Showing posts with label Health. Show all posts
Showing posts with label Health. Show all posts

Friday, November 1, 2019

Deteksi Dini Disleksia pada Anak

Kuliah Jumat Kontenesia: Deteksi Dini Disleksia pada Anak

Beberapa fakta tentang anak disleksia:

- Mereka punya tingkat kecerdasan normal, atau bahkan di atas rata-rata. Jadi sebenarnya mereka bukan “bodoh”, mereka cuma mengalami kesulitan literasi karena sistem di otaknya aja yang berbeda.

- Gejalanya bisa dilihat sejak usia 5-7 tahun.

- Tingkatannya ada yang ringan, medium, sampai berat. Buat penyandang disleksia berat, biasanya ada gangguan2 lain yang mengiringinya.

- Penyebabnya adalah faktor neurobiologis dan faktor genetika dan akan dialami seumur hidup.

Disleksia ini sebaiknya sudah diidentifikasi sebelum usia sekolah (sebelum 7 tahun). Kalau terlambat ditangani dan anak sudah mulai masuk usia sekolah, dia akan mulai merasakan kegagalan akademis dibandingkan teman-teman sebayanya. Kalau ini terus terjadi, anak bisa jadi minder dan self esteem-nya rendah.

Tanda-Tanda Disleksia

1. Anak mengalami gangguan berbahasa.
  • Anak kesulitan mengenali huruf atau mengejanya. Sulit menyebut dan menulis kata-kata yang panjang.
  • Huruf sering tertukar. Misalnya antara “b” dan “d”, antara “p” dan “q”, antara angka “6” dan “9”.
  • Dia kesulitan membedakan unit bunyi terkecil. Misalnya, “taman” jadi “tanam”. “Laba-laba” jadi “bala-bala”.
  • Terus dia mengungkapkan sesuatu dengan istilah yang tidak tepat. Misalnya, seharusnya “panjang”, tetapi dia menggunakan istilah “tinggi”.
  • Kosakata anak sedikit. Dia sulit mengingat kata dan nama.
  • Artikulasinya tidak jelas.
  • Anak sulit memahami kalimat yang dibaca/didengar.
  • Tulisan tangan anak buruk & sulit mempelajari tulisan sambung.
  • Anak membaca dengan lambat dan terputus-putus dan ada kata-kata yang hilang tidak terbaca.
  • Anak menulis huruf atau bilangan secara terbalik dengan lebih konsisten & sulit dikoreksi.
  • Anak kesulitan menggunakan istilah “atas” atau “bawah”, “maju” atau “mundur”.
  • Anak melihat huruf-huruf “berlompatan”, meski matanya normal. Mungkin dia juga mengeluh “pusing” saat membaca.
2. Anak mengalami kesulitan dalam berhitung dan matematika.
  • Saat menghitung, anak sangat tergantung pada alat bantu seperti jari.
  • Anak sulit menyelesaikan soal matematika dalam bentuk kalimat.
  • Anak kesulitan memahami konsep “lebih banyak dari,” “lebih sedikit dari,” “persamaan,” “perbedaan”.
3. Daya ingat jangka pendeknya buruk, anak pelupa lebih dari batas normal.

4. Anak kesulitan memahami konsep waktu. Misalnya, dia menggunakan kata “tadi” padahal maksudnya “kemarin”.

5. Anak kesulitan dalam persepsi spasial. Misalnya, sulit membedakan antara kanan & kiri.

6. Anak kesulitan mepelajari hal-hal yang berurutan, seperti bercerita secara runut, mengurutkan abjad dari a – z.

7. Anak mengalami kesulitan koordinasi gerakan motorik, seperti sering terjatuh, menabrak benda, atau sering tersandung. Tidak jago dalam olahraga yang berkaitan dengan bola.

8. Anak sulit melakukan aktivitas dengan keterampilan motorik halus seperti mewarnai, tracking pola, menggunting, mengancingkan baju, memegang pensil dengan cara aneh, dan sebagainya.

9. Anak merespons secara lambat saat diberi tugas atau instruksi yang cepat dan beruntun.

10. Anak sering kehilangan barang, seperti pensil, botol minum, jepit rambut.

11. Rentang perhatian anak pendek. Fokus perhatian anak mudah teralihkan.

12. Anak sensitif banget sama suara keras.

13. Anak rentan terhadap infeksi telinga, sensitif terhadap makanan dan zat kimia.

14. Ada riwayat disleksia dalam keluarga.

Yang bisa dilakukan oleh orang tua:


1. Mendeteksi anak sedari dini. Kalau kalian menduga anak gejala-gejala di atas, coba cek tautan ini & jawab pertanyaan-pertanyaan terkait anak:
https://www.testdyslexia.com/cgi-bin/assessor.cgi?action=begin
Ini gratis & cukup valid buat deteksi dini.

2. Banyak-banyak belajar membaca:
a. Bacakan buku secara keras-keras.
b. Bisa juga dengerin audio book & minta anak membaca bareng2.
c. Luangkan waktu agar anak bisa membaca sendirian, baik membaca dalam hati maupun keras-keras.
d. Bacakan buku favoritnya secara berulang-ulang.
e. Bergantian membaca buku dengan anak secara keras-keras.

3. Kalau memberi tugas, berikan satu-satu, jangan semuanya sekaligus. Buat daftar ceklis.

4. Batasi penggunaan gawai.

5. Saat belajar, singkirkan semua benda yang berpotensi mengalihkan perhatian anak.

6. Berikan perintah secara oral, bukan dalam bentuk tulisan.

7. Segera periksakan kepada psikolog tumbuh kembang anak agar anak mendapatkan bantuan dari profesional sedini & setepat mungkin.

Salah satu sumber: https://www.motherandbaby.co.id/article/2019/7/39/12554/Deteksi-DIni-Disleksia-pada-Anak-Kenali-9-Tandanya

Tuesday, August 14, 2012

Embrio, Persalinan, Bayi, Kematian pada Bayi, ASI, Cacat Lahir, Gangguan Psikologis Ibu Paska Melahirkan

By: Sri Noor Verawaty

A. Embrio

Bagaimana proses pembentukan gen pada individu baru?
Pada setiap generasi yang baru, gen dari kedua individu (ibu dan ayah) dikombinasikan secara acak. Sistem reproduksi pria dan wanita adalah satu-satunya sistem yang sangat berbeda, dimana setiap jenis kelamin akan memiliki organ seksualnya masing-masing, yang berbeda dari jenis kelamin lainnya. Sementara sistem-sistem lain seperti sistem peredaran darah atau sistem pencernaan, memiliki organ-organ yang bersifat “uniseks”, sama pada kedua jenis kelamin.

Gen siapa yang menentukan jenis kelamin bayi?
Karakteristik kromosom sudah menentukan jenis kelamin genetik seorang anak sejak terjadinya pembuahan. Jadi secara biologis embrio telah ditentukan akan menjadi perempuan atau laki-laki tergantung pada kromosom yang membentuknya, yaitu pasangan kromosom yang ke-23. Karena sel telur wanita hanya mengandung kromosom X sedangkan sel sperma pria mengandung kromosom X dan Y, maka prialah yang menentukan apa jenis kelamin bayinya nanti. Jika embrio mewarisi kromosom X dari ayahnya, maka dia akan memiliki kromosom XX dan secara anatomis akan menjadi perempuan. Sedangkan jika embiro mewarisi kromosom Y dari ayahnya, maka dia akan memiliki kromosom XY dan secara anatomis akan menjadi laki-laki. Gen akan membantu prosesnya dengan cara melepaskan hormon yang tepat pada saat yang tepat.
Jika embrio itu menjadi perempuan maka testosteron tidak akan diproduksi, tapi duktus Wolffii akan musnah dan duktus Miillerii akan berkembang menjadi organ seks perempuan. Jadi klitoris wanita adalah sisa-sisa dari duktus Wolffii.
Sedangkan pada bayi laki-laki, testosteron akan bertanggung jawab untuk merangsang duktus Wolffii untuk membentuk organ seks laki-laki, sementara duktus Miillerii akan musnah.

Bagaimana perkembangan alat genital pada janin?
Sekitar 7 minggu setelah pembuahan, embrio mengembangkan genital eksternal yang sama. Hormon ibu memegang kendali perkembangannya. Baik yang perempuan maupun laki-laki memiliki benjolan kecil eksternal yang disebut “tuberkulum genital”, dan bukaan internal yang disebut “celah urogenital”. Pada perempuan, benjolan jaringan tersebut akan berkembang menjadi labia majora.
Organ laki-laki dan perempuan mulai berbeda saat janin sudah memiliki kemampuan untuk memproduksi hormonnya sendiri. Dimulai pada bulan ke 3, tuberkulum genital pada bayi perempuan berkembang menjadi klitoris, celah urogenital menjadi labia minora, dan pembengkakan labioscrotal menjadi labia majora.

Sejak kapankah pengasuhan orangtua pada bayinya dimulai?
Banyak orang yang merasa bahwa menjadi orangtua baru dimulai setelah bayi dilahirkan, namun sebenarnya peran seorang ibu dalam membesarkan, mengasuh dan “mendidik” anak sudah dimulai sejak bayi masih di dalam kandungan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa dari bulan ke 5, janin di dalam kandungan sudah bisa mendengar suara, menyadari adanya gerakan, dan mungkin menunjukkan adanya memori jangka pendek. Beberapa penelitian, misalnya yang dilakukan oleh Kissilevsky dan koleganya pada tahun 2003, menunjukkan bahwa bayi yang belum lahir bisa mengenal suara orangtuanya. Sementara penelitian lain menunjukkan bahwa saat janin berusia 7 bulan di dalam kandungan, jadwal eksternal ibu memengaruhi kebiasaan tidur bayi.
Penelitian sudah membuktikan bahwa keadaan pikiran dan perasaan Anda memengaruhi bayi yang Anda kandung. Dengan dasar-dasar inilah, peran sebagai orang tua sudah dimulai sejak bayi masih di dalam kandungan.


Bisakah janin di dalam kandungan mendengar bunyi?
Saat masih berada di dalam rahim ibu, janin sudah bisa mendengar sejumlah bunyi internal seperti detak jantung ibu, dan sejumlah bunyi eksternal termasuk suara manusia, musik dan sebagian besar bunyi lainnya. Jadi walaupun telinga bayi yang baru lahir bisa jadi berisi cairan, dia sudah bisa mendengar bunyi bahkan sejak sebelum dilahirkan.
Bayi yang baru lahir biasanya lebih merespon suara wanita daripada pria. Hal ini menjelaskan kenapa orang-orang tanpa sadar suka melembutkan nada suara mereka saat berbicara dengan bayi yang baru lahir. Perubahan suara ini disebut motherese. Suara manusia, terutama suara ibunya, bisa memiliki efek menenangkan pada bayi. Sebaliknya, bunyi yang keras atau yang tiba-tiba akan mengejutkan dan menakuti bayi yang baruy lahir. Bayi yang baru lahir telah terbukti lebih menyukai suara yang merupakan fitur sehari-hari dari lingkungan pranatal mereka, misalnya lagu tema dari program televisi yang biasa ditonton ibunya.

B. Persalinan

Apa itu persalinan?
Persalinan adalah titik puncak kehamilan yang ditandai dengan kelahiran satu bayi atau lebih dari dalam rahim wanita. Proses persalinan yang normal terjadi dalam 3 tahap, yaitu:
1. Pemendekan dan pelebaran serviks
2. Penurunan dan kelahiran bayi
3. Pengeluaran plasenta.
Sedangkan persalinan yang tidak alami adalah melalui operasi caesar yang mengangkat bayi melalui sayatan bedah di perut dan bukan melalui kelahiran lewat vagina.

Bagaimana perubahan posisi janin menjelang persalinan normal?
Postur tegak pada manusia membuat berat isi perut turun ke dasar panggul. Kepala janin yang cukup besar dan bahu yang cukup lebar membutuhkan urutan manuver tertentu untuk bisa melewati tulang panggul. Sedikit saja kesalahan akan menyebabkan persalinan yang lebih lama dan lebih menyakitkan dan bahkan bisa menunda terjadinya persalinan. Seluruh perubahan pada jaringan lunak serviks dan jalan lahir tergantung pada tingkat keberhasilan 6 fase ini:
1. Kepala janin berada dalam posisi yang melintang di salah satu pinggul ibu. Kepala janin menghadap ke rongga panggul.
2. Penurunan dan lengkungan kepala janin.
3. Rotasi internal. Kepala janin berputar 90° ke posisi occipito-anterior sehingga wajah bayi menghadap ke rektum ibu.
4. Persalinan. Kepala janin melewati jalan lahir dengan posisi miring ke belakang sehingga dahinya menjadi bagian terdepan yang memasuki vagina.
5. Restitusi/pemulihan. Kepala janin bergerak 45° untuk kembali ke posisi normalnya yang sejajar dengan bahu.
6. Rotasi eksternal. Bahu mengulangi gerakan seperti kepala.

Sesakit apakah melahirkan?
Persalinan selalu diiringi dengan rasa sakit yang luar biasa dan lama. Tingkat rasa sakit masing-masing wanita sangat bervariasi dan tampaknya dipengaruhi oleh tingkat rasa takut dan kecemasan. Beberapa faktor lain, termasuk pengalaman melahirkan sebelumnya, usia ibu, etnis, persiapan, lingkungan fisik dan imobilitas juga ikut memengaruhi.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan mulai dari kontraksi hingga bayi dilahirkan?
Fase laten persalinan yang juga disebut fase prodromal, bisa berlangsung selama beberapa hari dan kontraksinya bisa dimulai sejak minggu ke 26. Penipisan serviks (leher rahim) terjadi di minggu-minggu terakhir kehamilan dan biasanya selesai atau hampir selesai di akhir fase prodromal. Penipisan serviks atau dilatasi serviks adalah penipisan dan peregangan leher rahim. Tingkat penipisan serviks bisa dirasakan saat pemeriksaan vagina. Fase prodromal ini berakhir seiring dengan dimulainya fase aktif pertama saat terjadi pembukaan serviks sebesar 3 cm.

Bagaimana tahap-tahap terjadinya persalinan?
Tahap pertama persalinan dimulai ketika terjadi pembukaan sebesar 3 cm pada leher rahim yang sudah menipis. Sejumlah ibu hamil ada yang sudah mengalami kontraksi aktif sebelum mencapai titik ini, dan ada pula sekelompok ibu hamil yang mencapai titik ini tanpa ada kontraksi teratur. Permulaan persalinan yang sesungguhnya dibatasi di titik saat serviks mulai mengalami pembukaan secara progresif. Pembukaan disebut penuh jika leher rahim telah cukup lebar untuk memberikan jalan bagi kepala bayi, yaitu sekitar 10 cm.
Durasi persalinan sangat bervariasi, namun rata-rata fase aktif rata-rata berlangsung sekitar 8 jam pada ibu hamil yang melahirkan anak pertamanya (primiparae) dan 4 jam pada ibu hamil yang melahirkan anak ke 2 dan selanjutnya (multiparae).


Persalinan tahap kedua dimulai saat serviks sudah mengalami pembukaan penuh dan berakhir saat bayi akhirnya lahir. Saat tekanan pada serviks meningkat, refleks Ferguson meningkatkan kontraksi uterus sehingga tahap kedua bisa berlanjut.
Di awal tahap normal kedua, kepala janin telah sepenuhnya masuk ke dalam rongga panggul dan diameter kepala terlebar telah melewati pinggir rongga panggul. Idealnya kepala janin juga telah melewati bagian panggul tersempit. Jika semua ini telah tercapai, sisanya tinggal tahap dimana kepala janin harus melewati lengkungan pubis bawah dan keluar melalui introitus. Tahap ini dibantu oleh upaya tambahan ibu yang mengedan atau mendorong. Panjang tahap kedua sangat bervariasi, tergantung pada seberhasil apa tahap-tahap sebelumnya.

Pembukaan yang bagaimana yang dikategorikan tidak mengalami kemajuan?
Fase aktif persalinan tertahan jika leher rahim gagal untuk membuka dengan rentang 1,2 cm/jam selama setidaknya 2 jam. Jika pembukaan ini tidak mengalami kemajuan, maka operasi caesar mungkin akan disarankan.

Apa yang dilakukan sesaat setelah bayi dilahirkan?
Selesainya kelahiran kepala janin menandakan keberhasilan mekanisme ke 4 persalinan, yaitu kelahiran dengan ekstensi (peregangan organ dari kondisi normal) dan diikuti oleh mekanisme ke 5 dan 6, yaitu restitusi (organ kembali ke kondisi semula) dan rotasi eksternal.
Bayi yang baru dilahirkan kini siap dipotong tali pusarnya dan dijepit.
Pengeluaran plasenta dimulai dengan pemisahan fisiologis dari dinding rahim. Plasenta biasanya dikeluarkan dalam waktu 15 hingga 30 menit setelah bayi lahir.
Masa setelah janin dilahirkan hingga setelah plasenta dikeluarkan adalah tahap ketiga persalinan.

Apa itu tahap ke 4 persalinan?
Tahap ke 4 persalinan adalah 2 istilah yang digunakan dengan arti berbeda, yaitu:
1. Bisa mengacu pada masa nifas segera setelah persalinan atau jam-jam segera setelah pengeluaran plasenta.
2. Bisa mengacu pada arti yang lebih metaforis yaitu menggambarkan minggu-minggu setelah persalinan.

Pilihan persalinan apa yang terbaik bagi kehamilan kembar?
Bayi kembar bisa dilahirkan dengan persalinan normal melalui vagina. Berikut ini ada beberapa opsi melahirkan kembar:
1. Janin kembar bisa dilahirkan dengan persalinan normal melalui vagina kedua-duanya. Hal ini bisa terjadi jika janin yang keluar pertama dengan posisi kepala normal dan janin kedua dengan posisi sungsang dan/atau dibantu dengan persalinan forceps/ventouse (alat vacuum)
2. Satu janin lahir dengan persalinan normal melalui vagina sedangkan yang kedua dengan operasi caesar.
3. Jika janin menyatu pada bagian tubuh manapun (kembar siam), maka sebagian besar kelahiran dilakukan dengan prosedur operasi caesar.


Apa penyebab proses persalinan menjadi sangat lama?
Tahap kedua persalinan bisa tertunda atau berlangsung sangat lama dikarenakan:
• Malpresentation, misalnya sungsang (bokong atau kaki yang lebih dulu).
• Gagalnya penurunan kepala janin ke piggir rongga rahim.
• Kurangnya kekuatan kontraksi rahim.
• Fase aktif tertahan.
• Cephalo-pelvic disproportion (CPD), yaitu kapasitas janin tidak memadai untuk memungkinkan bayi melewati jalan lahir. Kondisi ini bisa disebabkan oleh bentuk panggul yang kecil, formasi nongynecoid panggul, janin yang besar atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Kondisi medis tertentu juga bisa mengganggu tulang panggul, misalnya rakhitis atau patah tulang panggul.
• Distosia bahu (tersangkutnya bahu janin)
Perubahan sekunder seperti pembengkakan jaringan, keletihan ibu atau detak jantung bayi yang abnormal juga akan diobservasi.

Persalinan yang bagaimana yang memiliki risiko lebih tinggi?
Dokter akan merekomendasikan Anda untuk melahirkan di klinik bersalin atau rumah sakit jika persalinan Anda memiliki risiko lebih tinggi, antara lain:
• Jika jarak yang kurang dari 2 tahun dari persalinan sebelumnya.
• Jika usia Anda kurang dari 17 atau lebih dari 35 tahun.
• Jika Anda sudah pernah hamil lebih dari 4 kali.
• Jika sebelumnya Anda pernah mengalami persalinan prematur.
• Jika sebelumnya Anda pernah melahirkan bayi yang berbobot kurang dari 2 Kg saat dilahikan.
• Jika sebelumnya Anda mengalami operasi caesar yang sulit saat melahirkan, mengalami keguguran, aborsi, atau kelahiran mati (stillbirth—janin meninggal).
• Jika berat Anda sebelum kehamilan kurang dari 40 Kg atau lebih dari 70 Kg.
• Jika tinggi Anda kurang dari 145 cm.
Anda juga akan membutuhkan perhatian ekstra jika Anda mengalami kondisi-kondisi di bawah ini:
• Pertambahan berat badan Anda selama kehamilan kurang dari 6 Kg.
• Anda menderita diabetes atau anemia parah, atau menderita penyakit jantung atau ginjal, atau tekanan darah tinggi.
• Tangan, kaki dan wajah Anda mengalami pembengkakan yang parah.
• Anda mengalami pendarahan vagina selama kehamilan.
• Anda menderita sakit kepala hebat dan muntah-muntah atau demam tinggi yang terus menerus.
• Anda memiliki bayi kembar.
• Anda memiliki Rh negatif.
• Anda dijadwalkan menjalani kelahiran dengan operasi caesar karena alasan medis tertentu.

C. Bayi

Berapa berat dan panjang rata-rata bayi yang normal?
Berat bayi yang lahir dengan usia kandungan normal pada umumnya berkisar antara 2,7 hingga 4,6 kg dengan panjang tubuh sekitar 35,6 hingga 50,8 cm. Bayi yang lahir prematur bisa jadi lebih kecil. Proporsi kepala bayi dibandingkan dengan panjang tubuhnya adalah 1 banding 4, sedangkan pada manusia dewasa proporsinya hanya 1 banding 8.

Apa yang harus dilakukan jika kepala bayi lonjong atau memanjang karena proses persalinan?
Saat persalinan kepala janin secara substansial bisa berubah bentuk untuk menyesuaikan diri dengan jalan lahir. Penyesuaian ini kadang-kadang membuat bayi lahir dengan kepala berbentuk aneh atau memanjang. Perubahan bentuk kepala janin ini disebut molding dan jauh lebih sering terjadi pada wanita yang melahirkan normal melalui vagina untuk pertama kalinya. Kepala bayi biasanya akan kembali normal dengan sendirinya dalam beberapa hari atau minggu.
Kadang-kadang kepala bayi terlihat lebih besar atau lebih kecil dari rata-rata. Bayi yang lebih besar jelas memiliki kepala yang lebih besar pula. Kepala bayi yang prematur akan tampak lebih besar daripada proporsi tubuhnya. Bentuk kepala bayi juga bisa diwariskan dari orangtuanya. Bayi yang memiliki kebiasaan tidur miring ke salah satu sisi saja bisa memiliki kepala yang agak rata di sisi tersebut.

Apa itu ubun-ubun?
Saat lahir, sejumlah area pada tengkorak bayi belum terbentuk menjadi tulang, sehingga ada “titik lembut” yang disebut fontanel (ubun-ubun). Ubun-ubun anterior terbesar berbentuk berlian terletak di puncak kepala bagian depan. Tulang-tulang ini secara bertahap akan menyatu dengan sendirinya setelah 6 bulan atau dalam jangka waktu 2 hingga 3 tahun. Sedangkan ubun-ubun posterior yang lebih kecil berbentuk segitiga terletak di kepala bagian belakang. Ubun-ubun yang satu ini akan menyatu dalam kurun waktu sekitar 2 bulan.


Cairan apa yang menyelubungi bayi saat dia dilahirkan dan apa gunanya?
Sesaat setelah dilahirkan kulit bayi sering berwarna kelabu hingga biru kehitaman. Saat bayi mulai bernapas, biasanya dalam 1 atau 2 menit, warna kulit bayi akan menjadi normal. Bayi yang baru lahir ini basah dan ditutupi cipratan darah, dan dilapisi substansi putih yang disebut vernix caseosa yang menurut hipotesis berfungsi sebagai anti bakteri.

Apa yang harus dilakukan pada kulit bayi yang mengelupas?
Bayi yang baru lahir bisa saja memiliki tanda lahir tertentu atau kulit yang mengelupas, khususnya pada pergelangan tangan, tangan, pergelangan kaki dan kaki. Vernix adalah material lilin yang menutupi kulit bayi saat lahir dan berguna untuk melindungi bayi agar tidak terinfeksi. Pengelupasannya adalah sebuah proses yang normal dan biasanya terjadi selama beberapa hari paska melahirkan. Tidak perlu mengelupasnya dengan paksa karena akan terkelupas sendiri saat mandi. Kulit bayi pada masa ini juga sangatlah lembut, hindarilah gesekan atau tekanan apapun untuk mencegah terjadinya lepuhan dan infeksi.

Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada tali pusar?
Tali pusar bayi yang baru lahir warnanya putih kebiruan. Setelah dilahirkan, bayi harus menyesuaikan diri hidup di luar rahim tanpa suplay nutrisi dan oksigen dari tali pusar. Biasanya tali pusar akan dipotong dan disisakan kurang lebih sekitar 5 cm. Berikut tips untuk merawat tali pusar yang benar:
• Potongan tali pusar harus dijaga agar selalu bersih dan kering, terutama setelah mandi.
• Tidak perlu menggunakan perban atau pembalut apapun untuk menutupi tali pusar.
• Tidak perlu pula memberikan obat apapun karena tali pusar akan mengering, layu, menggelap dan copot dengan sendirinya dalam kurun waktu sekitar 1 hingga 2 minggu.
• Jangan sampai air seni terkena pada tali pusar.
• Jika Anda melihat darah menetes keluar dari tali pusar, segera laporkan ke dokter.
• Satu atau 2 tetes darah mungkin akan keluar dari sekitar dasar pusar saat tali pusar kering copot. Ini normal.
• Jika Anda melihat ada nanah di dasar pusar atau kulit di sekitar pusar berwarna kemerahan, periksakanlah ke dokter untuk mengetahui ada tidaknya infeksi pada tali pusar.

Benarkah bayi yang baru lahir belum bisa melihat apa-apa?
Bayi yang baru lahir sudah bisa berfokus pada objek sejauh kira-kira 45 cm tepat di depan wajah mereka. Walaupun mungkin tampak tidak seberapa, namun hanya sebatas itulah yang bayi butuhkan untuk bisa melihat, yaitu melihat wajah ibunya atau melihat areola saat meminum ASI.
Secara umum, bayi yang baru lahir akan menangis saat dia merasa lapar. Saat dia tidak sedang tidur, atau minum ASI, atau menangis, dia akan menghabiskan waktunya memandangi benda-benda secara acak, biasanya benda yang terang/mengkilat, memiliki warna-warna yang kontras, atau memiliki pola yang kompleks yang akan menarik mata bayi. Namun bayi yang baru lahir cenderung lebih suka melihat wajah manusia lainnya dibandingkan melihat benda apapun.

Apakah bayi yang baru lahir sudah bisa merasakan rasa yang berbeda pada lidahnya?
Bayi yang baru lahir bisa merespon rasa-rasa yang berbeda, termasuk manis, asam, pahit, asin, namun cenderung lebih menyukai rasa manis. Terbukti pula bahwa bayi yang baru lahir memiliki preferensi makanan yang biasa dimakan oleh ibu mereka secara teratur.

Perlukan membersihkan lapisan kerak putih pada lidah bayi?
Lapisan berupa kerak putih pada lidah bayi adalah sesuatu yang normal. Biarkan saja. Tidak perlu dibersihkan dengan apapun.

Normalkah jika bayi yang baru lahir mengeluarkan air susu dari payudaranya?
Alat genital bayi yang baru lahir biasanya membesar dan memerah. Payudaranya juga bisa membesar. Kondisi ini sementara saja dan disebabkan oleh hormon ibu yang alami. Bayi yang baru lahir bisa saja mengeluarkan air susu dari payudaranya (disebut witch’s milk) dan/atau mengeluarkan substansi yang mengandung darah atau yang seperti susu dari dalam vaginanya. Kasus ini dianggap normal dan akan hilang dengan sendirinya.

Apakah bercak berwarna biru keabuan yang biasanya muncul di punggung bawah bayi perlu dikhawatirkan?
Area atau bercak berwarna biru keabuan yang biasanya muncul pada sejumlah bayi di bagian punggung bawah dinamakan mongolian spots. Kadang-kadang bercak seperti memar ini muncul di tangan dan kaki atau pada pipi. Bercak ini biasanya akan bertahan hingga usai bayi mencapai 2 hingga 3 tahun, kemudian akan hilang dengan sendirinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Ada pula bayi yang terlahir dengan tanda lahir permanen dan pigmentasi yang disebut café au lait spots. Ada beberapa tanda lahir yang akan menarik perhatian dokter karena bisa jadi mengindikasikan kondisi tertentu lain.


Zat apakah yang keluar dari feces pertama bayi?
Saluran pencernaan bayi yang baru lahir dipenuhi oleh materi hitam kehijauan lengket yang disebut meconium. Sebagian besar bayi mengeluarkan meconium dalam 12 jam paska kelahiran. Jika sampai 24 jam bayi belum juga mengeluarkannya, segeralah beritahukan kepada dokter. Meconium memungkinkan usus janin berkembang hingga titik dimana dia bisa memproses ASI segera setelah dilahirkan. Materi ini akan dikeluarkan bayi dalam beberapa hari pertama.

Normalkah jika bayi terlahir dengan banyak bulu pada tubuhnya?
Beberapa bayi yang baru lahir kadang memiliki rambut tubuh yang halus yang disebut lanugo. Khususnya pada bayi yang terlahir prematur, lanugo ini akan terlihat jelas di bagian punggung, bahu, dahi, telinga dan wajah. Lanugo akan hilang dalam beberapa minggu.

Apa saja makna tangisan bayi?
Tangisan bayi adalah bentuk komunikasi instinktif dasar yang mungkin mencoba mengekspresikan berbagai perasaan termasuk lapar, tidak nyaman, bosan, ingin sesuatu, kesepian, atau overstimulation (sudah terbiasa pada stimulasi sesuatu sehingga saat sesuatu itu tidak ada, berkurang atau berlebihan, maka bayi akan merasa tidak nyaman atau tidak senang).

Apakah bayi yang baru lahir sudah bisa merasakan stimulasi dari lingkungannya?
Bayi yang baru lahir bisa merasakan sensasi yang berbeda-beda, namun dia akan merespon lebih antusias pada belaian lembut, pelukan dan elusan. Goyangan lembut akan menenangkan bayi yang sedang menangis, demikian juga pijatan lembut dan mandi air hangat. Bayi yang baru lahir biasa menenangkan/menghibur diri sendiri dengan cara mengisap ibu jari mereka. Kebutuhan untuk mengisap ini bersifat instinktif dan membuat bayi yang baru lahir memiliki keinginan untuk makan.

D. Kematian pada Bayi

Apa faktor utama penyebab kematian bayi?
Yang dikategorikan sebagai “kematian bayi” (infant mortality) adalah kematian yang terjadi pada bayi di tahun pertama kehidupannya. Penyebab utamanya adalah dehidrasi, infeksi, cacat bawaan dan Sudden Infant Death Syndrome (SIDS—Sindrom Kematian Bayi Mendadak). Tingkat kematian bayi dipengaruhi oleh faktor-faktor status kesehatan bayi dan ibu, perawatan medis, kondisi sosial ekonomi dan praktek kesehatan umum pada masyarakat yang bersangkutan.

Apa yang dimaksud dengan Sudden Infant Death Syndrome?
Sudden Infant Death Syndrome (SIDS—Sindrom Kematian Bayi Mendadak) adalah kematian mendadak pada bayi yang tidak dapat dijelaskan oleh riwayat medis dan tetap tidak bisa dijelaskan bahkan setelah autopsi forensik dan penyelidikan detil kematian dilakukan, padahal sebelumnya bayi tampak sehat-sehat saja. Penyebabnya tidak diketahui, namun karakteristik yang berasosiasi dengan sindrom ini telah teridentifikasi, yaitu paparan tembakau rokok pada janin selama di dalam kandungan. Faktor genetik juga memiliki andil, mengingat SIDS lebih sering terjadi pada bayi laki-laki.
SIDS merupakan penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada bayi yang berusia 2 minggu hingga 1 tahun. Tiga dari 2000 bayi mengalami SIDS dan hampir selalu terjadi saat mereka sedang tidur. Kebanyakan SIDS terjadi pada usia 2-4 bulan dan terjadi di seluruh dunia.

Apa saja faktor risiko yang mempertinggi kemungkinan SIDS?
1. Sebelum kelahiran:
• Usia ibu hamil yang masih remaja
• Kurangnya perawatan pranatal
• Paparan nikotin dari ibu hamil yang merokok
2. Setelah kelahiran:
• Jamur (bisa menyebabkan pendarahan pada paru-paru dan sejumlah kondisi tidak umum lain yang mengarah pada misdiagnosis dan kematian. Jamur ini seringkali salah diagnosis sebagai virus, flu, dan/atau kondisi mirip asma).
• Rendahnya berat badan bayi saat dilahirkan.
• Paparan terhadap tembakau dari rokok.
• Posisi tidur bayi dengan muka tertelungkup dan hidung terhalang permukaan alas tidur. Akibatnya bayi menghisap kembali sebagian dari napas yang dia telah keluarkan yang kaya akan CO2 dan tidak ada oksigen. Kondisi ini bisa membuat bayi terkena hypoxia, yaitu jaringan-jaringan di dalam tubuh mengalami kekurangan oksigen.
• Ibu tidak menyusui dengan ASI.
• Peningkatan atau penurunan suhu di dalam ruangan.
• Terlalu banyak lapisan sprei, selimut, kain, pakaian, boneka dan mainan di sekitar bayi yang sedang tidur.
• Usia bayi, terutama 2 hingga 4 bulan. Seiring pertembahan usia, risiko semakin menurun.
• Kelahiran prematur. Meningkatkan risiko SIDS hingga 4 kali lipat.
• Anemia. Namun anemia tidak bisa dievaluasi saat autopsi karena total hemoglobin hanya bisa diukur pada bayi yang masih hidup.

Bagaimana cara mencegah SIDS?
• Jagalah sirkulasi udara di dalam ruangan dengan kipas angin.
• Sebaiknya tidak menaruh banyak bantal, selimut, mainan dan boneka di dekat bayi yang sedang tidur. Biarkanlah tempat tidur bayi selapang mungkin dan jagalah jangan sampai selimut menutupi kepala bayi. Selimutilah dia sebatas dada dan biarkanlah tangan mereka dalam keadaan terbuka, tidak perlu diselimuti, untuk mengurangi kemungkinan tangannya menggeser selimut hingga menutupi kepala.
• Berikanlah ASI. Penelitian di Chicago yang diterbitkan di Pediatrics pada tahun 2003 menunjukkan bahwa bayi-bayi yang baru saja disusui ASI memiliki angka risiko seperlima kali lebih rendah mengalami SIDS daripada bayi yang tidak disusui ASI. Hasil penelitian tersebut konsisten dengan sejumlah laporan lainnya yang telah diterbitkan. Selain itu, cara pemberian ASI juga diasosiasikan dengan perlingdungan yang diberikan ibu bagi bayinya.
• Hindari pemasangan bumper pad (bantalan pelindung) di tempat tidur bayi karena akan mengurangi aliran udara yang kaya akan oksigen.
• Berhentilah merokok dan hindarilah asap rokok.

E. ASI

Nutrisi apa saja yang terkandung di dalam ASI?
Nutrisi yang terkandung di dalam ASI relatif konsisten dan unsur-unsurnya diambil dari suplay makanan ibu. Jika suplay makanan ibu ternyata minim, maka isi ASI diambil dari cadangan tubuh ibu. Komposisi tepatnya bervariasi dari hari ke hari tergantung pada konsumsi makanan dan lingkungan, artinya ada fluktuasi rasio air hingga lemak.
• Tingkat immunoglobilin A (IgA atau Antibodi A) dalam ASI tetap tinggi dari hari ke 10 hingga setidaknya selama 7,5 bulan paska kelahiran.
• ASI mengandung 0,8 hingga 0,9% protein.
• ASI mengandung 4,5% lemak, termasuk lemak trans yang memiliki manfaat bagi kesehatan.
• ASI mengandung 7,1% karbohidrat, terutama laktosa.
• ASI mengandung 0,2% mineral.
Selain menyediakan nutrisi penting bagi bayi, ASI juga memiliki sejumlah manfaat penting, terutama dalam hal pengobatan. ASI mengandung antibodi dan antitoksin yang kuat yang dipercaya banyak orang bisa mendorong penyembuhan dan kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan.

Apa manfaat ASI bagi janin?
Tidak ada susu formula yang bisa menandingi ASI. Selain jumlah karbohidrat, protein dan lemak yang tepat, ASI juga mengandung berbagai vitamin, mineral, enzim pencernaan dan hormon-hormon. Semua hal yang bayi butuhkan terdapat dalam ASI. Selain itu ASI juga mengandung antibodi dan limfosit dari ibu untuk membantu bayi melawan infeksi.
ASI memiliki banyak manfaat kesehatan bagi bayi, misalnya:
• Menurunkan risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).
• Meningkatkan kecerdasan bayi.
• Menurunkan kemungkinan tertular infeksi telinga tengah, flu, dan flu burung.
• Sedikit menurunkan risiko leukemia di masa kanak-kanak.
• Menurunkan risiko diabetes Tipe 1 yang dimulai di masa kanak-kanak hingga sekitar usia 25 tahun.
• Menurunkan risiko asma dan eksim.
• Menurunkan risiko masalah gigi.
• Menurunkan risiko obesitas di kemudian hari.
• Menurunkan risiko berkembangnya penyakit-penyakit psikologis.
Fungsi kekebalan ASI bersifat individual, tergantung ibu. Saat ibu yang menyentuh dan merawat bayinya melakukan kontak dengan patogen yang menyerang bayi tersebut, tubuh ibu membuat antibodi dan sel imun yang tepat. Inilah kenapa ASI memiliki kandungan zat besi yang sedikit karena zat besi adalah pencetus penting bagi aktivasi mikro-bakteri dan flora usus.
ASI memang memiliki manfaat yang jauh lebih banyak dan lebih baik daripada susu formula. WHO sendiri merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama sejak kelahiran.

Apa manfaat menyusui bagi ibu?
Menyusui juga memberikan manfaat kesehatan bagi ibu, yaitu:
• Membantu rahim untuk kembali ke ukuran seperti pra kehamilan.
• Mengurangi pendarahan paska kelahiran.
• Membantu mengembalikan berat badan ibu ke kondisi sebelum hamil.
• Mengurangi risiko kanker payudara di kemudian hari.

Berapa banyak jumlah ASI yang rata-rata dihasilkan ibu menyusui?
Jumlah ASI yang diproduksi oleh ibu menyusui tergantung pada seberapa sering ibu menyusui atau memompa ASI. Semakin sering ibu menyusui bayinya, semakin banyaklah produksi ASI-nya. Jika ASI-nya dipompa, sebaiknya gunakanlah pompa elektrik yang kuat agar seluruh saluran susu terstimulasi dengan baik. Sesungguhnya payudara tidak pernah benar-benar kosong karena produksi ASI adalah proses biologis yang berkesinambungan.

Apa bedanya ASI dengan susu sapi?
Seluruh spesies mamalia menghasilkan susu, namun komposisi susu pada setiap spesies sangat bervariasi dan jenis susu lainnya seringkali sangat berbeda dari ASI. Umumnya susu mamalia yang menyusui dengan sering (termasuk bayi manusia) kurang kental atau lebih cair daripada susu mamalia yang jarang menyusui anaknya. ASI lebih encer dan lebih manis daripada susu sapi.
Susu sapi murni tidak mengandung cukup vitamin E, besi maupun asam lemak esensial, sehingga bisa membuat bayi yang diberikan susu sapi menjadi anemia. Susu sapi murni juga mengandung protein, natrium dan kalium yang berlebihan, sehingga akan membebani ginjal bayi yang belum matang. Selain itu, protein dan lemak dalam susu sapi murni lebih sulit untuk dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan yang terdapat dalam ASI.
Susu yang telah dievaporasi (susu terkonsentrasi) mungkin akan lebih mudah dicerna karena telah melalui pemrosesan protein, kendati demikian gizinya masih tidak mencukupi. Sejumlah bayi alergi terhadap salah satu atau beberapa unsur pokok susu sapi, yang paling sering adalah alergi pada protein susu sapi.

Apa itu colostrum?
Selama beberapa hari pertama setelah persalinan, payudara menghasilkan colostrum, yaitu cairan encer kekuning-kuningan yang sama dengan cairan yang menetes keluar dari payudara selama kehamilan. Colostrum ini kaya akan protein dan antibodi yang memberikan kekebalan pasif pada bayi (pada saat lahir sistem kekebalan tubuh bayi belum sepenuhnya berkembang). Colostrum juga membantu sistem pencernaan bayi yang baru lahir agar berkembang dan berfungsi dengan baik.

Kapankan ASI sesungguhnya diproduksi?
Setelah 3 sampai 4 hari paska persalinan, payudara akan mulai memproduksi susu yang encer, berair dan manis. ASI ini rendah lemak dan tinggi karbohidrat. ASI akan memuaskan rasa haus bayi dan menyediakan protein, gula dan mineral yang dia butuhkan. Seiring waktu, ASI akan berubah dan menjadi lebih kental serta lembut untuk memuaskan rasa lapar bayi.

ZatApa saja zat berbahaya yang bisa ditransfer ke bayi lewat ASI?
Ibu menyusui harus berkonsultasi dengan dokter berkenaan dengan zat-zat yang tanpa disadari bisa diteruskan ke bayi melalui ASI, seperti alkohol, virus (misalnya HIV atau HTLV-1) atau obat-obatan.

Berapa lama ASI yang dipompa bisa disimpan?
ASI yang dipompa bisa disimpan dan diminumkan pada bayi kemudian. Disarankan agar susu disimpan di dalam wadah tertutup dengan segel kedap udara. Di pasaran sudah ada kantung plastik yang diproduksi khusus untuk menaruh ASI dan dirancang untuk lama penyimpanan maksimal 72 jam. Lama waktu penyimpanan yang aman untuk diminumkan pada bayi tergantung pada tempat penyimpanannya. Lebih lengkapnya akan dijelaskan di bawah ini:
• Jika disimpan di dalam ruangan dengan suhu 25°C, maka ASI bisa bertahan selama 6 hingga 8 jam.
• Jika disimpan di dalam thermal bag dengan es, maka ASI bisa bertahan hingga 24 jam.
• Jika disimpan di dalam lemari es dengan suhu 4°C, maka ASI bisa bertahan hingga 5 hari.
• Jika disimpan di dalam kompartemen freezer yang terdapat di dalam lemari es dengan suhu udara -15°C, maka ASI bisa bertahan selama 2 minggu.
• Jika disimpan di dalam lemari es dengan freezer yang berpintu terpisah bersuhu -18°C, maka ASI bisa bertahan antara 3 hingga 6 bulan.

F. Cacat Lahir

Apa yang dimaksud dengan cacat lahir?
Cacat lahir adalah kelainan struktural atau fungsional yang sudah ada saat bayi lahir yang menyebabkan cacat fisik atau mental. Cacat lahir ini dimulai sejak janin tumbuh di dalam rahim sang ibu. Sebagian besar cacat lahir terjadi dalam 3 bulan pertama kehamilan.
Cacat lahir bisa memengaruhi penampakan tubuh, kinerja tubuh, atau kedua-duanya. Cacat lahir bisa bervariasi dari yang ringan hingga yang fatal. Beberapa diantaranya disebabkan oleh paparan obat atau zat kimia, misalnya penyalahgunaan alkohol yang bisa menyebabkan sindrom alkohol pada janin. Infeksi selama hamil juga bisa mengakibatkan kecacatan, namun sebagian besar penyebab cacat lahir tidak diketahui.
Beberapa cacat lahir bisa sangat fatal. Bayi-bayi yang memiliki cacat lahir bisa jadi membutuhkan operasi atau pengobatan medis lainnya. Namun kini dokter sudah bisa mendiagnosis cacat lahir sejak di dalam kandungan dan memungkinkan mereka untuk dapat mengobati atau memperbaiki masalah yang ada sebelum si bayi terlahir ke dunia.

Apa penyebab terjadinya cacat lahir?
Beberapa penyebab cacat lahir antara lain:
• Masalah genetik dimana satu gen atau lebih tidak bekerja dengan baik atau sebagian gen hilang.
• Masalah dengan kromosom, seperti memiliki kromosom ekstra atau ada bagian kromosom yang hilang.
• Paparan faktor lingkungan pada si wanita selama kehamilan—seperti rubella, atau penggunaan obat-obatan atau alkohol selama kehamilan.
Berikut ini adalah teratogen (agen yang bisa mengganggu perkembangan embrio) penyebab kelainan kongenital:
1. Agen infeksi, misalnya virus rubella, sitomegalovirus, virus herpes simpleks, HIV, sifilis.
2. Agen fisik, misalnya sinar X.
3. Agen kimia, misalnya talidomid, asam valproat, fenitoin, amfetamin, alkohol, merkuri, kokain.
4. Hormon, misalnya agen androgenik, dietilstilbestrol (DES), diabetes gestational (diabetes pada ibu).

Ada berapa jenis cacat lahir?
Ada dua tipe utama cacat lahir: struktural dan fungsional/perkembangan. Cacat lahir struktural berhubungan dengan masalah pada bagian-bagian tubuh. Beberapa masalah fisik termasuk bibir sumbing, langit-langit sumbing, cacat jantung atau tidak memiliki katup jantung. Termasuk juga neural tube defect (cacat tabung syaraf), seperti spina bifida dan masalah-masalah yang berhubungan dengan perkembangan otak serta sumsum tulang belakang.
Sedangkan cacat lahir fungsional berhubungan dengan masalah bagaimana bagian tubuh atau sistem tubuh berkerja. Masalah ini seringkali mengacu kepada cacat pertumbuhan. Yang termasuk di dalamnya adalah:
• Masalah pada sistem syaraf atau otak, seperti kesulitan belajar, retardasi mental, gangguan perilaku, kesulitan berbicara atau bahasa, kejang dan masalah gerakan. Contoh cacat lahir yang memengaruhi sistem saraf adalah autisme, Down syndrome, sindrom Prader-Willi, dan sindrom Fragile.
• Masalah sensorik, misalnya kebutaan, katarak dan masalah visual lainnya; berbagai derajat gangguan pendengaran, termasuk tuli.
• Gangguan metabolisme, melibatkan proses tubuh atau jalur kimia atau reaksi, misalnya kondisi yang membatasi kemampuan tubuh untuk menyingkirkan limbah atau bahan kimia berbahaya. Dua gangguan metabolisme umum adalah fenilketonuria (PKU) dan hipotiroidisme.
• Gangguan degenerative, yaitu suatu kondisi yang mungkin tidak terlihat saat lahir, namun menyebabkan satu atau beberapa aspek kesehatan yang makin terus memburuk. Misalnya X-linked adrenoleukodystrophy (X-ALD), sindrom Rett, distrofi otot, dan gangguan lisosomal.
Dalam beberapa kasus, cacat lahir disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor. Beberapa pola cacat lahir yang diketahui ini memengaruhi banyak bagian atau banyak proses di dalam tubuh, mengakibatkan masalah struktural sekaligus fungsional.

Bagaimana cara mendeteksi cacat lahir sejak di dalam kandungan?
Cacat lahir bisa dideteksi dengan beberapa macam cara, diantaranya adalah USG, CVS (Chorionic Villus Sampling) dan amniocentesis. Metode-metode di atas bisa mendeteksi cacat pada janin seperti neural tube defects (NTD), kelainan kromosom (Down syndrome), bibir sumbing, langit-langit sumbing, kelainan jantung bawaan, tumor bawaan, kelainan usus dan ginjal, cacat anggota tubuh.

Apa yang harus dilakukan untuk menghindari cacat lahir?
Tidak semua cacat lahir bisa dicegah, tapi kita bisa meningkatkan kesempatan untuk memiliki bayi yang sehat dengan cara:
• Meminum 400 mikrogram asam folat setiap hari setidaknya sejak satu bulan sebelum dan selama kehamilan untuk mencegah cacat lahir utama pada otak dan tulang belakang bayi (anencephaly dan spina bifida).
• Jangan minum alkohol karena alkohol dalam darah akan melewati plasenta melalui tali pusar dan sampai ke bayi yang dikandung.
• Jangan merokok karena akan mempertinggi risiko kelahiran prematur, cacat lahir tertentu (bibir sumbing atau langit-langit sumbing), dan kematian bayi.
• Jangan mengkonsumsi narkoba karena akan meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat lahir yang rendah, atau cacat lahir.
• Berkonsultasilah dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan lain tentang konsumsi obat. Meminum obat tertentu saat hamil bisa menyebabkan cacat lahir yang serius. Hindarilah obat warung.
• Menjaga diri agar tidak terinfeksi selama hamil.
• Berkonsultasi dengan dokter tentang vaksinasi yang dianjurkan atau yang tidak, yang aman dan tepat waktu.
• Jika Anda penderita diabetes, jagalah diabetes Anda agar tetap terkendali selama kehamilan.
• Mencapai dan menjaga berat badan yang sesuai dengan proporsi tinggi. Obesitas pada ibu hamil akan meningkatkan risiko cacat lahir.
• Kunjungilah dokter atau penyedia layanan kesehatan lain secara teratur untuk memeriksakan kehamilan.

Apa yang dimaksud dengan Random Chromosomal Disorders?
Random Chromosomal Disorders atau kelainan kromosom acak adalah penyakit genetik yang terjadi secara acak. Pada saat sel sperma dan telur bertemu, masing-masing menyumbang kira-kira setengah DNA yang membentuk satu set kromosom utuh pada bayi. Milyaran blok bangunan yang disebut pasangan basa yang membentuk kromoson kita harus seiring sejalan hingga nyaris sempurna untuk membentuk bayi yang sehat. Yang paling menakjubkan adalah, hal tersebut bisa terjadi. Terkadang ada beberapa kromosom yang dihapus, seluruh kromosom hilang, atau kromosom ekstra ditambahkan, yang mengakibatkan munculnya penyakit. Sejumlah sindrom keterbelakangan mental, seperti Down syndrome (Trisomy 21), adalah hasil dari kejadian genetik acak. Abnormalitas kromosom acak tidak bisa diprediksi sebelumnya.
Usia merupakan faktor berisiko tinggi bagi terjadinya kesalahan kromosom acak ini. Di usia 20 risiko penyakit kromosom rendah, sekitar satu diantara 500. Di usia 35 risiko ini telah meningkat menjadi satu diantara 200. Di usia 49, risikonya sekitar satu diantara sepuluh. Wanita yang akan melahirkan bayi menjelang usia 35 tahun atau lebih tua, sebaiknya melakukan konseling genetik pra pembuahan dan screening para trimester pertama (USG dini dan tes darah) dan diberikan konseling tentang amniocentesis (atau chorionic villus sampling) dan melakukan USG yang lebih detil pada trimester kedua. Pada saat amniocentesis, jarum USG digunakan untuk mengeluarkan sejumlah kecil cairan ketuban dari kantung air di sekeliling bayi; chorionic villus sampling mengeluarkan sebagian kecil plasenta. Kedua tes ini digunakan untuk menganalisis kromosom (yang disebut karyotype), yang mencari bukti penyakit kromosom (genetik). Anda sebaiknya mendiskusikan dengan dokter tentang pilihan tes apa yang terbaik untuk Anda dan pasangan.

G. Gangguan Psikologis Ibu Paska Melahirkan

Apa yang dimaksud dengan postpartum depression dan apa gejalanya?
Postpartum depression (PPD) atau postnatal depression, adalah bentuk depresi klinis yang bisa memengaruhi ibu melahirkan (dan sebagian kecil ayah) paska persalinan. PPD biasanya terjadi pada beberapa bulan pertama dan bisa berlangsung hingga beberapa bulan atau bahkan satu tahun.
Gejala PPD bisa terjadi kapan saja di tahun pertama postpartum, diantaranya adalah:
• Merasa sedih, sering menangis, putus asa, merasa kosong
• Merasa gelisah, lekas marah, mudah frustrasi, tidak bisa dihibur
• Meningkatnya kecemasan dan serangan panik
• Harga diri rendah
• Merasa bersalah
• Merasa kewalahan, letih, tidak memiliki energi
• Merasa tidak mampu merawat bayi
• Tidak bisa bersenang-senang
• Menumpahkan kemarahan kepada orang lain
• Pola tidur dan makan berubah, mengalami gangguan makan dan tidur
• Menurunnya dorongan seks (libido)
• Menarik diri secara sosial
• Mengalami gangguan bicara dan menulis.

Apa faktor risiko postpartum depression?
Penyebab PPD tidak sepenuhnya diketahui, namun ada sejumlah faktor risiko yang telah teridentifikasi sebagai pemicu PPD, yaitu:
• Tidak memberikan ASI, melainkan dengan susu formula
• Memiliki riwayat depresi
• Merokok
• Harga diri rendah
• Stres dalam merawat anak
• Mengalami depresi pranatal selama kehamilan
• Mengalami kecemasan pranatal
• Stres dengan hidup
• Dukungan sosial rendah
• Hubungan pernikahan yang buruk
• Masalah temperamen bayi
• Maternity blues (baby blues)
• Orangtua tunggal
• Status ekonomi dan sosial rendah
• Kehamilan tidak diinginkan atau tidak direncanakan.

Apa yang dimaksud dengan baby blues?
Baby blues atau maternity blues adalah kemurungan ringan dan sementara yang diderita oleh ibu paska melahirkan (dan ayah, pada beberapa kasus). Gejalanya biasanya berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari, yaitu:
• Cengeng, sentimentil
• Lekas marah
• Hypochondria (sedih tanpa alasan)
• Sulit tidur
• Gangguan konsentrasi
• Merasa terisolasi
• Sakit kepala.
Baby blues tidak sama dengan postpartum depression (PPD) dan bukan pula pemicu postpartum depression maupun postnatal psychosis.

Apa yang dimaksud dengan postpartum psychosis?
Postpartum psychosis adalah penyakit mental yang membuat penderitanya benar-benar terpisah/keluar dari realita. Postpartum psychosis sangat berbeda dengan postpartum depression (PPD). Kondisi ini lebih jarang dari PPD. Postpartum psychosis melibatkan munculnya gejala-gejala psikotik, termasuk gangguan berpikir, delusi, halusinasi dan/atau perilaku bicara yang tidak teratur. Postpartum psychosis tidak akan sembuh begitu saja jika tidak diobati.

Apa yang dimaksud dengan postpartum exhaustion?
Postpartum exhaustion (PPE) disebabkan oleh kekurangan tidur ditambah dengan perubahan hormon pada tubuh wanita sesaat setelah melahirkan. Kondisi ini bisa ringan, bisa juga parah. Sebagian besar kasus tercatat pada wanita yang memiliki bayi dengan colic parah (bayi menangis secara berlebihan) atau kasus-kasus lain yang menyebabkan jadwal tidur menjadi tidak normal. PPE tidak sama dengan postpartum depression (PPD). PPE bisa berlangsung 1 hingga 20 hari dan bisa disembuhkan dengan tidur yang cukup.

Apa yang dimaksud dengan tokophobia?
Tokophobia atau maieusiophobia adalah ketakutan akan persalinan atau kehamilan.
Tokophobia primer adalah ketakutan yang sangat mendalam akan persalinan yang sudah dirasakan jauh sebelum kehamilan. Perasaan ini bisa dimulai sejak remaja. Tokophobia primer seringkali berhubungan dengan pengalaman ibu mereka sendiri atau sesuatu yang mereka pelajari di sekolah. Sedangkan tokophobia sekunder disebabkan oleh pengalaman mengerikan yang dia jalani sebelumnya berkenaan dengan persalinan yang membuat trauma, praktik obstetri atau perawatan medis yang buruk, postpartum depression, atau kejadian yang mengecewakan yang membuat penderitanya secara emosional tidak ingin memiliki anak lagi.
Gejalanya seperti fobia-fobia lainnya, yaitu:
• Mimpi buruk
• Kesulitan untuk berkonsentrasi pada pekerjaan atau akivitas rumah tangga
• Serangan panik
• Keluhan psikomatik.
Ketakutan akan sakitnya proses melahirkan berhubungan erat dengan ketakutan terhadap rasa sakit secara umum. Penyebabnya bisa dipicu oleh proses persalinan sebelumnya yang sulit atau obat pereda rasa sakit yang tidak memadai. Ketakutan akan persalinan normal melalui vagina kadang memicu ibu hamil untuk memilih operasi caesar.

Bibliography:
http://www.wikipedia.org/

Ottaviani, Giulia MD., Crib Death: Sudden Unexplained Death of Infants: the pathologist's viewpoint. Heidelberg: Springer – Verlag Berlin Heidelberg, 2007

Simkin, Penny; et al., Pregnancy, Childbirth and the Newborn: The Complete Guide. Minnetonka: Meadowbook Press, 2010

Williams. M.D., Christopher D., The Fastest Way to Get Pregnant Naturally. New York: Hyperion, 2006




Judul Asli: The Fastest Way to Get Pregnant Naturally
Penulis: Christopher D. Williams, M.D.
Penerjemah: Sri Noor Verawaty & Mutia Dharma
Diterbitkan Oleh: Penerbit Grafindo
Cetakan Pertama: Juli 2011



Judul: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama: Januari 2012



Judul: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Pria
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama: November 2011

Saturday, June 30, 2012

Pastikan, Anda (Pria) Menjaga dan Merawat Kesehatan Seksual, Sekarang Juga!

Taken from:
http://best-sellerbooks.blogspot.com/2012/06/pastikan-anda-pria-menjaga-dan-merawat.html

Bandung, 2 Juni 2012
(Suro Prapanca)

Hampir semua manusia berkeinginan untuk memiliki keturunan dari pasangannya, tapi tidak setiap pasangan beruntung memperoleh anugerah tersebut. Fertilitas (kemampuan menghasilkan keturunan/kesuburan) kerap menjadi faktor penting dalam mencari pasangan dan membubarkan hubungan dengan pasangan. Tentu saja masalah kesuburan ini bukan hanya tanggung jawab kaum wanita, kaum pria pun ikut berperan di dalamnya.
Tubuh manusia terdiri atas beberapa bagian. Tiap-tiap bagian selayaknya harus mendapatkan perawatan agar kesehatan tubuh secara keseluruhan tetap terjaga. Salah satu yang penting adalah ketika kita berbicara tentang kesehatan reproduksi, baik kesehatan reproduksi pria maupun wanita.

Buku setebal 304 halaman dengan judul Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Pria ini bisa memberikan harapan besar bagi pembacanya, yang tidak hanya ditujukan untuk kaum pria saja, wanita pun dapat memperoleh banyak manfaat sebagai panduan yang praktis. Terlebih lagi, pembahasan mengenai “kesehatan seksual” akan selalu dibutuhkan oleh khalayak.

Isi buku ini antara lain memuat pembahasan-pembahasan mengenai aspek seksual pria secara detail dan hal-hal penting tentang kesehatan seksual pria yang sering luput dari perhatian. Juga berisi kiat-kiat mempertahankan dan meningkatkan kesuburan pria. Di samping itu, dibahas pula mengenai bagaimana solusi mengatasi gangguan kesehatan seksual serta menghindari penyakit menular seksual.

Dengan disusun dengan bentuk tanya-jawab, buku yang diterbitkan oleh Penerbit Grafindo, Bandung, ini akan membuat pembaca dapat terfokus pada hal-hal spesifik dan penting, ketimbang membaca uraian yang panjang dengan bahasan yang luas.

Berbicara mengenai kesehatan seksual pria, barangkali pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sering muncul dalam diri kaum Adam ini (juga kaum Hawa), seperti: Apa saja penyebab impotensi? Tips-tips apa yang berguna untuk mencegah kanker prostat? Atau bahakan pertanyaan-pertanyaan lain yang sifatnya sangat pribadi dan Anda dalam hati kecil sebetulnya sangat ingin mengetahui jawabannya.

Melalui buku ini, Anda akan mengetahui seluk-beluk kesehatan seksual pria secara terperinci. Pengetahuan tersebut tentunya bisa membimbing Anda agar dapat menjaga dan merawat kesehatan seksual dengan baik.

Pastinya, tidak ada yang paham dengan kondisi pribadi Anda kecuali diri Anda sendiri, terlebih lagi persoalan mengenai kesehatan seksual. Dengan panduan yang diberikan buku ini, terapkanlah pola hidup yang tepat agar Anda dapat senantiasa menjaga dan merawat kesehatan seksual –sekarang juga!

Seperti apa yang disampaikan Eli Coleman, Ph.D., Direktur Program Seksualitas Manusia, Unversity of Mennesota Medical School, “Kesehatan seksual tak sekadar bebas dari penyakit seksual atau gangguan kesehatan seksual. Kesehatan seksual juga sangat bergantung pada paradigma dan perilaku masing-masing individu.”

Judul : Merawat dan Menjaga Kesehatan Seksual Pria
Penulis : Sri Noor Verawaty dan Liswidyawati Rahayu, S.Si.
Penerbit : Grafindo
Cetakan : November 2011
Halaman : 304 halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi : 19 x 24 cm
Kategori : Kesehatan Seksual



Monday, April 30, 2012

10 Tanda Menstruasi Tidak Normal yang Perlu Diwaspadai

From:
Detik.com: 
http://wolipop.detik.com/read/2012/04/24/194805/1900630/227/10-tanda-menstruasi-tidak-normal-yang-perlu-diwaspadai
Tribun Jambi.com:
http://jambi.tribunnews.com/2012/04/26/waspadai-hal-hal-ini-terkait-menstruasi

Selasa, 24/04/2012 19:44 WIB
10 Tanda Menstruasi Tidak Normal yang Perlu Diwaspadai
Hestianingsih - wolipop


Jakarta - Menstruasi merupakan satu siklus yang terjadi pada wanita tiap bulannya. Siklus ini umumnya terjadi ketika wanita memasuki usia pubertas (16 tahun) dan sebelum wanita mengalami menopause.

Normalnya, pendarahan menstruasi berlangsung sekitar empat hingga tujuh hari dengan jumlah darah yang keluar lebih kurang 2-8 sendok makan. Seperti ditulis Sri Noor Verawaty dan Liswidyawati Rahayu, S.Si. dalam bukunya 'Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita', satu siklus menstruasi rata-rata 28 hari, namun jika terjadi antara 24-35 hari masih masuk dalam kategori normal.

Siklus tersebut pun bisa berubah-ubah dari bulan ke bulan atau bisa tetap. Beberapa penyebab tidak teraturnya siklus menstruasi antara lain karena stres, penyakit tertentu, gizi buruk atau olahraga yang berlebihan. Meskipun siklus menstruasi yang tidak teratur biasanya dianggap normal, ada hal-hal yang perlu diwaspadai jika ada perubahan yang cukup signifikan. Menstruasi seperti apa yang perlu dikhawatirkan dan segera diperiksakan ke dokter? Sri dan Liswidyawati menguraikan 10 tanda-tanda menstruasi yang tidak normal.

1. Jika usia sudah mencapai 16 tahun tapi belum juga mengalami menstruasi pertama.

2. Periode menstruasi Anda yang biasanya ada tiba-tiba berhenti, padahal tidak hamil.

3. Pendarahan menstruasi berlangsung terlalu lama, hingga lebih dari 7 hari.

4. Panjang siklus menstruasi terpisah lebih lama dari 35 hari atau kurang dari 21 hari, terhitung sejak hari pertama pendarahan menstruasi terjadi hingga ke hari pertama pendarahan di siklus berikutnya.

5. Pendarahan menstruasi sangat banyak hingga Anda harus mengganti pembalut setiap 1 hingga 2 jam sekali.

6. Ada pendarahan yang terjadi di luar jadwal menstruasi biasanya (misalnya siklus menstruasi sudah selesai, namun dua atau tiga hari berikutnya terjadi pendarahan lagi).

7. Mengalami kram berat secara mendadak yang tidak seperti biasanya. Kondisi ini umumnya dialami 50 persen wanita selama 1 atau 2 hari saat menstruasi.

8. Mengalami periode menstruasi yang tidak teratur padahal Anda belum memasuki masa perimenopause (menjelang menopause).

9. Tidak mengalami periode menstruasi selama tiga bulan berturut-turut atau lebih, padahal Anda belum memasuki masa perimenopause.

10. Tidak mengalami periode menstruasi sama sekali padahal Anda masih berada di tahun-tahun reproduksi dan belum menopause.


(hst/eny)


Judul: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo

Monday, March 26, 2012

My Book: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Pria



Judul: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Pria
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama: November 2011

My Book: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita


Judul: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama: Januari 2012

Monday, March 5, 2012

Leucorrhoea (Keputihan)

By: Sri Noor Verawaty

Keputihan atau istilah medisnya leucorrhoea atau fluor albus adalah kondisi yang menunjukkan adanya pengeluaran cairan kental berwarna keputihan atau kekuningan dari dalam vagina. Keputihan bisa menghilang dan muncul lagi dari waktu ke waktu dan bisa juga terus menerus keluar selama bertahun-tahun hingga warnanya menjadi lebih kuning dan baunya busuk.

Selama ini masyarakat salah membedakan antara vagina dan vulva. Vagina (birth canal/jalan lahir) adalah saluran interior berbentuk tabung berotot yang berawal dari uterus dan berakhir di bukaan luar tubuh wanita. Bukaan luar ini adalah vulva (kemaluan wanita). Alat genital wanita ini sangat mudah terkena infeksi karena keadaannya yang basah, berkeringat, dan tertutup. Karena itulah wanita mudah sekali mengalami keputihan.

Keputihan bisa bersifat fisiologis (normal) dan patologis (tidak normal). Keputihan yang normal bisa merupakan mekanisme pertahanan alami vagina untuk memelihara keseimbangan kimiawi serta menjaga fleksibilitas jaringan vagina. Dalam keadaan normal, cairan yang keluar cenderung jernih atau agak kekuningan, kental seperti lendir, tidak berbau dan tidak gatal. Namun terkadang keputihan berubah menjadi lebih kental, berubah warna menjadi lebih kekuningan atau kecoklatan, disertai rasa gatal, nyeri, terbakar, bau busuk dan menimbulkan rasa nyeri saat buang air kecil.

Keputihan Fisiologis
Istilah leucorrhoea fisiologis (normal) mengacu kepada keputihan yang disebabkan oleh rangsangan estrogen. Keputihan fisiologis ini bisa dialami oleh:
• Keputihan bisa terjadi secara normal di masa kehamilan dan disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke vagina dikarenakan kenaikan estrogen.
• Bayi yang baru lahir bisa mengeluarkan keputihan selama beberapa waktu paska dilahirkan karena paparan estrogen yang mereka terima saat masih berada di dalam rahim ibunya.
• Gadis remaja saat menarche (menstruasi pertama)
• Wanita dewasa saat dia dirangsang sebelum dan saat berhubungan suami istri
• Saat berovulasi
• Pada wanita penderita penyakit neurosis menahun
• Wanita penderita ektropion porsionis uteri.

Keputihan yang Perlu Dikhawatirkan
Perubahan-perubahan di bawah ini bisa menjadi indikasi terjadinya masalah pada vagina:
• Ada perubahan bau, terutama jika baunya amis atau busuk.
• Ada perubahan warna, misalnya menjadi kehijauan, kecoklatan, atau tampak seperti nanah.
• Ada perubahan tekstur, menjadi berbusa atau tampak seperti cottage cheese.
• Vagina terasa gatal, terbakar, membengkak atau merah.
• Keluar pendarahan vagina yang bukan menstruasi.

Penyebab Keputihan
Penyebab keputihan bisa bermacam-macam, salah satu penyebab yang paling umum adalah ketidakseimbangan estrogen. Jumlah keputihan juga bisa meningkat disebabkan oleh infeksi vagina atau Sexually Transmitted Disease (STD—Penyakit Menular Seksual). Berikut adalah penyebab-penyebab lainnya:

• Infeksi jamur. Infeksi jamur disebabkan oleh pertumbuhan jamur Candida albicans di dalam vagina yang umumnya disebabkan oleh ketidakseimbangan flora normal vagina. Dalam keadaan normal, vagina memiliki yeast dan bakteri tak berbahaya dalam jumlah tertentu, namun jika keseimbangan ini terganggu, yeast bisa tumbuh pesat dan menyebabkan peradangan di vagina. Ketidakseimbangan flora vagina ini bisa disebabkan oleh kehamilan, diabetes, pil KB, antibiotik, dan douching. Selain itu, stres, menurunnya sistem kekebalan tubuh, dan kelembaban vagina yang berlebihan (biasanya disebabkan oleh pemakaian celana dalam yang berbahan sintetis) juga bisa menjadi penyebab infeksi yeast.
Kondisi ini biasanya ditandai dengan pengeluaran keputihan yang kental dan seperti dadih putih; terasa gatal ringan atau berat; labia dan vulva membengkak dan merah; kulitnya terasa sensitif saat disentuh; dan intercourse seksual terasa menyakitkan.

• Protozoa. Trichomoniasis adalah infeksi vagina yang disebabkan oleh protozoa trichomonas vaginalis. Parasit ini bisa ditemukan pada pria maupun wanita dan biasanya ditularkan melalui hubungan suami istri. Selain itu, trichomonas vaginalis juga bisa ditularkan melalui pemakaian bersama pakaian, handuk, pakaian dalam atau benda lembab lainnya. Kodisi ini biasanya ditandai dengan keluarnya keputihan encer berwarna kuning hingga abu-abu, seringkali berbusa, dan biasanya mengeluarkan bau busuk. Di daerah sekitar dan di dalam vagina bisa terasa gatal dan merah.
Namun beberapa wanita maupun pria tidak menunjukkan gejala sama sekali, kondisi ini disebut sebagai “silent reservoir” (mengidapnya tapi tidak menunjukkan gejala apapun. Jadi jika pasangan Anda menderita Trichomoniasis, sebaiknya dia dan Anda sama-sama menjalani pengobatan.

• Bakteri. Bacterial vaginosis (BV) adalah infeksi vagina yang seringkali disebabkan oleh sejenis bakteri seperti Gardnerella vaginalis atau jenis bakteri lainnya. BV disebabkan oleh terjadinya kontak antara bakteri dengan vagina, baik dari intercourse seksual, maupun tingkat hygiene yang kurang.
Penyakit Menular Seksual seperti gonorrhoea, syphilis, AIDS, dan chlamydia juga bisa menyebabkan keputihan. Biasanya keputihannya encer, berwarna putih hingga kuning, dan berbau amis. Keputihannya bisa sedikit, bisa juga banyak. Namun baunya selalu menyengat dan jauh lebih tercium paska hubungan suami istri. Vagina juga bisa terasa gatal dan panggul terasa sakit.

• Virus (human papilloma virus dan herpes simplex.
• Adanya benda asing dalam vagina
• Perubahan hormon
• Gangguan hormonal akibat menopause
• Kelainan bawaan pada alat genital wanita
• Adanya kanker atau penyakit berbahaya lainnya pada alat genital, terutama di serviks.
• Kadang muncul sebelum menarche (menstruasi pertama kali) pada gadis remaja dan dikategorikan sebagai tanda pubertas.

Sumber:
Judul Buku: "Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita"
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama: 2012

http://www.homeomiracles.com/Female/Female_article/Leucorrhoea.htm

Saturday, March 3, 2012

Bahaya Douching Bagi Wanita

By: Sri Noor Verawaty

Douching adalah membasuh vagina dengan dengan larutan kimiawi tertentu (dikenal dengan sebutan “douche”). Iklan-iklan di televisi memberikan image bahwa vagina adalah organ yang kotor sehingga perlu dibersihkan dengan douche. Mereka menyarankan douching dengan alasan untuk mengobati infeksi vagina, untuk mencuci sekresi vagina, mencegah kehamilan paska melakukan hubungan suami istri, dan mencegah penularan Penyakit Menular Seksual. Namun ternyata douching memiliki lebih banyak efek samping daripada manfaat yang ditawarkan, bahkan sebagian dari propaganda douching ternyata salah kaprah. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyarankan agar wanita sama sekali tidak melakukan douching. Gynekolog David Eschenbach, M.D. dari University of Washington berpendapat, “Douching sama sekali tidak diperlukan.”

Douching bukan hanya “tidak perlu”, namun justru membahayakan. Douching bisa mengganggu keseimbangan flora vagina (organisme normal yang hidup di dalam vagina) dan tingkat keasaman vagina yang sehat. Dalam vagina yang sehat, terdapat bakteri baik dan bakteri jahat. Keseimbangan kedua jenis bakteri ini membantu menjaga tingkat keasaman lingkungan yang ada. Secara terus menerus, vagina menjaga tingkat keasaman lingkungannya dan tidak membutuhkan “bantuan” dari luar. Rekayasa dari luar justru bisa menyebabkan pertumbuhan bakteri jahat yang berlebihan sehingga bisa memicu terjadinya yeast infection (infeksi yeast) atau bacterial vaginosis (BV—infeksi di vagina). Tidak hanya itu, douche juga bisa menyebarluaskan infeksi vagina yang telah ada ke dalam uterus dan tuba fallopi, atau memancing infeksi baru yang bisa mengarah kepada kondisi seperti pelvic inflammatory disease (PID—Penyakit Radang Paggul).

Mitos bahwa melakukan douching segera setelah melakukan hubungan seks akan mencegah kehamilan adalah tidak benar. Sperma adalah perenang yang sangat cepat. Pada saat seorang wanita baru mau mulai melakukan douching, ratusan ribu sperma sudah akan mencapai uterus. Selain itu, dilihat dari sifat alami cairan dan struktur saluran reproduksi wanita, douching malah memiliki kemungkinan untuk mendorong sperma lebih jauh ke atas, ke dalam uterus. Larutan douche yang bersifat asam mungkin akan sedikit membunuh sperma, namun secara keseluruhan douching tidak dianggap sebagai metode yang efektif untuk mencegah kehamilan. Douching bukanlah alat kontrasepsi dan bukan pula pencegah penularan Penyakit Menular Seksual maupun infeksi-infeksi lainnya.

Berikut ini sejumlah efek samping douching:
• Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan risiko kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim, misalnya di tuba fallopi) jika Anda melakukan douching dengan teratur. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Mount Sinai Medical Center New York, douching yang teratur bisa meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik hampir dua kali lipat. Dan dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah melakukan douching, risiko kehamilan ektopik pada wanita yang pernah melakukan douching meningkat sebanyak 3,8 kali.
• Douching mempertinggi risiko terjadinya pelvic inflammatory disease (PID). Penelitian di Mount Sinai School of Medicine menemukan bahwa douching teratur meningkatkan risiko PID sebanyak 73%.
• Douching mengurangi kemungkinan pembuahan. Para peneliti di Washington D.C. menemukan bahwa semakin sering Anda melakukan douching, semakin lama Anda bisa hamil.
• Pada sejumlah wanita, douching justru menunjukkan peningkatan risiko berkembangnya infeksi yang disebut bacterial vaginosis (BV, yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri abnormal yang berlebihan dalam vagina. Walaupun tidak memiliki gejala, namum bacterial vaginosis bisa mempertinggi risiko keguguran, kehamilan ektopik dan penyakit radang panggul, dan bisa juga menghambat terjadinya pembuahan. Para peneliti dari Florida State University menganalisa kesehatan 483 wanita sehubungan dengan kebiasaan douching . Douching yang dilakukan setiap bulan, mempertinggi risiko BV sebanyak dua kali lipat. Sedangkan douching yang dilakukan setiap minggu mempertinggi risiko BV hampir 3 kali lipat.
• Douching mempertinggi risiko infeksi Chlamydia (infeksi saluran kencing—termasuk ke dalam kelompok Penyakit Menular Seksual). Peneliti di University of Washington menemuan bahwa wanita yang melakukan douching sebanyak 1 hingga 3 kali sebulan, memiliki risiko 2,6 kali lebih banyak menderita Chlamydia. Sementara mereka yang melakukan douching sebanyak 4 kali atau lebih dalam sebulan, memiliki risiko 3,8 kali lebih banyak.
• Douching mempertinggi risiko persalinan prematur. Peneliti di University of Rochester menemukan bahwa douching lebih dari 1 kali seminggu selama 6 bulan, bisa meningkatkan risiko persalinan prematur sebanyak 4 kali lipat.
• Douche, sabun, atau produk kesehatan daerah kewanitaan lainnya bisa menimbulkan iritasi pada organ genital dan memicu terjadinya vaginismus (yaitu sebuah kondisi yang memengaruhi kemampuan wanita untuk terlibat dalam bentuk penetrasi vagina apapun, termasuk intercourse seksual, penyisipan tampon, bahkan penetrasi yang melibatkan pemeriksaan gynekologis).
• Douche, sabun, parfum, pantyliner berparfum, spermicides, kondom lateks, bisa menjadi iritan yang menimbulkan contact dermatitis, yaitu reaksi kulit (dermatitis) yang diakibatkan oleh paparan alergen (dermatitis kontak alergi) atau iritan (dermatitis kontak iritan). Kondisi ini bisa disertasi dengan keluarnya keputihan.

Tips untuk menjaga vagina agar tetap sehat:
• Untuk mencegah terjadinya infeksi pada vagina, hindarilah penggunaan douche, sabun, spray, tampon, dan pembalut yang berparfum. Zat kimia dari parfum dan deodoran akan membuat vagina menjadi kering dan keseimbangan pH vagina menjadi tidak seimbang sehingga mengarah pada infeksi.
• Tidak perlu melakukan douching di saat menstruasi maupun paska keguguran. karena vagina memiliki sistem pembersihan alaminya sendiri (yaitu servical mucus) untuk membilas darah, air mani, serta vaginal discharge.
• Anda harus tahu, bahwa vagina yang sehat sekalipun selalu memiliki sedikit odor. Namun jika baunya sudah menyengat, keluar keputihan yang kental berwarna hijau kekuningan, terasa terbakar, memerah, bengkak, terasa sakit saat buang air kecil atau saat intercourse, segeralah hubungi dokter.

Translated and taken from:
Judul Buku: "Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita"
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama:

http://articles.chicagotribune.com
http://www.deathcaps.com
http://womenshealth.gov

Monday, February 27, 2012

Tanda-tanda Bahaya di Masa Hamil

By: Sri Noor Verawaty

Sebagian besar wanita umumnya mengalami kehamilan yang wajar tanpa kendala tertentu. Namun jika Anda mengalami hal-hal seperti di bawah ini, segeralah hubungi dokter untuk menghindari bahaya yang mungkin mengancam Anda dan/atau bayi Anda:

• Pendarahan hebat. Pendarahan bisa mengindikasikan kemungkinan keguguran, placental abruption (plasenta lepas dari dinding rahim secara prematur sehingga janin kehilangan suplay oksigen), placenta previa (letak plasenta yang abnormal), atau awal persalinan.

• Nyeri pada bagian perut adalah hal yang umum terjadi saat kehamilan dikarenakan uterus yang mengembang. Namun ada beberapa rasa nyeri yang perlu diwaspadai:
o Rasa nyeri yang terasa hebat dan disertai pendarahan berat di bagian panggul—khususnya pada dua bulan pertama kehamilan—bisa mengindikasikan kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim: terjadi jika sel telur yang telah dibuahi tidak menempel di uterus seperti seharusnya, melainkan di tempat lain, misalnya tuba fallopi),
o Kram perut yang disertai pengeluaran bercak atau pendarahan bisa mengindikasikan keguguran.
o Jika Anda mengalami pendarahan disertai dengan nyeri pada bagian perut, kram dan rasa sakit di rahim, bisa jadi Anda mengalami placental abruption. Jika kondisi telah parah dan lebih dari separuh plasenta telah lepas, kemungkinan persalinan dini harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa bayi.
o Sakit punggung yang tak kunjung hilang. Kondisi ini bisa jadi menandakan akan terjadi keguguran atau persalinan prematur.

• Pergerakan janin dimulai pada minggu ke 28 kehamilan. Jika janin bergerak kurang dari angka normal—yaitu kurang dari 4 tendangan setiap jam—hal ini bisa menandakan dia mengalami masalah. Kondisi ini disebut fetal distress. Biasanya, bayi akan bergerak 3 hingga 5 kali dalam setiap jamnya.

• Mual dan muntah yang berkepanjangan merupakan tanda hyperemesis gravidarum, yaitu kondisi yang menyerupai morning sickness namun lebih parah dan tidak juga berakhir padahal usia kandungan telah lebih dari beberapa minggu. Jika muntah-muntah berat ini berlangsung terus menerus selama lebih dari 24 jam dan Anda tidak bisa menerima asupan makanan maupun cairan, Anda bisa mengalami dehidrasi dan kehilangan berat badan. Segeralah hubungi dokter.

• Demam di atas 38,1°C yang tidak kunjung turun harus segera diobati karena bisa menimbulkan kerusakan pada otak janin atau cacat janin lainnya.

• Adanya kebocoran cairan yang keluar dari vagina secara terus menerus atau semburan cairan yang tiba-tiba. Kondisi ini mengindikasikan Anda mengalami kebocoran air ketuban (amniotic fluid) yang akan mengarah pada persalinan prematur, preterm rupture membranes, atau keguguran. Jika Anda mengalami hal ini padahal belum waktunya melahirkan, perkembangan janin bisa terganggu dan Anda membutuhkan pertolongan medis dengan segera.

• Sebagian wanita mengalami sedikit pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki selama kehamilan. Namun jika Anda mengalami pembengkakan terutama pada wajah dan jari, ini adalah tanda bahaya. Pembengkakan parah di masa kehamilan mengindikasikan Pregnancy Induced Hypertension (PIH—gangguan tekanan darah tinggi di masa kehamilan). Kondisi ini bisa jadi mendorong untuk segera dilakukan persalinan dini karena pada sebagian besar kasus, inilah satu-satunya penyembuhan.

• Jika Anda mengalami sakit kepala parah dan penglihatan kabur, bisa jadi ini adalah indikasi Anda mengalami PIH atau preeclampsia (ada peningkatan abnormal pada tekanan darah ibu hamil setelah minggu ke 20 kehamilan). Jika usia kehamilan sudah mendekati 37 minggu, hal ini tidak terlalu masalah. Namun jika kehamilan masih terlalu dini, biasanya dokter akan menyarankan Anda untuk bed rest dan memberikan obat untuk menurunkan tekanan darah.

• Buang air kecil yang terasa sakit biasanya disebabkan oleh infeksi saluran kemih. Jika kondisi ini dibiarkan tidak diobati, Anda memiliki risiko tinggi mengalami persalinan prematur, si bayi bisa mengalami berat badan rendah, atau kesulitan berkembang baik secara fisik maupun mental.

• Gestational diabetes (GD—diabetes tipe khusus yang hanya menyerang wanita hamil, dimana kadar gula—glukosa—darah tinggi selama kehamilan), biasanya terjadi pada trimester kedua kehamilan yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh ibu untuk memproduksi cukup insulin. Gejalanya antara lain rasa haus atau lapar yang teramat sangat, sering buang air kecil, dan fatigue (letih).

• Jika Anda mengalami keletihan yang terus menerus, merasa pusing, napas pendek, dan tampak pucat, ada kemungkinan Anda menderita anemia (jumlah sel darah merah lebih rendah dari yang seharusnya). Mintalah resep suplemen asam folat dan zat besi kepada dokter Anda untuk mengobatinya.

• Trauma apapun yang terjadi pada perut sebaiknya segera diberikan pertolongan medis untuk menghindari sejumlah komplikasi, termasuk persalinan prematur.

• Kontraksi teratur sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu biasanya mengindikasikan terjadinya persalinan prematur. Tanda-tandanya antara lain:
o Kram pada perut yang menyebar hingga ke punggung
o Adanya kontraksi
o Ada sensasi tekanan pada bagian panggul
o Ada peningkatan jumlah pengeluaran cairan vagina.

• Perasaan sedih yang teramat sangat dan tidak juga berakhir bisa jadi merupakan indikasi depresi. Kondisi ini bisa terjadi selama dan/atau setelah kehamilan. Gejala-gejala lainnya termasuk perubahan nafsu makan, perasaan putus asa, mudah marah, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi yang dikandung. Kondisi ini bisa diobati dengan terapi, pengobatan dan support groups.

Translated and taken from:

Judul Buku: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama:

http://www.livestrong.com/article/81166-danger-signs-pregnancy/
http://www.ehow.com/about_5394810_danger-signs-pregnancy.html
http://pregnancy.about.com/cs/signssymptoms1/l/bl082700a.htm

Tuesday, February 21, 2012

Risiko Hamil di Atas Usia 35 Tahun

By: Sri Noor Verawaty

Penelitian menunjukkan bahwa waktu terbaik untuk mengandung bayi adalah saat Anda berusia 23 hingga 27 tahun. Sebaiknya hindarilah hamil sebelum usia 18 tahun atau setelah usia 35 tahun. Bayi-bayi yang dikandung oleh ibu-ibu yang terlalu muda memiliki kemungkinan besar untuk terlahir secara prematur. Sedangkan usia mengandung di atas 35 tahun berasosiasi dengan tingginya risiko kehamilan maupun persalinan.

Apa saja risiko hamil di atas 35 tahun?

Hamil di atas usia 35 tahun memiliki sejumlah risiko, baik bagi ibu maupun bayi yang akan dilahirkan.
• Faktor usia ibu—yaitu di atas 35 tahun—juga menjadi salah satu penyebab ketidaksuburan. Karena itu wanita yang berusia 35 tahun atau lebih tua dianjurkan untuk melakukan rujukan langsung ke dokter spesialis kesuburan, sekalipun dia baru melakukan program kehamilan kurang dari 1 tahun.
Ovarium bertanggung jawab untuk memproduksi sel telur untuk proses reproduksi. Seorang bayi perempuan terlahir dengan memiliki sekitar 2 juta sel telur, namun di masa pra remaja, jumlahnya akan menurun menjadi sekitar 300.000. Sisanya diserap ke dalam tubuh. Meskipun terdapat penurunan yang dramatis, namun wanita akan memiliki jumlah sel telur yang lebih dari cukup. Sepanjang masa reproduksinya, seorang wanita hanya akan mengalami ovulasi sebanyak beberapa ratus sel telur saja. Pada saat si wanita mengalami menopause, dia tidak akan memiliki sel telur lagi. Wanita tidak lagi memproduksi sel telur di masa tuanya, tidak seperti pria yang bisa terus-menerus memroduksi sel sperma.
Kualitas sel telur sangat berkaitan erat dengan usia si wanita. Saat si wanita bertambah tua, bertambah tua pula ovariumnya, dan kemampuan sel telur untuk dibuahi, melekat di uterus, serta berkembang pun semakin menurun. Kualitas telur yang berkurang ini adalah alasan utama kenapa wanita yang lebih tua memiliki angka ketidaksuburan dan angka keguguran yang lebih tinggi.

• Mempertinggi risiko terjadinya keguguran. Penelitian menunjukkan, risiko keguguran berkisar sekitar 12 hingga 15% pada wanita berusia 20 tahunan dan angka tersebut meningkat menjadi 25% pada wanita berusia 40 tahun. Peningkatan insiden kelainan kromosom membuat angka keguguran turut meningkat pada wanita yang berusia lebih tua.

• Mempertinggi risiko terjadinya kehamilan di luar rahim (kehamilan ektopik), yaitu kehamilan yang terjadi jika telur yang telah dibuahi melekat dan mulai tumbuh di luar uterus—biasanya di dalam tuba fallopi. Kadang-kadang embrio juga terimplantasi di kanal serviks, di salah satu ovarium, di rongga panggul atau rongga perut. Kasus ini cukup umum terjadi, yaitu sekitar 1 hingga 2 persen dari seluruh kehamilan. Sebagian besar kehamilan ektopik terjadi pada wanita berusia 35 hingga 44 tahun.

• Mempertinggi risiko terjadinya kehamilan multipel (kembar dua atau lebih). Kemungkinan seorang ibu memiliki bayi kembar meningkat seiring pertambahan usia.

• Mempertinggi risiko komplikasi kehamilan. Hal ini biasanya disebabkan oleh kondisi yang sudah ada sebelumnya, seperti masalah tekanan darah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi saat hamil lebih sering terjadi pada wanita yang lebih tua.

• Ibu yang hamil di atas usia 35 tahun memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menderita Gestational Diabetes (GD). GD adalah diabetes tipe khusus yang hanya menyerang wanita hamil, dimana kadar gula (glukosa) darah menjadi tinggi selama kehamilan.
Walaupun GD biasanya berakhir setelah bayi dilahirkan, namun penyakit yang satu ini bisa memengaruhi kesehatan ibu dan bayinya di kemudian hari. Misalnya, wanita yang pernah menderita GD selama kehamilan memiliki risiko 40% lebih tinggi untuk mengembangkan diabetes tipe 2 di kemudian hari. Dan bayi yang terlahir dari ibu yang menderita GD memiliki risiko yang lebih besar untuk mengembangkan diabetes tipe 2 atau menjadi obesitas di kemudian hari dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dari ibu normal.

• Mempertinggi risiko persalinan dan kemungkinan untuk melahirkan secara Caesar. Selain jarak yang kurang dari 2 tahun dari persalinan sebelumnya dan usia ibu kurang dari 17, persalinan ibu di atas usia 35 tahun juga memiliki risiko lebih tinggi, misalnya disebabkan oleh masalah tekanan darah. Masalah persalinan lebih sering terjadi pada ibu hamil berusia lebih dari 35 tahun yang baru melahirkan pertama kali.

• Mempertinggi risiko cacat lahir. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang berusia lebih tua memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kromosom tertentu seperti Down syndrome. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh pembelahan sel telur yang abnormal, yang disebut nondisjunction.

• Bayi yang baru akan dilahirkan saat usia ibu menjelang 35 tahun atau lebih tua dari itu memiliki faktor risiko untuk penyakit genetis.
Sebaiknya Anda berdiskusi dengan dokter atau konselor genetik jika Anda berusia 35 tahun atau lebih, atau memiliki sejarah keluarga dengan kondisi penyakit keturunan tertentu.

• Mempertinggi risiko stillbirth (melahirkan bayi yang sudah meninggal di dalam kandungan). Kejadian ini lebih sering menimpa ibu yang berusia di atas 35 tahun.

• Ibu yang berusia lebih dari 35 tahun cenderung memiliki bayi dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 Kg. saat dilahirkan.

Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko?

Tidak sedikit wanita yang hamil di atas usia 35 tahun bisa melahirkan bayi yang sehat. Namun untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti di atas, tidak ada salahnya jika Anda melakukan beberapa tips berikut ini:
• Berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan perawatan pra pembuahan dini, kurang lebih 3 bulan sebelum Anda memulai program kehamilan.
• Berkonsultasi dengan dokter atau konselor genetik mengenai kemungkinan risiko penyakit genetis. Jika diperlukan, lakukanlah tes untuk menguji kelainan kromosom.
• Makanlah makanan yang sehat dan perhatikanlah selalu pertambahan berat badan Anda. Minumlah suplemen seperti asam folat, kalsium, besi, protein dan nutrisi penting lain sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Lakukanlah hal ini beberapa bulan sebelum Anda melakukan program kehamilan.
• Lakukanlah aktivitas fisik ringan secara rutin untuk menghindari gestational diabetes (GD), misalnya jalan santai atau berenang, kecuali jika dokter melarang.
• Hindarilah substansi-substansi yang berisiko tinggi seperti alkohol, rokok, dan segala macam obat-obatan. Obat-obatan apapun yang Anda konsumsi, misalnya obat flu atau sakit kepala, sebaiknya dikonsultasikan terlebih dulu dengan dokter.
• Kurangi asupan cafein. Jangan mengonsumsi kafein lebih dari 300 mg, per hari. Cafein tidak hanya terdapat dalam kopi, namun juga teh, minuman bersoda, dan coklat.
• Selalu memeriksakan kehamilan Anda secara rutin.

Translated and taken from:
Judul Buku: "Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita"
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama:

Williams. M.D., Christopher D., The Fastest Way to Get Pregnant Naturally. New York: Hyperion, 2006
http://pregnancy.about.com/od/midlifepregnancy/a/Pregnancy-After-35.htm
http://www.mayoclinic.com/health/pregnancy/PR00115
http://women.webmd.com/pregnancy-after-35

Saturday, February 18, 2012

Pelvic Organ Prolapse/Panggul Turun

By: Sri Noor Verawaty

PELVIC ORGAN PROLAPSE
Pelvic organ prolapse (POP) adalah kondisi umum yang banyak diderita oleh wanita. bisa terjadi jika satu atau lebih organ di dalam rongga panggul bergeser turun. Kadang POP melibatkan lebih dari satu organ yang turun. Penurunan ini bisa membuat uterus (rahim), urethra, kandung kemih, rongga vagina, rektum, dan usus kecil menonjol keluar dari posisi normalnya. Kadang organ tersebut menonjol masuk ke dalam saluran vagina atau bahkan lebih bawah lagi.

Di dalam rongga panggul wanita ada struktur pendukung rumit yang terbentuk dari ligamentum, otot, jaringan ikat dan organ. Jika salah satu dari struktur pendukung ini robek, rusak, atau melemah, maka integritas struktural sistem pun berkurang sehingga organ bisa berubah posisi. Kondisi ini biasanya memburuk seiring bertambahnya usia.

JENIS
• Rectal prolapse (rectocele), terjadi saat bagian rektum (dubur) menonjol ke dinding belakang vagina dan terkadang membuat proses buang air besar menjadi sulit.
• Bladder prolapse (cystocele). Cystocele terjadi saat kandung kemih menonjol ke dinding depan vagina. Efek yang sama dikenal juga dengan sebutan urethrocele, yaitu urethra (saluran kencing) menekan dinding depan vagina.
• Uterine prolapse. Uterus (rahim) jatuh ke dalam rongga vagina.
• Vaginal vault prolapse dan herniated small bowel (enterocele). Vaginal vault prolapse terjadi jika rongga atas vagina menonjol ke bagian bawah rongga vagina.

FAKTOR PENYEBAB
Beberapa kondisi, termasuk peristiwa alamiah dalam hidup seorang wanita bisa melemahkan otot-otot panggul, antara lain:
• Kehamilan
• Persalinan melalui vagina
• Usia tua yang berkaitan dengan hilangnya estrogen (menopause)
• Faktor genetik
• Konstipasi kronis
• Penyakit paru kronis (batuk kronis)
• Mengangkat barang-barang yang berat
• Obesitas
• Merokok
• Kelainan pada jaringan ikat (collagen) seperti penyakit Marfan.

GEJALA
Pelvic organ prolapse sering menimpa wanita dan bisa menyebabkan efek samping yang signifikan bagi kualitas hidupnya. Namun karena POP ada beberapa tipe dan karena kombinasi tipenya bervariasi, maka gejala-gejala yang dialami masing-masing wanita pun berbeda. Pada sejumlah wanita, gejalanya bisa datang dan pergi. Namun pada saat berbaring, kondisi ini mungkin akan lepas dari pengamatan dokter saat pemeriksaan panggul. Derajat penurunan organ pun bervariasi antar individu. Wanita yang hanya mengalami penurunan sedikit saja mungkin tidak akan mengenali gejalanya sama sekali. Pasien penderita POP bisa mengalami satu atau lebih gejala-gejala di bawah ini:
• Ada sensasi tekanan di dalam rongga vagina atau rektum atau di keduanya.
• Ada sensasi rasa “penuh” di dalam rongga vagina.
• Ada rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah.
• Nyeri rektal (dubur).
• Sensasi seolah “organ dalam seperti jatuh ke luar”.
• Inkontinensia saluran urin dan buang air besar (tidak bisa mengendalikan buang air kecil dan besar).
• Retensi urin (urin tidak bisa keluar seluruhnya dan menggenang di kandung kemih).
• Nyeri atau perasaan tidak nyaman pada panggul atau perut, dan kondisi ini akan terasa berkurang saat Anda mengubah posisi dari berdiri ke berbaring.
• Nyei punggung saat berdiri.
• Disfungsi defecatory, yaitu sejumlah keluhan yang berhubungan dengan buang air besar, termasuk memiliki sensasi sering dan tidak nyaman untuk buang air besar, serta konstipasi (sembelit).
• Tampon “didorong” keluar dari posisinya di dalam rongga vagina.
• Ada kebocoran urin atau feces saat berhubungan suami istri.
• Intercourse terasa sakit atau sulit.
• Sensasi berkurang saat berhubungan suami istri.
• Keluar bercak dari dalam vagina karena ada ulserasi (borok/nanah) di leher rahim/rongga vagina yang menonjol.

PENCEGAHAN
• Menjaga agar tidak kelebihan berat badan. Wanita-wanita yang kelebihan berat badan memiliki risiko lebih tinggi mengalami POP.
• Berhati-hati untuk tidak mengangkat beban yang terlalu berat, termasuk mengangkat anak-anak kita, untuk mengurangi tekanan ke bawah pada area panggul.
• Melakukan senam Kegel.

KLASIFIKASI
Sebagian dokter menggunakan klasifikasi International Continence Society (ICS) yaitu sistem POP-Q (Pelvic Organ Prolapse Quantification), yaitu:
1. Stage 0 — tidak ada prolapse.
2. Stage I — penurunan bagian paling atas lebih dari 1 cm di atas level hymen.
3. Stage II — penurunan maksimal yaitu antara 1 cm di atas dan 1 cm di bawah hymen.
4. Stage III —penurunan lebih dari 1 cm di atas hymen tapi tidak lebih dari 2 cm dari panjang total rongga vagina.
5. Stage IV —eversi total vagina.

PENGOBATAN
Pengobatan POP tergantung pada jenis POP yang diderita pasien. Biasanya dokter akan merekomendasikan beberapa jenis pengobatan awal tanpa operasi, namun pada sejumlah kasus, operasi biasanya diperlukan.
Berikut beberapa jenis pengobatan yang memungkinkan:
1. Dengan obat-obatan. Menopause membuat produksi estrogen berkurang sehingga melemahkan otot-otot vagina. Estrogen replacement therapy (ERT—terapi pengganti estrogen) bisa menguatkan kembali otot-otot ini. Namun ada pengecualian bagi beberapa orang yang sebaiknya tidak menggunakan ERT. Berkonsultasilah dengan dokter.
2. Terapi fisik. Terapi fisik bisa termasuk stimulasi elektrik dan biofeedback.
3. Operasi.

Translated and taken from:
Judul Buku: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Wanita
Penulis: Sri Noor Verawaty & Liswidyawati Rahayu
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama:

Palm, Sherrie J., Pelvic Organ Prolapse: the Silent Epidemic.
New York: Eloquent Books, 2009
http://www.mayoclinic.org/
http://www.health.harvard.edu/
http://emedicine.medscape.com/