Showing posts with label Translation Stuffs. Show all posts
Showing posts with label Translation Stuffs. Show all posts

Monday, February 4, 2019

Kuliah Jumat Kontenesia: Belajar Menerjemahkan



Menurut Newmark ada beberapa jenis penerjemahan, yaitu:

1. Penerjemahan kata demi kata. Jadi setiap kata diterjemahkan secara berurutan tanpa memperhatikan konteks maupun gramatika bahasa tujuan.

2. Penerjemahan harfiah. Ini juga sama seperti yang pertama, yaitu terjemahan kata per kata yang tidak mempertimbangkan konteks, tetapi sudah menyesuaikan gramatika bahasa tujuannya.

3. Penerjemahan setia. Ini adalah terjemahan yang struktur kalimatnya masih mengikuti struktur gramatika bahasa sumber (Bsu).

4. Penerjemahan semantik. Ini adalah penerjemahan yang berusaha lebih menyesuaikan makna dari bahasa sumber (Bsu) ke bahasa sasaran (Bsa).

5. Penerjemahan adaptasi. Ini adalah bentuk penerjemahan bebas. Jadi unsur-unsur budaya dalam BSu sudah dilokalkan ke dalam budaya dalam BSa.

6. Penerjemahan bebas. Ini adalah penerjemahan yang lebih mengutamakan isi kontennya.

7. Penerjemahan idiomatik. Ini terjadi kalau ungkapan idiomatik dari BSu diterjemahkan menjadi ungkapan biasa karena tidak ada padanannya.

8. Penerjemahan komunikatif. Ini adalah penerjemahan yang mengutamakan makna kontekstualnya.

Sebelum mengambil pekerjaannya, ada beberapa hal yang harus kalian lakukan, yaitu:

Baca sekilas untuk menentukan apakah kalian mampu menerjemahkan bahan tersebut.
Hal-hal yang harus diperhatikan saat membaca sekilas:


1. Tema besarnya 
Misalnya “Fotografi”. Apakah kalian familiar dengan tema ini?
o Kalau jawabannya “sangat familiar”: ambil, tapi tetap cek bahannya.

o Kalau jawabannya “agak familiar”: periksa apakah bahannya sangat teknis dan spesifik? Kalau ya dan kalian ga yakin, lebih baik jangan diambil. Kalau tidak dan bahasannya masih sangat umum, ambil.
o Kalau jawabannya “sama sekali tidak familiar”: lebih baik jangan ambil pekerjaannya daripada hasilnya “buzuk” dan bikin nama kamu rusak.


2. Tingkat kesulitan bahasa
Apakah bahasanya berbelit-belit, strukturnya bertingkat-tingkat, kosakatanya terlalu teknis atau asing?
o Kalau jawabannya ya: ukur kemampuan kalian. Mampukah kalian mengolahnya?
o Kalau jawabannya tidak: lanjut!

Kalau sudah siap, hal berikutnya adalah menyiapkan alat perang:


Siapkan alat perang:
- Internet untuk online
- Kamus Inggris > Indonesia, misalnya. Kamus padanan bahasa ini wajib dibuka saat menerjemahkan. Penerjemah yang jago ga berarti “penerjemah yang sudah bisa menerjemahkan tanpa kamus”, lo.
Minimal buka https://translate.google.com atau http://www.kateglo.com/.
- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk mencari tahu penulisan yang benarnya dalam bahasa Indonesia. https://kbbi.kemdikbud.go.id/
- Kamus Inggris – Inggris untuk mencari tahu penjelasan kata atau arti idiom, dll. http://www.thefreedictionary.com/
- Kamus sinonim kata untuk mencari tahu persamaan kata agar terjemahan kita tidak terasa monoton. http://www.sinonimkata.com/
- Kamus istilah tertentu sesuai tema yang akan diterjemahkan.
- Mesin pencari Google untuk mencari segala hal yang kalian butuhkan.


Sekarang kita bahas dulu teknik penerjemahannya, ya:


Ada banyak cara teknik yang bisa kita pakai buat menerjemahkan. Kita bahas satu per satu.

A. Teknik Penerjemahan Langsung

Teknik ini digunakan jika elemen struktural dan konseptual bahasa sumber (BSu) bisa ditransposisikan ke dalam bahasa sasaran (BSa). Teknik ini terdiri dari:

1. Peminjaman 
Yaitu peminjaman kata dari BSu yang dilokalkan langsung ke dalam BSa.
Contoh:
- Budget > bujet
- Furniture > furnitur
- Extreme > ekstrem
- Cyan > sian

2. Kalke 
Yaitu penerjemahan literal, apa adanya, kata per kata.
Contoh:
- Googling > googling
- Blogger > blogger
- Assistant manager > asisten manajer
- Internet > internet

3. Penerjemahan harfiah 
Yaitu menerjemahkan kata per kata tanpa mempertimbangkan konteks.
Contoh:
- A good beginning makes a good ending > Awal yang baik akan berakhir baik.
- A journey of a thousand miles begins with a single step > Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah.

B. Teknik Penerjemahan “Oblique”


Teknik terjemahan “oblique” ini digunakan ketika elemen struktural dan konseptual bahasa sumber tidak bisa diterjemahkan langsung ke dalam tanpa mengubah makna atau elemen gramatika dan gaya bahasa bahasa sasaran.
Teknik ini antara lain:

1. Transposisi 
Yaitu mengubah kategori gramatikal, seperti mengubah kata menjadi frasa atau bisa juga mengubah kelas kata.
Contoh:
- Brainstorming (kata benda – kata kerja) > curah pendapat (kata kerja – kata benda)
- Nursery (kata) > kebun pembibitan (frasa)
- young plant (frasa) > anakan (kata)
- Maintenance (kata benda) of the resistant varieties is easier > Memelihara (kata kerja) varietas yang resistan akan lebih mudah.

2. Modulasi 
Yaitu mengubah sudut pandang frasa secara leksikal maupun struktural untuk menyampaikan ide yang sama.
Contoh:
- She’s not only smart, but also beautiful (bentuk negatif) > Dia pintar juga cantik (bentuk positif)
- I couldn’t agree more (bentuk negatif) > Saya setuju (bentuk positif).

3. Reformulasi atau ekuivalen 
Yaitu penerjemahan yang mengubah bentuk menjadi sesuatu yang sangat berbeda, tetapi tetap mengandung makna yang sama. Misalnya saat menerjemahkan idiom atau slogan.
Contoh:
- Don’t get left in the dark! > Jangan sampai ketinggalan! (slogan)
- A barking dog never bites > Air beriak tanda tak dalam (idiom)

4. Teknik adaptasi budaya 
Karena menerjemahkan itu bukan hanya mengalihbahasakan, tetapi juga mentransfer makna dan budaya, jadi harus ada adaptasi dari budaya sumber ke budaya sasaran. Teknik adaptasi ini digunakan jika sesuatu di dalam bahasa sumber diekspresikan dalam cara yang sama sekali berbeda yang sudah lazim digunakan dalam budaya bahasa sasaran.
Contoh:
- from top to toe > dari kepala sampai kaki
- when in rome do as the romans do > lain ladang lain belalang
- over the counter drugs > obat bebas
- life threatening danger > bahaya yang mengancam jiwa

5. Kompensasi 
Yaitu mengganti sebuah istilah dari bahasa sumber ke dalam istilah yang lebih lazim digunakan di dalam konteks bahasa sasaran.
Contoh:
- A PINCH of salt > sejumput garam (bukan “secubit garam”)
- She buys DOZENS of flowers. > Dia membeli puluhan kuntum bunga. (bukan “lusinan bunga”)
- They’ve been living here over A DECADE. > Mereka sudah tinggal di sini lebih dari sepuluh tahun. (bukan “satu dekade” walaupun ini masih berterima).

C. Teknik Penerjemahan Lainnya


1. Amplifikasi (penambahan) 
Yaitu memparafrasakan informasi menjadi lebih eksplisit di dalam bahasa sasaran untuk lebih memperjelas artinya.
Contoh:
- succulent > sukulen, yaitu tumbuhan berdaging tebal
- a perennial plant > tumbuhan parenial, yaitu tumbuhan yang menghijau sepanjang tahun

2. Amplifikasi linguistik 
Yaitu menambahkan unsur-unsur linguistik ke dalam BSa.
Contoh:
- No! > Tidak bisa begitu!
- Go away! > Enyah kau sekarang juga!

3. Kompresi linguistik 
Yaitu mengurangi (mempersingkat) unsur-unsur linguistik dalam bahasa sasaran.
Contoh:
- Watch out! > Awas!
- Are you sure about that? > Beneran?/Ciyus? (versi alay)
Kalau dalam bahasa Jerman itu seperti:
- Escuse me? > Bitte?
- You are welcome! > Bitte!”

4. Reduksi 
Yaitu penghilangan secara parsial.
Contoh:
- Holy month in Islam > Ramadan
- Horseback riding > berkuda
-  Prayer mat > sajadah
- Rice field > sawah
Atau sebaliknya, dari Indonesia ke Inggris:
- Musim dingin > winter
- Musim panas > summer

5. Deskripsi 
Digunakan untuk menggantikan “istilah yang asing” dengan “deskripsinya”.
Contoh:
- alizarin crimson > warna merah yang bias sedikit ke arah ungu
- rose madder genuine > pigmen warna merah yang lembut dan pekat
- humidifier > mesin pelembap udara

6. Kreasi diskursif 
Yaitu penggunaan padanan yang jauh dari konteks aslinya, biasanya digunakan dalam penerjemahan karya sastra.
Contoh:
- He’s a kungfu master > Dia adalah dewa kungfu.

7. Padanan lazim 
Yaitu penggunaan istilah yang sudah lazim dalam bahasa sasaran.
Contoh:
- Dear Mrs. XYZ > Yang terhormat Ibu XYZ
- Best regards > salam

8. Generalisasi 
Yaitu penggunaan istilah yang lebih umum pada bahasa sasaran karena tidak ada padanannya.
Contoh:
- Mansion > rumah besar
- Quilt > selimut

9. Partikularisasi 
Yaitu penggunaan istilah yang lebih konkret atau spesifik.
Contoh:
- Vehicle > mobil

10. Subsitusi 
Yaitu mengubah unsur linguistik seperti dari bahasa lisan menjadi bahasa isyarat.
Contoh:
- Gelengan kepala = “tidak/bukan”


Nah, setelah mengetahui teknik-tekniknya, yuk kita mulai bekerja:


Terjemahkan! 
- Baca kalimat dalam bahasa asli dengan hati-hati sebelum menerjemahkan. Jangan sampai salah membaca sebuah kata karena artinya bisa berbeda. Misalnya: ternyata kata yang benar adalah “stimulate” dan bukan “simulate”.

- Perhatikan konteks. Misalnya "mask”, apakah konteksnya cocok dengan terjemahan “masker” atau justru “topeng”?


- Untuk mengetahui konteks, baca kembali kalimat sebelumnya atau kalimat sesudahnya.

- Lokalkan istilah-istilah yang bisa dilokalkan. Misalnya: gadjet > gawai; browser > peramban.

- Kalau kalian kesulitan mengartikan sebuah kalimat yang panjang dan kompleks, sederhanakan dahulu kalimat tersebut konstruksi dasarnya: subjek, verba, objek, keterangan.

- Variasikan kata-kata dengan sinonimnya agar tidak terasa monoton. Misalnya: “menatap, memandang, melihat”.

- Googling istilah-istilah yang asing dan cari tahu maknanya. Wikipedia adalah salah satu sumber yang bisa diandalkan.

- Berkonsultasilah dengan pakar di bidangnya untuk istilah-istilah tertentu.

- Cari arti idiom dan temukan padanan yang tepat dalam bahasa tujuannya. Jangan menerjemahkan idiom secara harfiah.

- Tandai bagian yang masih kalian ragukan atau belum kalian temukan padanannya untuk dicek lagi nanti.

- Konversilah ukuran panjang, massa, volume, temperatur, luas, & mata uang dari bahasa sumber ke ukuran yang lazim digunakan di bahasa sasaran. Misalnya: “10 miles” > “16 meter”.

- Cek tautan ini: http://sundaymorningstory.blogspot.com/2014/01/jangan-menerjemahkan-secara-harfiah.html


Kalian belum selesai. Ada satu langkah terakhir sebelum menyerahkan hasil terjemahan:


Editlah untuk memeriksa tingkat keterbacaan!- Periksa dan bandingkan teks terjemahan dengan teks asli. Apakah ada bagian yang terlewat?
- Ubah kalimat-kalimat yang masih terasa janggal. Lokalkan!
- Berikan nilai rasa yang lebih tepat pada terjemahan kalian.
  Contoh: "kecil" > "mungil".
- Potong kalimat yang terlalu panjang.
- Buang kata-kata redundan. Hindari pemborosan.
- Periksa ejaan bahasa Indonesia yang benar di KBBI.
- Bersihkan saltik (salah ketik/typo).
- Betulkan tanda baca, huruf kapital, cetak miring, dan cetak tebal.
- Rapikan format pengetikan.

***


Praktik Nerjemahin, yuk!


Kita mulai praktik, ya. Aku mengambil sebuah artikel dari wikiHow: "How to Control Black Spot on Roses".
Kita akan ambil contoh kalimat dari sana & mencoba menerjemahkannya berdasarkan teori yang udah kita bahas sebelumnya.

Yuk, kita mulai dengan kalimat pertama:

Controlling black spot on roses is crucial to any rose grower.
Baca kalimat pertama. Ada istilah apa sih yang penting di situ?
> “black spot”.
Cari tahu apa padanan terjemahan yang udah biasa dipakai buat frasa ini. Nama-nama penyakit biasanya udah ada & kita ga boleh nentuin sendiri.

Kalau temen-temen googling, atau minimal membuka Kateglo, ternyata “black spot” ini terjemahannya adalah “bercak hitam”, bukan “titik hitam” atau “bintik hitam” atau noda hitam. Jadi, kita pakai istilah yang sudah lazim digunakan dalam dunia pertaniannya, ya.
http://www.kateglo.com/?mod=glossary&op=1&phrase=black+spot&dc=&lang=&src=&srch=Cari
**
Kalimat pertama ini meletakkan keterangan di depan (mengontrol bercak hitam pada bunga mawar) di awal & subjeknya jauh di belakang (rose grower).
Boleh saja terjemahannya disesuaikan sama struktur kalimat asal:

“Mengontrol bercak hitam pada mawar adalah penting bagi semua penanam mawar.”
Tapi berasa kaku ga sih?
Coba dilokalkan. Boleh mengubah urutan struktur, boleh menambahkan kata-kata buat melengkapinya.
>> Contoh: 
- Mengontrol bercak hitam adalah langkah yang penting diketahui oleh semua penanam mawar.
- Sebagai pemilik bunga mawar, Anda harus mengetahui cara mengendalikan penyakit bercak hitam.
**

Lanjut...

Black spot is a fungal disease characterized by black spots on the upper side of leaves.
Di sini frasa “black spot” disebut dua kali. Bisa saja terjemahannya jadi: “Bercak hitam adalah penyakit jamur yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak hitam pada sisi atas daun.”
Tapi kita sudah belajar soal “kalimat efektif” http://sundaymorningstory.blogspot.com/2019/02/kalimat-efektif.html
Poin: Kalimat yang efektif itu harus hemat kata/frasa. Jangan ada redundansi. > Caranya: Tidak boleh ada kata yang sama di dalam sebuah kalimat.

Jadi, kita bisa ganti frasa “black spot” yang kedua dengan kata-kata lain, karena frasa kedua ini ga menunjukkan nama penyakit, tetapi deskripsinya. Jadi, boleh diganti. Kalau nama penyakitnya sih ga boleh diganti-ganti, ya. Harus pake terjemahan yang sama dari awal sampai akhir.

Nah, ada ide diganti dengan kata apa terjemahannya?

>> Contoh:
- Bercak hitam adalah penyakit jamur yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik hitam pada sisi atas daun.- Bisa juga menggunakan kata "titik-titik hitam".

**

Sekarang kita cari contoh yang mengharuskan terjemahannya buat memenggal kalimat. Boleh enggak sih 1 kalimat asli dijadiin 2 kalimat terjemahan? Boleh, kalau memang kalimatnya kepanjangan, misalnya. Demi membuat hasil terjemahan lebih mudah dibaca dan dipahami.

Tending to occur in warm, wet weather, usually during wet summers, the leaves of infected roses turn yellow and fall off.
Kalau kita patuh pada struktur aslinya, terjemahannya akan jadi seperti ini: 

“Cenderung terjadi saat suhu sedang hangat dan lembap, biasanya pada musim panas yang basah, daun mawar yang terinfeksi akan berubah kekuningan dan jatuh."

Kalimatnya bertingkat-tingkat, ya. Nah, kita punya pilihan lain untuk supaya kalimat ini lebih mudah dipahami:

Penyakit ini cenderung muncul saat suhu sedang hangat dan lembap, biasanya pada musim panas yang basah. Daun mawar yang terinfeksi akan berubah kekuningan dan jatuh.
**

Kita lihat sebentar frasa “fall off”. Di atas aku menggunakan kata “jatuh”. Tapi sebenarnya kita punya pilihan yang lebih cantik dalam bahasa Indonesia buat frasa “daun jatuh” ini. Ini termasuk teori: nomor 5 di atas, yaitu “Kompensasi” > mengganti sebuah istilah dari bahasa sumber ke dalam istilah yang lebih lazim digunakan di dalam konteks bahasa sasaran.
Ada yang tahu?

>> Contoh:
Daun gugur, rontok.
Lebih elok, kan terjemahannya?

**

Nah, kita sampai ke pola kalimat yang sering banget muncul dalam bahasa Inggris & banyak yang terjemahannya jadi terasa aneh:

This weakens the plant by making it more susceptible to other diseases or opening it up to injury for the next winter.
Temen-temen tahu apa yang aku maksud? Kata “This”. Kata ganti “this” ini sering muncul dalam kalimat baru dan kita harus melihat ke kalimat sebelumnya untuk mengetahui, mengacu ke apa sih kata ini? 

Iya, mengacu ke frasa “bercak hitam”. Jadi kita pakai frasa tersebut buat terjemahannya. 
Jangan menerjemahkan “This weakens the plant” menjadi “Ini akan memperlemah tanaman”. 
Tapi, terjemahin jadi: 

“Bercak hitam akan memperlemah tanaman dengan membuatnya semakin rentan terjangkit penyakit lain.”
**

Lanjut ke anak kalimatnya:

“… or opening it up to injury for the next winter.”
Ini kalimat yang kalau diterjemahin secara harfiah, hasilnya akan jadi: “atau membukanya terhadap luka pada musim dingin.”

Tapi, masuk akal enggak sih? Kalau enggak, cari arti lain dari frasa “open up” yang maknanya sesuai untuk kalimat ini.
Ada ide?
Coba cek di https://www.thefreedictionary.com/open+up
>> Contoh:
Kita bisa pakai kata "terekspos", misalnya.

**

Lanjut ke kalimat berikutnya.

The organism responsible for black spot spreads quickly and can move from plant to plant if proper care is not taken.
Ada yang mau mencoba menerjemahkannya? Silakan langsung dicoba, ya. Perhalus dan lokalkan istilah-istilahnya, cari kata pengganti yang lebih tepat dan masuk logika di dalam bahasa Indonesia, tanpa mengubah makna yang ingin disampaikan dalam bahasa asalnya.

>> Contoh:
“Organisme penyebab bercak hitam bisa menyebar dengan cepat dan berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain jika tidak segera dibasmi.”
**

Selanjutnya:

Specific lists of disease-resistant roses are online, and nurseries likely have their own list. All roses vary by region, so do a local check for varieties that grow best in your area.
Ayo cobain, ya.

>> Contoh: 
Anda bisa mencari tahu daftar khusus mawar yang resistan terhadap penyakit di internet, dan kebun pembibitan juga biasanya memiliki daftar sendiri. Jenis bunga mawar bervariasi tergantung daerah, jadi cari tahulah varietas lokal yang paling cocok ditanam di tempat Anda.
**

Ini ada contoh kalimat yang bagus buat diterjemahin:
Decreasing the Opportunities for Black Spot
>> Contoh terjemahannya jadi:
- Mengurangi Risiko Bercak Hitam
- Mengurangi Peluang Munculnya Bercak Hitam

***

Kalau mau latihan yang lebih lengkap, ini tautan artikel yang kita bahas di atas: https://www.wikihow.com/Control-Black-Spot-on-Roses dan ini hasil terjemahanku dalam bahasa Indonesia untuk bahan perbandingan: https://id.wikihow.com/Mengendalikan-Penyakit-Bercak-Hitam-pada-Bunga-Mawar.

Semoga bermanfaat.


Wednesday, April 19, 2017

Wednesday, May 27, 2015

Tips untuk Penulis dan Penerjemah Pemula


  1. Baca kembali artikel yang sudah ditulis untuk mengecek typo dan keterbacaan (rasa enak dan tidaknya).
  2. Perhatikan EYD. Pastikan Anda menggunakan bahasa sasaran yang baik, benar, efektif, dan sesuai kaidah yang berlaku. Cek penulisan kata-kata yang Anda ragukan di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). KBBI online bisa dibuka di http://kbbi.web.id/ KBBI offline bisa diunduh gratis di: http://ebsoft.web.id/kbbi-offline-1-5-1-perbaikan-masalah-…/ 
  3. Hindari penggunaan kata-kata yang itu-itu saja. Variasikanlah agar tidak monoton.
  4. Perhatikan penulisan kata-kata yang perlu menggunakan huruf kapital dan yang tidak perlu.
  5. Hindari pemborosan kata. Jangan terus-menerus mengulang-ulang pengertian/penjelasan yang sama dari sebuah istilah yang sudah dijelaskan sebelumnya. Cukup satu kali saja di awal-awal. 
  6. Buat kalimat sesederhana mungkin. Jangan terlalu panjang. Penggal saja menjadi kalimat baru.
  7. Penulisan kata-kata berbahasa Inggris dan bahasa-bahasa asing lainnya pada artikel berbahasa Indonesia, harus selalu dimiringkan.
  8. Bedakan penggunaan "di" yang merupakan kata sambung, dan "di-" yg merupakan awalan. Contoh "di" sebagai kata sambung (penulisan dipisahkan): - di muka, di depan, di atas, di rumah, di kota, di mana, di sana, di sini, di antara, di saat, di waktu, di sela, di dalam, di sekitar---> "di" di sini menunjukkan "tempat." Contoh "di-" sebagai awalan (penulisan disatukan): - disatukan, dipisahkan, dibawa, dipukul, diinjak, dilampirkan, disampaikan, dibuat.
  9. Hal yang sama berlaku untuk “ke” dan “ke-“
  10. Huruf-huruf yang luluh saat bertemu awalan: "K, P, S, T" saja. Selain itu tidak. Contoh: > kontrak --mengontrak, pasang -- memasang, sita -- menyita, tolak -- menolak.
  11. Huruf "C" tidak luluh saat bertemu awalan. Ingat: yang benar adalah "menCintai" bukan "meNYintai."
  12. Hindari penggunaan kata "atau, mungkin, dll., dsb." yang terlalu banyak, karena itu menunjukkan kebimbangan, ketidakpedean, atau ketidaktahuan lebih jauh.
  13. SEBELUM tanda seru, tanda tanya, tanda titik, tanda koma, tanda titik dua, tanda kurung, tanda kutip, tanda strip, dll, TIDAK BOLEH ADA spasi.
  14. Kata "pun" yang bermakna "juga" penulisannya DIPISAHKAN, seperti pada "atau pun, aku pun, begitu pun."
  15. Gunakan kata "tidak" alih-alih "tak." Gunakan kata "dia" alih-alih "ia."
  16. Jangan mengandalkan editor untuk memeriksa keakuratan tulisan Anda, pilihan kata Anda, typo, atau format pengetikan. Lakukanlah sendiri. Periksa sendiri. Rapikan sendiri. Bersihkan sendiri. Make it clean. Semakin baik kualitas tulisan Anda, semakin Anda dicari klien. If it's good for them, it'll be good for you too.
  17. Jangan melenceng dari deadline yang sudah ditetapkan.

Monday, August 18, 2014

Menaklukkan Writer's Block

Mengerjakan buku dalam jangka waktu yang lama kadang membuat saya bosan dan letih. Jam kerja saya panjang dan satu pekerjaan biasanya membutuhkan waktu yang lama untuk diselesaikan, mulai dari mingguan sampai bulanan. Tapi apa mau dikata, memang inilah pekerjaan saya: menerjemahkan, mengedit, atau menulis iseng. Jadi mau tidak mau, saya harus mencintai dan menikmatinya.

Bagi saya, pekerjaan yang saya lakukan harus selalu dibuat menyenangkan. Karena kalau pekerjaan itu sudah tidak lagi menyenangkan, kita tidak akan bekerja dengan maksimal, malah stres, atau lebih parah lagi, kita mengalami sesuatu yang disebut dengan "writer's block," alias "mentok ide."

Untuk mengatasi mentok ide, saya melakukan berbagai macam cara yang menyenangkan. Dan bagi saya, sesuatu yang menyenangkan itu adalah hobi. Jadilah saya orang yang memiliki hobi segunung, mungkin karena saking seringnya saya mengalami mentok ide. Ya, hobi saya banyak. Mulai dari jalan-jalan, memotret, wisata kuliner, crafting, menanam bunga, membuat sketsa, melukis bersama anak saya, memasak, menonton, dan beberapa hobi lainnya.

Menyelingi pekerjaan dengan hobi ini bisa menghilangkan stres, menyegarkan otak, dan menumbuhkan semangat serta ide baru. Prinsipnya, selingannya tidak perlu jauh-jauh dan tidak perlu mahal-mahal. Kadang saya hanya berjalan-jalan di sekitar kompleks, melihat-lihat dan memotret bunga-bunga liar bersama anak saya. Dan saya akan membiarkan anak saya tertawa-tawa karena berhasil menakuti saya dengan bunga yang mirip ulat. Kadang saya akan pergi ke halaman rumah untuk mencabuti rumput dan menyiram bunga sambil sesekali mencipratkan sepercik air kepada kucing saya untuk menonton reaksinya yang berjingkat lucu. Kadang saya akan mencoba memasak resep-resep baru, tak masalah jika hasilnya nanti ternyata gosong. Ya, cobalah untuk menikmati hidup, menikmati hobi, menikmati pekerjaan, dan apa pun yang sedang Anda lakukan.

Setelah pikiran saya kembali jernih, saya akan kembali duduk di depan monitor dan mulai bekerja lagi.
Kuncinya, buatlah pekerjaan Anda jadi senyaman dan semenyenangkan mungkin bagi diri Anda sendiri. Bekerjalah dengan serius, tapi tetap bersenang-senanglah di sela pekerjaan.

Thursday, January 16, 2014

Things You Should Never Say to a Translator


  1. Emang kerjaan kamu apa? Maksudku, kerjaan yang benerannya?
  2. Kalau gitu, kalau ada bahasa Inggris yang aku ga ngerti, bisa dong nanya-nanya ke kamu?
  3. Menarik juga. Aku juga bisa bahasa Inggris. Berarti aku juga bisa dong jadi penerjemah?
  4. Emangnya penerjemah masih laku? Kan udah banyak kamus online gratisan?
  5. Emangnya uang dari nerjemahin cukup buat hidup?
  6. Kerjaan kamu apa? Oooh... CUMA nerjemahin?
  7. Kerjaan kamu apa? Penerjemah? Oooh... yang suka bikin kios-kios penerjemahan kayak di pinggir jalan UNPAD itu ya?
  8. Tolong terjemahin dikit dooong.... Eh, kalo sama temen sendiri, kayak aku ini, gratisan kan ya?
  9. Oh, gitu toh caranya jadi penerjemah? Aku juga bisa bahasa Inggris. Bagi-bagi order dong!


Wednesday, January 15, 2014

Menerjemahkan Itu Membutuhkan Konsentrasi

Menerjemahkan dan mengedit itu membutuhkan konsentrasi penuh dan fokus otak yang terus-menerus. Sedikit saja kita meleng atau mengantuk, bahasa terjemahannya berisiko kocar-kacir. Karena itulah, manajemen jam kerja penting bagi penerjemah. Kapan saatnya bekerja dan kapan saatnya beristirahat.

Jika saya mulai mengantuk, saya lebih memilih untuk beristirahat daripada melanjutkan menerjemahkan atau mengedit. Karena saat mata mulai mengantuk atau otak mulai lelah berpikir, kinerja pun jadi tidak maksimal. Kalau kinerja tidak maksimal, bisa jadi ada kata-kata yang terlewat atau salah diterjemahkan. Bisa jadi naskah editan tidak diperiksa dengan baik dan sejumlah typo masih tersisa. Akibatnya saya malah harus memeriksa kembali bagian tersebut. Jadi dua kali kerja. Cara kerja seperti ini justru malah membuang-buang waktu dan tenaga.

Jadi, jangan lupa beristirahat saat otak Anda mulai lelah berpikir.

Tuesday, January 14, 2014

Jangan Menerjemahkan Secara Harfiah

Ini lanjutan dari artikel "Menerjemahkan Bukan Sekadar Mengalihbahasakan" (http://www.sundaymorningstory.blogspot.com/2013/12/menerjemahkan-bukan-sekadar.html)
Berikut ini beberapa contoh kenapa kita tidak bisa menerjemahkan langsung secara harfiah, karena memang menerjemahkan itu bukan sekadar mengalihbahasakan.

1. Pepatah & Idiom
Contoh: "The rest goes in one eye and out the other." 
Seorang penerjemah harus berusaha mencari padanan pepatah dalam bahasa sumber, jika ada. 
Jadi, alih-alih menerjemahkan kalimat di atas menjadi: "Sisanya masuk ke satu mata dan keluar dari mata lainnya," yang lebih tepat adalah "Sisanya masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.
Contoh lain: "From top to toe."
--> "Dari kepala sampai kaki."

2. Satu kata, makna ganda
Kedua kalimat ini memuat satu kata yang sama, tapi artinya jelas berbeda:
(1) The Incredibles (2004) What is a hero? A great script with great characters that just happen to be animated.
(2) Kill Bill: Vol. 1 (2003) and Kill Bill: Vol. 2 (2004) Tarantino again. Why aren’t there more female action heroes?
Kata "hero" pada kalimat yang pertama berarti "pahlawan." Sedangkan "hero" di kalimat yang kedua berarti "tokoh utama."
Dari mana kita tahu cara membedakan arti kedua kata tersebut? Dari konteks kalimatnya.
Contoh lain: 
(1) cheering fans in the stands.
(2) man selling popcorn in the stand.
Kata "stand" yang pertama berarti "tribune," sedangkan yang kedua berarti "stan"

3. Bahasa slank
Contoh: "Whether you’re a writer with the balls to generate a novel."
"Balls"? Hmm... Ga mungkin artinya bola di sini. Saat sebuah kalimat terasa janggal jika diartikan secara harfiah, bukalah kamus idiom atau googling kamus slank. "Balls" di sini artinya adalah "keberanian." Diambil dari istilah "man's balls" [maaf: biji/buah zakar pria]. 

4. Penulis menghilangkan satu atau beberapa bagian kalimat
Contoh: "Modern Times (1936) Chaplin’s last silent. Why did he do it even after sound came out? You’ll see."
Anda perhatikan kalimat "Chaplin’s last silent"? Ada keterangan yang hilang di sana. Penerjemah baiknya menambahkan keterangan itu.
Jadi, alih-alih "Kebisuan Chaplin yang terakhir," terjemahan yang lebih tepat adalah "Film bisu Chaplin yang terakhir." 

5. Penyesuaian kata tertentu ke dalam bahasa sumber
Contoh: "Your child is more interesting than their accomplishments: Kaya may or may not hit in her first T-ball game."
"Kaya" bukanlah sebuah nama yang biasa digunakan oleh orang Indonesia. Malahan, "kaya" memiliki arti yang lain, yaitu "makmur." Nama "Kaya" terdengar aneh bagi telinga kita. Jadi, untuk menghindari kesalahpahaman (terlebih lagi nama "Kaya" ini harus diletakkan di awal kalimat), saya mengganti "Kaya" dengan nama yang mirip dan lebih akrab bagi orang Indonesia, yaitu "Keiya." Dengan catatan: nama ini bukanlah nama tokoh/nama penting dalam buku fiksi, melainkan nama contoh, yang tidak memiliki peran penting dan bisa diganti, dan ada di buku nonfiksi.

Baru ini yang terpikir olehku, maklum nulisnya sambil nerjemahin. Semoga bisa dilanjutkan lagi dengan contoh-contoh lainnya.

***Kalimat-kalimat contoh di atas diambil dari buku "How to Shoot Video That Doesn't Suck" karya Steven Stockman. Buku yang sedang aku terjemahin.

Monday, January 6, 2014

This is why you need a professional translator


Butuh Berapa Kamus Saat Menerjemahkan?

Untuk terjemahan yang biasa saja, yang kosa katanya tidak terlalu sulit, yang topik bahasan bukunya aku kenal, yang tidak membutuhkan riset dan googling sana-sini untuk mencari istilah-istilah khusus dari topik tersebut, biasanya aku menggunakan 6 kamus. Enam kamus ini windownya selalu "on" & siap sedia.
Itu untuk terjemahan yang BIASA.
Kamusnya:

  • 3 buah kamus Inggris - Indonesia --> untuk mengecek arti kata-kata yang tidak familiar. (1 kamus offline, 2 online: Google translate & http://www.xamux.com/online-translator.php
  • 1 buah kamus Inggris - Inggris (Encarta, lebih banyak dipakai Thesaurus-nya) --> untuk mencari sinonim kata yang pas dengan konteks.
  • 2 buah kamus untuk mengecek EYD & apakah istilah tertentu itu sudah berterima atau belum di dalam bahasa Indonesia. (Kamus Besar Bahasa Indonesia offline & http://www.kateglo.com/)
Kalau perlu, kamus tambahannya:
Untuk terjemahan yang bahasanya sehari-hari, sangat gampang, dan topik bahasannya aku kuasai (misalnya buku fotografi), paling-paling aku hanya menggunakan 1 atau 2 kamus saja. Itu pun jarang dibuka.

Untuk terjemahan yang tingkat kesulitannya tinggi............ aku membuka seeeeemuuuuuuuuuuuaaaaaaa kamus yang ada di dunia ini, online maupun offline, ditambah googling dan wikipedia serta blog-blog yang berkaitan, sampai-sampai baca kitab suci orang lain............
(agak lebay mungkin, tapi begitulah adanya... heuheu :D )

Untuk mengedit, kamus yang aku gunakan paling hanya KBBI & Kateglo, untuk mengecek EYD.

Seperti halnya kamus yang WAJIB dimiliki penerjemah, internet (yang cepat dan lancar) juga hukumnya WAJIB.


Saturday, December 21, 2013

Menjadi Penerjemah Itu Perlu Komitmen

Mungkin sudah ada sekitar belasan orang yang bertanya padaku mengenai cara menjadi penerjemah. Ada yang cuma nanya-nanya iseng, ada yang nanya-nanya lumayan serius, ada juga yang malah minta lemparan order.... (hadeuh!).

Orang-orang tertarik karena beberapa alasan, ada yang karena pekerjaan ini bisa dikerjakan di rumah (jadi masih bisa ngurus suami & anak), ada yang mungkin karena uangnya, ada yang karena pede bahwa dia bisa berbahasa asing tertentu.

Dari sekian belas orang yang bertanya itu, aku selalu menjawab sesuai pertanyaan mereka. Untuk yang pertanyaannya & niatnya tampak lebih serius, aku juga memberi penjelasan yang lebih serius, disertai tautan2 tentang cara menjadi penerjemah ke beberapa blog penerjemah yang sudah senior, milis, grup di FB, bahkan ke website HPI.

Dan dari sekian belas orang yang bertanya itu, entah kenapa, sampai sekarang tidak ada satu pun yang akhirnya terjun menjadi penerjemah. Sepertinya mencoba pun tidak. Tapi itu toh hak mereka. Aku tak terlalu peduli akan urusan orang. Setiap orang memiliki prioritas mereka sendiri. Ada yang alasannya karena sibuk mengurus anak, ada yang sudah ngeri duluan melihat para senior hebat saat dia masuk ke grup penerjemah, ada yang belum ada waktu, katanya.

Beberapa orang dari yang sekian belas orang itu adalah teman-temanku sendiri, jadi aku cukup mengenal mereka dan memahami alasan mereka saat mereka mendadak ingin jadi penerjemah, maupun saat mereka mendadak mundur bahkan tanpa mencoba.
Tapi yang membuatku memicingkan mata dan nyengir tak yakin adalah orang-orang yang suka mendadak ikut-ikutan "pengen," orang-orang lumayan pede dengan kemampuan bahasa asing mereka (dengan maupun tanpa kemampuan bahasa Indonesia yang memadai), lalu bertanya-tanya dengan menggebu-gebu, tapi saat tahu realitasnya, mereka tiba-tiba menghilang bagaikan debu.

Mungkin pepatah "the grass is always greener on the other side" cocok diterapkan dalam kasus ini. Memang, kalau cuma lihat "indahnya" saja, ya cuma indahlah yang akan terlihat. Saat kita menyelam lebih dalam, ada banyak hal yang perlu dipelajari, ada ini itu, ada begini begitu. (Well, ga juga sih, memang dunia penerjemahan ini indah kok... hihi)

Bulan Agustus 2013 kemarin, suamiku & timnya membuat video dokumenter konser Metallica di Gelora Bung Karno - Jakarta. Dengan pede, dia meminta temannya (yang konon menurut dia sangat jago ngomong bahasa Inggris) untuk membuat narasi film tersebut sekaligus menjadi naratornya. Narasinya dalam bahasa Inggris. Saat pulang ke rumah, aku diminta untuk membuat subtitle-nya. Dan setelah subtitle itu beres dan aku tunjukkan pada suamiku, banyak sekali kesalahan (terutama gramatik) dalam narasi tersebut. Mau tidak mau, semuanya harus dibuat ulang.

Buatku, profesi penerjemah ini perlu komitmen, walaupun bisa dikerjakan di rumah dan jam kerjanya [seperti] suka-suka. Selain itu, yang perlu dimiliki oleh seorang penerjemah, bukan hanya kemampuan bahasa asing yang baik, tapi juga kemampuan bahasa Indonesia yang memadai. Ini yang kadang dilupakan oleh para peminat profesi penerjemah.

Bahasa tulisan dan bahasa lisan itu berbeda. Ini juga kadang dilupakan. Mungkin secara lisan, dia fasih berbahasa Inggris, tapi saat diminta menulis atau menerjemahkan, tata bahasanya carut marut.

Tertarik menjadi penerjemah? Silakan saja. Lapangan kerja yang satu ini bidangnya banyak sekali & luas. Selain itu, pekerjaan yang satu ini (setidaknya buatku), sangatlah menyenangkan.

Terakhir, ada satu lagi orang yang bertanya kepadaku, aku tanya balik terlebih dulu sebelum menjelaskan ini itu, "Kamu serius?"
"Iya," katanya.
Baru setelah itu, aku menjelaskan.
Beberapa bulan setelah itu, aku tanya dia, sudah mulai belum?
Dia bilang, "Belum. Belum ada waktu," katanya.

Well then . . .

Menerjemahkan Bukan Sekadar Mengalihbahasakan

Menerjemahkan itu bukan sekadar mengalihbahasakan. Proses menerjemahkan harus melalui sejumlah proses, termasuk: memahami isi, konteks, mencerna, kemudian mentransfernya ke dalam bahasa sasaran. Berikut ini beberapa poin yang saya rangkum:
  • Modal untuk menerjemahkan bukan hanya mengetahui kosakata & gramatik, tapi juga harus ada kemampuan “bercerita”, ada koherensi antar kalimat (Tidak hanya berlaku untuk novel, tapi juga buku teori). Banyak-banyaklah membaca buku. (Saya tidak menyarankan membaca berita online, karena suka banyak tata bahasa dan ejaan yang salah dalam berita online. Lagipula, bahasa jurnalistik dan bahasa buku itu berbeda. Bahasa jurnalistik itu dibuat singkat dan padat dan kerap kali menghilangkan imbuhan, terutama pada judul berita.)
  • Kalimat terjemahan harus enak dibaca, EYD harus benar, harus rajin membuka KBBI saat menerjemahkan. Banyak kata-kata yg kita ketahui & pakai sehari-hari, ternyata menurut KBBI ejaan tersebut salah. Contohnya: apotik --> yang benar adalah "apotek;" nafas --> napas, jaman --> zaman, analisa --> analisis, orangtua --> orang tua, sepakbola --> sepak bola, olah raga --> olahraga, dll.
  • Agar lebih mengenal "sense berbahasa" dari bahasa asal, biasakanlah untuk mendengar native speaker-nya berbicara langsung. Banyak-banyaklah menonton film & mendengarkan mereka berbicara. 
  • Kamus itu PENTING. Kamus bahasa asli --> bahasa sasaran (Cth: Inggris - Indonesia), kamus idiom, kamus sinonim, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus istilah tertentu. Kamus, kamus, kamus... [Topik yang berkaitan: Butuh Berapa Kamus Saat Menerjemahkan?: http://www.sundaymorningstory.blogspot.com/2014/01/butuh-berapa-kamus-saat-menerjemahkan.html
  • Bekal ilmu yang lain juga harus banyak. Misalnya, kalau kita menerjemahkan buku tentang psikologi, hukum, atau foto, kita harus memahami bidang tersebut. Kita harus tahu banyak bidang, sekalipun hanya menerjemahkan novel. Karena kadang dalam novel pun, kalau ternyata tokoh utamanya adalah seorang akuntan dan penulis buku mendeskripsikan dengan detail tentang apa yang si tokoh kerjakan, kita juga berkewajiban menerjemahkannya dengan benar. [Topik yang berkaitan: Bijak Dalam Memilih Bahan Terjemahan: http://www.sundaymorningstory.blogspot.com/2013/12/memilih-bahan-terjemahan-tertentu.html]
  • Jika ada bagian-bagian tertentu yang perlu "disensor," bicarakanlah dengan editor. Misalnya adegan kekerasan atau adegan dewasa yang tidak sesuai dengan kultur indonesia.
  • Jangan saklek menerjemahkan apa adanya banget. Jangan menerjemahkan secara harfiah, tapi harus mempertimbangkan konteks yang tepat. Kadang-kadang penulis menggunakan kata-kata yang seperti ini: "He setting out milk for the cat." "Setting out" di sini kurang tepat kalau dialihbahasakan secara harfiah jadi "mengeset," tapi lebih tepat "menuangkan."  Contoh lain: "He shoot the duck." Kalau konteksnya si tokoh sedang memegang senapan, maka terjemahannya menjadi "Dia menembak bebeknya." Tapi kalau konteksnya si tokoh sedang memegang kamera, maka terjemahan yang tepat adalah, "Dia memotret bebeknya."
  • Menerjemahkan novel dan buku teks tentu saja berbeda. Bahasa buku teks lebih lugas dan langsung daripada novel. Kadang untuk buku teks  editor meminta "ramu & ceritakan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami." Untuk novel, hal itu tentu saja tidak berlaku. Kita sebisa mungkin harus patuh dengan bahasa asli.
  • Dalam novel terutama, kosakata Anda dalam bahasa sasaran harus kaya, misalnya: melihat, melirik, memelototi, menatap, memerhatikan, mendelik, mengamati, memandang. Jangan melulu memakai kata "melihat" di sepanjang buku, padahal terjemahan yang lebih tepat adalah "melirik."
  • Kita harus bisa mengoreksi penulis kalau penulis melakukan kesalahan, entah itu typo atau salah tulis, karena (walaupun sangat jarang, tapi) kadang penulis juga bisa salah dan tidak konsisten dan kadang hal itu lolos dari pengamatan editornya. Tapi kalau Anda ragu, coba tanyakanlah kepada editor untuk lebih memastikan. Contoh: Di sepanjang buku dia selalu menulis "subjek foto" untuk orang maupun benda yang dia potret. Tetapi tiba-tiba dia menulis "objek foto." Nah, tugas Andalah untuk mengoreksinya menjadi "subjek foto.". Sekali lagi, jangan terlalu saklek. Tetap perhatikan konteks. [Topik yang berkaitan: Saran untuk Penerjemah Pemula: http://www.sundaymorningstory.blogspot.com/2013/08/sedikit-saran-untuk-teman-teman-yang.html

Wednesday, December 11, 2013

Dilema Seorang Freelancer

Sekitar bulan April tahun 2012 lalu aku ditawari untuk menerjemahkan materi kuliah komunikasi oleh seorang teman, untuk dosennya. Kalau melihat angka yang ditawarkan, untuk ukuranku, itu lumayan. Sebenarnya agak bimbang, apakah harus aku ambil atau tidak. Tapi pekerjaan seperti ini jelas tidak bisa aku masukkan sebagai portofolioku, jadi aku menolaknya dengan pertimbangan, aku sedang menunggu tawaran buku berikutnya dari penerbit, lanjutan dari buku berseri yang aku terjemahkan sebelumnya, yang menurut perkiraanku, takkan lama lagi pasti segera diberikan. Dan memang tak lama kemudian, order terjemahan buku lanjutan tersebut turun.
Pelajaran yang aku ambil, "Kalau memang masih perlu mengumpulkan portofolio, pilihlah pekerjaan yang bisa dijadikan portofolio."
[Tapi kalau memang yang lebih dibutuhkan adalah uang, ya silakan ambil saja.]

Untuk para freelance sepertiku, tentu ada masa-masa galau, apakah kita akan mendapatkan order selanjutnya atau tidak? Apakah klien puas dengan pekerjaan yang disetorkan kemarin atau tidak? [Kalau mereka puas, kemungkinan besar kita akan ditawari pekerjaan selanjutnya]. Apakah tawaran pekerjaan dengan fee yang lebih rendah dari biasanya itu kita ambil saja atau tidak? Kalau diambil, fee-nya jelas kecil (mungkin takkan sebanding dengan kerja keras yang akan kita lakukan saat menerjemahkannya). Tapi kalau tidak diambil, ya sayang juga (apalagi kalau kita dalam keadaan butuh uang).

Ngomong-ngomong soal fee, memang dilematis kalau kita berada "dalam keadaan lapar."
Tapi suamiku yang sudah lebih dulu ber-freelance-ria sebagai fotografer, selalu mengajarkan, "Jangan pernah mau dibayar murah, apalagi kalau kualitas kamu bagus."
Risikonya? Ya lapar, karena tidak mau mengambil order murah yang ada... hahaha.
Tapi ya, bagaimanapun juga, kalau mau hasil yang berkualitas, ya harus mengeluarkan uang yang lebih banyak. It's a fair deal.

Yang terpenting dan perlu digarisbawahi adalah: kualitas pekerjaan.
Bagiku, setiap bahan baru memberikan pelajaran baru. Aku harus terus meningkatkan kualitas dan kemampuanku, apalagi kalau melihat para penerjemah senior, nyaliku sering kali suka ciut... haha...
Harus terus belajar, terus cari info, terus bertanya.

***Catatan ga jelas di sebuah hari mendung, di sela pekerjaan.