Showing posts with label Writing & Editing. Show all posts
Showing posts with label Writing & Editing. Show all posts

Wednesday, January 1, 2020

Tautologi


Kuliah Jumat Kontenesia: Tautologi

(Inggris: tautology) 

KBBI:Tautologi = pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata yang berlebih yang tidak diperlukan, misalnya duda pria; amat sangat mahal; kemubaziran; pleonasme

Tautologi termasuk redundansi bahasa.

Bedanya dengan “pleonasme”, pada pleonasme, unsur yang ditambahkan sudah terkandung atau “sudah ada secara implisit” pada kata tersebut. Contoh:
- Turun ke bawah
- Naik ke atas

Sedangkan pada tautologi, kata yang ditambahkan adalah kata lain. Kurang lebih kayak sinonim.

Contoh tautologi dalam bahasa Indonesia:

- Diam membisu
- Hancur lebur
- Sunyi senyap
- Cantik jelita

Contoh tautologi dalam bahasa Inggris:

Dalam kalimat: - I personally don’t like it. > “I” & “personally”
- I heard it with my own ears. > “heard” & “ears”; “I” & “own”
- Repeat that again!
- It’s deja vu all over again.
- It ain’t over ’til it’s over.
- I did it, so I’m finished.
- Do pay attention!

Dalam frasa: - a new innovation
- a sad misfortune


Dalam akronim: - HIV virus > Human Immunodeficiency Virus
- PIN number > Personal Identification Number
- GPS system > Global Positioning System

Dalam idiom: - I am my father’s son.
- Boys will be boys.
- You’ve got to do what you’ve got to do.

Jenis-Jenis Tautology


Ada beberapa jenis tautologi yang umum digunakan dalam penggunaan sehari-hari, dalam prosa, lagu, dll. antara lain:

1. Repetitive words used due to inadequacies in the language (penggunaan kata-kata repetitif dikarenakan kurangnya kosakata dalam bahasa tersebut)
2. Intentional ambiguities (ambiguitas yang disengaja)
3. Derision (ejekan)
4. Poetic device (sebagai perangkat puitis)
5. Psychological significance (signifikansi psikologis)
6. Speech by inept speaker or narrator (pidato yang disampaikan oleh pembicara atau narator yang tidak kompeten)

Fungsi tautologi:

- Untuk menekankan gagasan tertentu
- Untuk menarik pembaca pada bagian tertentu

Penggunaan Tautologi dalam Artikel Konten

Tautologi berguna untuk menekankan sesuatu atau untuk menambahkan nilai puitis pada ucapan atau tulisan.

Tautologi tidak menambahkan informasi baru ke dalam sebuah pernyataan dan beberapa di antaranya lebih baik dibuang dari tulisan karena kita tidak perlu menggunakan kata-kata tambahan untuk menjelaskan maksud.

Tautologi kadang merusak kemulusan penuturan dalam artikel konten karena redundansi kata-kata yang tidak perlu. Kadang kata-kata ini terdengar seperti kesalahan, seolah-olah kita hendak menjelaskan sesuatu, padahal hanya mengulang informasi yang sama. Ini malah akan membingungkan, alih-alih membantu. Jadi untuk artikel konten, baiknya tautologi ini dihindari.

Tuesday, December 17, 2019

Oksimoron

Kuliah Jumat Kontenesia - Oksimoron

Hari ini aku mau bahas soal "oksimoron" (Inggris: oxymoron)
Kalau dalam KBBI:
oksimoron = penempatan dua antonim dalam suatu hubungan sintaksis (dalam koordinasi atau subordinasi).

Contohnya:
Dia telah merasakan pahit manisnya kehidupan.
Mereka selalu bersama dalam suka dan duka.

Kalau dalam bahasa Inggris, contohnya:
"You are pretty ugly."

Tapi kalau ada yang bilang begitu, berfokus saja pada bagian positifnya aja: "You are pretty".

Beberapa contoh oksimoron yang bagus dalam bahasa Inggris:
- Bittersweet
- Act naturally
- Clearly confused
- Deafening silence
- Definitely maybe
- Only choice
- Painfully beautiful
- Passive aggressive
- Sweet sorrow
- Walking dead
- Random order
- Tragic comedy
- Seriously funny

Versi Indonesianya:
- suka duka
- tangis bahagia
- tertawa di atas penderitaan orang lain
- kemudahan dalam kesulitan
- tersenyum dalam kesedihan
- rahasia umum
- bocah tua

Sunday, November 17, 2019

Penggunaan "Namun, Tetapi, Tapi," dan "Akan Tetapi"

Kuliah Jumat Kontenesia: Penggunaan "Namun, Tetapi, Tapi," dan "Akan Tetapi"

Hari ini kita bahas soal penggunaan kata "namun, tetapi, tapi, akan tetapi" ya.

Jadi, "Namun" itu adalah kata sambung antarkalimat. Harus selalu diletakkan di awal kalimat & pakai koma.
Contoh:
~ Dia pintar. Namun, arogan.

Sementara, "tetapi" adalah kata sambung intrakalimat (dalam kalimat yg sama). Harus selalu diletakkan di dalam kalimat yg sama, sebagai anak kalimat.
Contoh:
~ Dia pintar, tetapi arogan.

Nah, kalau "tapi" > ini bentuk tidak baku dari "tetapi".
Buat bahasa resmi atau tulisan-tulisan formal, silakan gunakan "tetapi".

Lanjut ke "Akan tetapi."
Ini adalah kata sambung antarkalimat (seperti "Namun). Harus selalu diletakkan di awal kalimat & pakai koma.
Contoh:
~ Dia ingin menjadi seorang penyanyi. Akan tetapi, orang tuanya menyuruh dia menjadi pegawai negeri.

Thursday, August 8, 2019

Penggunaan Huruf Cetak Miring

Kuliah Jumat Kontenesia: Penggunaan Huruf Cetak Miring

Kata, frasa, atau kalimat yang harus menggunakan huruf miring:

1. Judul buku & judul film
Contoh:
· Kamu sudah membaca buku Pride and Prejudice belum?
· Film Asterix: The Secret of the Magic Potion sudah tayang di bioskop.

2. Nama majalah dan surat kabar
Contoh:
· Kemarin beritanya muncul di majalah Times.

3. Huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata yang bermaksud ditegaskan, sebagai penanda supaya terlihat berbeda.
Contoh:
· Bukan Adi, tapi Ade.
· Huruf d pada DSLR adalah kependekan dari digital.

4. Kata-kata berbahasa asing atau daerah
Contoh:
· “Menurut aku mah, kamu teh hebat, pinter, ganteng deuih.”
· Selada cos atau romaine lettuce adalah varietas selada populer yang sehat dan relatif mudah ditanam.


5. Kalimat berbahasa asing atau daerah yang dikutip langsung, baik berupa pernyataan seseorang maupun kutipan dari buku.
Contoh:
· “Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan sama sekali, maka tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti. Setidaknya itu bisa menjadi sedekahmu,” nasihat Mbah Moen.
· “Laughing at our mistakes can lengthen our own life. Laughing at someone else’s can shorten it,” kata Cullen Hightower.

6. Nama Latin dan nama ilmiah
Contoh:
· Pohon bungur (lagerstroemia) memiliki bunga-bunga berwarna putih, merah muda, merah, dan ungu yang semarak.
· Limelight hydrangea atau Hydrangea paniculata limelight adalah jenis hydrangea yang tumbuh lebih pendek dari spesies lainnya.

***

Kata-Kata Bentuk Terikat

Kuliah Jumat Kontenesia: Kata-Kata Bentuk Terikat

Ada beberapa kata bentuk terikat yang penulisannya harus disatukan dengan kata yang mengikutinya, yaitu:

a-
~ kekurangan
Contoh: anemia
~ tidak atau bukan
Contoh: aseksual
~ tanpa:
Contoh: anonim

adi-
~ arti kata: unggul; besar
Contoh: adibusana, adipura, adiluhung, adiguna

aero-
~ arti kata: udara; atmosfer
Contoh: aerodinamika, aerofisika

antar-
~ arti kata: dalam lingkungan atau hubungan yang satu dengan yang lain.
Contoh: antarkota, antarbangsa, antarbudaya, antardaerah, antarnegara, antarmuka

anti-
~ arti kata: melawan, menentang, memusuhi
Contoh: antibiotik, antioksidan, antidepresan, antigravitasi, antiair, antikarat, antibodi, antiklimaks

auto-
~ arti kata: sendiri
Contoh: autokrasi

bi-
~ arti kata: dua; dua kali; rangkap dua; yang menunjuk pada keduanya
Contoh: bilateral, bilingual

bio-
~ arti kata: kehidupan; organisme yang hidup
Contoh: biokimia, biologi

de-
~ arti kata: menghilangkan; mengurangi
Contoh: demoralisasi, dehidrasi

dwi-
~ arti kata: dua
Contoh: dwiwarna

eka-
~ arti kata: satu; tunggal
Contoh: ekabahasa

ekstra-
~ arti kata: di luar
Contoh: ekstrakurikuler

hiper-
~ arti kata: di atas
Contoh: hiperkinesi
~ arti kata: berlebihan; di luar atau terlampau melampaui batas
Contoh: hiperemia, hiperbol, hiperaktif

in-
~ arti kata: tidak
Contoh: inkonvensional, infertil

infra-
~ arti kata: bawah, di bawah
Contoh: infrastruktur, inframerah

inter-
~ arti kata: (di) antara dua; (di) antara; di tengah
Contoh: internasional, interkontinental

kontra-
~ arti kata: berlawanan; bertentangan; kebalikan dari; lawan dari
Contoh: kontraindikasi, kontradiksi, kontraproduktif

ko- (varian: kom-, kon-)
~ arti kata: dengan; bersama-sama; berhubungan dengan
Contoh: kosponsor, koedukasi, kongenital

maha-
~ arti kata: sangat; amat; teramat
Contoh: mahakaya, mahabesar
~ arti kata: besar
Contoh: mahaguru; mahasiswa

makro-
~ arti kata: besar
Contoh: makroekonomi
~ arti kata: panjang
Contoh:

mala-
~ arti kata: buruk; tidak normal
Contoh: malapraktik; malagizi

manca-
~ arti kata: asing; luar
Contoh: mancanegara

mega-
~ arti kata: besar; luas; mempunyai bagian yang berukuran besar
Contoh: megaspora
~ arti kata: juta; kelipatan satu juta (106; 1.000.000)
Contoh: megawatt

meta- (varian: met-)
~ arti kata: kemudian; berubah; perubahan
Contoh: metafisika; metafora; metamorfosa

mikro-
~ arti kata: kecil; kecil sekali
Contoh: mikrofilm, mikrokosmos, mikroorganisme, mikroekonomi
~ arti kata: membuat benda dan sebagainya yang kecil kelihatan besar
Contoh: mikroskop
~ arti kata: seperjuta unit
Contoh: mikrogram, mikrofarad

mini-
~ arti kata: berukuran kecil; berdimensi kecil
Contoh: minibus, minikomputer

mono-
~ arti kata: tunggal; sendiri; satu; satu-satunya
Contoh: monopoli; monoteisme

multi-
~ arti kata: banyak; lebih dari satu; lebih dari dua
Contoh: multilateral, multinasional, multimedia, multibahasa, multikultur
~ arti kata: berlipat ganda
Contoh: multimilioner

nara-
~ arti kata: orang
Contoh: narapidana, narasumber

neo-
~ arti kata: baru atau yang diperbarui
Contoh: neokapitalisme, neokolonialisme, neoklasik, neoliberal

nir-
~ arti kata tidak atau bukan
Contoh: nirguna, nirlaba, nirkabel

non-
~ arti kata: tidak; bukan; tanpa
Contoh: nonaktif, nonfiksi, nonformal, nonstop, nonsens, nonblok

oto-
~ arti kata: sendiri
Contoh: otomotif, otomatis

para-
~ arti kata: berlawanan dengan
Contoh: paradoks
~ arti kata: tidak sama atau tidak menyerupai
~ arti kata: di sebelah; di samping; dekat dengan
Contoh: parakardiak
~ arti kata: di seberang; di atas
Contoh: paranormal

pasca-
~ arti kata: sesudah
Contoh: pascasarjana, pascapanen, pascamodern, pascanikah, pascaproduksi

peri-
~ arti kata: sekitar
Contoh: perikambium, perispora
~ arti kata: dekat
Contoh: perinatal, perihelion

poli-
~ arti kata: banyak
Contoh: poliglot, poligami, poliklinik

pra-
~ arti kata: sebelum; di depan
Contoh: prasejarah, praduga

pramu-
~ arti kata: yang bekerja dalam bidang jasa
Contoh: pramusaji, pramuniaga

pre-
~ arti kata: sebelum; di depan
Contoh: prematur

pro-
~ arti kata: sebelum; di depan (terletak di depan)
Contoh: proaktif, prolog

pseudo-
~ arti kata: semu; palsu; bukan sebenarnya
Contoh: pseudonim

purna-
~ arti kata: penuh; selesa
Contoh: purnawirawan

re-
~ arti kata: sekali lagi; kembali
Contoh: reformasi
~ arti kata: belakang; ke arah belakang
Contoh: regresi

se-
~ arti kata: satu
Contoh: sekamar, sekelas, serumah
~ arti kata: sama
Contoh: sepandai, setinggi, secerdas

semi-
~ arti kata: setengah; sebagian
Contoh: semikomersial
~ arti kata: mempunyai sebagai sifat sesuatu
Contoh: semipermanen, semiprofesional

serba-
~ arti kata: segala-galanya; semuanya, segala hal
Contoh: serbaguna, serbaada, serbaindah

sub-
~ arti kata: bawah; agak; dekat
Contoh: subbagian, subbab

supra-
~ arti kata: di atas atau di luar
 Contoh: suprasegmental

swa-
~ arti kata: sendiri
Contoh: swadaya, swasembada

tele-
~ arti kata: jauh; jarak jauh
Contoh: telewicara, telekomunikasi, telemarketing

trans-
~ arti kata: melintang; melintas; menembus; melalui
Contoh: transmigrasi, trans-Sumatra

tri-
~ arti kata: tiga
Contoh: tritunggal, trimester

tuna-
~ arti kata: luka; rusak
Contoh:
~ arti kata: kurang; tidak memiliki
Contoh: tunakarya, tunawisma

ultra-
~ arti kata: luar biasa berlebih-lebihan; teramat sangat
Contoh: ultramodern, ultrakonservatif, ultraviolet
~ arti kata: lebih daripada
Contoh: ultraliberal, ultrasonik

uni-
~ arti kata: satu
Contoh: unifikasi, unilateral


Masih ada banyak kata-kata lain yang tidak kumasukkan karena cukup asing & jarang digunakan.
Jadi sepertinya, cukup segini dulu.

Wednesday, May 15, 2019

Mengenal Bermacam-macam Saus dalam Bahasa Inggris & Tips Lainnya

Kuliah Kontenesia

Kebetulan di sebuah artikel ada ngomongin tentang saus, jadi keidean buat bahas macam2 saus, sambal & celupan2 lain dalam bahasa Inggris. Yang tahu, silakan sumbang info juga ya...

- sauce = saus. Sauce itu macam2. mulai dari ketchup, chili sauce, saus2 pasta, saus yg dibuat dari mentega (butter), saus ikan, mustard, meat based sauce, dll. yang kental2 lah.
- ketchup/tomato sauce = saus tomat
- chili sauce = saus pedas
- soy sauce = kecap hitam seperti yang kita kenal di Indonesia. JAdi inget, kalo ada orang bule minta "ketchup", jangan pernah dikasih Kecap Bango, apalagi ketchup pipi...
- salsa = biasanya dibikin dari campuran sayur.buah/kacang2an mentah/matang yg dirajang kasar.
- dressing = larutan yang biasanya dipake buat membumbui salad. Bisa berupa campuran minyak zaitun (olive) dan cuka, bisa juga produk susu fermentasi kayak yogurt, dll.
- gravy = kuah daging yg kental
- glaze = cairan glossy (mengilap) kental yang ditaburin di atas makanan. Bisa manis, bisa juga asin
- dip/dipping sauce = celupan/saus celup
- jus = gravy atau saus yang biasanya dibikin dari kuah daging panggang
- fondue = saus keju yg meleleh
- hummus = saus berbasis kacang arab yg ditumbuk halus + bumbu lain
- marinara sauce = saus tomat yang sisajiin sama breadsticks, pizza, dll.
- mustard = saus yg dibikin dari biji mustar
- mayonaise = saus berbahan dasar putih telur, minyak nabati, & cuka
- guacamole = celupan yg bahan dasarnya alpukat + lemon
- tabasco = ini sebenernya merek. Saus cabe super pedas
- wasabi = saus pedas khas Jepang dari tanaman bernama wasabi yg diparut

Penulisan Angka di Awal Kalimat

Temen2, angka itu ga boleh ditaro di awal kalimat. Ini berlaku untuk bahasa Indonesia & Inggris.
Contoh yg salah: "24 hours customer service..........."

Kalau ada angka yang harus ditaro di awal kalimat, angka tersebut harus ditulis dalam bentuk kata:
Contoh yang salah: "100 kamar tersedia di hotel ini......"
Seharusnya: "Seratus kamar..............."

Kalau angkanya terlalu panjang kalo ditulis pake huruf, kayak di contoh pertama: "24 jam customer service......." >> Berarti temen2 harus mengolah kalimat tersebut dan letakkan angkanya di tengah, alih2 di awal.

*Ini berlaku kecuali untuk judul2 artikel di internet, karena buat judul artikel di internet, penambahan angka ini syarat buat bikin si artikel jadi viral.

Membedakan "Garden" atau "Park"?

1. Bandung memiliki banyak taman kota. >> garden atau park?
2. Kebun Raya Bogor >> garden atau park?
3. Taman Impian Jaya Ancol >> garden atau park?
4. Taman di halaman rumah >> garden atau park?
5. Kebun sayuran di belakang rumah >> garden atau park?
6. Taman Nasional Baluran >> garden atau park?
*Lihat jawabannya di paling bawah

Tambahan dari Putri Prihatini:

Karena baru ngerjain job serba kopi, dan dua job yang DL-nya bulan Mei ini juga tentang kopi (masing-masing Judo dan Muaythai), aku jadi banyak main dengan istilah-istilah kopi :-D
Body: menggambarkan sensasi fisik cairan kopi di dalam mulut. Ini digambarkan dengan istilah kayak “thick”, “thin”, “heavy”, “rich.”

Finish: menggambarkan rasa yang “tertinggal” di bagian belakang lidah dan tenggorokan saat kopi sudah diteguk. Biasanya digambarkan dengan kata-kata “bitter,” “fruity,” “chocolaty,” “smoky,” “earthy,” tergantung jenis kopinya.

Crack: menggambarkan keretakan yang mulai muncul pada biji kopi saat dipanggang. Istilah “first crack” biasanya untuk menggambarkan kopi yang dipanggang sebentar (light-roasted coffee). “Second crack” menggambarkan saat kopi sudah memasuki tahap dipanggang sampai gelap (dark-roasted coffee).

Acrid: rasa asam yang sangat kuat, levelnya lebih kuat dari “sour.” Ini untuk kopi yang tingkat keasamannya tinggi banget.

Bouquet: aroma khas biji kopi yang baru dipanggang dan digiling.

Bright: rasa kopi yang cenderung ringan, lembut, enak di mulut, nggak terlalu asam atau pahit.

Demitasse: cangkir kopi yang ukurannya lebih mungil dari cangkir biasa, biasanya untuk espresso.

Biasanya kalau ada perintah menggambarkan rasa kopi tertentu, ada beberapa hal yang harus dijelaskan: flavor, aroma, acidity level, body (lihat atas), finish (lihat atas).
"Finish" kadang-kadang disebut dengan istilah "aftertaste" (rasa yang "ketinggalan" samar-samar biarpun minuman/makanannya udah ditelan).
Oh ya, untuk rasa kopi biasanya pakai kata-kata macam "earthy" (rasanya agak kayak "tanah", rasa yang natural gitu), "fruity," "citrus-like," "caramel-like," "chocolaty," "nutty", "smoky" (kayak ada sensasi mirip asap, seperti kopi yang baru dipanggang sampai gelap).

*Jawaban garden/park:
1. Bandung memiliki banyak taman kota. >> park
2. Kebun Raya Bogor >> garden
3. Taman Impian Jaya Ancol >> park
4. Taman di halaman rumah >> garden
5. Kebun sayuran di belakang rumah >> garden
6. Taman Nasional Baluran >> park

Penjelasan dari Klaus Rachman: 
kalo garden itu walaupun misalnya dia bisa dikunjungi dan jadi tempat wisata, tapi fokus utamanya itu ke pelestarian atau pengembangan tanamannya. kayak kebun sayuran belakang rumah kan, veggie garden istilahnya.

kalo park itu fungsi utamanya lebih ke buat tempat hiburan sih dan bukan ke arah kyk pembudidayaan tanamannya. makanya bisa amusement park (mis. Dufan, Trans Studio).

Tuesday, May 14, 2019

Belajar Membedakan Makna Kata-Kata Berbahasa Inggris

Kuliah Senin Kontenesia: Belajar Membedakan Makna Kata-Kata Berbahasa Inggris


Belajar membedakan makna kata-kata berbahasa Inggris berikut ini, yuk!

Kalau dicek sekilas di kamus, kata-kata ini memiliki arti yang sama, tetapi ternyata makna, konteks, atau pengaplikasiannya berbeda. Yuk, kita bahas satu per satu:

· To study, to learn = belajar

Bedanya: “to study” itu untuk konteks seperti “belajar di sekolah”. Perihal kamu mengerti atau tidak apa yang diajarkan oleh guru, itu soal lain.
Sementara kalau “to learn” itu maknanya “belajar yang disertai dengan pemahaman yang mendalam.” Kamu bisa saja belajarnya dari video di YouTube, misalnya, tapi kamu mendapatkan ilmunya dari hasil belajar tersebut.

· To hear, to listen = mendengar

Bedanya: “to hear” itu mendengar sih mendengar, tapi bisa saja mendengarnya sepintas lalu. Misalnya, “Aku mendengar dia berteriak.” Perihal dia meneriakkan apa, entahlah.
Sementara kalau “to listen” itu mendengarkan sambil menyimak & memahami. Masuk ke otak & kamu cerna.

· To see, to observe, to stare = melihat

Bedanya: “to see: bisa jadi hanya melihat sepintas lalu.
Kalau “to observe” maknanya lebih ke “mengamati/memperhatikan dengan jeli" (seperti mengamati sesuatu memakai mikroskop). 
Sementara, “to stare” itu lebih ke “memelototi/memandang/menatap terus-menerus (sampai ga berkedip, misalnya)”.

· To lend, to borrow = meminjam

Bedanya, “to lend” itu meminjamkan, dalam konteks seperti: “Aku meminjamkan buku kepadanya.”
Sementara “to borrow” adalah “meminjam”, dalam konteks seperti: “Dia meminjam buku dariku.”

· To take, to bring = membawa

Bedanya, “to take” itu membawa sesuatu menjauhi si pembicara. Misalnya, “Take it out!”.
Sementara “bring” itu membawa sesuatu mendekati si pembicara. Misalnya, “Bring it here!”.


Tambahan dari Putri Prihatini:

Price biasanya untuk barang yang dijual, yang kalau sudah dibeli jadi milik pembelinya secara permanen (book price, car price, oil price).

Rate lebih cocok untuk "tarif." Misalnya "hotel rate." Jadi bedanya "hotel price" sama "hotel rate" = kalau nanya hotel rate berarti nanya tarif semalam nginep di sana berapa. Kalau nanya hotel price berarti bakat horang kayah karena mau beli hotel :-D

Fare biasanya untuk transportas publik. Jadi kayak taxi fare, bus fare, etc.

Fee lebih cocok untuk pembayaran atas penyewaan atau jasa profesional, misalnya kalau mau nyewa mobil berarti nanya "rental fee." Uang sekolah istilahnya "school fee" atau "tuition fee."

Thursday, February 7, 2019

Kuliah Jumat Kontenesia: Kalimat Perintah & Kata Perintah



Kalimat perintah adalah kalimat yang mengandung makna meminta/memerintah seseorang untuk melakukan sesuatu. (https://id.wikibooks.org/wiki/Bahasa_Indonesia/Kalimat_Perintah)

Yang termasuk kalimat perintah:


1. Kalimat perintah biasa
Contoh: “Beri aku makan!”

2. Kalimat perintah ajakan
Contoh: “Ayo makan!”

3. Kalimat perintah larangan
Contoh: “Jangan makan melulu!”

4. Kalimat perintah permintaan
Contoh: “Tolong jangan makan melulu!”

5. Kalimat perintah saran
Contoh: “Sebaiknya Mba enggak makan melulu!”

6. Kalimat perintah sopan
Contoh: “Mohon jangan terlalu sering makan!”

7. Kalimat perintah sindiran
Contoh: “Makan melulu!”

8. Kalimat perintah prosedur
Contoh: “Berikut adalah cara makan yang benar!”

9. Kalimat perintah mempersilakan
Contoh: “Kalian boleh makan sekarang!”

10. Kalimat perintah bersyarat
Contoh: “Kalian boleh makan kalau artikelnya sudah selesai dikerjakan!”

11. Kalimat perintah informasi
Contoh: “Mba Ade melarang kalian makan!”

Ciri-ciri kalimat perintah dalam bahasa tulis antara lain:


1. Berpola kalimat inversi (predikat diletakkan sebelum subjek).
Contoh: Biarkan mantanmu pergi!

2. Kadang menggunakan kata perintah seperti “jangan, tolong, harap, dilarang,” dll.
Contoh: “Jangan buang mantan sembarangan!”

3. Menggunakan partikel “-lah” atau “-kan”.
Contoh dari kata dasar “buang”: Buanglah mantan pada tempatnya!

4. Diakhiri tanda seru (!)
Contoh: Jangan balik lagi ke mantanmu!

Nah, berdasarkan poin nomor 2 di atas, ada rumus turunannya. 


1. Gunakan akhiran “-lah” dan “-kan” pada kata perintah yang bentuk kata dasarnya adalah kata benda!

Kenapa? Karena kalau tidak menggunakan akhiran, kalimatnya akan jadi ambigu atau secara semantik maknanya tidak bisa berterima.
Contoh:
- Kata benda “cerita”: Ceritakan pengalaman kalian saat putus cinta!
- Kata benda “gambar”: Gambarkan bagaimana perasaan kalian saat itu!
- Kata benda “isi”: Isilah kehampaan hati kalian dengan memakan makanan enak!
Bayangkan jika kata-kata perintahnya tidak menggunakan akhiran "-lah"!

2. Kata perintah yang dibentuk dari kata dasar berupa kata kerja tidak selalu diwajibkan menggunakan akhiran “-lah” dan “-kan”.
Contoh:
- Kata kerja “tulis”: Tulis artikel dengan benar!
- Kata kerja “kirim”: Kirim artikel sebelum tenggat!

3. Kalau sudah ada akhirlan “-lah”, tidak perlu lagi ditambahi akhiran “-kan”.
Contoh:
- Kata “terangkan”: Terangkan kepadaku!”
Tidak perlu: Terangkanlah kepadaku!

- Kata “pertimbangkan”: Pertimbangkan keputusanmu!
Tidak perlu: Pertimbangkanlah keputusanmu!

4. Selain akhiran “-lah” dan “-kan”, ada satu lagi akhiran yang biasa dipakai sebagai kata perintah, yaitu akhiran “-i”.Contoh:
- Pupuki hati dengan cinta! (mual ga, sih, bacanya? Hahaha…)
- Perbaiki artikelnya segera!

***

Tuesday, February 5, 2019

Kuliah Jumat Kontenesia: Kalimat Efektif

Kuliah Jumat Kontenesia: Kalimat Efektif 
Pemateri: Sri Noor Verawaty

Syarat kalimat efektif adalah:


1. Strukturnya sistematis
2. Tidak ada pemborosan kata
3. Tidak ambigu
4. Menggunakan tanda baca yang benar

Kalimat dikatakan efektif jika ada:


1. Kesepadanan struktur
2. Keparalelan dan konsistensi
3. Ketegasan makna
4. Kehematan kata
5. Kecermatan dan variasi pemilihan kata
6. Kelogisan kalimat

1. Kesepadanan


Kesepadanan = kemaksimalan struktur bahasa untuk mendukung ide yang dikandung.
Jadi:
- Setiap kalimat mayor harus mengandung subjek & predikat (kata kerja).
- Tidak mengandung subjek ganda.
- Ide pokok harus ada dalam induk kalimat.
- Tidak meletakkan kata depan (preposisi) sebelum subjek.

2. Keparalelan


Keparalelan = penggunaan bentuk kata yang sama dalam bentuk susunan yang paralel dan konsisten.
Contoh: Mba Ade MENANAM bunga, kemudian MENCABUTI rumput.
Bukan: Mba Ade MENANAM bunga, kemudian rumputnya dia CABUTI.

3. Ketegasan


- Letakkan bagian terpenting di tempat utama.
- Gunakan pengulangan untuk menegaskan bagian penting tersebut.
- Gunakan pengulangan kata kunci.

4. Kehematan


Kalimat yang efektif itu harus hemat kata/frasa, baik secara gramatik maupun makna. Jangan ada redundansi (kelebihan makna: bila sebuah kata dihilangkan, makna kalimatnya ga akan berubah).
Caranya:

- Tidak boleh ada kata yang sama di dalam sebuah kalimat. Contoh: Penulis sedang menulis artikel.
Efektifkan menjadi: Penulis sedang membuat artikel.

- Jangan mengulangi subjek kalimat. Contoh kalimat yang ga efektif: "KAMU boleh memakan mangganya kalau KAMU mau."
Hilangkan satu subjek, jadi: “Kamu boleh memakan mangganya kalau mau.”

- Jangan menggunakan kata penunjuk jamak “para, beberapa, sejumlah, banyak, dll.” pada kata yang sudah jelas-jelas jamak. Contoh: “BANYAK PENULIS-PENULIS yang akan ikut gathering Kontenesia.”
Efektifkan menjadi: “Banyak penulis yang akan ikut gathering Kontenesia.”

- Buang kata-kata seperti "hari, tanggal, bulan, tahun, negara, kota, dll." Contoh yang ga efektif: Kontenesia didirikan pada TANGGAL 20, BULAN Mei, TAHUN 2016 di KOTA Bandung."
Ini namanya redundansi. Buang aja, karena sudah jelas: Kontenesia didirikan pada 20 Mei 2016 di Bandung."

- Buang superordinat Contoh yang ga efektif: Matanya BERWARNA biru bening.
Efektifkan menjadi: Matanya biru bening.

- Buang kata hubung yang berlebihan Contoh yang ga efektif: MESKIPUN Kristal cantik, TETAPI dia tetap rendah hati.
Efektifkan menjadi: Meskipun Kristal cantik, dia tetap rendah hati.

- Buang kata-kata yang memiliki makna sama (sangat – sekali; hanya – cuma – saja) Contoh ga efektif: Kristal SANGAT cantik SEKALI.
Efektifkan menjadi: Kristal cantik sekali.


5. Kecermatan


- Perhatikan pemilihan kata. Gunakan kata-kata yang memiliki nilai rasa yang tepat. Contoh:
a. Dia menatapku.
b. Dia mengerling kepadaku.
c. Dia memelototiku.
d. Dia mendelik ke arahku.
e. Dia memandangku.

- Variasikan kata-kata dengan sinonimnya Contoh: "Hotel XYZ terletak tepat di depan pantai. Hotel XYZ ini memiliki fasilitas yang lengkap.”
Efektifkan menjadi: "HOTEL XYZ terletak tepat di depan pantai. PENGINAPAN YANG SATU INI memiliki fasilitas yang lengkap.”

- Variasikan kalimat pembuka Contoh: “Bercak hitam adalah penyakit jamur yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik hitam pada sisi atas daun. Bercak hitam cenderung muncul saat suhu sedang hangat dan lembap.
Efektifkan menjadi: :Bercak hitam adalah penyakit jamur yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik hitam pada sisi atas daun. Penyakit ini cenderung muncul saat suhu sedang hangat dan lembap.”

- Jangan ada makna yang ambigu (makna ganda). Contoh: Anak Mba Ade yang cantik itu sudah berusia 7 tahun.
Yang cantik itu Mba Ade atau anaknya?

6. Kelogisan


Kelogisan: makna yang terkandung harus logis dan tidak ambigu.
Cek pembahasan tentang Koherensi pada tautan ini: https://sundaymorningstory.blogspot.com/2019/01/kohesi-dankoherensi-dalam-bahasa-tulis.html

Ciri-Ciri Kalimat Tidak Efektif


1. Struktur kalimat tidak jelas. Kalimat tidak mengandung subjek dan predikat yang benar.
2. Bertele-tele dan boros kata
3. Kalimat tidak berhasil menyampaikan informasi
4. Kalimat tidak logis
5. Tanda baca tidak jelas.

***

Friday, January 18, 2019

Kuliah Jumat Kontenesia: Kohesi dan Koherensi Bahasa




Dalam linguistik, kohesi artinya adalah “keterikatan antarunsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana, yang ditandai dengan konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan” (KBBI: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kohesi).

Sedangkan koherensi adalalah “hubungan logis antara bagian karangan atau antarkalimat dalam satu paragraf” (KBBI: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/koherensi).

CONTOH


Kita kasih contoh dulu, ya, biar kebayang:
1. Kalimat yang kohesif, tetapi tidak koheren:
“Aku suka bepergian. Kemarin tetanggaku bepergian ke Swiss. Tetanggaku itu sangat ganteng.”

Kata-kata yang kohesif: bepergian > bepergian > tetanggaku > tetanggaku.
Masih terikat secara “kata”, tetapi secara makna ini acak-acakan dan ga nyambung.

2. Kalimat yang koheren, tetapi tidak kohesif:
“Aku suka bepergian. Indonesia itu sangat indah, lho.”

Ini sudah koheren. Mungkin si “aku” ini sudah bepergian keliling Indonesia & melihat bahwa Indonesia itu indah. Tapi kalimat-kalimat ini maknanya bagai berdiri sendiri & tidak saling berkaitan karena kekurangan kata-kata kohesi yang bisa menghubungkan keduanya.

3. Sekarang perhatikan kalimat ketiga yang kohesif dan koheren:
“Aku suka bepergian. Bepergian itu menenangkan pikiran dan memberiku pengalaman baru. Alasan-alasan itulah yang membuatku menyukainya.”

Unsur-unsur yang membuat kalimat di atas kohesif: bepergian > bepergian > menenangkan pikiran & memberiku pengalaman > alasan-alasan itulah.
Makna kalimat-kalimat di atas juga saling terkait. Saling nyambung. Ga ada kalimat yang berdiri sendiri, baik secara urutan kalimat, maupun maknanya.

Jadi bisa disimpulkan:

KOHESI:


- Sebuah tulisan dikatakan kohesif jika kalimat-kalimat dan paragraf-paragrafnya memiliki keterikatan, selaras, dan nyambung satu sama lain.

- Kohesi bisa diekspresikan secara gramatik maupun leksikal (Halliday and Hasan, 1976). Ini nanti kita bahas lebih detail ya.

KOHERENSI:


- Setelah kohesi, kemudian akan tercipta koherensi, yaitu makna tulisan terasa logis dan menjadi satu kesatuan utuh. Ga ada ide yang melenceng dan terlepas dari tema utama.

- Koherensi itu bisa disebut sebagai “kesesuaian konteks yang akan membuat sebuah kalimat dipahami dan pesan dalam kalimat tersebut tersampaikan dengan baik”.

Cara Membuat Tulisan yang Kohesif


Sekarang kita bahas praktiknya, ya. Gimana sih, cara membuat tulisan yang kohesif?
Tadi udah kita bahas bahwa kohesi itu bisa diekspresikan secara gramatik maupun leksikal.
Kohesi gramatik diekspresikan melalui sistem gramatik bahasa, seperti referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi.

Sementara kohesi leksikal diekspresikan melalui pilihan kosakata yang sama atau berkaitan secara semantik, seperti reiterasi/pengulangan (repetisi, sinonim, superordinat, kata-kata umum), dan kolokasi (asosiasi tetap antara sebuah kata dan kata lain dalam lingkungan yang sama).

Contoh kohesi gramatik:

1. Menggunakan referensi: Beli APARTEMEN INI sekarang juga! Senin hargaNYA naik.
2. Menggunakan substitusi (pengganti): MUSTIKA merasa sangat bahagia. Minggu depan DIA akan menikah.
3. Menggunakan elipsis (kalimat yang terputus): Kamu boleh membeli panci itu kalau [kamu] mau [membeli panci itu].
4. Menggunakan konjungsi (kata hubung): Kristal menyukai dia. NAMUN, dia tidak tahu.

Contoh kohesi leksikal:

1. Menggunakan repetisi (pengulangan): Yurind mempunyai seekor KUCING. KUCING itu diberi nama Sapi.
2. Menggunakan sinonim: Tika baru saja mengadopsi seekor KUCING. MEONG lucu itu diberi nama Pupus Kanopus.
3. Menggunakan superordinat (kata berkasta lebih tinggi): Mba Ade tidak memiliki KUCING. Ada trauma masa lalu yang membuatnya tidak ingin lagi mengadopsi BINATANG yang satu itu.
4. Menggunakan kata-kata umum: Aku bingung nyari contoh yang ini dalam bahasa Indonesia. Coba pakai contoh yang Inggrisnya aja, ya: “I have a KITTEN. That BABY CAT is so cute.”
5. Menggunakan kolokasi (sesuatu yang berdampingan & biasanya diasosiasikan sebagai satu kesatuan): Revin memiliki KUCING, ANJING, dan KELINCI. Dia sangat menyayangi BINATANG PELIHARAANNYA.



Monday, January 14, 2019

Kuliah Jumat Kontenesia: Kata Ganti Orang (Pronomina Persona)



Kata ganti orang atau “pronomina persona” atau adalah kata yang berfungsi untuk menggantikan kata benda orang (atau kata panggilan untuk seseorang) agar kalimat menjadi lebih efektif, tidak membosankan, dan tidak mengulang-ulang sebutan untuk orang yang sama.
Ciri-cirinya: biasanya terdapat pada posisi subjek dan objek.

Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait “kata ganti orang”: 

1. Kata ganti orang ini bisa bersifat tunggal maupun jamak.
2. Hanya bisa dipakai untuk mengganti kata benda orang, nama orang, atau hal-hal lain yang dipersonifikasikan (benda mati yang dianggap hidup), kecuali kata ganti “ia” dan “mereka” yang kadang digunakan untuk mengganti kata benda tidak bernyawa.
3. Kata ganti orang ini bukan “kata sapaan” seperti “Anda (dalam konteks sapaan), Saudara, Bapak, Ibu, Yang Mulia, Tuan, Nyonya” karena kata-kata tersebut termasuk nomina.

Kita bahas satu-satu ya.

1. Kata ganti orang pertama tunggal, yaitu: “saya” (bahasa formal); “aku , daku, diriku, hamba, beta” (bahasa nonformal).
2. Kata ganti orang pertama jamak, yaitu: “kami, kita”.
3. Kata ganti orang kedua tunggal, yaitu: “Anda” (bahasa formal, selalu ditulis dalam huruf kapital); “kamu, kau, engkau, dikau” (bahasa nonformal).
4. Kata ganti orang kedua jamak, yaitu: “Anda semua, Anda sekalian” (bahasa formal); “kalian, kamu sekalian” (bahasa nonformal).
5. Kata ganti orang ketiga tunggal, yaitu: “beliau” (bahasa formal); “dia, ia” (bahasa nonformal).
6. Kata ganti orang ketiga jamak, yaitu: “mereka, mereka semua.”

Ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Tentang “kami” dan “kita”
- kita > melibatkan kawan bicara
- kami > TIDAK melibatkan kawan bicara
Contoh:
- Tim editor ke penulis: “Kita makan-makan Sabtu ini.” > artinya: tim editor MENGAJAK penulis untuk ikut makan-makan pada hari Sabtu ini.
- Tim editor ke penulis: “Kami makan-makan hari Sabtu ini.” > artinya: tim editor CUMA MEMBERI TAHU bahwa mereka akan makan-makan pada hari Sabtu ini. Penulis enggak diajak.
 
Perbedaan "kita" dan "kami"
*dari koleksi infografisnya Mas Ivan Lanin


2. Catatan kedua adalah terkait “dia” dan “ia”

- “dia” hanya bisa digunakan untuk mengganti nama orang atau benda yang dipersonifikasikan. Contohnya dalam buku fabel yang tokoh-tokoh binatangnya hidup dan berbicara seperti manusia.

- “ia” bisa digunakan sebagai kata ganti orang maupun benda mati.

- Kata “dia” bisa diletakkan sebagai objek, sementara “ia” tidak bisa. Contohnya pada kalimat “Aku cinta ia”. Kalimat ini tidak berterima dalam ragam bahasa baku & akan terasa janggal. Yang benar tentu saja “Aku cinta dia”.

Friday, December 7, 2018

Kuliah Jumat Kontenesia: 6 Cara Membuat Artikel Konten yang Menarik


Struktur artikel konten untuk publikasi di internet agak berbeda. Di internet itu netizen memiliki banyak pilihan untuk konten yang serupa, jadi mereka akan mencari konten yang jauh lebih menarik dan lebih berisi. Kalau tidak menarik, mereka akan segera pindah ke laman lain.

Kita hanya punya waktu sekian detik untuk memikat netizen dengan artikel kita. Nah, bagaimana caranya membuat artikel konten yang menarik? Kita bahas sekarang, ya.

1. Pertama, dimulai dari judul yang harus dibuat semenarik mungkin.
Ada beberapa “rumus” untuk membuat judul yang menarik, antara lain:
- Judul yang memuat angka tertentu.
- Judul yang mengandung kata-kata aksi. Misalnya, “Ikuti …!” atau “Lakukan hal ini…!”
- Judul yang menawarkan solusi atas sebuah masalah.
- Judul yang mengandung sensasi.
- Judul yang ditulis berdasarkan hasil riset.
- Judul yang mengajukan pertanyaan.
- Judul yang mengandung kata-kata ajaib, seperti: “gratis, cepat, mudah, aneh, unik, luar biasa, dll.”
- Judul yang berisi penyangkalan. Contoh, “Stop …!” atau “Jangan…!”
- Tetapi ada satu yang penting dan wajib diingat: judul harus tetap sesuai fakta dan sesuai dengan isi artikel.

2. Kedua dari paragraf pembuka yang menarik. Minggu sebelumnya Mba Ade sudah menjelaskan secara komprehensif tentang hal ini. Temen-temen bisa buka kembali tautan ini: http://forum.kontenesia.com/d/60-langkah-strategis-menulis-paragraf-awal-artikel-konten


3. Ketiga dan yang paling penting adalah kualitas konten.
Agar netizen mau berlama-lama membaca artikel kita, kita harus memberikan konten yang isinya:
- Bermanfaat bagi pembaca, Misalnya dengan memberikan saran, tips, atau informasi penting.
- Isi konten unik, berbeda dari yang lain, dan tidak plagiat.
- Isi konten mengandung informasi yang benar, akurat, sesuai fakta, sesuai hasil riset, bukan hoax. Berikan buktinya.
- Isi konten bisa memberikan jawaban bagi pembaca. Jika di judul atau awal paragraf dikemukakan sebuah permasalahan, maka di dalam artikel tersebut harus dipaparkan solusinya.
- Isi konten bisa menginspirasi pembaca untuk melakukan sesuatu.
- Isi konten menunjukkan kepedulian terhadap suatu masalah.
- Isi konten menghibur atau lucu.
- Isi konten netral, tidak menyerang pihak-pihak tertentu, tidak memasukkan egoisme penulis, tidak bersifat SARA.

4. Buat struktur artikel yang ramah pembaca, mudah dipindai, dan enak dipandang, yaitu:
- Gunakan poin-poin atau subbab. Bullet list ini akan memudahkan netizen untuk menangkap apa sih isi artikelnya, menarik tidak sih?
- Paragraf dan kalimat harus dibuat pendek-pendek. Misalnya, setiap kalimat tidak boleh lebih dari 2 baris dan setiap paragraf tidak boleh lebih dari 5 baris. Paragraf yang berupa blok besar akan terasa membosankan, lelah buat dibaca, dan tidak menarik untuk dilihat.
- Tambahkan gambar ilustrasi yang relevan dengan pembahasan. Bisa juga menambahkan video dan infografis.
- Perkaya konten dengan tifografi (seni tata huruf) yang menarik.

5. Konten yang baik harus ditulis dengan bahasa yang baik pula. Kalaupun temanya menarik, tetapi bahasanya buruk, netizen akan lelah membacanya. Bahasan ini sudah dipaparkan sama Mba Kristal minggu kemarin (http://forum.kontenesia.com/d/61-kuliah-jumat-kontenesia-8-cara-menulis-efektif).
Ringkasnya, bahasa yang baik itu:
- Bahasa yang lugas, tidak bertele-tele, tidak mengulang informasi yang sudah umum atau informasi yang sama yang sudah disebutkan sebelumnya di dalam artikel.
- Menggunakan kalimat aktif, bukan pasif.
- Jangan ada salah ketik. Jadi baca kembali dan edit artikel setelah ditulis, minimal 1x.
- Jangan ada kalimat yang ambigu (bermakna ganda).
- Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
- Perhatikan penggunaan tanda baca.

6. Terakhir, jangan lupa memasukkan kata kunci ke badan artikel untuk memaksimalkan SEO. Soal ini sudah dibahas sama Mba Ade & Mba Mustika dan bisa kembali dibaca di tautan berikut, ya: http://forum.kontenesia.com/d/58-kuliah-jumat-kontenesia-seo-dalam-artikel.

Sesi Tanya jawab:

(Dzerlin): Tanya: sejauh mana batasan judul dianggap click bait?

Jawab:
Judul termasuk click bait kalau ternyata:
- Judul ga sesuai dengan isi artikel. Isi artikel kadang jauh berbeda atau judul justru sangat menyesatkan.
(Ade): Contoh: “Tertangkap Basah Menemui Selingkuhannya, Artis X bla bla bla.” (padahal cerita di film).
- Isi artikel tidak berkualitas, informasinya nihil. 
- Biasanya judulnya itu provokatif.
- (Tyas & Ade): Pakai kata-kata sakti & bombastis, seperti “terkuak, terbongkar”.
- (Putri): Menggunakan kata sifat secara vulgar (Contoh: Dokter Cantik Ini Tewas Dibunuh di Tempat Praktiknya).

Pembahasan poin “Isi konten unik, berbeda dari yang lain, dan tidak plagiat.”

Ada beberapa tips biar ga kena jebakan plagiat:

- parafrasa > ubah kata-kata sumber dengan kata-kata sendiri. Cari sinonimnya. Aduk-aduk strukturnya. Kamus sinonim yang bisa dijadikan rujukan: http://www.sinonimkata.com/
(Revin): Bisa download app thesaurus di Play Store juga.

- Ambil bahan dari banyak sumber, jangan hanya satu. Comot sana, comot sini.

(Ade): Supaya kontennya unik. harus pintar-pintar riset. Jangan ambil sumber yang paling banyak dibahas orang, terus parafrase dengan kalimat-kalimat yang unik juga. Jangan monoton.

(Putri): Mengambil sudut pandang unik dari hal yang udah banyak dibahas. Satu hal bisa punya pembahasan unik dari banyak segi.

Buat plagiat ini, ada beberapa yang halal, ya:

- Kutipan undang-undang
- Ayat-ayat kitab suci
- Kutipan terkenal dari orang penting

Pembahasan poin “Isi konten netral, tidak menyerang pihak-pihak tertentu, tidak memasukkan egoisme penulis, tidak bersifat SARA.”

Ini salah satu alasan kenapa dari awal aku ga mau Kontenesia ngambil job bertema politik, baik dari pihak yang sama pandangan politiknya denganku maupun yg berlawanan.... Karena ini ranah yg sulit sekali buat dipaparkan secara netral & kita semua tentu punya kecenderungan, entah sedikit atau banyak.

(Revin): Masih soal konten yg netral, menurutku bukan cuma tentang tema-tema politik atau yang berat. Tema yg sederhana pun, apabila penulisnya terlalu men-judge pembaca, mendiskreditkan sikap-sikap dan pengetahuan pembaca, bisa disebut tidak netral.

(Sri): Benar. Dalam banyak tema sederhana/sehari2, kadang tanpa sadar kita memasukkan "ideologi yang kita pegang". Sesimpel pertentangan pendapat antara "ibu bekerja" dan "ibu rumah tangga".

(Tiyas): Nikah muda vs nikah setengah tua.

(Anindita): Tim bubur diaduk vs nggak diaduk.

(Mita): SNSD VS TWICE

(Sri): Yang perlu diingat, kita menulis atas nama klien. Argumen personal untuk artikel yang seharusnya jadi "isi kepala" klien, seharusnya ga dimasukkan. Bisa jadi klien bertentangan pendapat sama kita. jadi jangan sampai memasukkan egoisme kita ke dalam artikel
Kalau buat soal yang umum-umum, netral, dan baik, masih boleh lah dimasukkan. Misalnya: "kurangi plastik, yuk recycle, yuk tanam pohon & sayangi bumi".

(Revin): Artikel harus mengutamakan informasi, dan harusnya informasi yang berimbang. Kalau terlalu memasukkan idealisme sendiri (gak peduli idealisme yang relatif benar apa tidak), itu sudah masuk ke penulisan opini. Dan media punya klien bukan wadah yg tepat untuk memasukkan tulisan opini pribadi kita.

(Putri): Aku bisa bayangin menulis tema yang relatif cukup menimbulkan perpecahan, dan si penulis (walau statusnya harusnya netral) merasa "nggak tahan" untuk gak "mendidik" calon pembaca dengan opininya sendiri, walau gak nyambung dengan permintaan klien.

(Sri): Nah, inilah yang termasuk egoisme kita.

Pembahasan poin “Jangan ada salah ketik. Jadi baca kembali dan edit artikel setelah ditulis, minimal 1x.”

Jadi, otak kita tuh mengalami yg namanya "terbutakan" (pernah dibahas di NGC, lupa nama acaranya). Jadi kalau kita udah familiar sama sesuatu, otak kita akan merekam sesuatu itu & berfungsi kayak autopilot, akan memahami hal tersebut dengan sendirinya, dalam gambaran besar, bukan detail kecil.
Contoh realnya dalam 3 gambar ini: 




1. urutan abjadnya salah
2. kata-katanya dibalik
3. memakai huruf Rusia

Nah, ini yg namanya "otak kita terbutakan". Otak kita sudah merekam kata-kata tersebut berupa "image utuh", bukan huruf satuan. Inilah yang membuat kita tetap bisa membaca kata-kata tersebut meskipun salah. Sama seperti kita ga lihat di mana salah & typo saat ngedit artikel... karena otak kita sudah mereka semuanya.

Cara untuk menghilangkan efek "terbutakan" ini adalah dengan jeda. Setelah selesai menulis, endapkan dulu tulisannya. Lakukan sesuatu yang lain, refreshing. Nanti balik lagi & edit dengan otak yang lebih segar. Dengan cara ini, otak kita bisa melihat kesalahan dan typo dengan lebih jelas.

(Putri): Dalam psikologi itu namanya konsep Gestalt. Memandang sesuatu secara keseluruhan, bukan detail2 kecil. Itu mekanisme untuk mencegah otak mengalami tekanan karena keharusan mencerna banjir informasi kecil2. Setelah memahami hal besarnya (kata-kata dalam paragraf), baru kita bisa menekuni yang kecil2 (melihat ulang satu-satu untuk mengecek kesalahan yang ada).