Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Wednesday, October 31, 2018

Perjalanan Impulsif dengan Segala Risikonya

Kami adalah impulsive travelers. Rencana perjalanan kami sering berubah mendadak di tengah jalan. Itulah kenapa kami lebih suka bepergian sendiri dan jarang mengajak orang lain.

Tentu saja, perjalanan yang impulsif ini berisiko karena bisa saja keadaannya berubah jadi tidak memuaskan, atau lebih parah dari itu: justru mengecewakan. Salah satu contohnya kami alami ketika naik kereta dari Stasiun Bandung ke Cicalengka.

Kami awali hari itu dengan satu tujuan utama yaitu pergi ke Lembang lewat rute asing: Ujungberung - Palintang - Bukitunggul - Maribaya - Lembang. Sebelumnya, suami dan aku pernah menyengajakan diri menelusuri rute alternatif ini menggunakan motor. Ternyata jalannya sebagian besar sudah bagusbahkan banyak bagian yang sudah dicordan cukup lebar untuk dilalui dengan mobil. Dulu, sewaktu jalannya masih rusak, rute ini adalah salah satu rute menarik untuk penyuka motor trail.

Pemandangannya? Jangan tanya. Namanya lewat gunung, pemandangan di sini cukup indah. Sebagian besarnya ditanami dengan pohon kopi, kemudian daerah Palintang sampai Bukitunggul ditanami pohon kina. Bahkan ada pabrik pengolahan kina di sini.

Di kanan dan kiri jalan ada tebing dan hutan yang di terasnya banyak sekali bunga-bunga liar cantik berwarna ungu. Aku tak henti "ber-wah" dan "ber-wow" sepanjang jalan, dan sangat menyayangkan karena waktu itu anakku tidak ikut serta karena harus sekolah. Ada semacam guilty pleasure setiap kali aku & suami pergi berjalan-jalan sementara anakku bersekolah. Tapi lama-kelamaan, rasa guilty-nya berkurang dan yang tersisa hanyalah pleasure-nya. (Ibu macam apa kau ini?!)

Baiklah, lanjut tentang perjalanannya.

Kali keduanya, kami melewati rute ini bersama anak. Aku sudah tidak sabar ingin menunjukkan bunga-bunga ungu cantik yang bertebaran di sepanjang jalan. Dan ternyata Saudara-saudara, tidak ada satu bunga pun di sepanjang jalan itu... karena kali ini kami melewatinya pada musim kemarau. Tanah gersang, rerumputan kering. Ah anakku, tidak beruntung kau kali ini.

Setelah suami puas memotret dan nge-drone di hutan, kami pun melanjutkan perjalanan sampai ke Maribaya. And being impulsive that we are, suamiku nyeletuk, "Mampir ke Maribaya Lodge lagi, yuk?"
Tentu saja aku & anakku tidak pernah menolak kalau diajak mampir ke tempat wisata. Jadi untuk yang kedua kalinya, kami pun ke Maribaya Lodge. Setelah parkir, barulah kami sadar, ini hari Sabtu dan tempat wisata seperti ini pasti penuh. But we were not quitters, so we kept going. Sudahlah, sudah kadung mampir, kami pun masuk. (Asli, tempat ini penuh sama lautan manusia. Kalau bisa datang pada hari lain selain akhir pekan, pilihlah hari lain).

Getting out of Maribaya Lodge was such a relief! Tapi kami belum menentukan tujuan selanjutnya. Jadilah kami mampir ke rumah sepupu yang kebetulan tinggal di Lembang. Pintu rumah mereka yang selalu terbuka (atau kami ketok kalau tidak :D ), sering menjadi tempat perhentian kami. Kami pun beristirahat di sana sambil berpikir. Setelah menimbang bolak-balik, sore harinya kami mengejar waktu dan turun ke Bandung, ke stasiun Kebon Kawung. Setelah memotret, suami lagi-lagi mencetuskan ide, "Eh naik kereta ke Cicalengka, yuk."
"Yuuuuuuuk..."

Sayangnya, ternyata tiket kereta ke Cicalengka harus dibeli di stasiun lama yang berada di belakang. Sudah kadung niat, kami pun memutar dan pergi ke stasiun lama. Ternyata di dalam ada banyak sekali orang. Hari Sabtu, malam Minggu. Tentu saja banyak orang. You know that feeling, when your guts tells you to stop but you keep going? We should've stop when a lady near us mumbled this to her companion, "Jam segini kereta ke Cicalengka selalu penuh!" But we were not quitters, so we kept going... until we got in the train and... Oh my God, I QUIT!

Kereta ekonomi ke Cicalengka ini berjejalan, berdesakan, dipenuhi beragam bau keringat orang yang pulang kerja, dan dibumbui oleh virus bersin serta batuk yang memang sedang musimnya. Dan kursinya tidak bernomor, jadi saat masuk, kami harus langsung menyambar kursi mana pun yang ada. Aku tidak sanggup hidup seperti ini... Ini bukan wisata, ini..... ini... apa pun namanya... (Dramatis).

Akhirnya kami turun di Stasiun Kiara Condong dan mengakhiri perjalanan hari itu.

Kata orang, traveling is not about the destination, but the journey. Dan perjalanan tersulit pun umumnya akan dikenang dengan senyum atau bahkan tawa. Dan yang satu ini adalah untuk ditertawakan. :D

Image may contain: cloud, text and outdoor

Thursday, October 11, 2018

Kawah Kamojang Garut: Datanglah Menjelang Magrib kalau Kau Berani

Hari itu kami jalan-jalan ke Sumedang. Karena hari masih cukup siang sementara petualangan di Sumedang telah selesai, tiba-tiba tebersitlah sebuah ide impulsif, "Ke Garut, yuk?" yang kemudian direspons "Ayo!!" dengan penuh semangat.

Pertama-tama kami bertanya ke Mbah Google tentang tempat-tempat wisata di Garut yang tidak terlalu jauh jaraknya dari titik tempat kami berada saat itu. Setelah menimbang-nimbang, kami memutuskan untuk pergi ke Kawah Kamojang.

Kamojang Hill Bridge
Perjalanan pun dimulai. Sore hari sekitar waktu asar, kami sudah tiba di jembatan Kamojang. Arsitektur jembatannya bagus, jadi kami mengambil beberapa foto di sana. Setelah itu, buru-buru melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin senja.

Sekitar pukul 5 sore kami tiba di gerbang tiket menuju Kawah Kamojang. Kami sempat bertanya kepada petugas di sana, "Lokasi wisatanya tutup jam berapa?" Mereka bilang sekitar magrib, tetapi di dalam sana ada warung-warung makan yang selalu buka, dan suka ada orang-orang yang kamping, jadi kami tidak perlu khawatir kesepian. Mau kamping juga boleh, katanya.

Baiklah, kami melanjutkan perjalanan ke dalam. Dan hanya beberapa puluh meter dari tempat tiket, kami sudah dibuat terpesona oleh pemandangan Kawah Manuk. Ini adalah kawah pertama dari rentetan kawah yang ada di sini.

Kawah Manuk

Setelah mengambil beberapa foto, kami melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Di pusat area wisata ini ada lahan parkir yang cukup luas dan sejumlah warung makan yang menawarkan camilan seperti Indomie, somay, baso, dan makanan lainnya. Ada pula musala dan WC.

Setelah parkir, kami mulai berjalan kaki ke kawah kedua. Kawah Kereta Api namanya. Kawah ini dinamai demikian karena semburan uap panasnya sangat kencang dan bunyinya sangat berisik seperti kereta uap zaman dahulu. Jarak terpisah beberapa meter saja, kami sudah tidak bisa mendengar lawan bicara. Untung saja ada handy talkie, itu pun harus sambil berteriak saat menggunakannya, barulah terdengar. "AYAAAH, UDAH SORE, AYO LANJUT KE KAWAH KAMOJANGNYA!!!"
Suami: "OKEEE!!!"
Seperti di rimba, ya?

Kawah Kereta Api


Kami melanjutkan perjalanan, tetapi sedikit-sedikit berhenti untuk memotret karena tempat ini sangat memukau. Memesona. Menghipnotis. Jadi kami terus terkagum-kagum.

Setelah "dikit-dikit berhenti, dikit-dikit memotret" kami pun tiba di kawah berikutnya, yaitu Kawah Hujan. Hari tambah senja dan sepi, semakin dingin dan spooky, dan membuatku merasa hibbie jibbies (berima ya...). Untunglah, mendadak ada serombongan orang (anak-anak dan pelatih) dari perguruan pencak silat atau taekwondo yang datang ramai-ramai dan menuju ke Kawah Hujan. Dan kalau melihat beberapa bapak dan kakek sesepuh perguruan, kamu juga akan mendadak jadi pemberani. Ah, kalau sama si Kakek mah, setan juga takut dikelepak kayaknya. Dari tampangnya saja... belum ngomong apa pun, si Kakek sudah kelihatan sakti.

Kawah Hujan
Kami tiba di Kawah Hujan bersama rombongan tersebut. Sesuai namanya, kawah ini memang menyemburkan uap air yang terasa seperti hujan. Airnya panas, tapi tidak bisa dipakai berendam seperti di Ciater karena hanya berupa aliran dan genangan kecil. Inilah tempat yang terkenal bisa dipakai untuk merebus telur. Tinggal celupkan saja telur mentah ke dalam salah satu genangan air di sini, tunggu beberapa menit, dan kamu pun akan akan mendapatkan telur rebus yang enak. Jangan lupa bawa nasi liwet, pepes ikan gurami, dan sambal sebagai pelengkapnya.

Memotret di sini cukup berisiko karena airnya yang terus memercik dari sumber-sumber mata air kecilnya. Jadi kalau kamu membawa kamera mahal dengan lensa seharga motor, lebih baik dikantongi saja daripada rusak tepercik air belerang panas.

Hutan di Kawah Kamojang
Jam sudah menunjukkan pukul 6 dan aku gelisah karena belum juga sampai di Kawah Kamojang yang sejak awal menjadi tujuan utama kami. Sudah jauh-jauh berwisata ke Kamojang, masa kami ga ke Kawah Kamojangnya? Pikir kami, Kawah Kamojang ini adalah kawah terbesar dan terepik dibandingkan tiga kawah lain yang sudah kami lihat.

Aku membuka Google Map dan di sana tertera bahwa Kawah Kamojang sudah tidak jauh dari tempat kami berada. Ada jalan setapak menuju ke sana. Jadi kami pun mulai meniti jalan tersebut menuju ke hutan yang lebih lebat dengan kabut yang semakin tebal dan udara yang semakin dingin.

Setelah beberapa meter berjalan dengan perasaan yang sangat tidak nyaman, aku dan suami berunding, apakah akan terus melanjutkan atau balik badan saja. Kami membawa senter saat itu. Jadi ini bukan soal terang atau gelap. Kami juga membawa tripod yang bisa dipakai sebagai alat bela diri kalau ada orang jahat atau binatang liar. Tapi ini bukan soal makhluk kasat mata. Ada rasa tidak nyaman yang luar biasa menerpaku, jadi aku meminta untuk pulang saja. Suami setuju. Kami balik kanan dan turun kembali.


Di perjalanan pulang, setelah Kawah Kereta Api, ada beberapa pemuda yang sedang membangun sebuah kantor. Mereka "warlock" (warga lockal). Kami berbincang-bincang dan mengorek informasi tentang Kawah Kamojang.

Ternyata.......... Tidak ada itu yang namanya "Kawah Kamojang", Saudara-saudara! Sebenarnya yang dimaksud dengan "Kawah Kamojang" adalah "Kawah Manuk, Kawah Kereta Api, Kawah Hujan, dan Kawah Berecek yang ada di daerah bernama Kamojang".
PLAK!
Aku merasa dibodohi oleh Google Map!

Untunglah kami urung menelusuri hutan spooky ke titik yang di Google Map tertera tulisan "Kawah Kamojang". Entah apa yang akan kami temukan di sana. Magrib-magrib pula!

Hutan di Kawasan Kamojang
Kami pun turun dengan puas. Kembali ke tempat parkir dan menyempatkan diri untuk memotret Kawah Berecek yang sebelumnya terlewat dan beberapa kawah tak bernama lain di sekitar sana.
Luar biasa rasanya melihat tanah yang kami pijak "mendidih" lumpurnya dan mengeluarkan uap dari sela-selanya. Tidak ada duanya.

Kawah Berecek
Sebagian besar tempat yang "berbahaya" ini dipagar, tetapi tetap berhati-hatilah saat melangkah karena hampir setiap sudut ada saja lumpur yang menggelegak dan uap belerang yang menguar.

Salah satu kawah di Kamojang

Satu lagi bonus luar biasa yang membuat kami menganga adalah PLTPB Kamojang (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi). Sore sebelumnya, saat kami melewati tempat ini, pemandangannya sudah tampak luar biasa. Ada beberapa cerobong besar yang mengeluarkan uap yang mengepul-ngepul ke langit.
PLTPB Kamojang

Dan inilah penampakan PLTPB Kamojang yang membuat kami berpaling dan berhenti sebentar karena kaget. Kami pikir ada kebakaran saking benderangnya tempat ini. Ternyata memang seindah itulah keadaannya dan semua dalam keadaan aman terkendali.

PLTPB Kamojang

Thursday, July 26, 2018

Road Less Travelled: Gunung Parang Purwakarta, Sasak Panjang, dan Jembatan Kereta Cisomang

Minggu kemarin, kami, Keluarga Tukang Aprak-aprakan mengerjakan apa yang biasa kami kerjakan: aprak-aprakan! :D "Aprak-aprakan" adalah bahasa Sunda yang artinya road less travelled. Hmm... bahasa Indonesianya apa ya... "bepergiaan ke tempat yang ga ada jalannya, kayak ke hutan atau ke gunung." Kurang lebih seperti itulah artinya.

Dan kali ini kami memilih aprak-aprakan ke Kota Purwakarta.

Perhentian pertama kami adalah sebuah bukit. Suami nge-drone di sana, sementara aku mencari bunga dan insek untuk dipotret. Lokasinya tepat di depan kuburan. Di sana, to my surprise, aku menemukan pohon jambu mete (jambu monyet) yang sedang berbuah walau tak lebat. Jambu mete... kacang mete kesukaanku! Kacang yang harganya udah mirip daging kalau Lebaran. Kacang yang kalau di mertua lagi ada, aku dan suamilah yang biasa menghabiskannya. :D

Beberapa jambu dan biji metenya berserakan di tanah. Saat seorang ibu--yang rumahnya berada tepat di depan kuburan--lewat untuk menjemur padi di dekat sana, aku bertanya, kenapa jambu metenya kok dibiarkan berserakan begitu saja, kenapa ga ada yang mengambil? Si Ibu bilang, iya, emang ga ada yang suka ngambilin, mungkin udah pada bosen, mungkin ga suka. Lagian getahnya bikin kulit menghitam dan mengelupas, katanya.

Wah, mubazir gini, pikirku. Lalu aku meminta izin untuk membawa pulang beberapa biji mete. Buah jambunya sendiri ga ada yang bisa diambil karena memang belum musimnya, jadi buahnya ga banyak dan kalaupun ada satu dua, letaknya hampir di puncak. Kalau memaksa memanjat, aku khawatir disangka, "Ada monyet naik jambu monyet...!"

Itu kisah di kuburan pertama. Di kuburan kedua yang letaknya tepat di tepi jalan, aku meminta suami untuk berhenti sejenak karena di sana ada baaaanyaaak sekali bunga putih cantik yang tumbuh liar. Aku mencabut beberapa rumpun. Bapak-bapak di seberang jalan berseru, "Milari naon (nyari apa?)?"
Aku bilang, nyari bunga. Aku minta izin dan dia berkata sambil tertawa, "Candak we sadayana ari palay, mah. (ambil saja semuanya kalau mau)." Haha... banyak banget, dong.

Perhentian berikutnya adalah Gunung Parang. Suami nge-drone di dekat sana. Kami ga naik ke gunungnya, karena anakku malah tidur di mobil.

Jadi, Gunung Parang yang memiliki ketinggian sekitar 963 meter di atas permukaan laut ini sebenarnya adalah sebongkah batu raksasa. And by "giant", I mean... really, really, really massive! Sementara ketinggian gunung ini dari permukaan tanah yang kami pijak tepat di kakinya kurang lebih sekitar 400 meter lebih mungkin, ya, karena drone suamiku sudah terbang sampai ketinggian 380 meter dan itu belum sampai ke puncaknya.

Di sana sekarang sudah dibuat via ferrata (tangga titian di dinding tebing buat mendaki ke atas) dan ada "hotel" transparan yang menggantung begitu saja di dinding tebing. Not for the faint hearted, really! I'm a faint hearted... and I might just literally faint if I have to spend a night there.

Lanjut ke perhentian berikutnya yang entah di sebelah mana dan entah seperti apa, karena kami memang pergi ke mana saja aplikasi Waze membawa kami. :D
Kami mencari "Sasak Panyawangan" (bahasa Sunda, artinya: "jembatan tempat menikmati pemandangan") referensi dari Google Map. Ternyata setelah sampai di sana, namanya adalah "Sasak Panjang" (jembatan panjang). (Please, make up your mind, Sasak! :D)
Jalannya hanya cukup untuk 1 mobil tok! Kalau kalian berpapasan sama mobil lain, gimana? Euuu... 'ntar lah, dipikirkan saja solusinya di lokasi kalau memang sudah kejadian, ya. Capek kalau dipikirin dari sekarang.

Jadi, Sasak Panjang ini adalah sebuah skywalk (kalau di objek-objek wisata di Bandung, begitulah disebutnya). Jembatannya terbuat dari bambu, karena memang di sana ada banyak sekali hutan bambu, jadi pembuatnya memanfaatkan sumber daya yang ada. Bagus.
Nah, jembatan ini panjang banget dan nyambung ke mana-mana, sampai ke dinding sebuah bukit, dan naik terus hingga ke atas. Ada apakah di atas? Percaya atau tidak: ada kolam renang, katanya. Kok katanya? Iya, karena aku sudah turun dari jembatan sejak beberapa meter awal. :D

Anakku berjalan lumayan jauh, ke batu besar (yup, daerah Purwakarta ternyata kaya dengan batu-batu berukuran raksasa, jadi pengen googling sejarahnya), sampai agak ke atas. Suamiku mengikuti dari belakang dengan tertatih-tatih. He almost kinda "crawled" on it... Suamiku! Suamiku--yang dulu adalah pecinta alam dan penakluk gunung---kemarin berjalan merayap di sepanjang jembatan bambu, sementara anakku menggelinding dengan ceria. Aku ngakak di kejauhan, di bawah, di tempat aman, memijak tanah. Habisnya jembatan bambunya berderit setiap kali diinjak dan ada bolong-bolong di sela-selanya. Jadi aku turun saja. :D

Lanjut ke perhentian terakhir, yaitu Jembatan Kereta Cisomang. Yang satu ini untuk memuaskan kegilaan suamiku pada kereta membuat stok video aerial jembatan keren ini. Suamiku memang seorang train freak railfan, jadi dia senang mengunjungi tempat-tempat apa pun yang berhubungan dengan kereta.

Di tempat ini ada 2 jembatan, yaitu jembatan lama yang dibangun pada zaman kolonial Belanda ("Dibangun tahun 1800-an", kata suami di belakangku barusan) dan satu lagi jembatan baru, yaitu penggantinya, karena jembatan lama sudah tidak laik* pakai.

(*la.ik = memenuhi persyaratan yang ditentukan atau yang harus ada; patut; pantas; layak
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/laik)

Melebar deh pembahasannya. Dasar editor!

Jadi, apa hasil aprak-aprakan kali ini? Seperti biasa: foto. 
Tapi hari itu kami kurang beruntung. Seharian, dari Bandung sampai Purwakarta, dari pagi sampai siang menjelang sore, kondisinya hazy (kabur karena polusi/debu di udara, bukan karena kabut cantik). Memang beginilah nasib fotografer lanskap. Untung-untungan. Kadang cuaca sedang bagus, kadang sebaliknya. Dan kalau sedang tidak beruntung, Photoshop Lightroom comes to the rescue! Satu saja ya fotonya... 

Foto Jembatan Cisomang sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) diedit.
Err... ya, suamiku adalah fotografer andal (eaaa) sekaligus editor foto yang mumpuni (eaaa lagi...)
Hubungi nomor.... #ah terlalu vulgar.
Nah, masih ingat dengan kacang mete yang aku bawa pulang? Yang kata si ibu, getahnya bikin kulit menghitam dan mengelupas?

Sesampainya di rumah, aku berusaha membelahnya dengan pisau. Ternyata kulit kacang mete itu keras dan tebal, padahal aku sengaja memilih yang paling muda, masih hijau, karena aku pikir yang ini akan lebih mudah dibuka daripada yang kulitnya sudah mengeras seperti batok kelapa. Dan... karena masih hijau, getahnya juga banyak.

Getah?!! Inikah getah yang kata si ibu itu bikin kulit menghitam dan mengelupas? Terlambat... Tanganku sudah berlepotan. Buru-buru aku cuci dengan sabun cuci tangan, lalu dengan sabun mandi, lalu dengan larutan antiseptik. Rasanya tetap aneh, kulit jari jadi sehalus p@nt@t bayi. Terlalu halus untuk dibilang normal. Beberapa hari kemudian, kulit tanganku mulai mengelupas. Kayak ada selapis tipis yang mulai berubah warna menjadi lebih gelap, terus secara bertahap berguguran. Di situlah aku sadar, kenapa biji jambu mete itu sampai berserakan dan ga ada yang mau memungutnya. Kalau begini ceritanya sih, semahal daging pun mending beli daripada ngurus sendiri. :D

Semoga ada pesan moral yang bisa dipetik dari cerita perjalanan kami kali ini. Minimal: berhati-hatilah dengan getah kacang mete! :D

Wednesday, February 3, 2016

Road Less Travelled: Curug Batu Templek - Surga di Ujung Rimba


Kalau hari itu kami memutuskan tidak jadi pergi, kami akan sangat menyesal.

Siang itu kami berencana untuk pergi botram (bahasa Sunda: membawa bekal dan makan siang di alam terbuka). Tapi kenyataan kadang tidak seindah rencana. Diawali dengan kamar yang terkunci, dan yang lebih parah, kunci motor masih berada di dalam kamar. Lalu diikuti dengan ban yang kempes di tengah jalan. Tapi untunglah dua kejadian tersebut tidak membuat kami mengurungkan niat.


Rencananya, kami akan makan siang di bukit terdekat sambil menikmati pemandangan kota Bandung yang indah nun jauh di bawah. Tapi kami terhenti di tengah jalan ketika melihat dua buah air terjun di kejauhan mengalirkan airnya. Biasanya pada musim kemarau, tidak ada air yang menetes pada lereng tersebut. Tapi karena sekarang sedang musim hujan, kedua air terjun itu tampak cukup deras.

Saat traveling, kami memang sangat fleksibel dan kadang mengubah rencana sesuai keadaan. Jadi ketika suamiku mencetuskan ide untuk mengubah tujuan, aku pikir, kenapa tidak? Setelah mengecek rute dengan Google Map, kami pun memutuskan untuk menuju ke air terjun kecil itu. Ada jalan pintas yang cukup dekat dari tempat kami berada sekarang, tapi hanya berupa jalan setapak berbatu dan sebagian lagi bertanah. Tak apalah, kami toh suka bertualang. "Aprak-aprakan" kalau kata orang Sunda.

Dari kejauhan, kami hanya melihat dua air terjun kecil dan pendek. Tapi saat tiba, kami tidak menyangka ternyata air terjunnya sangat tinggi dan bagian bawah yang tidak terlihat dari kejauhan itulah yang justru merupakan bagian terbaik dari air terjun tersebut.


Bagian bawah air terjun yang melebar tersebut bebatuannya seperti ditatah oleh alam, jadi bentuknya berundak-undak. Bahkan sampai sungai di bawahnya pun turut berundak-undak. Cantik sekali. Benar-benar luar biasa. Itulah sebabnya nama air terjun ini adalah Curug Batu Templek, karena batu-batunya memang "templek."


Walaupun air sungainya saat itu kecokelatan, tapi itu tidak mengurangi keindahan tempat ini maupun kegembiraan kami. Sungguh, kalau hari itu kami memutuskan tidak jadi pergi, kami tidak akan pernah tahu apa yang akan kami lewatkan. Tempat yang satu ini, sangat layak untuk dikunjungi.


Monday, January 11, 2016

Dusun Bambu Family Leisure Park: Masuk Murah, Menginap Mahal


Gazebo-gazebo kayu tradisional di tepi danau sepertinya merupakan ikon Dusun Bambu yang paling terkenal. Siapa yang tidak ngiler melihat saung-saung Restoran Purbasari yang cantik ini sambil makan lesehan di tepi danau? Membayangkan piknik di pagi hari, lalu memandang danau dengan pantulan keemasan sinar matahari pagi.... aaah, tentu akan menjadi liburan yang sangat menyenangkan. 


Dan tentu saja, Anda juga bisa menikmati matahari tenggelam di dermaganya. Lagi-lagi dengan cahaya matahari senja yang cantik seperti pada foto di atas. Atau, jika belum terlalu sore, Anda bisa bersampan di danaunya dengan sampan Sangkuriang.


Ikon Dusun Bambu yang terkenal lainnya adalah tempat makan berupa sarang burung yang diberi nama Lutung Kasarung. Sarang burung ini berada di atas pohon buatan, dan Anda bisa ke sana menggunakan skywalk. Tempat makan ini memang penampilannya seperti sarang burung, karena dipasangi ranting-ranting dan tanaman rambat di sekelilingnya. Tapi jangan khawatir, di dalamnya ada sofa dan meja yang nyaman untuk duduk-duduk dan makan. Untuk bisa menggunakan tempat ini, Anda harus memesan makanan dahulu di kafenya.


Mari kita lanjutkan perjalanan dan menjelajah sedikit ke atas. 

Selain cottage, Dusun Bambu juga menyediakan camping ground yang sangat nyaman dan cantik, yang bernama Sayang Heulang (sarang elang). Anda tinggal datang dan menginap di tenda-tenda nyaman yang sudah disediakan. Anda juga bisa membuat api unggun di perapian yang sudah ada di sana. Jika Anda berkemah di sini, Anda bisa melihat city view Bandung di bawah sana. Tentu dengan gemerlap lampu kota. Dan di sisi lain, Anda bisa menikmati kelap-kelip bintang di antara daun-daun pohon pinus yang menjulang tinggi. Sangat menenangkan.


Selain Restoran Purbasari, Lutung Kasarung, dan camping ground Sayang Heulang, ada bermacam-macam fasilitas lainnya di Dusun Bambu. Ada kafe Burangrang, sejumlah villa nyaman di Kampung Layung, savana Arimbi dengan padang bunga aneka warna, Pasar Khatulistiwa tempat membeli souvenir etnik dan makanan, arena panahan, playground kayu, beberapa stan permainan anak, sungai kecil dengan jembatan cantik, tenda-tenda putih tempat beristirahat, dan pesawahan. 



Harga tiket masuk ke Dusun Bambu ini sangat murah, yaitu hanya Rp10.000,00 per orang. Itu pun sudah bisa Anda tukar dengan sebotol air minum. Di sini Anda juga bisa biking dan hiking. Tapi untuk menginap dan menikmati semua fasilitas lainnya, Anda harus merogoh kantong dengan cukup dalam.

Untuk kemping, Anda akan dikenakan tarif mulai Rp1.700.000,00++ untuk single camping deck (1 tenda, 2 kasur, taman privatapi unggun & fasilitas BBQ), dan RP2.500.000,00++ untuk double camping deck (2 tenda, 4 kasur, taman privatapi unggun & fasilitas BBQ)

Sedangkan untuk menginap di Kampung Layung, tarifnya berkisar:
- Village Residence: RP2.500.000,00++
(1 kamar tidur, ruang tamu, dapur kering, dapur kecil, taman privat, api unggun & fasilitas BBQ).
- Deluxe Village Residence: RP2.750.000,00++
(1 kamar tidur, ruang tamu, dapur kering, dapur kecil, taman privat, api unggun & fasilitas BBQ).
- Family Village Residence: RP3.750.000,00++
(2 kamar tidur, ruang tamu, dapur kering, dapur kecil, taman privat, api unggun & fasilitas BBQ).

Jadi persis seperti yang saya tulis di judul, "masuk murah, menginap mahal." 


Tapi jangan khawatir, jika Anda tidak ingin menginap, Anda bisa berjalan-jalan sepuasnya di sini. Dusun Bambu adalah tempat wisata alam yang sangat menarik dan cantik untuk dikunjungi. Terutama untuk Anda yang hobi berfoto. Ini adalah surga bagi para pecinta foto dan pecinta alam. Ada banyak spot cantik untuk berfoto. Yang saya maksud dengan "banyak" adalah "sangat banyak." Nyaris di semua tempat.

Jadi, siapkan waktu Anda, siapkan uang Anda, dan segeralah berangkat ke Dusun Bambu Family Leisure Park yang beralamat di Jl. Kolonel Masturi KM 11, Situ Lembang, Cisarua, Bandung.

Selamat berwisata! :)

Maribaya Berganti Rupa


Saat melihat postingan foto seorang teman di Facebook, aku heran, "Lho, ini Maribaya yang mana? Kok sekarang bagus?"

Maribaya yang aku kenal dahulu sangat sederhana. Hanya beberapa air terjun pendek di tengah belantara tak terawat. Tapi di foto temanku itu, Maribaya tampak berbeda. Ada skywalk, ada tempat berendam air panas, bahkan ada tempat untuk barbecue. Tampak lebih cantik. Jadi aku langsung berkata kepada suami, "Ayo, kita ke sana!" (Kalimat membosankan yang selalu aku lontarkan setiap kali melihat tempat cantik. :-D)


Maribaya sekarang sudah berganti rupa. Juga berganti nama. "Maribaya Natural Hot Spring Resort" namanya. Karena kini mereka memiliki kolam berendam air panas dan memiliki resort. Tapi tidak hanya itu. Ada banyak fasilitas lainnya di sana, seperti kafe, beberapa food court, amphitheaterfoot spa, kolam air dingin, kolam pancing, arena bermain anak, taman kelinci, tempat barbecue, dan... yang sedang tren di beberapa tempat: rumah Hobbit. Yup! Seperti di Farmhouse Lembang, di Maribaya juga ada rumah Hobbit. Hanya saja, rumah Hobbit di Maribaya masih dalam tahap pembangunan dan masih menunggu hingga rumputnya benar-benar cantik dan rapi. Tapi saat ini pun, Anda sudah bisa masuk dan berfoto di sana.


Bagi Anda yang senang wisata alam, tempat ini asyik untuk dikunjungi. Bagi Anda yang hendak mengadakan gathering, tempat ini luas dan memiliki berbagai macam fasilitas yang bisa dijadikan pilihan. Bagi Anda yang suka tempat cantik untuk berfoto, Maribaya tentu saja memiliki sejumlah spot yang menarik untuk diunggah ke akun Instagram Anda. Tengok saja tempat-tempat di bawah ini:
 
 Tangga menuju ke restoran atas


Gerbang kayu ala kuil Fushimi Inari Taisha di Kyoto, Jepang
(Mirip lah sedikit... :-D )

Arena bermain balita

Spider web bridge


Lalu mana skywalk yang aku ceritakan di awal? Argh... sayangnya tidak ada foto skywalk yang kosong. Karena saking girangnya, semua foto skywalk ternyata berisi kenarsisan kami di dalamnya. Jadi, ya sudahlah. Nanti saja Anda lihat sendiri saat berkunjung ke sana. Jangan lupa, sebaiknya Anda datang pagi-pagi. Pagi adalah saat yang tepat untuk berfoto di sana, karena sorotan cahaya matahari pagi yang menembus pepohonan pinus akan menambah cantik foto Anda di skywalk.

Kalau begitu, mana resortnya?

Resort

Ini dia resortnya. Bangunan empat lantai ini berada di dekat salah satu air terjun. Karena tempatnya yang agak mojok, jadi ada kesan spooky saat melihatnya, apalagi saat menghuninya, apalagi... apalagi pada malam hari. :-D


Maribaya Natural Hot Spring Resort terletak di Jl. Maribaya No. 105/212 Lembang - Bandung. Ada dua pintu masuk menuju ke sini. Tapi jangan khawatir, jika Anda masuk bukan lewat gerbang utama, melainkan dari tempat parkir di atas, ada shuttle yang akan mengantarkan Anda.

Maribaya buka setiap hari, termasuk pada hari libur, mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 08.00 malam. Tiket masuknya sedikit lebih mahal dibandingkan tiket masuk ke beberapa tempat wisata di Lembang lainnya, yaitu Rp35.000,00 per orang, plus parkir mobil Rp10.000,00. Tapi secara keseluruhan, tempat ini cantik dan menyenangkan untuk dikunjungi. Oh ya, Anda bisa menukarkan tiket dengan air minum di kafe, karena Anda tidak diizinkan untuk membawa makanan sendiri ke dalam area Maribaya.

Selamat berjalan-jalan. :) 

Thursday, January 7, 2016

Situ Patenggang Ciwidey: Sebuah Maskawin yang Sungguh Memberatkan

To Grammar Nazis: sudahlah.... Nikmati saja pemandangannya.

Situ (danau) Patenggang adalah danau yang kebingungan. Menentukan namanya sendiri pun dia bingung.

Okay, I'm kidding here. Tapi memang ada beberapa nama yang melekat pada danau yang satu ini, antara lain Situ Patenggang, Situ Patengan, dan Situ Pateangan.

Situ Patenggang adalah nama yang paling terkenal dan nama yang tercetak di depan pintu gerbang menuju ke danau. "Patenggang" dalam bahasa Sunda artinya "terpisah." Sedangkan Situ Patengan atau Situ Pateangan berasal dari kata "pateangan" (saling mencari) dalam bahasa Sunda.

Konon menurut legendanya, Ki Santang dan Dewi Rengganis saling jatuh cinta tapi kemudian mereka patenggang (terpisah) lama. Meski demikian, cinta mereka tidak juga padam. Jadi mereka pun pateangan (saling mencari) satu sama lain dan berjanji untuk bertemu di suatu tempat, yang sekarang dinamakan Batu Cinta. Batu Cinta ini terletak di Pulau Asmara, yaitu di tengah Situ Patenggang.

Sampai di sini, ceritanya terdengar indah dan romantis. Tapi jika kita lanjutkan, kita akan menemukan pola cerita legenda yang sangat khas: Dewi Rengganis minta dibuatkan sebuah perahu dan danau.


Entah kenapa, putri-putri zaman dahulu ini memang suka meminta pembuktian cinta yang sangat berat kepada calon-calon suami mereka. Dewi Rengganis minta dibuatkan sebuah perahu dan danau. Dayang Sumbi minta dibuatkan perahu dalam semalam. Roro Jongrang minta dibuatkan seribu candi sampai matahari terbit. Kenapa mereka tidak meminta maskawin yang sederhana saja, seperti "seperangkat alat salat dibayar tunai?"
Betapa memberatkan....


Ah baiklah... Kita kembali ke dunia nyata.
Situ Patenggang ini terletak di Ciwidey, Bandung Selatan, yaitu pada 1.600 meter di atas permukaan laut. Luasnya mencapai 45.000 hektar pada musim penghujan. Tapi pada musim kemarau, luas Situ Patenggang akan menyusut dan danaunya akan terbagi, salah satunya menjadi danau kecil yang lebih dangkal. Dan kita bisa berjalan-jalan di tengah danau yang mengering ini.


Situ Patenggang hanya berjarak sekitar 7 KM dari Kawah Putih, dan danau ini sangat layak untuk dikunjungi. Jika Anda datang pagi-pagi, Anda bisa menyaksikan matahari terbit berlatar belakang danau yang indah. Dan jika Anda beruntung (mungkin Anda harus datang pada musim penghujan), Anda akan mendapati pemandangan berkabut yang indah di sini.

Sayangnya, saat itu kami datang pada musim kemarau, jadi tidak ada kabut meski kami datang pagi-pagi. Dan tidak ada semburat lembayung jingga di langit.


Meski demikian, tempat ini sangat kami rekomendasikan untuk para pecinta wisata alam. Anda bisa berjalan-jalan menikmati pemandangan danau, berperahu ke tengah danau lalu menyeberang ke kebun teh, atau hanya duduk-duduk sambil membuka bekal piknik di saung-saung bambu di tepi danau.

Tempat ini memiliki banyak spot indah untuk berfoto, terlebih lagi sekarang sudah dibenahi dan dipercantik. Bahkan di perjalanan menuju ke sana pun, Anda sudah akan disuguhi pemandangan ala Shire, kampung halaman the Hobbit. Kebun teh berbukit dan berbatu terhampar luas dengan jalanan yang berkelok-kelok indah.


Dengan semua yang akan Anda dapatkan tersebut, Anda hanya perlu membayar Rp18.000,00 per orang pada hari biasa, dan Rp20.500,00 pada akhir pekan atau hari libur. Itu untuk wisatawan lokal. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara, tarifnya adalah Rp135.000,00 pada hari biasa, dan Rp185.000,00 pada akhir pekan. Sedangkan tiket parkir mobil adalah Rp11.500,00, dan motor Rp3.500,00.



Murah. Indah. Dan Instagram Anda bisa dipenuhi oleh foto-foto cantik. :)


Tebing Keraton dan Kabut Keberuntungan


Kalau kamu hendak memotret lanskap, kamu membutuhkan beberapa hal, yaitu:
  1. Kamera full frame 
  2. lensa wide
  3. lensa tele 
  4. tripod 
  5. filter neutral density
  6. dan keberuntungan.
Kenapa "keberuntungan"? Karena kalau tidak beruntung, sudah jauh-jauh datang ke tempat indah, tapi hari itu ternyata cuacanya tidak mendukung antusiasmemu. Entah langitnya abu-abu flat, entah hujan yang turun deras, entah matahari bersembunyi di balik awan. Yang jelas, tidak ada cahaya jingga yang indah hari itu. Tidak ada kabut mistis spektakuler. Tidak ada awan putih bergerumbul seperti bola-bola kapas di langit biru. Tidak ada. Hanya lanskap membentang yang membosankan. Itulah kenapa kamu memerlukan keberuntungan.


Tapi tentu saja keberuntungan tidak selalu ada. Karena itulah kita perlu mencarinya.

Tebing Keraton terkenal dengan pemandangan indahnya yang dilingkupi kabut. Tentu saja, lanskap indah membentang berbalut kabut dan cahaya jingga matahari terbit/tenggelam, adalah impian semua fotografer. Termasuk suamiku dan aku. Karena itulah kami kembali ke Tebing Keraton untuk kedua kalinya. Jika dulu saat matahari terbit, kali ini saat matahari tenggelam.

Tapi ya itu tadi, keberuntungan tidak selalu ada, walaupun kami sudah mencarinya. Dua kali kami datang ke sana, dan dua kali pula kami tidak mendapati kabut keberuntungan tersebut.



Kali kedua kami datang, kami hanya mendapati lanskap dengan haze putih (sepertinya) karena polusi udara. Bukan kabut indah. Dan langitnya abu-abu polos. Dan inilah foto terbaik yang bisa dibuat dengan kondisi seperti itu.



Walaupun begitu, kami tetap menikmati kunjungan kami dan tertawa-tawa dengan ketidakberuntungan ini. Kami akan datang lagi lain kali untuk mencari kabut keberuntungan. We'll be back!