Showing posts with label Movies/TV Program Reviews. Show all posts
Showing posts with label Movies/TV Program Reviews. Show all posts

Wednesday, February 4, 2015

The Great Gatsby


Film ini  dibuat pada tahun 2013 dengan sutradara Baz Luhrmann, dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio sebagai Gatsby, Tobey Maguire sebagai Nick Carraway,Carey Mulligan sebagai Daisy Buchanan, Joel Edgerton sebagai Tom Buchanan (suami Daisy), and Elizabeth Debicki sebagai Jordan
Baker. Film ini merupakan adaptasi dari novel F. Scott Fitzgerald yang dibuat pada tahun 1925.

Oh, how I hate this (tragically ended) story. Tapi ini adalah film yang wajib ditonton, terlebih lagi saya sudah membaca bukunya.

Jadi untuk melihat bagaimana bukunya diwujudkan, saya penasaran ingin melihat bagaimana kisahnya disajikan di dalam film. Jadi, saya pun menonton film ini. Dan kalau memang Anda ingin melihat Leonardo DiCaprio beraksen aneh, tontonlah film ini! :-D

Setiap kali kita membaca buku, kita tentu memiliki bayangan tersendiri bagaimana tokoh cerita itu jika dia terwujud sebagai manusia nyata. Dan di film ini, tokoh-tokohnya diwujudkan dengan sangat pas, persis seperti yang saya bayangkan dan harapkan. Mungkin Anda bisa setuju dengan saya, atau bisa juga tidak. Tapi bagi saya, saat mendengar desas-desus bahwa buku ini akan difilmkan, dan Leonardo DiCaprio akan berperan sebagai Gatsby, serta Tobey Maguire berperan sebagai Nick Carraway, maka sempurnalah perwujudan kedua tokoh tersebut di mata saya. Leonardo DiCaprio adalah Gatsby. Gatsby adalah Leonardo DiCaprio. Dan Tobey Maguire adalah Nick Carraway. Dan Nick Carraway adalah Tobey Maguire.

Begitulah Gatsby. Leonardo DiCaprio memerankannya dengan sangat baik. Seperti biasa, dia memang selalu berperan dengan sangat baik di dalam film-filmnya. Anda akan melihat Leonardo yang lain daripada yang lain. Bagaimana ya menjelaskannya… Mungkin Anda harus membaca bukunya sendiri lalu menontonn filmnya untuk memahami maksud saya. Dan begitu pula (the lame) Nick Carraway. Tobey Maguire juga memerankannya dengan baik.

Film ini mewujudkan semua detail yang diceritakan di buku. Tidah hanya tentang tokoh-tokohnya, tapi juga semua setting-nya. Bahkan kalimat-kalimatnya pun persis sama dengan yang ada di buku. Jika saat membaca bukunya, Anda tidak bisa membayangkan semeriah apa hingar-bingar pesta Gatsby yang luar biasa, maka film ini menyajikannya dengan baik.



Jika Anda tidak bisa membayangkan apa yang dilihat Nick saat masuk ke ruang tengah pertama kali keluarga Buchanan saat angin meniup semua tirai putihnya, Anda bisa melihatnya di film ini.

The Great Gatsby
Jordan Baker (berdiri), Tom Buchanan (duduk di kursi), dan Daisy, Nick, serta seorang pelayan (di latar belakang)

Jika Anda tidak bisa membayangkan seaneh apa ruang tengah Nick yang dihias Gatsby dengan bunga-bunga untuk menyambut Daisy, di film ini Anda bisa melihatnya.



Jika Anda tidak bisa membayangkan seaneh apa mobil kuning klasik Gatsby yang telah dimodifikasi, di film ini mobil itu diwujudkan menjadi nyata.


Bedanya, di buku, Nick Carraway "bercerita" kepada pembaca. Sedangkan di film, dia bercerita kepada seorang psikolog yang ditemuinya karena dia mengalami masalah-masalah psikologis seperti stres dan insomnia. Masalah yang Nick alami setelah dia mengalami kejadian yang luar biasa. Kejadian yang melibatkan Gatsby. Hanya Nick yang tahu duduk perkara sebenarnya dari awal. Dan hanya Nick yang tahu kebenaran yang ada hingga akhir.

Beginilah ceritanya...

Nick Carraway, seorang penjual obligasi, pindah ke West Egg di Long Island dan menyewa sebuah rumah kecil yang terletak di sebelah mansion besar milik seorang pria misterius bernama Jay Gatsby.

Tak berapa lama setelah kepindahannya, Nick pergi ke rumah sepupunya, Daisy Buchanan, istri dari Tom Buchanan. Tom adalah teman kuliah Nick semasa di Yale. Tom adalah seorang pria yang kasar. Di sana, Nick bertemu dengan seorang gadis cantik tapi "menakutkan"--versi Nick, bernama Jordan Baker. Jordan adalah seorang pegolf terkenal.

Saat Jordan bertanya di mana Nick tinggal, dan Nick bilang di West Egg, Jordan pun menduga Nick pasti mengenal Gatsby. Karena memang tidak ada orang yang tidak mengenal Gatsby. Tapi Nick tidak tahu, walaupun dia bilang dia tinggal di sebelah mansion besar yang mungkin milik dari pria bernama Gatsby tersebut.

Daisy bertanya dengan campuran mimik yang penasaran dan sedih, "Gatsby? What Gatsby?"
Tapi pertanyaannya tak terjawab saat itu.

Saat makan malam Tom mendapatkan telepon, dan Jordan berbisik pada Nick bahwa itu pasti wanita simpanan Tom. Malam itu, Daisy juga sempat menceritakan ketidakbahagiaannya sebagai seorang istri.

Beberapa hari kemudian Tom mengajak Nick untuk pergi ke New York, tapi Tom malah berhenti di tengah jalan dan mampir ke bengkel milik George Wilson dan istrinya, Myrtle. Tom kemudian mengajak Nick pergi ke sebuah apartemen, yang ternyata merupakan tempat Tom dan Myrtle biasa bertemu. Myrtle-lah wanita simpanan Tom selama ini.

Meskipun Nick merasa bersalah karena Daisy adalah sepupunya, tapi posisi dia terjepit karena Tom memaksanya untuk tinggal. Akhirnya mereka mengadakan pesta kecil aneh dan minum-minum bersama dengan seorang sepupu Myrtle serta sepasang suami istri yang tinggal di bawah apartemen mereka.

Akhir pekan itu, seperti biasa Gatsby melangsungkan pesta mewah. Dia mengadakannya setiap akhir pekan. Semua orang hadir di sana, dari pejabat sampai mafia. Dari selebriti terkenal sampai orang-orang gypsi. Semuanya datang dan tumpah ruah di sana. Semuanya muncul tanpa diundang. Mereka datang begitu saja. Hanya Nick Carraway-lah satu-satunya orang yang mendapatkan surat undangan resmi dari Gatsby sendiri.

Lucunya, sebagian besar dari orang yang hadir di pesta itu tidak mengetahui yang mana tuan rumah bernama Gatsby dan belum pernah bertemu dengannya. Siapa Gatsby, dari mana asalnya, dan bagaimana latar belakangnya. Berbagai spekulasi beredar mengenai Gatsby. Ada yang mengatakan bahwa Gatsby adalah mata-mata Jerman, ada pula yang menyebutkan bahwa dia adalah seorang pangeran, bahkan pembunuh. Yang jelas, orang super kaya yang selalu melangsungkan pesta setiap akhir pekan tanpa alasan yang jelas ini, kekayaannya jelas-jelas dimanfaatkan oleh semua orang.

Malam itu, Jordan Baker juga muncul di sana. Nick berbincang dengan seorang pria tak dikenal dan Nick membicarakan omongan buruk orang tentang Gatsby. Tapi ternyata, pria asing yang mengajak Nick berbincang itu ternyata adalah Gatsby. Ternyata Gatsby masih muda dan tampan. Jauh dari bayangan Nick semula yang menyangka kalau Gatsby itu sudah lebih tua dan gemuk.

Saat Jordan sedang bersama Nick, Jordan tiba-tiba dipanggil oleh Gatsby ke perpustakaan. Jordan heran. Beberapa lama kemudian dia kembali sambil berkata, "Aku tahu sekarang. Aku mengerti semuanya sekarang."
Nick bertanya kenapa, tapi kata Jordan, dia sudah berjanji kepada Gastby untuk memegang rahasia tersebut. Nick ditinggalkan dalam keadaan penasaran.

Setelah pesta tersebut, Nick berkali-kali diundang Gatsby ke pestanya dan bermain di pantai pribadinya. Suatu kali Gatsby mengajak Nick bermobil ke New York, menggunakan mobil kuning Gatsby yang telah dimodifikasi. Selama di perjalanan, Gatsby menceritakan latar belakangnya kepada Nick. Bahwa dia adalah putra dari keluarga kaya, tapi semua keluarganya meninggal, jadilah dia mewarisi semua harta mereka. Gatsby juga merupakan seorang veteran perang yang sangat berjasa hingga dia mendapatkan penghargaan.

Di New York, Nick diajak Gatsby ke sebuah klub rahasia dan diperkenalkan kepada pria misterius bernama Meyer Wolfsheim.

Sore itu, Gatsby mengatur Nick untuk minum teh bersama Jordan. Dan dari sinilah semua rahasia terbuka dan malapetaka berawal.

Should I even tell the whole story? heuheuheu....
Mending tonton sendiri kali ya (atau baca bukunya), biar lebih seru... ;)

Friday, May 9, 2014

A Room with a View - Helena Bonham Carter before She Joins the Dark Force

Room with a view.jpg

Saat menonton film ini, saya bertanya-tanya di manaaaaaa.... saya pernah melihat wajah tokoh utama wanitanya ya? Kok rasanya familiar, ya?

Saking penasarannya akhirnya saya me-Wiki... hehe... Membuka Wikipedia maksudnya, dan mencari tahu nama pemain-pemainnya.


Ternyata.... DENG DENG....!!!
Nama si tokoh utama wanita ini adalah Helena Bonham Carter!

Siapakah Helena Bonham Carter?
Dia adalah artis yang juga memerankan film Enid, biografi Enid Blyton. Saya pernah menulis review filmnya di sini: http://www.sundaymorningstory.blogspot.com/2012/01/enid-blyton-psycho-or-hypocrite.html.
Gara-gara film biografi ini, saya jadi tidak simpati dengan Enid Blyton (dan di wajah saya, yang terbayang sebagai Enid tentu saja wajah Helena Bonham Carter. Saya tak suka Helena Bonham Carter. (Dia memerankan Enid dengan sangat baik, sampai-sampai saya jadi membencinya... hihihi)

Helena Bonham Carter sebagai Enid Blyton

Okay, that's one thing. But there's another thing that makes me hate Helena Bonham Carter even more...

If you love Harry Potter, if you're a HUGE fan of the movies, then you gotta hate this *&@^^#%$@%$#%$ super duper evil woman:



Bellatrix Lestrange!!!
YEAH.... She's the one!
And I hate her to the bone!
(Sekali lagi, itu karena saking bagusnya dia memerankan tokoh Bellatrix...)

Baiklah. Mari kita cuci otak dulu dengan melihat Helena Bonham Carter versi aslinya:

Bellatrix Lestrange (Helena Bonham Carter)
Oooh... such an adorable woman, isn't she?

And here she is in "A Room with a View":


So young and innocent...
Dan ternyata di film A Room with a View ini, Helena juga bermain dengan Maggie Smith (sebagai Charlotte Bartlett). Siapakah Maggie Smith? Ini dia:

 

Sepertinya Helena dan Maggie kemudian berseberangan jalan. Helena memihak Voldemort, sedangkan Maggie memihak Prof. Dumbledore. Uhuk... uhuk... :D

Okay, enough with their future movies. Let's go back to the past.

***

Film A Room with a View dibuat pada tahun 1985 dan disutradarai oleh James Ivory. Dibintangi oleh Helena Bonham Carter sebagai Lucy Honeychurch, Julian Sands sebagai George Emerson, Maggie Smith sebagai Charlotte Bartlett, dan Daniel Day-Lewis sebagai Cecil Vyse. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama, yang ditulis oleh E. M. Forster pada tahun 1908.

Kisahnya dimulai saat Lucy berlibur ke Itali bersama sepupunya yang sudah lebih tua, Charlotte Bartlett. Lucy adalah seorang gadis kelas atas Inggris yang tinggal di sebuah kota bernama Surrey. Di Itali ini, Lucy dan Charlotte bertemu dengan beberapa turis Inggris lain, termasuk Mr. Emerson dan anaknya, George. Karena Lucy dan Charlotte tidak menyukai kamar penginapan mereka yang tidak memiliki pemandangan, Mr. Emerson dan putranya pun menawarkan diri untuk bertukar kamar. Jendela kamar mereka menghadap ke pemandangan kota yang indah (a room with a view, literally).

Lucy dan rombongan turis tersebut berwisata ke berbagai tempat selama di Florence, Italy, termasuk ke pedesaan. George yang tengah asik menikmati pemandangan padang barley (semacam gandum), tiba-tiba melihat Lucy. Dia pun menghampiri dan (teu pupuguh ujug-ujug) mencium Lucy. Kejadian ini sempat dipergoki oleh Charlotte.

Norma pada zaman Victoria, jika seorang pria mencium wanita, maka mereka harus bertunangan (dan kemudian menikah) untuk menyelamatkan reputasi si gadis. Tapi Charlotte yang juga merupakan chaperon (penjaga/wali) Lucy, justru menyuruh mereka berdua untuk merahasiakan kejadian ini, karena Charlotte menilai George tidak pantas untuk Lucy dan memberi Lucy pengaruh yang buruk.

Tapi kejadian tersebut terus tergiang-ngiang di kepala Lucy.


Sekembalinya ke Inggris, Lucy tidak menceritakan apa pun kepada ibunya. Dia juga akhirnya menerima lamaran dari seorang pria bernama Cecil Vyse, seorang pria kaya dan terhormat, tetapi angkuh.

Tanpa diduga, ternyata Mr. Emerson dan George pindah ke desa kecil tempat Lucy tinggal dan keduanya akan menjadi tetangga Lucy. Cecil-lah yang telah mengundang Mr. Emerson dan George untuk menempati sebuah cottage kecil.

Cecil Vyse

Kemunculan George mengingatkan kembali perasaan yang dulu pernah singgah di hati Lucy (hallah... bahasanya lebay gini... :D Jadi geli sendiri.). George sering datang ke rumah Lucy dan bermain bersama saudara-saudara Lucy. George juga tak berhenti mengejar Lucy, tapi Lucy selalu menghindar.

Sampai suatu titik, Lucy memutuskan pertunangannya dengan Cecil tanpa memberikan alasan yang jelas. Dia juga tiba-tiba membuat rencana untuk pergi ke Yunani.
George juga akhirnya memutuskan untuk pindah tempat tinggal agar bisa melupakan Lucy.
Saat Lucy hendak pergi, dia dicegat oleh Pendeta Beebe serta ayah George. Akhirnya Lucy menyadari bahwa rencana dia pergi ke Yunani hanyalah untuk melupakan perasaannya kepada George. Lucy dan George sama-sama tidak jadi pergi, dan mereka pun akhirnya bersama.

Di akhir film, terlihat Lucy dan George sedang berbulan madu di Itali, di kamar pada penginapan yang sama yang dahulu mereka kunjungi, the room with a view.

***

Mungkin karena film ini dibuat pada tahun 1985 (usia saya baru 4 tahun pada waktu itu), jadi semua elemennya terasa kuno klasik bagi saya. Bukan karena novel ini ber-setting 1900-an, tapi karena memang "taste" filmnya dibuat pada tahun 80-an. Saya penyuka kisah klasik, tapi yang difilmkan di zaman modern... hehehe... Jadi mungkin masalah saya terletak pada "bagaimana cerita ini disajikan."

Kisah ini juga difilmkan ulang dengan judul yang sama pada tahun 2007, tapi dengan ending yang berbeda. Di sini, George diceritakan meninggal di Perang Dunia I dan Lucy kembali ke kamar berpemandangan itu sendirian dan mulai menjalin kisah cinta baru dengan seorang pria Itali. (What??? Kenapa novel klasik ini jadi kayak cerita di buku-buku Harlequin??! Tepok jidat. Ga jadi nonton yg tahun 2007 ah... Geli dengernya... Hihihi.)

Monday, May 5, 2014

Little Women


Little Women adalah film yang diadaptasi dari novel Louisa May Alcott dengan judul yang sama. Alcott membuat novel ini pada tahun 1917. Sedangkan film Little Women dibuat pada tahun 1994.

Ada juga film lain yang diadaptasi dari novel ini dan diceritakan dalam setting yang lebih modern, berjudul The March Sisters at Christmas, dibuat tahun 2012. Tapi menurutku film Little Women lebih bagus daripada film The March Sisters at Christmas, serta lebih mirip dengan bukunya, karena tetap mempertahankan setting jaman dulu, alih-alih modern.

Pertama kali saya mengetahui novel Little Women adalah dari komik Jepang berjudul Topeng Kaca (The Glass Mask). Saat itu Maya Kitajima (tokoh utama wanita di komik ini) diberi peran sebagai Beth (anak ketiga dari 4 bersaudara tersebut) untuk dipentaskan di teater.
(Kalau sudah membahas Topeng Kaca, saya pasti ingin membawa-bawa Masumi Hayami--tokoh utama pria di komik ini. Tapi sepertinya kali ini Masumi harus saya simpan sendiri, karena tidak berkorelasi dengan Little Women yang akan saya bahas, selain: betapa Masumi mengagumi peran Maya sebagai Beth... dan betapa saya mengagumi Masumi! Ehm...)


Oke, kembali ke filmnya.
Little Women ini dibintangi oleh aktris-aktris dan aktor yang kini sudah menjadi (lebih) terkenal. Dahulu mereka masih sangat muda. (Tentu saja).
Margaret "Meg" March, putri pertama dari March bersaudara, diperankan oleh Trini Alvarado. 


Josephine "Jo" March, putri kedua, diperankan oleh Winona Ryder. Dia adalah tokoh utama dari cerita ini. Dia senang menulis.


Elizabeth "Beth" March, putri ketiga, diperankan oleh Claire Danes. Beth sangat mahir bermain piano.


Amy March kecil, putri keempat, si bungsu, diperankan oleh Kirsten Dunst. (Aaw... so cute!)


Sedangkan Amy dewasa diperankan oleh Samantha Mathis.


Margaret "Marmee" March, ibu keempat putri ini, diperankan oleh Susan Sarandon.


Lalu ada Theodore "Laurie" Laurence, the boy next door, yang diperankan oleh Batman... ehm... Maksud saya Christian Bale. Laurie adalah cucu dari tetangga March bersaudara.


***

Do you know this saying: "There's always a bad egg in the family"?
Kalau dalam Pride & Prejudice, anak yang paling menyebalkan dari kelima bersaudara itu adalah Lydia Bennet. Sedangkan dalam Little Women, yang menyebalkan adalah Amy March.

Sejak awal menonton Little Women, saya sudah terpesona dengan tokoh Jo. Dia begitu energik, cerdas, cantik, dan semua atribut "menyenangkan" yang serupa itu. Yang tidak saya sukai adalah Amy March. Dan Louisa May Alcott.

(Louisa May Alcott? Tak salah tulis? Bukannya dia si pengarang cerita?)
Iya. Tidak. Dan Iya.
Dan "iya" lagi. Saya memang tidak menyukainya. Anda akan tahu penyebabnya setelah saya ceritakan alasannya nanti. :D

***

Keempat bersaudara ini memiliki karakter yang berbeda-beda. Meg yang anggun dan keibuan. Jo yang penuh semangat dan cerdas. Beth yang penuh kasih sayang dan lembut. Serta Amy yang romantis dan oportunis. Mereka berempat tinggal di Concord, Massachusetts selama dan setelah Perang Sipil Amerika. Saat Ayah mereka pergi berperang, keempat bersaudara ini dibesarkan oleh ibu yang baik hati dan tegas. Mereka menjalani hari demi hari dengan belajar dan pergi ke sekolah.

Suatu hari Mr. Laurence, tetangga mereka yang kaya, kedatangan cucunya yang hendak tinggal bersama beliau, yaitu Laurie. Segera saja Laurie pun berteman akrab dengan keempat bersaudara tersebut. Tapi yang paling dekat dengan Laurie adalah Jo. Beth belajar piano pada kakeknya Laurie. Dan Meg mulai dekat dengan tutornya Laurie.

Suatu hari keluarga mereka dikejutkan dengan berita bahwa ayahnya terluka di medan perang. Maka sang ibu pun pergi untuk merawat ayahnya dan meninggalkan keempat bersaudara itu.

Beth yang penyayang dan lembut, mengunjungi pengungsi Jerman untuk memberi mereka makanan. Tapi keluarga pengungsi tersebut sedang terserang scarlet fever, dan Beth pun tertular darinya. Mereka pun mengirimkan si bungsu Amy untuk tinggal sementara dengan bibinya, Aunt March. Selama bertahun-tahun, Jo-lah yang selalu menemani Aunt March yang menyebalkan ini. Tapi Jo bersabar dan berharap suatu saat Aunt March akan membawanya ke Eropa. Akhirnya sang ibu pun kembali ke rumah.

Beberapa tahun berlalu. Mereka telah tumbuh dewasa. Meg telah menikahi tutor Laurie kendati Jo mengajukan ketidaksetujuannya. Dan Beth sudah kembali sehat, meskipun tak bisa kembali pulih seperti dulu.

Laurie yang selalu dekat dengan Jo akhirnya memberanikan diri untuk melamar Jo setelah dia lulus kuliah. Tapi tanpa diduga, Jo ternyata menolak. Jo hanya menyayangi Laurie sebagai teman. Atau kakak. Tak lebih dari itu. Laurie pun patah hati. Dia pergi ke London.

Tak lama setelah itu, Aunt March bukannya membawa Jo ke Eropa, tapi justru membawa Amy.
Jo yang kecewa akhirnya pergi ke New York. Di sana, dia terus menulis.
Suatu hari, Jo bertemu dengan seorang profesor berusia setengah baya yang sangat pintar, bernama Friedrich Bhaer. Jo senang berdiskusi dengannya. Dia memperkenalkan Jo dengan filsafat, memberi Jo buku-buku menarik untuk dibaca, dan mendorong serta membantu mengedit tulisan-tulisan Jo agar menjadi lebih baik. Jo juga sering bercerita tentang Laurie kepada Profesor Bhaer.

Di Eropa, Laurie bertemu dengan Amy. Entah untuk pelarian dari Jo atau bukan, Laurie menyatakan cinta pada Amy. Amy sejak dulu memang sudah jatuh cinta pada Laurie. Tapi saat itu dia menolak dan menyuruh Laurie untuk memperbaiki hidupnya terlebih dulu. Laurie pun bekerja pada kakeknya dan berusaha memperbaiki diri agar dia layak untuk Amy.

Jo dipanggil pulang karena kondisi Beth kembali menurun. Akhirnya, Beth, adik kesayangan Jo ini pun meninggal. Jo merasa sangat sedih. Dia mengurung diri di loteng dan mulai menuliskan kisah hidupnya. Kemudian dia mengirimkan naskahnya kepada Profesor Bhaer. Tak berapa lama setelah itu, Meg melahirkan bayi kembar.

Di Eropa, Amy berduka ditemani Laurie. Dia akhirnya menerima Laurie dan mereka pun menikah. Amy dan Laurie pulang ke Concord.

Aunt March yang meninggal, mewariskan rumahnya kepada Jo. Jo berencana membuat rumah itu menjadi sekolah.

Profesor Bhaer datang ke Concord untuk menyatakan persetujuannya pada naskah Jo. Tapi dia tidak sempat bertemu dengan Jo. Dia mendengar bahwa adik Meg telah menikah dengan Laurie. Profesor Bhaer mengira, Jo-lah yang menikah dengan Laurie. Maka dia pun pergi.

Jo yang baru pulang mendapati naskah yang diberikan oleh Profesor Bhaer. Dia kemudian mengetahui bahwa Profesor Bhaer sendirilah yang telah mengantarkannya. Jo segera berlari mengejar Bhaer. Bhaer mengucapkan selamat atas pernikahan Jo dengan Laurie. Tapi Jo menyanggah dan mengatakan bahwa yang menikah dengan Laurie adalah adiknya, Amy, bukan dia. Bhaer terkejut sekaligus senang. Maka dia pun langsung melamar Jo, yang kemudian diterima dengan sangat senang hati oleh Jo.

***

Oh come on.... Jo yang muda, energik, cantik, menyenangkan itu kenapa dipasangkan dengan profesor yang sudah tua?
Dan Amy? Amy yang oportunis ini seolah diberikan jackpot dengan mendapatkan Laurie.
Kalau saya penulisnya, saya akan menikahkan Jo dengan Laurie... hihihi....
Tapi yah, apa mau dikata, Louisa May Alcott berkehendak lain. Dan dia mahakuasa atas tulisannya. Tinggallah saya yang kecewa ini harus bisa menerima kenyataan pahit yang tak sesuai dengan keinginan saya.
Pfiuh....

Jo & Laurie

PS: 
In my version: Jo accept Laurie's proposal. Then they get married. Then Laurie build his empire and become...... BATMAAAANNN!!!!
POW!





Sunday, May 4, 2014

Anna Karenina


Film Anna Karenina? Ini sih bukan film, tapi teater! A very exquisite one. Lebih tepatnya, teater yang difilmkan.

Okay, let's slow down and discuss about the first thing first.

Film Anna Karenina (2012) diadaptasi dari novel karya Leo Tolstoy dengan judul yang sama. Pengarang terkenal Rusia ini menulis Anna Karenina pada tahun 1877, yang mengisahkan tentang Anna Karenina, istri dari menteri Alexei Alexandrovich Karenin.

Filmnya disutradarai oleh Joe Wright (yang juga menyutradarai film Pride & Prejudice - 2005 dan Atonement - 2007). Pemeran utama yang dipilih Joe lagi-lagi Keira Knightley (jadi Elizabeth Benneth di Pride & Prejudice dan jadi Cecilia di Atonement). Selain Keira, ada Jude Law yang berperan sebagai Alexei Alexandrovich Karenin (suami Anna) dan Aaron Taylor-Johnson sebagai Count Alexei Vronsky (selingkuhan Anna). Entah kenapa Leo Tolstoy sama-sama memberi nama depan "Alexei" pada kedua tokoh ini. Mungkin Alexei adalah nama generik Rusia pada zaman itu. Atau mungkin juga dia sengaja menamai Alexei pada keduanya, untuk menggarisbawahi adegan saat Anna bertindak memalukan dengan meneriakkan nama Alexei [Vronsky], dan kemudian diselamatkan oleh Alexei [Karenin]. (You'll read about this later).
Ada juga Matthew Macfadyen yang berperan sebagai Prince Stepan "Stiva" Arkadyevich Oblonsky (kakak Anna). Ehm, tidak Guys, dia tidak berjualan kaus oblonk... Weks! :D
Matthew Macfadyen sebelumnya pernah berperan sebagai Mr. Darcy dan menjadi lawan main Keira Knightley di Pride & Prejudice. Juga di The Three Musketeers (2011) sebagai Athos.

Prince Stepan "Stiva" Arkadyevich Oblonsky (Matthew Macfadyen) & Anna (Keira Knightley)

Sekarang saya akan bercerita sedikit mengenai para tokohnya.
Anna Karenina adalah seorang aristokrat sekaligus sosialita Rusia, istri dari menteri Alexei Alexandrovich Karenin. Dia masih muda dan cantik, memiliki seorang putra yang sangat dia sayangi, bernama Seryozha. Mereka tinggal di St. Petersburg. Sedangkan Karenin, suaminya, adalah pria yang jauh lebih tua. Tapi dia adalah seorang pria yang sangat berbudi luhur, baik hati, pengertian, dan luar biasa penyabar. (Oh, how I adore you, Jude Law! :D)

Alexei Alexandrovich Karenin (Jude Law)

Count Alexei Vronsky adalah seorang pria muda yang terkenal playboy yang selalu bermain perempuan, sampai akhirnya dia bertemu Anna.

Count Alexei Vronsky (Aaron Taylor-Johnson)

Suatu hari, Anna hendak pergi ke Moskow, untuk meyakinkan kakak iparnya, Princess Daria "Dolly," agar memaafkan Prince "Stiva" Oblonsky (kakak Anna) yang telah berselingkuh dengan pengasuh anak mereka. Di dalam kereta menuju ke Moskow, Anna bertemu dengan Countess Vronskaya (ibu dari Count Vronsky). Ketika keretanya sampai di Moskow, Anna pun bertemu dengan Count Vronsky untuk pertama kalinya. Count Vronsky waktu itu hendak menjemput sang ibu.

Saat turun dari kereta, tiba-tiba ada seorang pekerja rel yang jatuh dan terlindas kereta. (Note it, Guys. You'll find out the connection later). Mendengar bahwa si korban adalah tulang punggung keluarga, Count Vronsky pun dengan baik hati memberikan sejumlah uang untuk diberikan kepada keluarga si korban.

Pada acara pesta dansa di Moskow, Count Vronsky mengajak Anna berdansa. Mereka berdansa sepanjang malam, hingga ketertarikan yang ada di antara mereka dilihat oleh semua orang yang hadir, termasuk oleh Katerina "Kitty" Alexandrovna Shcherbatsky. Kitty adalah adik ipar Prince "Stiva" Oblonsky. Kitty menaruh hati pada Vronsky. Dan sebelum bertemua Anna, Vronsky juga suka pada Kitty.

Menyadari potensi cinta yang berbahaya di antara dirinya dan Vronsky, Anna pun memutuskan untuk segera kembali ke St. Petersburg, kepada suaminya. Tapi ternyata, di kereta, Anna bertemu dengan Vronsky yang menyatakan bahwa dia harus berada di mana Anna berada. Anna menyuruhnya untuk melupakan dia, tapi Vronsky menolak.

Di St. Petersburg, Vronsky tinggal di rumah sepupunya, Princess Betsy Tverskaya, yang juga merupakan teman dekat Anna. Dan Vronsky pun mulai menghantui Anna ke mana-mana. Di mana Anna berada, di situ Vronsky pasti muncul. Anna yang semula selalu menolak Vronsky dan mengingkari perasaannya, lama-lama akhirnya luluh juga. Saat Vronsky dipromosikan dan hendak dimutasi ke kota lain, Vronsky memaksa Anna untuk mengakui perasaannya dan Anna pun meminta Vronsky agar tidak pergi meninggalkannya.

Pada sebuah pesta, Vronsky menggoda Anna secara terang-terangan dan membuat Karenin menyadari bahwa gosip yang beredar di masyarakat tentang istrinya, terbukti benar. Karenin dengan bijaknya menasihati Anna untuk tidak berlaku yang tidak sepantasnya. Tapi Anna menolak. Perasaan Anna pada Vronsky semakin terlihat saat dia menonton Vronsky ikut balapan kuda. Kuda Vronsky terjungkal dan Anna yang berada di tribun sontak meneriakkan nama "Alexei [Vronsky]" dengan keras dan penuh emosi, membuat semua orang yang menonton berpaling kepadanya. Alexei lain [Karenin] yang berada di belakang Anna segera menghampiri dan menepuk-nepuk pundak Anna sambil berkata, "I'm here," untuk menyelamatkan Anna dari rasa malu karena meneriakkan nama "Alexei" yang bukan suaminya.

Hingga akhirnya pada suatu titik, Anna mengandung anak Vronsky. Vronsky terlihat senang. (Aneh, mengingat dia seorang playboy, tapi pada Anna ternyata dia sangat setia.). Anna pun memberi tahu Karenin bahwa dia mengandung anak Vronsky dan meminta diceraikan. Tapi Karenin menolak, karena menceraikan Anna sama saja dengan mengirim Anna ke jurang kehancurannya sendiri. Karena itu berarti bahwa Anna diakui telah melakukan perselingkuhan dan menjadi penyebab rusaknya rumah tangga mereka, dan karenanya Anna tidak akan pernah bisa menikah lagi secara sah dengan siapa pun paska mereka bercerai. Karenin tidak ingin Anna hancur. (Oh please, after what she had done to you?!! What a noble man, you are. Just come to me, Jude!)

Karenin masih sangat sabar menghadapinya dan menasihati Anna baik-baik. Tapi Anna sangat keras kepala dan membangkang. Yang dia pikirkan hanyalah cintanya kepada Vronsky. Karenin pergi ke Moskow untuk menceritakan semuanya kepada Prince Stiva.

Saat melahirkan, Anna sekarat. Dia akhirnya memohon-mohon agar Karenin mengampuninya. Dia terus mengigau menyebut-nyebut nama Karenin. Bahwa Karenin akan datang. Bahwa Karenin akan memaafkannya.
Karenin pun pulang dari Moskow, mendapati Vronsky ternyata sudah ada di rumahnya bersama Anna.
Anna berkata kepada Vronsky yang tertunduk di samping tempat tidur, "Look at him!" kata Anna, meminta Vronsky agar menatap Karenin. "He’s a saint!" (Oh yes, he is indeed!) Begitulah Anna mendeskripsikan suaminya. Tapi itu tak membuatnya berhenti mengkhianati dan membangkang dari sang suami. (Very ironic, eh?)

Karenin berkata, dia mengampuni Anna dan memaafkan Vronsky. Dan Anna serta anaknya akan diurus oleh Karenin, menyandang nama Karenin dan mendapatkan seluruh perlindungan dan kenyamanan sebagai anak seorang bangsawan. Tapi Vronsky harus pergi. Pada saat ini, semua pihak setuju dengan kesepakatan tersebut.

Tapi ternyata Anna tidak jadi meninggal. Dia kembali sehat. Anna setuju dengan kesepakatan sebelumnya, karena mengira dirinya akan mati. Tapi ternyata tidak. Dan karena ternyata dia hidup, dia pun merasa tidak sanggup menjalani hidup tanpa Vronsky. (Oh please! You are so dramatically pathetic!) Karenin meminta Anna untuk tidak melakukannya demi putra mereka, Seryozha. Tapi meskipun Anna sangat menyayangi putranya, dia tetap berkata, "I will die for Seryozha, but I can not live like this, even for him. Someday, when he knows love, he will understand and forgive me." (Tepok jidat!)

Maka Anna pun pergi menyusul Vronsky. Kali ini Karenin membiarkannya. Anna dan Vronsky berlibur ke Itali.

Anna kembali ke St. Petersburg untuk menemui Seryozha pada hari ulang tahunnya. Tapi kemunculan Karenin membuat Anna segera pergi.

Kebersamaan Anna dan Vronsky terasa semakin sulit. Gunjingan masyarakat semakin terbuka. Anna semakin tidak nyaman. Dia pun mulai mengalami mental breakdown (Whoa, you see how I call her? Mental breakdown! Wakakak. The euphemism of "insane" actually.)Meskipun Vronsky selalu setia dan berusaha memperlakukan Anna sebaik mungkin, tapi Anna tetap berprasangka yang tidak-tidak kepadanya. (You see, the problem is in her. Sepertinya Anna harus belajar untuk lebih bersyukur... :D) Selalu ada hal yang jadi bahan pertengkaran, termasuk kecurigaan Anna bahwa Vronsky sedang mendekati gadis lain.

Suatu kali Anna memaksa untuk pergi menonton opera, tapi semua orang yang dia temui memperlakukannya dengan rasa jijik. Vronsky semula menolak datang dan dia menasihati Anna agar tidak datang, untuk menghindari cemoohan. Tapi akhirnya Vronsky muncul juga. Mungkin dia mengkhawatirkan Anna.
Vronsky meminta beberapa kenalannya untuk mengunjungi Anna nanti. Tapi mereka semua menolak. Anna dipermalukan di opera saat dia dikomentari secara terbuka. Vronsky yang duduk jauh dari Anna hendak bangkit membela. Tapi sepupu Vronsky, Princess Betsy Tverskaya, balik menantang Vronsky, "Kalau kau membelanya, berarti itu sama saja mengakui keterlibatanmu dalam perbuatan bejatnya." Jadi Vronsky pun diam. Anna menangis karena dia diekspos dan dipermalukan secara terbuka. Vronsky hanya bisa memandanginya dari jauh. (Watir oge... :'(

Di rumah, Anna mengajak Vronsky untuk pergi ke desa. Vronsky setuju, tapi menolak untuk pergi lusa, karena dia harus bertemu dengan ibunya terlebih dulu. Anna pun merasa curiga bahwa Vronsky dijodohkan sang ibu dengan Princess Sorokina. Dan saat dia melihat Princess Sorokina menjemput Vronsky untuk bertemu sang ibu, Anna jadi semakin marah. Dia meminum banyak laudanum (alcoholic solution that contains morphine, made from opium and previously used as a narcotic painkiller). Dia pergi ke stasiun dan mulai berhalusinasi. Anna mondar mandir tak tentu arah. Akhirnya dia pun tak tahan dan menabrakkan diri ke kereta yang datang sambil berkata, "God, forgive me!" (Ingat adegan awal di stasiun saat Anna melihat seorang pekerja rel terlindas kereta? Mungkin kejadian itu yang membuat ide bunuh diri ini tercetus di kepala Anna.)


Begitulah akhir kisah cinta Anna yang tragis. Film ini ditutup dengan wajah Vronsky yang terkejut (assumed that, he was surprised hearing Anna's death), lalu Stiva yang berkaca-kaca sambil merokok. Dan terakhir, scene saat Seryozha mencari-cari Anya (putri Anna dari Vronsky) di kerimbunan bunga di padang rumput, disaksikan oleh Karenin yang tersenyum memandangi mereka berdua sambil duduk membaca buku.

***

Quite breathtaking, isn't it?
Well, walaupun kisah ini bukan jenis happy ending seperti yang saya sukai, tapi ini adalah kisah yang sangat menarik. Dan filmnya juga luar biasa. Saya baru pertama kali melihat film yang dibuat seperti ini--teater yang difilmkan. Film ini benar-benar dibuat dengan setting seperti teater.

Jadi, ada satu center stage yang menjadi tempat untuk berbagai adegan. Center stage ini setting-nya diubah-ubah. Menjadi ballroom, jadi tempat pacuan kuda, kamar Seryozha, kamar Karenin, jalanan bersalju, opera, bahkan padang rumput yang menjadi adegan terakhir tempat Karenin memandangi Seryozha dan Anya (padang rumput ini juga pernah menjadi tempat Anna memberi tahu Vronsky bahwa dia hamil). Ini pertama kalinya saya melihat film yang seperti ini. This movie is incredibly unique.





Seperti yang Anda lihat di atas, film ini memang luar biasa. Saat menontonnya Anda akan dibawa ke Rusia zaman dahulu. Dengan semua kemewahan istana-istana, furnitur, dan semua properti indah dan mewah yang ada di dalamnya. Mereka membuat background yang berbeda-beda yang diletakkan di center stage pada setiap adegan. Mereka memasang sejumlah chandelier cantik saat center stage itu diset menjadi ballroom. Mereka menghamparkan salju putih untuk mengambil adegan seolah itu adalah jalanan. Bahkan mereka membuat sebuah bingkai ukir cantik raksasa dengan Anna berdiri bersandar padanya, seolah sedang berada di dalam sebuah lukisan, saat center stage diset menjadi kamar tidur Seryozha.



Dan seperti yang saya bilang, dalam adegan terakhir, mereka membawa seluruh padang rumput dan memindahkannya ke dalam set untuk merekam adegan Karenin dengan kedua anaknya.


Selain keunikan tersebut, kostum tokoh-tokohnya pun sangat mewah. Sampai-sampai desainernya, Jacqueline Durran, mendapatkan sejumlah penghargaan untuk Best Costume Design, antara lain dari Academy Awards, British Academy Film Awards, Critics' Choice Awards, Las Vegas Film Critics Society Awards, dan Satellite Awards 2012.







Anna even dons the same Camilla necklace that she wore when she first met Vronsky, showing the parallel to her previous dress but reverting it from societal norm.


Anna returns home to her son in traditional noble Russian garb, symbolizing her appearance of normality but ignoring her total abandonment of her son and husband.

Selain semua setting yang dibuat seperti teater, adegan dan gestur pemainnya pun dibuat seperti di dalam teater. Mereka berdansa dengan sangat cantik. Gemulai seperti gerakan angsa. Bukan hanya gerakan dansanya yang gemulai, tapi gerakan biasa pun dibuat gemulai. Tengok saja di awal film, saat Anna tengah membaca surat sambil dipakaikan gaun oleh pembantunya. Gerakan tangan Anna sangat luwes bagaikan sedang menari. Lihat pula bagaimana para pegawai Stiva bergerak secara teratur, kompak, dan ritmis saat mereka sedang bekerja. Dan bagaimana Stiva bergerak, berputar, dan berganti baju sambil berjalan menuju ke pintu depan. Dan saat ada adegan dramatis, semua pemain akan membeku dan hanya tokoh utama yang bergerak.

Dan di awal film, Anda akan disuguhi scene-scene yang rolling tanpa henti, berpindah dari satu adegan ke adegan lain, dari satu tempat ke tempat selanjutnya, dari satu tokoh ke tokoh berikutnya, semuanya secara berkesinambungan, tanpa henti, tanpa cut. Sangat menarik perhatian. Saat kamera masih rolling, tokoh lain muncul di tempat berikutnya, dan begitu terus hingga kurang lebih 20 menit awal.

Omong-omong, Joe Wright memang pernah mengambil gambar berkesinambungan seperti itu dalam film Pride and Prejudice, hanya saja lebih pendek. Mungkin ini adalah ciri khasnya. Ada lagi ciri khas dia lainnya, yang juga pernah dibuat di Pride and Prejudice. Yaitu saat Lizzy dan Mr. Darcy berdansa di ballroom bersama banyak pasangan dansa lainnya, lalu mereka berdua terlibat percakapan sengit, kemudian dipotong ke adegan dimana Lizzy dan Darcy [seolah] berdansa berdua saja. (Anda tahu, semacam "saat jatuh cinta, dunia seolah milik berdua"). Nah di film ini pun Joe Wright kembali melakukan hal serupa, yaitu ketika Anna dan Vronsky berdansa untuk pertama kalinya dan tiba-tiba mereka seolah berdansa berdua saja di ruangan tersebut.

Film ini luar biasa memukau. Tapi, bagi saya pribadi, ada satu hal yang sangat mengganggu selama menontonnya: KUMIS!
Yup! Semua tokoh di sini diberi kumis. Errrrgh.... (You know, it's extremely cold in Russia, so they grow as much facial hair as possible... I suppose... :D) Saya tak tahan melihatnya. Antara jijik dan yheew! Lihat saja transformasi Jude Law yang keren menjadi Karenin yang ..... ouch!

Jude Law

Jude Law as Alexei Karenin

Oh My God! This gorgeous guy becomes annoyingly old with that beard and mustache! :'(
And take a look at Matthew Macfadyen as he played Mr. Darcy in Pride and Prejudice, then as Stiva in this movie:

Matthew Macfadyen as Mr. Darcy in Pride & Prejudice

Matthew Macfadyen as Stiva in Anna Karenina

Okay, that is the most disgusting form of mustache! :( Double yheew!
But the most disgusting mustache belongs to Vronsky here. His mustache made him looked like a pervert. Or a psycho. Or a psychotic pervert! Arrrrgggg....!! Can't stand it!




Vronsky

Just compare that mustached Vronsky with the real face of Aaron Taylor-Johnson:

This is the "cute" version


And this is the "macho" version.

Either of them are much, much better than Vronsky, though in this picture, he also has mustacheBut somehow, he looks more normal, eh? More like human... :D

Well then... That's all from me. Despite all those disgusting mustaches, this movie is incredibly great! :) Must watch!