Kehidupan di South cenderung statis. Sementara itu di North yang merupakan daerah industri, Margaret melihat semua orang—terutama kelas pekerja—sangat sibuk. Margaret yang cerdas dan kritis tidak menyukai apa yang dia lihat, setiap orang sepertinya hanya memikirkan materi, kesadaran warga akan ilmu pengetahuan maupun agama sangat rendah, udara di Milton yang kotor, dan kemiskinan terbarak di sudut-sudut kota.

Margaret mengalami kesulitan tersendiri memahami budaya dan cara pandang orang-orang di Milton. Sikap Margaret sangat sinis, terutama pada salah seorang pemilik pabrik pemintalan, yaitu John Thornton, seorang pria tampan yang dingin dan arogan. Mr. Thornton adalah pemilik Marlborough Mills sekaligus murid ayahnya. Margaret banyak berprasangka buruk dan menuduh Mr. Thornton macam-macam. Dari sudut pandang Margaret, Mr. Thornton adalah pria yang kasar, sama sekali bukan seorang “gentlement”. Sebaliknya, Mr. Thornton pun menilai Margaret angkuh. Hubungan Margaret dan Mr. Thornton memang rumit, namun tak urung, satu sama lain menumbuhkan rasa tertarik dan kagum yang makin lama makin berkembang.

Suatu ketika saat keadaan ekonomi memburuk dan buruh pabrik mengadakan pemogokan besar-besaran, Margaret menyelamatkan Mr. Thornton dari serangan amuk massa. Sesuai norma pada masa itu, Mr. Thornton pun melamar Margaret yang telah menyelamatkannya. Namun Margaret tidak suka dilamar dengan cara seperti itu. Walaupun Mr. Thornton telah menjelaskan bahwa dia melamar Margaret karena mencintainya, namun Margaret bersikeras menolak karena dia menganggap Mr. Thornton menikahinya atas dasar hutang budi. Dan Margaret menyalahkan Mr. Thornton atas banyak hal, termasuk kematian temannya yang merupakan salah satu pekerja di pabriknya Mr. Thornton. Mr. Thornton pulang dengan patah hati dan marah.

Saat perasaan Margaret pada Mr. Thornton mulai berubah dan sejumlah kesalahpahaman Margaret atas Mr. Thornton ternyata tidak terbukti benar, di pihak Mr. Thornton keadaan justru sebaliknya. Mr. Thornton menyaksikan Margaret tengah bersama seorang pria misterius di stasiun kereta pada malam hari. Mr. Thornton mengira pria itu adalah kekasih Margaret dan merupakan penyebab kenapa dia ditolak oleh Margaret. Kasus ini semakin rumit karena berujung dengan kematian seorang pria dan terlibatnya kepolisian dalam penyelidikan.

Paska kematian ibunya, ayah Margaret pergi untuk mengadakan reuni dengan teman-temannya semasa di Oxford. Ternyata dia meninggal dengan tiba-tiba di sana. Tinggallah Margaret seorang diri. Dia pun diambil bibinya untuk kembali ke London. Di London, Margaret kembali bertemu dengan pria yang dahulu pernah melamarnya, yaitu Henry Lennox. Dan merekapun dekat kembali.

Mr. Bell—sahabat baik ayahnya—yang tidak memiliki anak, sudah menganggap Margaret sebagai anaknya sendiri. Sebelum pergi ke Argentina, dia mewariskan sejumlah besar kekayaan kepada Margaret. Dan atas bantuan Henry Lennox, Margaret pun menginvestasikannya dan meraih untung besar.

Sementara itu, di Milton, Mr. Thornton yang bersikeras tidak ingin ikut dalam spekulasi, mengalami kebangkrutan. Dahulu, ayah Mr. Thornton sempat ikut spekulasi dan ternyata rugi besar, hingga akhirnya dia bunuh diri karena tidak kuasa menanggung malu. John Thornton yang masih sangat muda ditinggalkan oleh ayahnya. Dia bekerja keras mencari sesuap nasi untuk dirinya, ibu serta adik perempuannya. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, Mr. Thornton akhirnya bisa memiliki pabrik sendiri dan cukup mapan di usia dia sekarang. Bercermin dari peristiwa sang ayah, dia tidak ingin ikut berspekulasi dengan para bankir. Namun ternyata keadaan dahulu berbeda dengan sekarang. Sekarang, Mr. Thornton telah kehilangan segalanya.

Kekayaan yang ditinggalkan Mr. Bell untuk Margaret ternyata mencakup kepemilikan tempat Marlborough Mills milik Mr. Thornton. Margaret pun datang ke Milton untuk mengurus hal ini. Dia berniat menanam uangnya di pabrik Mr. Thornton. Namun saat datang ke sana, Margaret tidak hanya mendapatkan pabrik, namun juga hati pemiliknya. Marlborough Mills pun bisa berjalan kembali dan Margaret serta John Thornton pun akhirnya bersama.

***

Oke... Itu adalah versi filmnya. Nah, isi bukunya agak berbeda dengan filmnya dari segi timeline, sudut pandang penceritaan, dan beberapa hal penting. Ada beberapa adegan di film yang tidak ada di bukunya, dan ada beberapa adegan di buku yang tidak ada di filmnya. Aku lebih dulu menonton filmnya daripada membaca bukunya.

Dari segi timeline, ada beberapa perbedaan. Misalnya kapan Betsi meninggal, kapan Mr. Thornton melakukan spekulasi bisnis, kapan adik Mr. Thornton menikah.

Dari segi sudut pandang penceritaan, di film, sudut pandangnya dari Margaret yang menceritakan kisahnya dalam surat kepada sepupunya, Edith. Sedangkan di buku penulis menggunakan sudut pandang dia sendiri. Jadi kita bisa lebih menyelami dan merasakan bagaimana perasaan Margaret pada Mr. Thornton dan sebaliknya. Bagaimana Mr. Thornton tersiksa dengan rasa cintanya pada Margaret yang tak berbalas dan sebesar apa kecemburuannya pada pria misterius di stasiun (yang kemudian Thornton ketahui dari Higgins, bahwa itu adalah kakaknya Margaret yang datang diam-diam dari Spanyol untuk mengunjungi ibu mereka yang sakit keras). Semuanya lebih mendalam.

Ada beberapa hal penting yang juga sangat berbeda di dalam buku dan filmnya. Di film, ada perempuan ketiga yang dekat dengan Mr. Thornton paska Mr. Thornton ditolak Margaret. Namanya adalah Miss Latimer. Tapi di bukunya tidak ada. Di buku, Mr. Thornton sangat terobsesi pada Margaret. He only lays his eyes and his heart to her and only her.
Lalu di buku, Mr. Bell ternyata meninggal. Sementara di filmnya, dia pergi ke Argentina.
Adegan di akhir buku dan film pun dibuat berbeda di tempat yang berbeda dengan adegan yang berbeda, walaupun sama-sama happy ending.
Selain itu, di filmnya, Mr. Thornton dan Henry Lennox bertemu pertama kali di acara Pameran Teknologi di London. Ada ketegangan di antara mereka berdua. Demikian pula ketegangan di antara Margaret & Miss Latimer yang saat itu ikut bersama Mr. Thornton dan adiknya, Fanny. Sedangkan di buku, Mr. Thornton dan Henry Lennox bertemu baik-baik untuk pertama kalinya di rumah Edith, di London, setelah Margaret tinggal di sana paska kematian kedua orang tuanya serta Mr. Bell.
Adegan akhir dalam film diambil di sebuah stasiun kereta saat Margaret dan Henry pulang dari Milton untuk menemui Mr. Thornton, tapi ternyata Mr. Thornton sedang pergi entah ke mana. Di stasiun itu tanpa sengaja mereka berdua bertemu kembali saat kereta berhenti. Dan Margaret pun, yang semula hanya ingin bertemu untuk mengurus surat-surat bisnis berkenaan dengan Marlborough Mills, akhirnya mengakui perasaannya kepada Mr. Thornton.
Sedangkan di bukunya, kisah Mr. Thornton dan Margaret ditutup di rumah Edith di London.

Film kadang tidak bisa diadaptasi secara persis dari bukunya. Film harus mempertimbangkan alur dan "memelihara" ketegangan penonton pada tiap adegan dan episodenya. Karena itulah naskah dari buku biasanya agak berbeda saat diadaptasi menjadi film. Di film diberikan lebih banyak konflik, termasuk ditambahkan orang ketiga dan konfrontasi langsung antara Thornton dan Henry Lennox. Tokoh John Thornton juga dideskripsikan lebih kasar dan keras di filmnya. Sementara di buku, penulis menunjukkan betapa pria baik hati ini menderita dengan cintanya.

Untuk North & South ini, bahasa di bukunya memakai bahasa Inggris kuno, ejaan lama, berhubung ini adalah buku abad 19-an. Yang lebih parahnya, Higgins (teman Margaret, buruh pabrik pemintalan) bicara menggunakan akses selatan yang "slank." Seperti you menjadi yo, of menjadi o' dan kata-kata lain yang jadi agak membingungkan. :D




Tuesday, January 17, 2012

Jane Austen: Between Her Fantasy and Reality

Jane Austen: The Author of "Pride and Prejudice", "Sense and Sensibility", "Emma", "Mansfield Park", "Northanger Abbey", and "Persuasion"

By: Sri Noor Verawaty


Jane Austen lahir di Steventon, Hampshire tanggal 16 December 1775 dari pasangan George Austen (1731–1805) dan istrinya, Cassandra (1739–1827). Ayah Jane adalah seorang pendeta. Selain menjadi pendeta, dia juga mencari penghasilan tambahan dari bertani dan mengajar. Jane memiliki seorang saudara perempuan, yaitu Cassandra Elizabeth (Steventon, Hampshire, 9 January 1773–1845) dan enam saudara laki-laki, yaitu James (1765–1819), George (1766–1838), Edward (1767–1852), Henry Thomas (1771–1850), Francis William (Frank) (1774–1865), dan Charles John (1779–1852). Jane sangat dekat dengan kakaknya, Cassandra. Dan diantara kelima saudara lelakinya, Jane paling dekat dengan Henry.

Aku lebih dulu membaca dan menonton karyanya daripada membaca dan menonton kisah si pengarang. Dimulai dari Pride and Prejudice (1813), kemudian Sense and Sensibility (1811), Emma (1815), Mansfield Park (1814), Northanger Abbey (1818), dan terakhir Persuasion (1818). Aku suka semua karyanya. Yang paling aku sukai adalah Pride and Prejudice dan Emma.

Seluruh novel Austen selalu berakhir happy ending. Bagian ini, aku sangat suka karena memenuhi “hukum-ku” tentang entertainment (termasuk tontonan dan bacaan), bahwa: “entertainments must be entertaining”. Tapi bagiku, daya tarik terbesar dari novel Austen ini tentu saja tokoh-tokoh prianya [don’t blame me for being a normal woman]. Kata temanku, pria-pria Austen ini: “too (damn) good to be true”. Memang. Karena itulah aku menjuluki novel-novel Austin ini “dongeng”. Fairytales, that even the own author didn’t live in. Well, maybe that’s the reason why she wrote those stories. Karena kisah hidup Austen jauh berbeda dari kisah-kisah indah yang ditorehkannya. Bahkan kebalikannya.

Baiklah, sebaiknya aku sedikit mengupas karya-karya Austen terlebih dulu.
Austen menulis tokoh utama prianya dalam karakter yang berbeda-beda. Bagiku, yang paling “too good to be true” adalah Mr. Fitzwilliam Darcy di “Pride and Prejudice”. Dia gorgeous, kaya raya, punya istana mewah (Pemberley), menguasai setengah lahan yang ada di Derbyshire. Dan yang terpenting serta sangat diimpi-impikan oleh banyak wanita adalah: Darcy berkorban banyak dan berjuang keras demi mendapatkan Elizabeth Bennet (Lizzie). Darcy adalah pria yang punya segalanya, bangsawan kaya dan tampan yang bisa mendapatkan wanita manapun, tapi dia hanya mencintai Lizzie hingga rela “merendahkan dirinya”, melawan akal sehat serta harapan keluarganya untuk mendapatkan Lizzie yang “tidak terlalu cantik” dan datang dari kelas menengah dengan status sosial serta kekayaan yang jauh di bawah Darcy. Sangat heroik, kan? Darcy is an absolute alpha-man! Ending: (of course) happy. Darcy menikahi Lizzie dan mereka tinggal di Pemberley yang indah. Lizzie adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini. Too (damn) good to be true!

Lizzie & Darcy , 2005
Starring: Keira Knightley & Matthew Macfadyen

Selain mengisahkan Lizzie, “Pride and Prejudice” juga membahas kakaknya, Jane Bennet. Lizzie dan Jane sangat dekat dan tak terpisahkan. Jane yang paling cantik dan paling baik hati adalah saudari favorit Lizzie. Di akhir cerita, Jane akhirnya menikah dengan Charles Bingley, yaitu sahabat Darcy. Berbeda dengan karakter Darcy, Bingley adalah pria yang ramah dan menyenangkan. Tentu saja Austen juga “membumbui” tokoh Bingley dengan “kekayaan dan ketampanan”. Happy ending untuk Bennet bersaudara, meski awalnya Darcy tidak direstui tantenya dan Bingley tidak didukung oleh adik-adiknya. Double weddings for the four of them.

Jane & Mr. Bingley, 2005
Starring: Rosamund Pike & Simon Woods

Selain Darcy, the alpha-man lain yang diciptakan Austen adalah Mr. George Knightley di “Emma”. Knightley juga “diberikan karakteristik” kaya, tampan, baik hati, sangat menyenangkan, dewasa, dan rela berkorban. Untuk sifat-sifat menyenangkan dan keramahannya, Knightley jauh lebih unggul daripada Darcy yang dilukiskan angkuh dan dingin. Knightley juga tergolong pria yang “too good to be true” dan Emma Woodhouse adalah wanita yang sangat beruntung. Ending: (again) happy.

 
Emma & Mr. Knightly, motion picture 1996
Starring: Gwyneth Paltrow & Jeremy Northam

Emma & Mr. Knightly, the series, 2009
Starring: Romola Garai & Jonny Lee Miller

“Emma” juga memiliki kakak perempuan, Isabella, yang telah terlebih dulu menikah dengan kakaknya George, yaitu John Knightley. Duo Knightley menikahi duo Woodhouse. Happy ending.

Henry Tilney di “Northanger Abbey” juga tak jauh beda dengan karakter Knightley. Dia ramah, kaya, tampan dan rela kehilangan seluruh harta yang bakal menjadi warisannya demi mendapatkan cinta Catherine Morland, karena Tilney tidak direstui ayahnya untuk menikahi Catherine yang datang dari keluarga kelas bawah. Ending: married, happy. Tak berapa lama setelah itu adik Tilney, Eleanor, juga menikahi pria yang sebelumnya tidak disetujui ayah mereka.

Catherine Morland & Henry Tilney, 2007
Starring: Felicity Jones & J. J. Feild

Captain Frederick Wentworth di “Persuasion” agak berbeda dari ketiga tokoh sebelumnya. Di sini, justru Anne Elliot-lah yang berasal dari keluarga kaya sedangkan Wentworth berasal dari kalangan yang status sosialnya lebih rendah dari Anne. Karena alasan itulah Anne dibujuk untuk memutuskan pertunangan dengan Wentworth. Hingga keadaan berubah sebaliknya delapan tahun kemudian. Wentworth menjadi kaya sedangkan keluarga Anne bangkrut karena gaya hidup ayah dan kakak sulung Anne yang boros. Di sini Wentworth dideskripsikan sebagai pria yang cenderung diam dan aloof. Apa yang ada di pikirannya tidak bisa dibaca. Mungkin karena di dalam filmnya memakai sudut pandang Anne sebagai narator ceritanya. Tapi endingnya tetap bahagia. Another wedding.

Anne & Capten Wentworth, 2007
Starring: Sally Hawkins & Rupert Penry-Jones

Sekarang mari kita bahas tokoh yang lebih “manusiawi”: Edmund Bertram di “Mansfield Park”. Kenapa aku menyebutnya “manusiawi”? Karena Edmund tidak “se-dewa” Darcy maupun Knightley. Tidak seheroik Darcy maupun Tilney. Edmund adalah pria bangsawan tapi keluarganya nyaris bangkrut.  Dia adalah pria sederhana yang hanya bercita-cita menjadi pendeta, pekerjaan yang pada masa itu dianggap tidak keren dan tidak menghasilkan banyak uang. Edmund juga melakukan kebodohan dengan jatuh cinta secara buta pada wanita lain yang angkuh dan bahkan bukan tipenya. Saudara-saudaranya juga pecundang. Kakaknya pemabuk, tukang berjudi dan menghabiskan kekayaan orang tuanya, adik-adiknya materialistis dan payah. Edmund adalah pria yang paling “biasa” yang Austen ciptakan. Fanny bukan pilihan pertama Edmund. Tapi setelah beberapa lama, Edmund menyadari dia telah jatuh cinta pada wanita yang salah, dan bahwa sesungguhnya dia mencintai Fanny Price. Ending: happy.

Fanny & Edmund, 1999
Starring: Frances O'Connor & Jonny Lee Miller

Dalam “Sense and Sensibility” ada dua tokoh utama pria, yaitu Edward Ferrars dan Colonel Christopher Brandon. Dan tentu saja dua tokoh utama wanita: kakak beradik Elinor dan Marianne Dashwood. Saat menonton filmnya (Sense and Sensibility, 1995, disutradarai oleh Ang Lee, dibintangi oleh Emma Thompson sebagai Elinor, Kate Winslet sebagai Marianne, Hugh Grant sebagai Edward Ferrars, dan Alan Rickman sebagai Colonel Brandon), aku mendapat sejumlah kesan subjektif yang merusak citra film itu di mataku. Pertama tentu saja pria yang memerankan Colonel Brandon: Alan Rickman! Di otakku hanya ada satu tokoh yang aku kenal saat melihat wajah Alan Rickman: the mischievous Professor Severus Snape at Harry Potter! Baiklah, salahnya adalah, aku telah terlebih dulu mengenal Rickman di Harry Potter, jauh sebelum aku menonton Sense and Sensibility. Jadi karakter Rickman terasa sangat kental dengan Snape. Bagiku, Rickman adalah Snape. Akibatnya, setiap kali Colonel Brandon yang baik hati itu muncul, aku memicingkan mata dan mendapatkan kesan Snape di mana-mana.

Kedua adalah Hugh Grant sebagai Edward Ferrars. Aku pernah menyukai Grant, sewaktu dia memerankan Notting Hill (1999) dengan Julia Roberts. Tapi aku tidak menyukai dia di film “Bridget Jones’s Diary” (Grant sebagai Daniel Cleaver, playboy kelas kakap). Dan bagiku, tokoh playboy Daniel Cleaver menempel di wajah Hugh Grant bahkan saat dia memerankan peran yang berbeda, seperti karakter dan logat Forest Gump yang bagiku selalu tampak menempel di wajah Tom Hanks.

Sedangkan Kate Winslet dan Emma Thompson? Sebagai kakak beradik, mereka tidak memiliki kemiripan sama sekali. Aku berharap pemeran Elinor seharusnya lebih muda dan (maaf) lebih cantik dari Thompson. Dan beberapa hal lain yang mengganggu adalah usia Colonel Brandon yang hampir setengah baya saat menikahi Marianne yang masih sangat muda. Selain itu, aku tidak suka cara tokoh-tokoh wanitanya menangis, baik Elinor, Marianne, maupun ibu mereka. Terdengar aneh.
Mungkin sebaiknya aku membaca novelnya saja, bukan menonton filmnya.
By the way, ending untuk Dashwood bersaudara tentu saja happy weddings.

***Seharusnya nonton film yang versi 2008.

Sense & Sensibility, 1995

And now, lets go back to Jane Austen, the author.
Austen banyak menulis tentang dua saudari: Lizzie dan kakaknya, Jane. Emma dan kakaknya, Isabella. Elinor dan adiknya Marianne. In reality, Austen memiliki seorang kakak perempuan, Cassandra. Hubungan mereka sangatlah dekat. Mungkin seperti Lizzie dan Jane.

Tokoh-tokoh wanita Austen berasal dari keluarga yang tidak kaya. Seperti juga dia dan Cassandra. Ayah Jane Austen, George Austen, hanyalah seorang pendeta dengan penghasilan seadanya.

Sebaliknya, pria-pria Austen adalah pria-pria alpha dari kelas atas. Dominan, ramah, kaya, tampan, rela berkorban, dan semua karakteristik yang diinginkan oleh wanita.
Ada beberapa pria yang “hadir” dalam hidup Austen, diantaranya Thomas Langlois Lefroy (yang menjadi inspirasi bagi terciptanya karakter Mr. Darcy) dan Mr. Wisley. Wisley adalah keponakan Lady Gresham yang kaya. Dia pernah melamar Austen, namun Austen menolaknya.

Mari kita bahas sekilas biografi Jane Austen berdasarkan filmnya.
Film “Becoming Jane” (2007) yang disutradari oleh Julian Jarrold menampilkan Anne Hathaway sebagai Jane Austen. Film ini menitikberatkan kehidupan awal Jane Austen sebelum dia menjadi seorang penulis terkenal. Walaupun film ini bercerita banyak tentang hubungan Austen dengan seorang pengacara muda bernama Thomas Langlois Lefroy (James McAvoy). Screenplay film ini berdasarkan kejadian nyata yang tertuang di dalam buku “Becoming Jane Austen” karya Jon Spence. Dia juga menjadi konsultan sejarah bagi film tersebut. Sebelum buku “Becoming Jane Austen”, biographer Radovici (1995) dan Tomalin (2000) yang juga mengakui adanya hubungan antara Jane Austen dan Tom Lefroy. Bahkan buku Tomalin menjadi referensi dibuatnya “Becoming Jane”.


Di dalam film ini disebutkan bahwa Austen menolak Mr. Wisley karena Austen jatuh cinta pada Lefroy. Dalam bukunya, Austen banyak menulis hubungan-hubungan antar tokoh-tokohnya yang tidak direstui oleh pihak keluarga. Lizzie tidak direstui oleh tante Darcy, Catherine oleh ayah Tilney, Captain Wentworth oleh ayah dan teman ibunya Anne, dan Elinor oleh kakaknya Edward. Demikian pula yang dialami oleh Austen. Tom Lefroy adalah seorang pengacara yang kehidupan dan masa depannya tergantung pada pamannya, yaitu Lord Chief Judge Langlois of London. Lefroy, yang akan mewarisi seluruh harta Hakim Langlois kelak, adalah satu-satunya harapan keluarganya. Saat sang hakim mengetahui bahwa Jane Austen berasal dari keluarga miskin, Langlois pun tidak merestui Lefroy untuk menikahi Austen. Austen mundur karena tak kuasa menahan beban mental jika dia merenggut Lefroy dari keluarganya.

“Jane Austen: Between Her Fantasy and Reality”.
Her fantasy: kisah yang ditulis Austin selalu happy ending. Tokoh-tokoh wanita Austen selalu berakhir dengan pernikahan yang bahagia despite all the obstacles they faced before. Mereka menikahi pria yang mereka cintai dan mencintai mereka.
Her reality: Tidak demikian dengan hidup Jane Austen sendiri. Jane dan Cassandra, kakaknya, tidak pernah menikah bahkan hingga mereka meninggal. Menurut kisah di film “Becoming Jane”, Jane tidak pernah menikah dengan pria lain karena dia mencintai Lefroy. Sedangkan Cassandra tidak pernah menikah sebab tunangannya meninggal karena wabah sebelum pernikahan mereka sempat dilangsungkan.

Jane Austen, selama hidupnya yang singkat (42 tahun) telah memberikan mimpi-mimpi indah bagi para pembacanya. Tentang jatuh cinta dan dicintai. Cinta yang melampaui batasan harta dan kelas sosial yang pada masa itu sangat berperan besar. Tentang pria-pria sempurna dan pernikahan bahagia yang sayangnya tidak Austen alami sendiri. Dia meninggal setelah menderita sakit. Dia adalah seorang penulis yang penuh dedikasi dan bahkan masih menulis hingga menjelang ajal menjemputnya. I give a long standing applause for Jane Austen!

Buku:
Judul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Qanita (Mizan Grup)
Cetakan Pertama: Februari 2011

Judul: Mansfield Park
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Qanita (Mizan Grup)

Saturday, January 14, 2012

Cecilia & Malaikat Ariel

By: Sri Noor Verawaty

Cecilia & Malaikat Ariel: Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi
Judul Asli: Through a Glass, Darkly
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Andityas Prabantoro
Penerbit: Mizan
Cetakan Pertama: Desember 2008

“Cecilia dan Malaikat Ariel” berisi dialog seorang gadis remaja yang sedang mendekati ajal dengan seorang malaikat bernama Ariel. Melihat penulisnya, Jostein Gaarder, tentu saja aku “berharap banyak” dari buku ini.

Jostein Gaarder adalah pengarang terkenal asal Norwegia yang telah menerbitkan sejumlah karya hebat. Aku lebih suka menyebut dia “filsuf”. Buku pertamanya yang aku baca—jauh sebelum “mengenal” reputasi Gaarder—adalah “Misteri Soliter” (The Solitaire Mystery). Beberapa tahun kemudian barulah aku mengenal Gaarder lewat karyanya yang paling terkenal: Dunia Sophie (Sophie's World). Setelah itu, “Gadis Jeruk” (The Orange Girl), “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken” (Bibbi Bokken's magic library), “Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng” (The Ringmaster's Daughter) pun ikut bertengger di rak bukuku. Dan terakhir adalah buku ini: “Cecilia dan Malaikat Ariel” (Through a Glass, Darkly).

Karena penulis buku “Cecilia dan Malaikat Ariel” ini adalah Gaarder, aku berharap buku ini akan (in good meanings): kompleks, ruwet, berbelit-belit, dan membacanya akan sangat melelahkan. Karena judul buku ini berkata: “Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi”, aku pun berharap cerita ini akan berupa dialog misterius yang indah dan menyingkap rahasia. Dan karena nama malaikatnya adalah Ariel, aku berharap rupa dia setidaknya setampan Ariel Peterpan. Halllaah… hahaha. :-D

Well, tampaknya aku berharap terlalu banyak kali ini. In my humble opinion, “Cecilia dan Malaikat Ariel” adalah buku Gaarder yang paling ringan, paling lurus, “tak ada belokan dan percabangan ruwet”, bahkan endingnya saja sudah bisa aku tebak. Tumben. I expected more than that. Dan malaikat Ariel? Sama sekali jauh dari rupa Ariel Peterpan, tapi lebih menyerupai tokoh Voldemort dari Harry Potter. Really! Botak, gundul plontos dan tak punya alis. Kalau tak percaya, coba saja tonton filmnya dan lihat sendiri perwujudan malaikat Ariel versi filmnya. Buku ini telah difilmkan di Norwegia dengan judul yang sama: Through a Glass, Darkly. Mungkin menonton filmnya akan terasa lebih lucu lagi: Cecilia yang botak paska kemoterapi sedang berbincang-bincang dengan malaikat Ariel yang juga botak, jadilah perbincangan dua orang botak.

Sedangkan isinya, Gaarder nyaris tidak mengungkap rahasia apapun tentang dunia malaikat dengan imajinasinya. Ini hanyalah dialog biasa dari seorang remaja pintar yang sedang menghadapi kematian dengan seseorang—tak perlu malaikat, karena pengetahuannya tidak seluas seperti seharusnya seorang malaikat. Baiklah, mungkin di sini keyakinan agamaku ikut menilai. Dalam Islam telah diterangkan tentang sifat-sifat malaikat, tentang surga dan “the other world”, bahkan tentang ke mana kita akan pergi setelah mati. Mungkin karena itulah aku menilai tulisan Gaarder yang satu ini—tumben—dangkal.

Setelah selesai membaca buku ini aku langsung menyembunyikannya di bagian belakang rak bukuku, karena aku takut putriku kelak membacanya dalam usia yang terlalu dini. Buku ini memberikan pemahaman yang berbeda tentang malaikat, akhirat dan kematian dengan apa yang diajarkan oleh agama yang aku anut. Jadi aku anggap buku ini bisa menyesatkan pemahaman seseorang dari ilmu agama yang benar.


Sri Noor Verawaty

Brontë Sisters: Wuthering Heights & Jane Eyre

By: Sri Noor Verawaty

Dua Brontë bersaudara yang karyanya familiar denganku adalah Emily Brontë dan Charlotte Brontë. Emily adalah penulis novel Wuthering Heights, sedangkan Charlotte adalah penulis Jane Eyre.

Bertahun-tahun sebelum membaca novel Wuthering Heights, aku telah terlebih dulu menonton filmnya yang dibuat pada tahun 1992. Film ini dibintangi oleh Ralph Fiennes (sebagai Heathcliff) dan Juliette Binoche (sebagai Catherine Earnshaw), disutradarai oleh Peter Kosminsky. Novelnya sendiri telah diterbitkan sejak tahun 1847 dan merupakan satu-satunya novel yang Emily tulis. Bahkan Wuthering Heights baru diterbitkan paska kesuksesan Jane Eyre karya Charlotte.

Selain difilmkan pada tahun 1992, Wuthering Heights juga diadaptasi ke berbagai karya, salah satunya adalah film televisi Inggris pada tahun 1998 yang disutradarai oleh David Skynner. Di film ini Robert Cavanah berperan sebagai Heathcliff dan Orla Brady sebagai Catherine Earnshaw.

Sedangkan untuk Jane Eyre, aku belum memiliki kesempatan untuk membaca novelnya, namun baru bisa menikmatinya dalam bentuk mini seri yang dibuat oleh BBC tahun 2006, yang disutradarai oleh Susanna White. Serial ini terdiri dari 4 seri dan diperankan oleh Ruth Wilson sebagai Jane Eyre serta Toby Stephens sebagai Edward Fairfax Rochester. Jane Eyre juga telah diadaptasi ke berbagai karya, termasuk difilmkan oleh Hollywood.

Dari kedua karya Brontë bersaudara ini, secara umum aku mengacungi jempol. Wuthering Heights dan Jane Eyre adalah karya sastra yang bagus dan layak untuk dibaca maupun ditonton. Namun secara pribadi, kedua karya ini terlalu kelam dan kasar untuk seleraku. Keduanya “bukan sejenis chick literature” kalau meminjam istilah temanku.

Novel Wuthering Heights sendiri isinya penuh dengan umpatan, makian, dan cemoohan. Tidak hanya banyak kata-kata kotor, namun banyak pula deskripsi kekerasan fisik maupun mental. Tokoh-tokohnya digambarkan keras dan kasar—baik tampilan fisik, perilaku, maupun bahasanya—terutama tokoh utama pria, yaitu Heathcliff. Baiklah, jika memang hendak mencari-cari alasan: Heathcliff memang anak Gypsy tanpa masa lalu yang dipungut oleh ayah Catherine dari jalanan, wajar saja jika dia kasar dan “tidak beradab”. Namun Catherine sendiri yang merupakan anak bangsawan, sama saja. Dia adalah gadis muda yang liar, seliar Heathcliff.

Nuansa Jane Eyre sendiri tak jauh beda dari Wuthering Heights, kasar dan kelam. Edward Fairfax Rochester mewakili seluruh kekasarannya. Jane pun bukanlah tokoh wanita yang digambarkan feminim. Sebaliknya, dia adalah sosok wanita yang berani dan keras.

Tidak seperti pria-pria dalam novel-novel Jane Austen yang bisa membuat para pembacanya jatuh cinta, tokoh-tokoh pria dalam novel-novel Brontë bersaudara ini digambarkan sebagai sosok yang kasar. Dan meski Heathcliff maupun Rochester tidak dideskripsikan sebagai pria buruk rupa, namun merekapun tidak dideskripsikan sebagai pria tampan maupun menarik—baik dari segi fisik maupun kepribadiannya. Menurut pendapatku, mereka lebih menggambarkan sosok pria-pria barbar. Big, macho, rough guys-type.

Namun jika diminta memilih diantara kedua novel ini, aku lebih menyukai Wuthering Heights daripada Jane Eyre, walaupun di Wuthering Heights, Emily Brontë gemar sekali mematikan tokoh-tokohnya. Dan sekalipun aku tidak terlalu menyukai kata-kata kotor di dalam novelnya, namun aku sangat menyukai filmnya. In my opinion, Wuthering Heights dan Jane Eyre adalah bentuk romantisme yang kasar.

So, here are the synopses:


Wuthering Heights:
Suatu hari ayah Hindley dan Catherine Earnshaw membawa pulang seorang anak Gypsy ke rumah mereka—Wuthering Heights—yaitu Heathcliff. Sejak saat itu Catherine dan Heathcliff tidak pernah terpisahkan. Mereka tumbuh dan bermain bersama dengan liar. Sementara itu, Hindley selalu memusuhi Heathcliff. Sepeninggal ayahnya, Hindley menurunkan derajat Heathcliff dari anak angkat menjadi pembantu.

Suatu hari saat sedang bertualang bersama Heathcliff, Catherine mengalami kecelakaan dan kakinya patah di dekat rumah keluarga Linton, Thrushcross Grange. Keluarga Linton pun merawatnya selama beberapa minggu hingga Catherine sembuh. Saat akhirnya pulang ke Wuthering Heights, Heathcliff mendapati Catherine telah berubah total. Dia tak lagi liar, melainkan telah menjadi seorang putri bangsawan yang elegan.

Kedekatan putra sulung keluarga Linton, Edgar, dengan Catherine terus berlangsung. Hingga suatu hari, Edgar pun melamar Catherine. Catherine sebenarnya sangat mencintai Heathcliff, namun dia tidak mungkin menikahi seorang budak pembantu yang kotor dan kasar. Maka diapun menerima lamaran Edgar, bangsawan kaya dari keluarga terhormat. Heathcliff yang sakit hati menghilang begitu saja seperti ditelan bumi. Catherine pindah rumah ke Thrushcross Grange.

Tiga tahun kemudian Heathcliff tiba-tiba kembali dalam keadaan kaya. Dia juga berhasil merebut kepemilikan Wuthering Heights dari Hindley yang kalah berjudi. Hindley menjadi pemabuk dan penjudi setelah istrinya meninggal saat melahirkan putera mereka, Hareton Earnshaw.

Mengetahui adik Edgar, Isabella, jatuh cinta padanya, Heathcliff pun mengajak dia kawin lari. Setelah itu Isabella—yang memang hanya dimanfaatkan Heathcliff untuk balas dendam kepada Catherine dan Edgar—dibiarkan merana dan menderita di Wuthering Heights. Catherine stress berat dan sakit keras. Tak lama setelah melahirkan seorang putri, diapun meninggal. Dari Isabella, Heathcliff memiliki seorang putra, bernama Linton Heathcliff.

Duabelas tahun kemudian, Heathcliff bertemu dengan anak Catherine yang diberi nama sama, Cathy. Saat itu, baik Isabella maupun Hindley telah meninggal dan Wuthering Heights telah menjadi milik Heathcliff seutuhnya. Namun dendam dan muslihat Heathcliff belum selesai. Dia memaksa Cathy untuk menikahi putranya yang lemah, Linton. Beberapa waktu kemudian ayah Cathy, Edgar Linton, pun meninggal. Cathy adalah pewaris satu-satunya Thrushcross Grange. Tak lama setelah menikah, Linton meninggal karena sakit. Surat wasiat yang dipaksa Heathcliff untuk ditandatangani Linton menyebutkan bahwa pewaris seluruh harta Linton—yaitu Thrushcross Grange—adalah Heathcliff.

Cathy tinggal di Wuthering Heights bersama Heathcliff dan Hareton—putra Hindley. Akhirnya, giliran Heathcliff-lah yang meninggal. Cathy menikah dengan Hareton Earnshaw. [THE END]


Jane Eyre:
Jane Eyre—anak yatim piatu yang dipelihara bibinya yang jahat—dikirim ke sebuah sekolah asrama. Dia tumbuh besar dan menjadi guru di sana hingga akhirnya takdir mengirim dia untuk menjadi pengasuh (yang konon adalah) anak Rochester, Adèle Varens, di Thornfield.

Rochester dan Jane saling jatuh cinta dan Rochester pun melamar Jane. Saat hendak melangsungkan pernikahan, tiba-tiba diketahui bahwa Rochester sudah memiliki istri, yaitu Bertha. Bertha adalah wanita gila yang selama ini dikurung Rochester di loteng.

Jane melarikan diri dan hilang ingatan. Dia ditemukan seorang pendeta dan dirawat olehnya beserta kedua saudara perempuannya yang ternyata adalah sepupu Jane Eyre. Ingatan Jane Eyre kembali pulih. John, sepupunya, mengabarkan bahwa Jane mendapatkan sejumlah besar warisan dari pamannya yang telah meninggal. Uang itu kemudian dipergunakan Jane untuk keperluan mereka berempat.

Jane kembali ke Thornfield untuk mencari Rochester dan mendapati Thornfield telah terbakar habis oleh Bertha yang gila. Bertha meninggal dan Rochester menjadi buta. Jane kembali bersama Rochester dan menikah. [THE END]

***Sinopsisnya sangat singkat, pertama karena intinya memang cuma segitu. Kedua, aku tidak terlalu berselera untuk menceritakannya dengan lebih detail & berbelit-belit.... hihihi.... Pokoknya cerita lengkapnya lebih ribet. Ada tentang masa lalu Rochester sampai dia mendapatkan Adèle (seorang anak gadis yang konon merupakan hasil hubungan gelap Rochester dengan seorang pelacur Prancis. Tapi kebenarannya mengenai siapa ayah Adèle sebenarnya masih diragukan.) Terus ada juga tentang wanita lain yang sebelumnya diduga ditaksir dan akan dinikahi oleh Rochester, padahal nggak. Terus ada juga cerita tentang John, si Pendeta sepupu Jane Eyre, yang melamar Jane Eyre, tapi ditolak. Bla bla bla... dan seterusnya.... dan seterusnya... hehehehe....

Buku:
Judul: Wuthering Heights
Penulis: Emily Brontë
Penerjemah: A. Rahartati Bambang Haryo
Penerbit: Qanita
Cetakan Pertama: Juni 2011


Sri Noor Verawaty

Pride and Prejudice

By: Sri Noor Verawaty


Rasa sukaku pada karya-karya Jane Austen dimulai ketika suatu hari aku pergi ke bazar buku dan melihat the famous “Pride and Prejudice” (pertama kali diterbitkan tahun 1813 di Inggris). Aku pun langsung membelinya dengan girang. Di rumah aku membaca buku itu dengan kecepatan yang luar biasa, sebanyak lebih dari 400 halaman dalam waktu hanya kurang dari 2 hari. Alasan pertama tentu saja karena penasaran, alasan lain karena bukunya memang enak dibaca dan ceritanya indah. Aku langsung jatuh cinta pada cerita dan tokohnya, terutama kepada sosok Darcy. Dan tentu saja Elizabeth (Lizzie).

Karena penasaran, aku mendownload dan menonton filmnya yang dibintangi oleh Keira Knightly sebagai Elizabeth Bennet dan Matthew Macfadyen sebagai Fitzwilliam Darcy (2005, directed by Joe Wright). Namun tak berhenti sampai di sana. Dikarenakan banyaknya endorsement dari banyak pecinta “Pride and Prejudice”, aku pun mendownload mini seri yang dibuat BBC pada tahun 1995 yang dibintangi oleh Colin Firth (Darcy) dan Jenneifer Ehle (Lizzie), directed by Simon Langton. Serial yang dibuat BBC lebih panjang, lebih rinci dan lebih “patuh” pada novelnya.

Sudah lama aku merasa berhutang untuk menulis tentang betapa indahnya cerita ini (atau betapa menggugahnya, atau romantisnya, just name it!). Tapi karena terlalu banyak hal yang ingin aku ceritakan, jadi semua ide itupun bertumpuk berantakan di dalam otakku dan tak tertuang ke dalam tulisan. Hingga dua jam lalu aku “diingatkan” kembali saat sedang menonton serial “No Ordinary Family”. Di salah satu adegannya, Daphne masuk ke ruang guru dan gurunya berkata, “Kalau kamu mau meminta bantuanku dengan tugas novel Pride and Prejudice, … bla bla bla.”

Adegan itu mengingatkanku pada dua adegan lain yang menyelipkan novel ini di dalamnya, yaitu film “Princess Diaries” (Anne Hathaway) dan film “You’ve Got Mail” (Meg Ryan dan Tom Hanks). Bahkan “You’ve Got Mail” konon dipengaruhi oleh novel Pride and Prejudice, seperti juga film “Bridget Jones’s Diary” (Renée Zellweger sebagai Bridget, Hugh Grant sebagai Daniel Cleaver, dan lagi-lagi Colin Firth sebagai Mark Darcy).

Di film “You’ve Got Mail”, Kathleen Kelly (Meg Ryan) hendak kopi darat dengan teman chat online misteriusnya. Dia duduk di café sambil membaca buku favoritnya, Pride and Prejudice. Kelly tidak tahu bahwa teman misteriusnya itu adalah musuh bebuyutannya yaitu Joe Fox (Tom Hanks), pemilik toko buku besar yang telah membuat toko buku kecilnya bangkrut. Dan saat akhirnya Fox datang (Fox tidak mengakui bahwa dialah teman chat online Kelly), merekapun membahas adegan favorit mereka di novel Pride and Prejudice.

Sedang di film “Princess Diaries”, Mia Thermopolis (Anne Hathaway) yang sedang dididik untuk menjadi putri yang elegan diharuskan membaca setumpuk karya sastra. Salah satu buku yang diserahkan kepada Mia adalah novel Pride and Prejudice.
Well okay, I’m sure there’s still a lot of movies featuring Pride and Prejudice in it.



Baiklah, inilah sinopsisnya:

Elizabeth Bennet (Lizzie) datang dari keluarga menengah, putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs Bennet. Dia mempunyai seorang kakak, Jane (yang tercantik dan yang paling baik diantara semua saudarinya), dan tiga adik, Mary (yang paling kolot dan “ga gaul”), Kitty, dan Lydia. Dua adik Lizzie yang terakhir adalah biang masalah. Sedangkan Lizzie sendiri digambarkan sebagai sosok yang periang dan pintar.

Karena kelima anak Mr. Bennet ini perempuan, maka hukum waris yang berlaku di Inggris pada masa itu menentukan bahwa seluruh harta Mr. Bennet jika dia meninggal nanti tidak akan jatuh ke pihak istri dan anak-anak perempuannya, melainkan ke pihak kerabat laki-laki terdekat dari Mr. Bennet. Dalam hal ini pada keponakan Mr. Bennet, yaitu Mr. Collins. Faktor besar inilah yang menjadi alasan Mrs. Bennet menginginkan menantu yang kaya bagi putri-putrinya, demi kelangsungan hidup mereka sepeninggal suaminya kelak.

Suatu hari Charles Bingley, seorang bujangan tampan dan kaya, menyewa rumah besar Netherfield di Hertfordshire. Bingley datang dengan adik-adik dan sahabatnya, Fitzwilliam Darcy. Singkat kata, Bingley jatuh cinta pada Jane yang cantik dan baik hati. Jane pun demikian pada Bingley. Sementara itu Darcy dan Lizzie mulai bermusuhan. Diawali dengan kalimat angkuh Darcy pada Bingley yang tak sengaja terdengar oleh Lizzie. Darcy berkata bahwa Lizzie “lumayan juga, tapi tidak cukup cantik untuk membuatku tergoda.”

Jika Bingley adalah pribadi yang ramah dan menyenangkan, maka sahabatnya adalah kebalikannya. Darcy adalah sosok pria tampan misterius yang angkuh dan dingin. Walaupun penghasilannya dua kali lipat dari Bingley dan dia memiliki setengah tanah di Derbyshire dan sebuah rumah mewah, yaitu Pemberley, hal itu tidak membuat Lizzie terkesan. Namun perlahan-lahan perasaan Darcy pada Lizzie justru berubah.

Suatu hari Mr. Collins—si ahli waris harta Mr. Bennet—datang dan mengajukan penawaran untuk menikahi salah satu putri keluarga Bennet. Mengingat tawaran itu menjanjikan anak-anak keluarga Bennet untuk tetap bisa menghuni rumah mereka sepeninggal Mr. Bennet kelak, maka Mrs. Bennet pun mengajukan Lizzie untuk Collins. Namun Lizzie bersikeras menolak Collins. Saat itu Lizzie sedang dekat dengan George Wickham. Collins akhirnya menikah dengan sabahat Lizzie, Charlotte Lucas.

Wickham adalah seorang opsir yang tampan dan menyenangkan. Dari pertemuannya yang tanpa sengaja dengan Darcy, terungkaplah bahwa dia dengan Darcy memiliki sedikit “urusan” di masa lalu. Wickham bercerita pada Lizzie bahwa ayah Darcy menganggapnya seperti anak sendiri, namun saat beliau meninggal, Darcy pun mendepak Wickham. Cerita Wickham membuat Lizzie semakin berprasangka pada Darcy yang angkuh.

Bingley yang diharapkan akan segera melamar Jane, tiba-tiba saja pergi ke London tanpa ada rencana kembali ke Netherfield. Jane pun pergi ke rumah tantenya di London untuk menenangkan diri. Sedangkan Wickham yang semula mengejar-ngejar Lizzie, malah berpaling pada Miss King yang tidak cantik namun akan mewarisi sejumlah harta kekayaan.

Lizzie diundang Charlotte dan Collins untuk mengunjungi rumahnya di Kent. Patron pendeta Collins adalah Lady Catherine de Bourgh, yang tak lain adalah tante dari Darcy. Maka Lizzie pun kembali bertemu dengan Darcy di sana. Dari perbincangannya dengan sepupu Darcy, yaitu Kolonel Fitzwilliam, Lizzie tanpa sengaja mengetahui bahwa Darcylah yang telah memisahkan Bingley dari Jane. Mengetahui ini Lizzie merasa sangat marah.

Darcy yang telah berjuang keras untuk melawan perasaannya pada Lizzie, akhirnya tak dapat lagi menahan diri. Melawan akal sehatnya, dia pun melamar Lizzie yang status sosial dan kekayaannya jauh di bawah Darcy. Namun Lizzie menolak dengan marah dan mengkonfrontasi Darcy dengan tuduhan bahwa Darcylah yang telah memisahkan Jane dari Bingley dan membuat Jane patah hati dan sangat menderita. Lizzie juga mengungkit-ungkit bahwa Darcy telah mendepak Wickham dan tidak memberikan hak warisan bagian Wickham seperti yang diperintahkan mendiang ayahnya.

Darcy mundur. Sebelum pergi dari Kent, dia memberikan sepucuk surat pada Lizzie yang isinya adalah penjelasan mengenai dua tuduhan yang diajukan Lizzie. Wickam ternyata penipu bermulut manis. Sedangkan untuk masalah Jane, Darcy memang menyarankan Bingley untuk mundur karena Darcy melihat Jane tampak dingin dan tidak tertarik pada Bingley. Lizzie terhenyak saat membaca surat ini dan pandangannya tentang Darcy pun berubah. Tak lama setelah itu, dia kembali pulang ke rumahnya.

Om dan Tante Lizzie, yaitu Mr. dan Mrs. Gardiner mengajak Lizzie pelesir ke daerah Derbyshire. Mereka menyempatkan diri untuk mampir dan melihat-lihat Pemberley, rumah Darcy, yang saat itu diduga sedang tidak ditinggali pemiliknya. Namun tanpa diduga, di sana Lizzie bertemu dengan Darcy yang pulang sehari lebih awal dari rencananya. Di sini Darcy dan Lizzie seperti memulai semuanya dari awal yang baru. Lizzie sudah tidak memiliki prasangka buruk lagi pada Darcy, dan Darcy yang dulu angkuh kini jauh lebih ramah. Darcy memperkenalkan Lizzie pada adiknya, Georgiana. Namun awal yang indah ini tak berlangsung lama, terpotong oleh sepucuk surat dari Jane yang memberitakan bahwa adik bungsu mereka, Lydia, telah kabur dengan Wickham.

Bersama om dan tantenya, Lizzie pun pulang ke Hertfordshire. Aib telah ditorehkan Lydia bagi seluruh putri keluarga Bennet. Dengan adik yang kabur bersama seorang pria, tidak mungkin lagi ada pria terhormat apalagi kaya yang akan mau menikahi putri-putri keluarga Bennet. Pupuslah harapan Lizzie akan Darcy.

Dengan bantuan Mr. dan Mrs. Gardiner, Lydia pun dinikahkan dengan Wickam di London. Namun tanpa sengaja Lydia sendirilah yang membocorkan rahasia bahwa ternyata Darcylah yang telah berjasa menemukan mereka, membayar maskawin dan seluruh hutang Wickham, bahkan merancang pekerjaan bagi Wickham di Newcastle. Lizzie yang mengetahui ini semakin kaget. Perasaan bencinya pada Darcy telah berubah 180 derajat.

Bingley kembali ke Nerherfield di Hertfordshire. Setelah meluruskan kesalahpahaman, Bingley melamar Jane. Dan Darcy pun melamar Lizzie yang diterima Lizzie dengan perasaan bahagia. [THE END]


Nice, huh?
Dari seluruh novel Jane Austen, Pride and Prejudice adalah favoritku. And in my humble opinion, of all charming, macho and rich guys in Austen’s novels (Edward Ferrars and Colonel Christopher Brandon in Sense and Sensibility—1811, Edmund Bertram in Mansfield Park—1814, George Knightley in Emma—1815, Henry Tilney in Northanger Abbey—1818, and Captain Frederick Wentworth in Persuasion—1818), Mr. Darcy is my favorite of all. Pride and Prejudice is the most romantic story I’ve ever read. I adore it so much. I love the book, I love the film, and I love the mini series. And most of all, I LOVE DARCY!

Buku:
Judul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Qanita
Cetakan pertama: Februari 2011



Friday, January 13, 2012

Enid Blyton: a Psycho or a Hypocrite?

By: Sri Noor Verawaty


Siapa yang tak kenal dengan Enid Blyton (11 Agustus 1897 – 28 November 1968), penulis wanita legendaris asal Inggris yang telah menelurkan 753 judul atas nama dia dalam kurun waktu 45 tahun. Enid Blyton memiliki nama pena Mary Pollock, diambil dari nama suami pertamanya, yaitu Hugh Alexander Pollock. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 90 bahasa. Beberapa buku Blyton yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia antara lain adalah serial “The Famous Five” (1942-1963) yang diterjemahkan menjadi “Lima Sekawan”, serial “Malory Towers” (1946-1951), serial “The Secret Seven” (1949-1963) atau “Sapta Siaga” dalam bahasa Indonesianya, serial “St. Clare's” (1941-1943), serial “Noddy”, dan beberapa judul lainnya. Aku tumbuh dengan membaca cerita-cerita Enid Blyton, dan kini kuwariskan buku-buku Blyton untuk putri 4 tahunku.

Beberapa minggu lalu aku menonton film biografi Enid Blyton dengan judul “Enid” yang dibuat oleh BBC tahun 2009. Film ini diperankan oleh Helena Bonham Carter (sebagai Enid Blyton), Matthew Macfadyen (sebagai suami pertama Blyton, Hugh Pollock), dan Denis Lawson (sebagai suami kedua Blyton, Kenneth Darrell Waters). Menonton film ini membuatku merasa benar-benar kaget. Aku merasa dicurangi oleh Enid Blyton, oleh cerita-cerita yang ditulisnya dan oleh keyakinan masa kecilku tentang bagaimana pribadi Blyton sesungguhnya.

Telah kusebutkan sebelumnya, aku tumbuh dengan membaca cerita-ceritanya. Selain serial Alfred Hitchcock (Trio Detektif), buku-buku Blyton adalah favoritku. Yang paling banyak aku baca adalah petualangan Lima Sekawan dan Malory Towers. Buku-buku Blyton adalah salah satu memori indah di masa kecilku. Di dalam bayangan dan harapanku, Enid Blyton adalah seorang wanita (aku pernah menyangka dia adalah seorang laki-laki) tua yang lembut, baik hati dan menyenangkan. Namun setelah menonton film Enid, aku jadi mempertanyakan siapakah Enid Blyton sesungguhnya? Apakah dia seorang psycho atau hipokrit?

Enid Blyton lahir pada tanggal 11 Agustus 1897 di Lordship Lane 354, London, Inggris. Dia adalah putri pertama dari Thomas Carey Blyton (1870–1920) dan istrinya Theresa Mary Harrison Blyton (1874–1950). Blyton memiliki dua adik laki-laki, yaitu Hanly (1899–1983) dan Carey (1902–1976). Di film “Enid”, diceritakan bahwa suatu hari ayah Blyton meninggalkan rumah setelah bertengkar dengan ibunya. Kejadian ini membuat Blyton tidak pernah memaafkan ibunya karena Blyton adalah anak kesayangan sang ayah. Saat beranjak dewasa, Blyton meninggalkan rumah untuk bersekolah menjadi guru dan sejak itu pula dia tidak pernah lagi pulang. Pada semua orang Blyton mengaku bahwa ibunya sudah meninggal. Dia juga tidak pernah mengakui lagi adik-adiknya. Blyton selalu mendeskripsikan ayahnya sebagai pria yang sempurna, walaupun menurut Hanly—adik Blyton—penyebab ayahnya bertengkar dengan sang ibu dan pergi meninggalkan mereka adalah karena dia berselingkuh dengan wanita lain.

Perjuangan menulis Blyton dimulai saat dia mulai memasukkan tulisan-tulisannya ke sejumlah penerbit. Akhirnya sebuah penerbit menerima karya Blyton. Dan di sini pulalah dia bertemu dengan suami pertamanya, Mayor Hugh Pollock, seorang verteran perang. Tak lama kemudian Blyton dan Pollock pun menikah. Blyton memiliki masalah dengan rahimnya yang membuat dia mengalami kesulitan untuk mengandung. Namun akhirnya Blyton berhasil melahirkan dua orang putri, yaitu Gillian Mary Baverstock (15 Juli 1931 – 24 Juni 2007) dan Imogen Mary Smallwood (lahir tanggal 27 Oktober 1935). Pernikahan pertama Blyton dengan Pollock diwarnai dengan sejumlah perselingkuhan Blyton.

Blyton yang selalu ramah dan hangat pada anak-anak fans buku-bukunya—yang dia sebut sebagai “teman-teman kecilnya”—tidak pernah hangat pada putri-putrinya sendiri. Blyton bersikap keras pada Gillian dan Imogen, bahkan sejak mereka masih bayi. Berlawanan sekali dengan sikap yang dia tunjukkan pada anak-anak yang menjadi fansnya. Suatu sore Blyton mengundang sejumlah anak ke rumahnya untuk minum teh. Mereka bersenang-senang dan tertawa-tawa, sementara Gillian dan Imogen duduk diam di tangga. Blyton malah menyuruh pengasuh untuk “menyingkirkan” mereka berdua ke kamarnya di lantai atas. Blyton tak pernah ada waktu untuk kedua putrinya. Sepanjang hari dia mengetik dan mengetik cerita indah untuk anak-anak lain. Gillian pun dia kirim ke sekolah asrama.

Saat perang pecah kembali, Mayor Pollock pergi ke medan perang. Blyton sama sekali tidak bersimpati pada peristiwa yang terjadi di luar sana maupun pada pilihan suaminya untuk membela negara. Blyton tetap hidup di dalam dunia fantasinya, melanjutkan menulis di rumah besarnya yang nyaman dan berselingkuh dengan para lelaki. Setiap kali dia menghadapi peristiwa mengecewakan dalam hidup, dia akan melarikan diri ke dalam dunia fantasinya yang selalu indah. Blyton mengubur diri di sana.

Satu perselingkuhan yang memicu perceraian Blyton adalah dengan seorang dokter gigi yang sudah beristri, Kenneth Darrell Waters. Perselingkuhan ini cukup serius hingga membuat Blyton meminta cerai dari Pollock. Blyton memperalat Pollock dan mengajukan tawaran bahwa Pollock akan diperbolehkan untuk bertemu dengan kedua putrinya kapanpun dia mau, tapi dengan sarat perceraian itu didasari alasan bahwa Pollocklah yang melakukan perselingkuhan, bukan dia. Blyton berdalih, jika publik mengetahui dialah yang berselingkuh, maka reputasi dia pasti akan hancur lebur. Dengan iming-iming akses yang tak terbatas untuk bertemu dengan kedua putrinya, Pollock pun setuju. Namun setelah bercerai, Blyton mengingkari janji dan malah menutup akses Pollock pada kedua putrinya sama sekali. Setelah menikah dengan Waters, Blyton pun mengirim putri keduanya ke sekolah asrama.

Itulah sejarah hidup Enid Blyton yang sama sekali bertolak belakang dengan bayanganku di masa kecil tentang seorang wanita tua lembut yang baik hati dan menyenangkan. Di sinilah aku merasa dikhianati. Oleh Blyton dan oleh prasangkaku sendiri tentang kebaikannya. Membuatku mempertanyakan kembali semuanya. Setelah melihat film “Enid”, sudut pandangku terhadap Blyton berubah 180 derajat. Aku mencap dia tak lebih dari seorang wanita psycho. Dan karya-karyanya tak lebih dari sekadar kemunafikan. Aku sangat kecewa.

Beberapa hari kemarin aku pulang ke rumah ibuku dan menemukan buku-buku lama milikku sewaktu kecil dulu. Salah satu diantaranya adalah buku karya Enid Blyton yang berjudul “Cermin Ajaib dan Cerita-Cerita Lainnya.” Sudah sekitar tiga malam ini aku membacakan cerita-cerita pendek di dalamnya untuk putriku. Setiap cerita yang kubaca, membuatku merasa lebih baik dan pelan-pelan mengembalikan rasa hormatku pada seorang Enid Blyton. Tak bisa dipungkiri memang, dia adalah seorang pengarang yang hebat. Terlepas dari bagaimanapun kehidupannya dulu, cerita-cerita yang Blyton tulis memang luar biasa. Menyenangkan, seru, dan penuh pesan moral. Terlepas dari bagaimanapun karakter Blyton sesungguhnya, cerita-cerita Blyton memang layak dibaca oleh kita dulu dan oleh anak-anak kita kini.

Sri Noor Verawaty

Thursday, June 23, 2011

To Kill a Mockingbird

By: Sri Noor Verawaty

Judul: To Kill a Mockingbird
Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Qanita
Terbit: Maret 2006

Jika disodori buku, pilihan pertamaku akan jatuh kepada buku-buku bertema detektif, petualangan, dan persidangan. Mungkin karena aku dibesarkan bersama buku-buku Trio Detektif (Alfred Hitchcock), Lima Sekawan (Enyd Blyton), STOP—Sporty, Thomas, Oscar, Petra (Stefan Wolf). Walaupun setelah dewasa pilihan bukuku semakin banyak, namun To Kill a Mockingbird adalah sejenis tema yang sepertinya tidak akan terlalu aku lirik.

Hanya saja dari sejumlah buku yang aku baca, judul “To Kill a Mockingbird” ini sangat sering disebut-sebut, entah itu di dalam ceritanya sendiri, atau oleh para endorser yang membandingkan buku tertentu dengan To Kill a Mockingbird. Jadi, buku ini pun cukup terngiang-ngiang di dalam pikiranku hingga akhirnya Penerbit Qanita Mizan menerjemahkan dan menerbitkannya dalam bahasa Indonesia.

Rasa penasaran menggelitikku untuk membaca buku yang terkenal ini. Dan ternyata tak heran jika buku ini memenangkan Pulitzer (1961). Walaupun tidak ada klimaks yang menegangkan di sepanjang ceritanya, namun pengarang menulis keseluruhan kisah ini dengan indah. Mengalir tenang penuh harmoni. Diceritakan dengan sudut pandang seorang gadis kecil bernama Scout Finch. Dia dididik untuk selalu mengatakan kebenaran oleh ayahnya. Hingga suatu pagi, sang ayah yang berprofesi sebagai pengacara, mengambil kasus pemerkosaan seorang gadis kulit putih oleh tersangka kulit hitam. Pada masa itu, masalah sara adalah sesuatu yang menjadi isu besar. Karena membela klien berkulit hitam, Atticus Finch yang berkulit putih pun dimusuhi oleh seluruh penduduk kota, bahkan keselamatan Scout dan Jem, kakaknya, ikut terancam. Namun kebenaran harus tetap ditegakkan, apalagi saat Atticus Finch mengetahui bahwa kliennya ternyata tidak bersalah.

Buku ini menggambarkan konflik sara yang keras, mengajarkan kemanusiaan, memperlihatkan pertentangan nilai. Pergulatan hitam dan putih, kebenaran sejati atau kepentingan orang banyak. Dimana toleransi ras dan chauvinisme membutakan akal sehat dan pendapat mayoritas adalah kebenaran mutlak.

Meskipun konflik sara di masa kini tidak sebrutal di masa buku ini dibuat, namun To Kill a Mockingbird adalah kisah yang tak lekang oleh jaman. Buku ini adalah buku sastra yang sangat saya anjurkan untuk dibaca. Two tumbs up!

Sri Noor Verawaty

The Grape of Wrath

By: Sri Noor Verawaty

Judul: The Grape of Wrath
Penulis: John Steinbeck

Saya berharap banyak dari buku pemenang Pulitzer (1940) yang satu ini. Buku ini mengisahkan pergolakan di jaman The Great Depression di Amerika, sekitar tahun 1930an. Pada masa itu sejumlah besar orang bermigrasi ke California untuk menggarap perkebunan jeruk. Demikian pula dengan seorang pria bernama Tom Joad yang menjual seluruh kekayaannya yang tidak banyak, memuat semua harta benda yang tersisa ke dalam sebuah truk butut bersama seluruh anggota keluarganya. Mereka berkendara dari Oklahoma ke California untuk bermigrasi dengan harapan akan penghidupan yang lebih baik. Dari selebaran yang meginformasikan bahwa di California terdapat perkebunan-perkebunan besar yang mencari tenaga kerja dengan iming-iming upah yang tinggi.

Selama perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan itu, banyak sekali konflik yang terjadi. Sang kakek yang meninggal, nenek yang menyusul, anak yang berpisah. Namun Tom Joad tidak punya pilihan lain selain untuk melanjutkan perjalanan. Toh tidak ada apapun miliknya yang masih tersisa di Oklahoma. Di perjalanan mereka mulai bertemu dengan sejumlah orang yang hendak pergi ke California dan berpapasan dengan sejumlah orang yang pulang dari sana yang membawa berita buruk.

Setelah sampai di Barat, bukannya dihadapkan dengan pekerjaan di perkebunan yang bisa menjamin kehidupan keluarganya, ternyata mereka malah berhadapan dengan sejumlah besar orang yang mendirikan tenda-tenda bagaikan barak pengungsian. Ribuan orang yang terdampar, tak berumah, tak bekerja, terserak sepanjang mata memandang. Tak ada lagi lowongan pekerjaan. Tak ada yang bisa digarap. Takkan ada sumber penghasilan. Tak ada tempat tinggal. Entah makan apa esok hari. Entah apa yang harus dilakukan. Untuk kembali ke Oklahoma pun terlalu jauh dan tidak ada yang tersisa di sana. Perbekalan mereka telah ludas, uang mereka telah tandas, harapan mereka telah musnah. Mereka tidak punya apa-apa lagi untuk hidup.

Begitulah. Endingnya hampa dan dingin. Menggantung dalam ketidakpastian.

Masa Depresi Besar adalah masa yang sangat bersejarah bagi warga Amerika. Tapi untuk saya yang tidak memahami apa yang terjadi dan terasa di masa itu, The Grape of Wrath hanyalah sebuah novel fiksi yang tidak memiliki ikatan sentimentil sejarah dengan saya.

Sri Noor Verawaty